12 Mei 2013

Langkah-langkah Sederhana Mengasah Public Speaking


PERNAHKAH kamu merasa gugup ketika diharuskan tampil di muka umum? Katakanlah jadi pemimpin rapat, pemimpin upacara, pidato, presentasi kelas, atau narasumber seminar. Kalaulah kau seorang guru atau dosen, itu tidaklah soal. Itu pun karena mereka terbiasa dengan lingkungan tertentu/kelas, yang sudah menjadi rutinitas.


Lalu bagaimanakah jika kita yang tidak terbiasa tampil di muka umum, melakukannya? Berikut ini tips-tips Planting Jengkol agar kita bisa cling saat tampil di muka umum. Tapi ini jelas saran yang tidak mengacu pada seseorang atau pustaka tertentu. Jadi muncul begitu saja di benak saya. Apa saja sih?

Persiapan

Siapkan materi dan latihan di depan cermin sangat efektif meski merupakan tips yang sangat lagu lama. Beristirahat yang cukup untuk mempersiapkan hari esok.

Public Speaking

Public speaking adalah kemampuan untuk berkata-kata dengan baik dan benar di depan umum. Itu bukan berarti kamu harus tampil baku sekali. Di acara bincang-bincang  televisi bergenre hiburan, toh seseorang lumrah pakai bahasa keseharian. Namun public speaking adalah kemampuan paham dan tanggap dengan pertanyaan orang lain, keinginan audiens, sadar posisi menjadi narasumber atau seseorang yang berpidato, sehingga mampu berkata-kata dengan lancar. Apa saja yang harus dipersiapkan?

A. Orang yang biasa berbicara di depan umum atau bergaul, lebih mungkin mampu berkata-kata dengan lancar. Tapi lebih banyak orang yang suka membacalah yang bisa melakukannya. Bacaannya jenis konten bacaan yang dipenuhi kosakata dan tata kalimat terstruktur. Orang yang tidak suka membaca atau membaca hal-hal berbau pop berbahasa gaul bahkan pengguna bahasa alay sedari kecilnya, kelak akan kesusahan kala dihadapkan dalam situasi formal, ketika ia harus berbicara bahasa Indonesia yang baik dan rapi.

B. Hindari kebanyakan 'Eeeeeng'. Itu adalah tanda seseorang sedang berpikir. Karena faktor stress  mungkin, atau bingung, membuat ia kesusahan mengeluarkan kata-kata yang ada di pikirannya. Sekali dua kali "engg" sih, nggak apa-apa. Ada juga yang menggantunya dengan "eum" dan sebagainya. 

C. Hindari pengulangan kata. Kita mungkin pernah dengar ada orang yang kalau ngomong selalu mengulang satu kata yang baru saja diucapkannya. Itu adalah cara terbaik yang bisa ia lakukan untuk "menemukan" kembali kata selanjutnya yang akan ia  verbalkan. Misalnya: "Jadi apa yang yang yang yang dimuat di berita itu adalah salah."

Kemampuan Menguasai Lapangan

A. Grogi pasti kalau kamu seorang diri tampil di depan dan harus berbicara. Deg-degan pasti juga namanya juga tidak terbiasa. Tapi kuasailah ruangan. Jangan terpaku dengan satu sudut tertentu atau kelompok tertentu. Sebelum tampil lihatlah satu per satu orang secara sekilas. Tengok ke kiri ke kanan ke balakang dengan gaya yang wajar. Kala kamu tampi di muka, kamu pun yakin kamu sudah mengetahui karakteristik semuanya. Tinggal berbicara deh.

B. Pasang kontak mata! Tentu tidak mungkin melakukannya satu per satu. Matamu harus melihat ke segala penjuru. Juga peka terhadap pandangan audiens. Ada adiens yang memperhatikan, pasang kontak kepadanya dua detik saja seakan-akan kamu berbicara dengannya. Ada audiens yang cuek, pasang juga dengan tampang meyakinkan, kalau kamu layak untuk didengarkan!

C. Konsen pada yang memperhatikan. Tentu enggak enak yah, pas presentasi kelas dan dosennya tidak ada, anak-anak pada ribut. Hal ini janganlah membuatmu malas. Lihatlah orang-orang yang memperhatikanmu. Biarkan orang-orang yang tak memperhatikanmu. Toh dalam situasi ini, kamu tak harus mengatakan "hei, dengarkan saya lagi berbicara!"

Penampilan

Penampilan rapi dan elegan lebih menarik perhatian. Tapi memang tergantung situasi. Namun yang saya bicarakan memang lebih mengarah pada penampilan-penampilan di dunia akademik. 

A. Mahasiswa. Memang mahasiswa bisa memakai pakaian yang mereka suka. Itu tak jadi soal. Namun ada mahasiswa perempuan yang tak mengubah dandanannya saat presentasi. Sehingga kebanyakan cowok melihatnya karena penampilan.Sebut saja dengan kaos dan celana jeans ketat. Bahkan ada yang pakai legging segala. Alangkah baik jika pakai kemeja atau blazer, atau pakai jaket. Dandanan ala penyanyi dangdut begitu kurang mencerminkan intelektualitas.

B. Kalangan cowok juga gampang. Lagian memang tergantung jurusan. Jurusan seni dan sastra lebih apa-adanya. Namun alangkah baik jika memang harus tampil sopan termasuk dengan tidak memakai jeans bolong-bolong atau kaos. Dosen memang tidak mempermasalahkannya. Selama pakai baju ya, udah. Namun jika kebiasaan pakai baju seenak sendiri ini terus dipelihara, bisa jadi akan berpengaruh di masa depan. Siapa tahu.

Itulah yang bisa saya sarankan. Semoga bermanfaat.