1 Juni 2013

Filosofi dan Joke Gegabah Tentang Pemerkosaan

PEMERKOSAAN, sudah menjadi kasus kejahatan yang 'familiar' alias gampang ditemukan di koran-koran kuning maupun media online. Pemerkosaan, juga kerap kali diambil sebagai nilai jual dalam bentuk produk untuk meningkatkan libido manusia: film porno (baca bokep). Jangan lupakan mengenai bahasa-bahasa artikel di korang kuing (koran ecek-ecek) dengan deskripsi bagian pemerkosaan yang 'detail' atau judul yang 'bombastis'.


Tidakkah ini terlihat seperti ... bagaimana orang-orang itu sesungguhnya menikmati perempuan sebagai korban pemerkosaan? Saking melekatnya perkara 'pemerkosaan sebagai hal yang lumrah', beberapa pernyataan dangkal pun terembus. Mungkin kita sudah pernah mendengarnya. Yakni ketika ada seseorang yang mengatakan bahwa ...

HIDUP ITU SEPERTI ORANG DIPERKOSA. ENAK NGGAK ENAK, NIKMATILAH.

Kira-kira seperti demikian. Bahkan menurut seorang teman, 'filosofi' perkosaan ini disinggung dalam novel The Sweet Sins-nya Rangga Putra Wirianto. Dalam dialog, disebutkan bahwa "kalau lu enggak bisa ngelawan saat lu diperkosa, at teast, nikmatilah!"

Dan karena kalangan remaja rentan digiring, mereka pun setuju dan ramai-ramai menggunakan filosofi gegabah itu. 




Apakah kita bisa memasang standar moral pada kreatornya. Saya pikir ini terlalu gegabah. Cukup prihatin saja. Toh setiap penulis berhak mengambil asosiasi yang diyakininya. Meskipun secara pribadi, menurut saya itu sangat keliru. Berpikir saja kalau apa yang dimaksudkan bukanlah pemerkosaan yang dilakukan pihak lelaki terhadap pihak perempuan.

Meskipun kalau sangat diseriuskan ini seperti ... orang itu tak punya empati. Diperkosa kok malah dibilangin begitu. Kenapa harus ada kata 'menikmati' di sana? Itu seperti menyemburkan asosiasi dari frasa 'timbal balik'. Kenapa tidak dengan kata 'pasrah', 'tak berdaya', 'korban', tak bisa melawan ....

Dan hari ini bumi dunia maya digonjang-ganjing oleh selentingan perkatan seorang calon hakim agung saat mengikuti fit and proper test seleksi hakim agung di Komisi III DPR. Ini terjadi kemarin pada 14 Januari 2013.  Saat ditanya oleh anggota Komisi III sebuah fraksi, dengan pertanyaan: "Bagaimana menurut Anda apabila kasus perkosaan ini dibuat menjadi hukuman mati?"

Dan jawabannya adalah: "Yang diperkosa dengan yang diperkosa ini sama-sama menikmati. Jadi, harus pikir-pikir terhadap hukuman mati."

Wah, 'cari mati ni orang'. Wajar dong kita sebagai masyarakat amat reaktif. Dia kan publik figur, apalagi punya atribut akademik di atas rakyat sipil lain. Dan bukannya malah dikecam, omongan ini malahmendapatkan tertawaan dari anggota DPR lain. Alias, sama-sama mengamini joke tersebut.

Ini negara apa, sih? Di mana empati mereka? Kok, bisa-bisanya ngomong begitu dan 'disetujui' begitu. Bukannya ditegur, sang calon ini 'dibiarkan'. Bagi yang sudah tertawa, bukannya meminta maaf, eh malah bilang: "Lihat suasana batin teman-teman di Komisi III. Tertawa tidak berarti setuju."

Susah yah, bagi orang-orang besar seperti mereka untuk mengakui kesalahan? Atau jangan-jangan memang mereka merasa itu bukan kesalahan. Sampai sekarang sang empunya tukang ngebanyol belum unjuk gigi lagi? Apakah perlu waktu sampai beberapa hari lagi untuk minta maaf? Sebab bagi masayarakat waras kayak kita, meminta maaf bukan pula sebagai pengakuan kesalahan, tapi kebesaran hati.

Joke soal perkosaan ini, baik sesuai 'konteks' maupun tidak, jelas-jelas melanggar etika. Olga Syahputra misalnya, pernah meleuconi dirinya sebagai kuntilanak dalam aksi panggung sebuah tayangan live acara TV tertentu. Untuk mengingatkan kembali dia ditanya kenapa bisa mati? Olga menjawab kira-kira, "sepele Bang. Diperkosa sama sopir angkot."

Tanpa sadar, kita mungkin tertawa mendengarnya. Tapi di sisi lain, kita seperti makhluk yang tidak punya empati. Sesungguhnya pikiran pragmatis patriarkis masih terpelihara sampai sekarang. Tidak saya lupa bagaimana beberapa minggu yang lalu di jejaring sosial, seseorang menyalahkan pihak perempuan yang diperkosa 10 pemuda. Dia berkata, "perempuan baik-baik tak pernah mau diajak 10 pemuda."

Otaknya mungkin perlu mengadakan penggalian berkala. Dia tak pernah mau memikirkan celah-celah kemungkinan kenapa sang gadis bisa sampai diajak. Dijebakkah? Apapun alasannya, perkosaan bukanlah kejahatan yang wajib mendapatkan pemakluman. Mencuri misalnya, didasari atas kebutuhan ingin mendapatkan uang secara instan. Pemerkosaan? Apakah harus pihak perempuannya yang jadi kambing hitam karena dianggap seksi dan penggoda?

Seorang pemerkosa, juga telah amat sangat menghina karya Tuhan. Menjadikan karya Tuhan (perempuan) seenak udel sendiri. Tidak ada ubahnya dengan si pengeparat celotehan dan candaan bahkan sok-sok -an filosofis tentang pemerkosaan. Seperti tidak punya hati saja.

Kalaulah dia sendiri yang mengalami pemerkosaan, atau anggota keluarganya yang diperkosa, apakah celotehan dan candaan itu masih bisa ia hunuskan? Ah, memang beneran ini mah ... mungkin tu orang demen sama bokep-bokep bertema BDSM dan rape. Ketika si cewek dan si cowok sama-sama menikmati, sehingga muncullah kalimat itu. 

Yang diperkosa dengan yang diperkosa ini sama-sama menikmati.