PEMERKOSAAN,
sudah menjadi kasus kejahatan yang 'familiar' alias gampang ditemukan di
koran-koran kuning maupun media online. Pemerkosaan, juga kerap kali diambil
sebagai nilai jual dalam bentuk produk untuk meningkatkan libido manusia: film
porno (baca bokep). Jangan lupakan mengenai bahasa-bahasa artikel di korang
kuing (koran ecek-ecek) dengan deskripsi bagian pemerkosaan yang 'detail' atau
judul yang 'bombastis'.
Tidakkah ini terlihat seperti ... bagaimana orang-orang itu sesungguhnya menikmati perempuan sebagai korban pemerkosaan? Saking melekatnya perkara 'pemerkosaan sebagai hal yang lumrah', beberapa pernyataan dangkal pun terembus. Mungkin kita sudah pernah mendengarnya. Yakni ketika ada seseorang yang mengatakan bahwa ...
HIDUP ITU
SEPERTI ORANG DIPERKOSA. ENAK NGGAK ENAK, NIKMATILAH.
Kira-kira
seperti demikian. Bahkan menurut seorang teman, 'filosofi' perkosaan ini
disinggung dalam novel The Sweet Sins-nya Rangga Putra Wirianto. Dalam dialog,
disebutkan bahwa "kalau lu enggak bisa ngelawan saat lu diperkosa, at
teast, nikmatilah!"
Dan karena
kalangan remaja rentan digiring, mereka pun setuju dan ramai-ramai menggunakan
filosofi gegabah itu.
Apakah kita
bisa memasang standar moral pada kreatornya. Saya pikir ini terlalu gegabah.
Cukup prihatin saja. Toh setiap penulis berhak mengambil asosiasi yang
diyakininya. Meskipun secara pribadi, menurut saya itu sangat keliru. Berpikir
saja kalau apa yang dimaksudkan bukanlah pemerkosaan yang dilakukan pihak
lelaki terhadap pihak perempuan.
Meskipun
kalau sangat diseriuskan ini seperti ... orang itu tak punya empati. Diperkosa
kok malah dibilangin begitu. Kenapa harus ada kata 'menikmati' di sana? Itu
seperti menyemburkan asosiasi dari frasa 'timbal balik'. Kenapa tidak dengan kata
'pasrah', 'tak berdaya', 'korban', tak bisa melawan ....
Dan hari ini
bumi dunia maya digonjang-ganjing oleh selentingan perkatan seorang calon hakim
agung saat mengikuti fit and proper test seleksi hakim agung di Komisi III DPR.
Ini terjadi kemarin pada 14 Januari 2013. Saat ditanya oleh anggota
Komisi III sebuah fraksi, dengan pertanyaan: "Bagaimana menurut Anda
apabila kasus perkosaan ini dibuat menjadi hukuman mati?"
Dan
jawabannya adalah: "Yang diperkosa dengan yang diperkosa ini sama-sama
menikmati. Jadi, harus pikir-pikir terhadap hukuman mati."
Wah, 'cari
mati ni orang'. Wajar dong kita sebagai masyarakat amat reaktif. Dia kan publik
figur, apalagi punya atribut akademik di atas rakyat sipil lain. Dan bukannya
malah dikecam, omongan ini malahmendapatkan tertawaan dari anggota DPR lain.
Alias, sama-sama mengamini joke tersebut.
Ini negara
apa, sih? Di mana empati mereka? Kok, bisa-bisanya ngomong begitu dan
'disetujui' begitu. Bukannya ditegur, sang calon ini 'dibiarkan'. Bagi yang
sudah tertawa, bukannya meminta maaf, eh malah bilang: "Lihat suasana
batin teman-teman di Komisi III. Tertawa tidak berarti setuju."
Susah yah, bagi orang-orang besar seperti mereka untuk mengakui kesalahan? Atau jangan-jangan memang mereka merasa itu bukan kesalahan. Sampai sekarang sang empunya tukang ngebanyol belum unjuk gigi lagi? Apakah perlu waktu sampai beberapa hari lagi untuk minta maaf? Sebab bagi masayarakat waras kayak kita, meminta maaf bukan pula sebagai pengakuan kesalahan, tapi kebesaran hati.
Joke soal
perkosaan ini, baik sesuai 'konteks' maupun tidak, jelas-jelas melanggar etika.
Olga Syahputra misalnya, pernah meleuconi dirinya sebagai kuntilanak dalam aksi
panggung sebuah tayangan live acara TV tertentu. Untuk mengingatkan kembali dia
ditanya kenapa bisa mati? Olga menjawab kira-kira, "sepele Bang. Diperkosa
sama sopir angkot."
Tanpa sadar,
kita mungkin tertawa mendengarnya. Tapi di sisi lain, kita seperti makhluk yang
tidak punya empati. Sesungguhnya pikiran pragmatis patriarkis masih terpelihara
sampai sekarang. Tidak saya lupa bagaimana beberapa minggu yang lalu di
jejaring sosial, seseorang menyalahkan pihak perempuan yang diperkosa 10
pemuda. Dia berkata, "perempuan baik-baik tak pernah mau diajak 10
pemuda."
Otaknya
mungkin perlu mengadakan penggalian berkala. Dia tak pernah mau memikirkan
celah-celah kemungkinan kenapa sang gadis bisa sampai diajak. Dijebakkah?
Apapun alasannya, perkosaan bukanlah kejahatan yang wajib mendapatkan
pemakluman. Mencuri misalnya, didasari atas kebutuhan ingin mendapatkan uang
secara instan. Pemerkosaan? Apakah harus pihak perempuannya yang jadi kambing
hitam karena dianggap seksi dan penggoda?
Seorang
pemerkosa, juga telah amat sangat menghina karya Tuhan. Menjadikan karya Tuhan
(perempuan) seenak udel sendiri. Tidak ada ubahnya dengan si pengeparat
celotehan dan candaan bahkan sok-sok -an filosofis tentang pemerkosaan. Seperti
tidak punya hati saja.
Kalaulah dia
sendiri yang mengalami pemerkosaan, atau anggota keluarganya yang diperkosa,
apakah celotehan dan candaan itu masih bisa ia hunuskan? Ah, memang beneran ini
mah ... mungkin tu orang demen sama bokep-bokep bertema BDSM dan rape. Ketika
si cewek dan si cowok sama-sama menikmati, sehingga muncullah kalimat
itu.
Yang
diperkosa dengan yang diperkosa ini sama-sama menikmati.

