JIKA di era 90'an anak-anak menyanyikan lagu anak-anak, di era 2010'an
anak-anak menyanyikan lagu cinta orang dewasa. Tersebutlah empat orang
anak yang bahkan tak merasa perlu saya ingat-ingat siapa namanya. Adalah
Coboy Junior yang menjadi role model baru anak-anak SD/SMP Indonesia.
Memulai debutnya dengan membawakan lagu ganjen atau genit. Mereka
menarik pangsa pasar anak-anak pasca berakhirnya demam Idola Cilik yang
merupakan konten paling sehat di akhir era 2000-an.
Kalau mau dibilang musibah, kayaknya serba berlebih. Toh apa yang dinyanyikan Coboy Junior yang notabene bocah ingusan yang duduk di kelas SD/SMP (dengan tubuh imut-imut yang amat mengesankan kalau mereka memanglah kanak-kanak), hanyalah sebuah lagu. Tak perlu diseriuskan. Tapi kembali jika kita semua sedang lebaaay .. jangan-jangan konten lagu mereka menjadi salah satu penyebab anak-anak yang berbuat asusila seperti peristiwa kemarin. Ketika anak-anak SMP melakukan seks dalam kelas, berkali-kali, tanpa malu, plus direkam dengan menggunakan kamera handphone.
Jawabannya bisa iya bisa tidak. Segalanya serba konon. Konon anak-anak yang tersesat adalah anak yang tak diperhatikan orangtuanya. Memang begitulah pada faktanya. Orangtua di pedesaan khususnya, cenderung awam dan membiarkan anak-anak mereka mengakses facebook. Di socmed tersebut anak-anak perempuan yang bahkan belum mens, sudah berganjen-ganjen ria dengan status serba anak remaja 17 tahunan. Mereka menyebut itu sebagai sesuatu yang keren. Sebab jika demikian, artinya tidak gaul.
Kebanyakan anak ganjen ini adalah anak perempuan. Mereka lebih sering dan keranjingan aktif di jejaring sosial sehingga setelah banyak mengamati, mereka merasa tahu banyak. Terutama rasa penasaran mereka terhadap seksualitas diri dan lawan jenis. Dari yang terberitakan, beberapa orang menduga aksi perekaman disengaja itu karena anak-anak perempuan yang lebih punya inisiatif melakukan tindakan asusila. Dalam video yang sempat beredar, anak lelaki tampak disuruh dan anak-anak perempuan membiarkan.
Lagu Coboy Junior dan Identitas Seksual
Semoga keponakan saya tidak baca artikel ini, ya. Sebab mereka masih SD (yang satu SMP dan sudah lebih melek), dan ketiganya suka sekali dengan COboy Junior atau CJR. Saat film CJR The Movie saja mereka ingin menontonnya dua kali (ya, keponakan tertua benar-benar menontonnya dua kali. Maklum, anak perempuan dan tiba-tiba dia menjadi konsumtif dan gaul banget).
Lagu-lagu CJR meski cinta-cintaan, tak sepenuhnya keliru. Ada identitas gender di sana. Dimana anak lelaki haruslah mencintai anak gadis. Dan anak gadis yang mendengarnya, tentu akan sadar identitas seksualitas dirinya. Meski kemudian hal ini dianggap tak perlu karena seiring waktu, semua anak di masa peralihan ke masa remaja, akan sadar identitas seksualnya. Sejak kecil identifikasi ini bahkan sudah muncul.
Keberadaan CJR hanya "Mempercepat" anak-anak ini "tumbuh". Anak-anak yang seharusnya memikirkan urusan persahabatan, sekolah, malah memikirkan hal-hal yang serba ganjen. Tentang rasa suka pada lawan jenis, tentang bagaimana cara merayu dan dirayu. Untuk kemudian apa-apa yang telah didengar anak-anak ini, merasuk ke dalam pikiran, menjadi bunga tidur. Tertanam di otak dan kemudian memengaruhi kepribadian.
Bisa jadi pelaku asusia baik dua pelaku maupun yang membiarkan tindak asusila itu terjadi, adalah anak-anak yang gemar mengonsumsi musik-musik beginian. Namun industri musik membiarkan karena otak mereka adalah otak bisnis, para orangtua pun menganggap bahwa toh yang dinyanyikan anak-anak mereka hanyalah sebuah nyanyian semata.
Konten Anak-Anak Tahun 90'an VS Konten Anak-Anak Tahun 2000'an.
Majalah Bobo, Tabloid Fantasi dan Hoplaa, Kaset anak-anak Bondan Prakoso dan Enno Lerian, Tayangan Cilukba, kartun Kesatria Baja Hitam dan Sailormoon, adalah beberapa konten positif anak-anak tahun 90'an. Identitas seksual yang sehat tertera dalam produk tersebut. Lagu-lagu yang dibawakan anak perempuan cenderung feminin (masak memasak misalnya lagu Du Di Dam Enno Lerian), lagu yang dibawakan anak lelaki cenderung maskulin (seperti si Lumba Lumba Bondan Prakoso). Dan tentu saja bagaimana live action Kesatria Baja Hitam selalu disukai anak lelaki dan Sailormoon kerap kali disukai anak perempuan.
Bandingkan dengan era kini, "identitas seksual" dalam produk televisi dibuat dalam sinetron-sinetron anak-anak SMP yang penuh cinta-cintaan (pernah dibuat). Ini jelas membuat risih, jengkel, namun di sisi lain kita merasa tak bisa berbuat apa-apa sebagai dewasa. Belum lagi sinetron anak-anak yang masih eksis sekarang, dimana dibumbui kisah asmara orang dewasa, gestur orang dewasa, permusuhan/rasa antagonis ala orang dewasa. Tak ada lagu sentuhan manusiawi seperti serial Keluarga Cemara.
Terlalu panjang untuk dituturkan. Tapi lihat bagaimana lagu Ngaca Dulu Deh dari CJR dibuat sebagai kegeraman mereka untuk para haters. Mengutip kaliman Dedy C yang 11-12 sebenarnya sama Agnes Monica karena terlihat geram dengan yang namanya kritik.
Kalimat "Sebelum membenar-benarkan sesuatu, sebaiknya ngaca dulu" pun menjadi tameng mahakuat dari fans CJR yang disebut Konslet eh COMET. Kalau Agnes jargonnya "Mulut setan bicara tak karuan" maka CJR ya itu tadi. Kasihan betul. Jelas sekali empat anak ini digunakan industri hiburan. Seperti "dididik" untuk merasa benar dan menutup mata.
Mereka semua kreator yang harus berhadapan dengan apresiator (kita) sang pemberi kritik. Kalimat "ngaca dulu deh" akan lebih tepat untuk orang-orang yang mengurusi urusan personal orang lain di lingkungan yang juga personal. Misalnya demen gosip si anu dan si anu. Lah CJR ini kan artis, masak tutup kritik dan menyangka semua ekspresi ketidaksukaan adalah penghinaan. Tragis betul.
Sampai Kita Membusa Pun Mereka Akan Cuek Bebek
Kadang berpikir tidak sih, semua kritik yang terhampar di blog, di Kompasiana, apakah berpengaruh dan bisa memperbaiki industri hiburan di Indonesia yang koplak?Nyatanya tidak, mereka terlalu raksasa. Sementara suara kita seperti cicit tikus yang kegencet kaki gajah. Satu artikel saja mungkin cuma dibaca 200, bahkan sampai 30 ribu saja itu semua mungkin tak akan membuat pelaku industri hiburan memperbaiki diri.
Sebab kenapa? Sebab pasti jawabannya "NGACA DULU DEH!"
CJR tak habis-habisnya merilis single cinta-cintaan. meskipun lagu Mama adalah lagu paling waras. Dengar saja lagu Demam Unyu-Unyu. Yang makin membuat lebih banyak anak keganjenan sama lawan jenis. Jadi buat orang tua dan dewasa yang punya keponakan, sering-sering deh ingatkan anak-anak pengonsumsi musik CJR agar memosisikan lagu tersebut sebagai hiburan semata. Karena melarang mereka adalah tak mungkin. Mana ada lagu anak-anak yang dinyanyikan anak-anak di era ini. Kalau ada pun hanya satu dua. Apakah kita perlu berdoa agar industri hiburan kita mengembalikan demam konten anak-anak layaknya tahun 90'an. Ketika bahkan penyanyi dewasa pun membawakan lagu anak-anak. Sebut saja Memes dengan Pesawatku. Begini liriknya:
Pesawatku .. terbang ke bulan .. Pesawatku terbang ke bulan ..
Tapi sayangnya semua orang seperti kesetanan sama lirik: Oh bidadari jatuh dari sorga tepat di hatiku. Eaa EAA!
