1 Mei 2013

Ketika Malem Minggu Miko Berakhir



KALAU ada sejenis anugerah buat dunia entertainment Indonesia yang waras, Raditya Dika boleh diganjar predikat Entertainer of the year tahun 2013. Dengan gaya khas dan konsistennya ia berhasil mengocok perut penikmatnya dalam berbagai format. Mulai dari novel bergaya memoarnya, stand up comedy-nya, filmnya, sampai mini serinya: Malam Minggu Miko (MMM).


Sayangnya MMM, tak akan kita nikmati lagi di malam-malam minggu para lajang yang sendiri. Episode terakhir MMM telah rilis via channel youtube-nya Dika, juga tayang di Kompas TV. Rasanya 'tidak adil', tapi tayangan-tayangan berkelas dan terbaik selalu muncul terbatas. Entah karena suatu proses kreativitas itu merupakan karya yang mahal, atau memang kendala rating dan 'modal'. Untuk alasan pertama yang saya moncongkan, sepertinya masuk akal. 

Untuk itulah kenapa TV One yang sempat menayangkan seri detektif Catatan Seorang Jurnalis cuma bertahan sampai beberapa episode saja. Selain sepi rating, tingkat pengerjaannya juga bukan perkara main-main.Maksud saya, lihatlah tayangan shitneron kita. Segalanya asal jadi, alur kemana-mana, nggak menentu, asal laku, asal ada iklan. Antara prihatin dan gemas.
Hal inilah yang barangkali membuat MMM hanya membuat sampai 26 episode saja. Barangkali bukan hal yang mudah membuat alur cerita sedemikian kreatif dan lucu. Apalagi ditayangkan di stasiun TV yang punya pemirsa terbatas.
Apa Itu Malam Minggu Miko?
MMM adalah serial mini yang berdurasi sekitar 12 menit saja. Tokoh sentralnya Miko yang diperankan Raditya Dika, yang tinggal satu rumah kontrakan dengan sahabatnya Rian (Ryan Adriandhy). Di rumah itu mereka ditemani pembantu rumah tangga yang lugu bernama Anca (Hadian Saputra). Ketiga bujang itu sama-sama jomblo dan kerap menghabiskan malam minggu mereka yang gagal dan absurd. Belakangan Anca jauh berpeluang mendapatkan pacar dengan seorang pembantu di rumah lain. Namun tidak dengan Miko dan Rian.
MMM muncul berdasar keinginan Dika membuat serial komedi. Awalnya ia membuat dua episode awal sebagai 'teaser' iseng-iseng. Video itu ditonton ratusan ribu pengunjung, hingga akhirnya Kompas TV tertarik menayangkannya. Alhasil, Kompas TV memegang hak siar dan Dika juga berhak meng-upload serialnya setelah disiarkan di TV.
MMM ditayangkan di Kompas TV dengan format dua serial per tayang. Itu dimulai pada 10 Desember 2012. Namun kemarin, genap 26 episode yang sudah dirilis. Episode berjudul "Malam Terakhir Miko" akhirnya menutup kisah-kisahnya.

Dua Film Dika Siap Rilis

Bisa jadi penghentian MMM itu karena sudah waktunya proyek filmnya dirilis. Nggak tanggung-tanggung, ada dua film yang hendak tayang di bioskop. Yang sama-sama dibintangi, dan berdasar konsepnya sendiri.


Adalah Cinta dalam Kardus yang merupakan adaptasi dari MMM. Mengisahkan tentang kegagalan Miko yang berstand-up comedy ria dalam sebuah cafe. Sampai akhirnya ia mengisahkan pengalaman ke 21 gebetan-gebetannya. Di sanalah kisah mulai menganga. Yang kedua adalah Cinta Brontosaurus. Diangkat dari novel kesekiannya berjudul sama. Ceritanya tentang seorang novelis bernama Dika (dirinya sendiri) yang jatuh cinta dengan gadis bernama Jessica.
21cineplex.com

Cinta dalam Kardus disutradarai Salman Aristo yang lebih dulu menyutradarai Jakarta Magrib dan Jakarta Hati (dua-duanya omnibus drama). Film Cinta dalam Kardus ini akan dirilis 13 Juni. Sementara Cinta Brontosaurus disutradarao Fajar Nugros dan akan dirilis 8 Mei depan.



Sejujurnya saya kurang menikmati film pertama Dika yang berjudul Kambing Jantan. Film tersebut baik secara skenario (dengan mengikutsertakan Moudy Surya sebagai penulis skenario) tapi mengecewakan di eksekusi. Film-film Dika ini malah terasa bagai FTV. Saya tidak yakin dengan Cinta dalam Kardus ketika menonton trailer-nya. Seperti .. lebih baik menunggu VCD orisinilnya atau nunggu "tayang" di youtube ketimbang "bayar mahal" demi sebuah "FTV". Apalagi karya Salman Aristo ini punya gambar-gambar sebagaimana gambar FTV pada umumnya.


Tapi berbeda dengan Cinta Brontosaurus, saya lebih yakin ke sini. Karena barangkali diproduseri Starvision, PH besar yang nggak perlu mikir dua kali buat membikin film dengan kamera film 33 milimeternya. Tapi nggak tahu juga yah. Suara awam gitu looooch -_-.


Yang jelas saya lebih menikmati MMM yang lebih jujur (atau gratis karena gampang akses? :D) Ya, dengan format home made dan memoar itu, MMM jauh lebih jujur dan lucu. Miko yang lugu dan 'bodoh', Rian yang ekspresif, atau Anca yang tak berdaya dan 'nerimo'. Sepertinya MMM jauh lebih impresif barangkali juga atas alasan betapa MMM tidak terlihat "haus darah", tidak kelihatan menggebu ingin dapat raupan iklan atau rating bagus. Mungkin hal itulah yang lebih membuatnya jujur dan berkualitas. Ketimbang produk-produk tayangan TV kita yang lebih .... lebih apa ya. Isi saja sesuka hati.


Yang jelas dua film Dika mungkin sangat dinanti-nanti penggemar setianya. Jadi kenapa harus berpikir tujuh kali buat menontonnya? :P