PERNAHKAH
kamu merasa gugup ketika diharuskan tampil di muka umum? Katakanlah jadi
pemimpin rapat, pemimpin upacara, pidato, presentasi kelas, atau narasumber
seminar. Kalaulah kau seorang guru atau dosen, itu tidaklah soal. Itu pun
karena mereka terbiasa dengan lingkungan tertentu/kelas, yang sudah menjadi
rutinitas.
Lalu bagaimanakah jika kita yang tidak terbiasa tampil di muka umum, melakukannya? Berikut ini tips-tips Planting Jengkol agar kita bisa cling saat tampil di muka umum. Tapi ini jelas saran yang tidak mengacu pada seseorang atau pustaka tertentu. Jadi muncul begitu saja di benak saya. Apa saja sih?
Persiapan
Siapkan
materi dan latihan di depan cermin sangat efektif meski merupakan tips yang
sangat lagu lama. Beristirahat yang cukup untuk mempersiapkan hari esok.
Public
Speaking
Public
speaking adalah kemampuan untuk berkata-kata dengan baik dan benar di depan
umum. Itu bukan berarti kamu harus tampil baku sekali. Di acara
bincang-bincang televisi bergenre hiburan, toh seseorang lumrah pakai
bahasa keseharian. Namun public speaking adalah kemampuan paham dan tanggap
dengan pertanyaan orang lain, keinginan audiens, sadar posisi menjadi
narasumber atau seseorang yang berpidato, sehingga mampu berkata-kata dengan
lancar. Apa saja yang harus dipersiapkan?
A. Orang
yang biasa berbicara di depan umum atau bergaul, lebih mungkin mampu
berkata-kata dengan lancar. Tapi lebih banyak orang yang suka membacalah yang
bisa melakukannya. Bacaannya jenis konten bacaan yang dipenuhi kosakata dan
tata kalimat terstruktur. Orang yang tidak suka membaca atau membaca hal-hal
berbau pop berbahasa gaul bahkan pengguna bahasa alay sedari kecilnya, kelak
akan kesusahan kala dihadapkan dalam situasi formal, ketika ia harus berbicara
bahasa Indonesia yang baik dan rapi.
B. Hindari
kebanyakan 'Eeeeeng'. Itu adalah tanda seseorang sedang berpikir. Karena faktor
stress mungkin, atau bingung, membuat ia kesusahan mengeluarkan kata-kata
yang ada di pikirannya. Sekali dua kali "engg" sih, nggak apa-apa.
Ada juga yang menggantunya dengan "eum" dan sebagainya.
C. Hindari
pengulangan kata. Kita mungkin pernah dengar ada orang yang kalau ngomong
selalu mengulang satu kata yang baru saja diucapkannya. Itu adalah cara terbaik
yang bisa ia lakukan untuk "menemukan" kembali kata selanjutnya yang
akan ia verbalkan. Misalnya: "Jadi apa yang yang yang yang dimuat di
berita itu adalah salah."
Kemampuan
Menguasai Lapangan
A. Grogi
pasti kalau kamu seorang diri tampil di depan dan harus berbicara. Deg-degan
pasti juga namanya juga tidak terbiasa. Tapi kuasailah ruangan. Jangan terpaku
dengan satu sudut tertentu atau kelompok tertentu. Sebelum tampil lihatlah satu
per satu orang secara sekilas. Tengok ke kiri ke kanan ke balakang dengan gaya
yang wajar. Kala kamu tampi di muka, kamu pun yakin kamu sudah mengetahui
karakteristik semuanya. Tinggal berbicara deh.
B. Pasang
kontak mata! Tentu tidak mungkin melakukannya satu per satu. Matamu harus
melihat ke segala penjuru. Juga peka terhadap pandangan audiens. Ada adiens
yang memperhatikan, pasang kontak kepadanya dua detik saja seakan-akan kamu
berbicara dengannya. Ada audiens yang cuek, pasang juga dengan tampang
meyakinkan, kalau kamu layak untuk didengarkan!
C. Konsen
pada yang memperhatikan. Tentu enggak enak yah, pas presentasi kelas dan
dosennya tidak ada, anak-anak pada ribut. Hal ini janganlah membuatmu malas.
Lihatlah orang-orang yang memperhatikanmu. Biarkan orang-orang yang tak
memperhatikanmu. Toh dalam situasi ini, kamu tak harus mengatakan "hei,
dengarkan saya lagi berbicara!"
Penampilan
Penampilan
rapi dan elegan lebih menarik perhatian. Tapi memang tergantung situasi. Namun
yang saya bicarakan memang lebih mengarah pada penampilan-penampilan di dunia
akademik.
A.
Mahasiswa. Memang mahasiswa bisa memakai pakaian yang mereka suka. Itu tak jadi
soal. Namun ada mahasiswa perempuan yang tak mengubah dandanannya saat
presentasi. Sehingga kebanyakan cowok melihatnya karena penampilan.Sebut saja
dengan kaos dan celana jeans ketat. Bahkan ada yang pakai legging segala.
Alangkah baik jika pakai kemeja atau blazer, atau pakai jaket. Dandanan ala
penyanyi dangdut begitu kurang mencerminkan intelektualitas.
B. Kalangan
cowok juga gampang. Lagian memang tergantung jurusan. Jurusan seni dan sastra
lebih apa-adanya. Namun alangkah baik jika memang harus tampil sopan termasuk
dengan tidak memakai jeans bolong-bolong atau kaos. Dosen memang tidak
mempermasalahkannya. Selama pakai baju ya, udah. Namun jika kebiasaan pakai
baju seenak sendiri ini terus dipelihara, bisa jadi akan berpengaruh di masa
depan. Siapa tahu.
Itulah yang
bisa saya sarankan. Semoga bermanfaat.
