CUKUP banyak film sains fiksi bertemakan luar angkasa, tapi
mengapa Gravity begitu menyihir? Film ke-16 Alfonso Cuaron ini menggambarkan
bagaimana seseorang harus berjuang bertahan hidup di tengah bencana yang datang
tanpa diduga-duga. Tak ada monster, tak ada alien, tak ada musuh. Yang ada
meledaknya satelit dari Rusia yang kemudian menyerang pesawat yang ditumpangi
astronot-astronot dari Amerika.
Plot
Tersebutlah Dr Ryan Stone, seorang ahli medis, janda dan baru saja ditinggal meninggal anak perempuannya, yang menjalani misi pertamanya dengan astronot yang memiliki jam terbang tinggi bernama Matt Kowalski. Saat tengah memperbaiki sebuah satelit yang tak jauh dari pesawat luar angkasa mereka, serpihan dari satelit Rusia datang dan menerjang. Seorang astronot terlempar hingga kemudian meninggal dunia, dan dua lainnya meninggal saat masih berada di dalam pesawat.
Sementara Ryan dan Matt terombang-ambing setelah sebelumnya sempat terpisah jauh. Beruntung Matt mengikatkan tali pada Ryan sehingga keduanya masih tetap terbang berdekatan. Meskipun pada akhirnya Matt harus melepaskan diri dari ikatan tali untuk memberi kesempatan Ryan bertahan.
Ryan kembali ke pesawat dan menyadari kalau tiga rekannya telah tewas. Ia beristirahat di dalam pesawat dan tak menyadari percikan api di bagian lain pesawat. Hal ini membuat salah satu bagian pesawatnya terbakar dan meledak hingga Ryan berhasil bertahan di ruangan pilot.
Ryan merasa tak mungkin bertahan hidup terlebih saat persiadaan oksigen menipis. Tak hanya itu, karena pesawat rusak parah, interaksi radio pun terputus. Sekalipun pada akhirnya ia menemukan seseorang yang bisa diajak berinteraksi, seseorang via radio tersebut tak bisa diharapkan.
Merasa putus asa dan yakin mati, Matt tiba-tiba datang. Namun itu hanyalah halusinasi. Pada akhirnya Ryan harus melakukan keputusan besar. Yakni terjun ke bumi dan melepaskan bagian "jok depan" dari badan pesawat yang telah rusak.
Keputusan ini memang berisiko, sebab pesawatnya akan terbakar kala melewati atmosfer. Apakah ia akan berhasil? Atau malah tewas terpanggang?
*
Thriller Manusiawi "Gravity"
GRAVITY tentunya sebuah mimpi buruk untuk anak-anak. Sebab mereka tak akan lagi mau bercita-cita jadi seorang astronot. Film ini belakangan dikritisi astronot NASA sebagai film yang janggal dan tak mungkin. Tapi sang sutradara berkata bahwa Gravity bukanlag film dokumenter yang nyata. Yeah, sesuai genrenya: sains fiksi.
Setidaknya kita bisa melihat bagaimana skenario dibuat semanusiawi mungkin dan serangan-serangan yang "masuk akal". Karena penonton sudah terlanjur terlena oleh keindahan view antariksa, maka apa yang akan selanjutnya terjadi sudah mereka jadikan sebagai sesuatu yang serba mungkin/tidak mustahil. Meskipun sepulangnya dari bioskop, kita akan bertanya-tanya bahwa ending yang paling tepat dalam Gravity adalah kematian.
Sampai-sampai saya ingin melihat bagaimana Ryan Stone jatuh tepat di atas gunung berapi. Atau diatas perkampungan penduduk biar makin kece. Tidak di atas permukaan air yang "tak berpiranha" (Spoiler alert).
Sandra Bullock sebagaimana yang diketahui adalah peraih Oscar dalam The Blind Side, sebagai seorang istri yang memendam perhatian khusus pada lelaki kulit hitam autis. Kini ia dijagokan meraih tempat dalam nominasi Best Actress. Menurut saya sih, peran yang ia terima dalam Gravity adalah peran yang mudah, bisa dilakukan oleh aktris watak lain. Barangkali yang begitu memuji akting Bullock yang memang benar-benar brilian, adalah penonton yang jarang melihat kemampuan akting dirinya.
Kerap kali membintangi film aksi, tak susah baginya untuk memasang wajah tegang, depresi. Apalagi sudah beberapa kali membintangi film drama dan juga komedi. Jangan lupakan tokoh Matt yang merupakan hero sebenarnya dalam film ini. Ia adalah tokoh optimis, humoris, yang berpikir bahwa segalanya akan baik-baik saja.
Butuh 4 tahun untuk menyelesaikan Gravity. Tidak heran kita akan merasa berada di ruang angkasa dan menempatkan diri sebagai sang tokoh utama. Jangan lupakan konsep one moving shoot yang smooth membuat kita merasa tenang. Kesimpulannya meski klise, film ini dapat memberi petunjuk pada kita, bahwa di tengah ketidakmungkinan dan harapan hidup yang tipis, seseorang akan keluar dari masalah jika mencoba dan berani mengambil keputusan dan risiko. Yang jelas film ini cukup manusiawi untuk sebuah genre drama dan disaster thriller. Lewat tokoh Ryan Stone, sebenarnya kita tengah menyaksikan sosok tipikal manusia: memilih berjuang, atau diam saja.
*
![]() | ||
| Score : 7/10 |
(Endingnya yang gue kurang suka :D Sedikit cemen :P)

