Bakti mungkin
satu-satunya siswa berkulit paling gelap di kelas. Tapi dia bukan satu-satunya
anak yang suka bikin rusuh. Saat bel istirahat memekik dan guru keluar kelas,
Bakti langsung tampil di muka dan menyuruh teman-temannya duduk.
“Guys, dengerin gue
dulu. Plis. Silahkan kembali ke tempat duduk,” Suruh Bakti.
“Siapa elo Do? Ketua
kelas bukan?” Sela yang lain.
“Iye, gaje deh. Perut
gue udah keriting nih minta dijejelin mie ayam!” Susul yang lain.
“Udeh lo pada diem dulu
napa. Gue bakalan singkat, kok …” Kata Bakti sambil cengengesan.
Pintu kelas ditutup
rapat, kelas dengan 29 siswa itu dengan terpaksa duduk di bangku masing-masing.
“Kalian tahu Harlem
Shake, kan?” tanya Bakti sambil goyang-goyang itik ada Zaskia.
“Buset lo jorok! Porno.
Sex, sex! Kita masih kelas 12 woy!” seru Asep.
“Shake Ton, bukan SEX!
Shake its mean goyang. You know goyang?”
“Oohh …” Tono mengerti.
“ Maklum ya sih, lo
pada nggak punya internet di rumah. Hahah. Kidding … Jadi gini, Harlem Shake
itu lagi booming lho. Penggantinya tarian Gangnam Style … Tahu kan kalau yang
itu?”
“Yang itu mah tahu,
lah. Goyangan kuda itu lho,” ujar Ghina.
“Iya, kuda ranjang.”
tambah Frida centil.
“Ehhmmmmh, bisa gue
lanjutin?
“Sook lahh …” Sambut
Diani.
Ternyata
penjelasan Subak memakan waktu sampai 15 menit. Asyiknya semua teman-teman
sangat termakan bujuk rayu Subak. Apalgi
saat video salah satu Harlem Shake diperlihatkan via ponsel.
“Seru
beudz …” Ujar si ketua kelas, Rian.
Kita harus coba. Biar terkenal kayak sekolah
lain!” Seru Ssubak. “Kita harus buktikan bahwa anak daerah juga bisa ber-HARLEM
SHAKE. SETUJU?!!”
“SETUJU!!!” jawab
anak-anak itu dengan serempak.
Tidak perlu perencanaan
matang, seusai jam pelajaran terkahir, mereka siap ber-Harlem Shake ria. Hanya
dengan ponsel bersolusi tinggi milik Diani, ke 29 anak itu siap di rekam.
Subak kembali
mengutarakan aba-aba sebelum syuting dimulai. Di tangannya tergenggam handphone
yang siap memutar music Harlem Shake karya Baauer.
“Udah pada jelas kan
ya?? Gua awalnya nari-nari sambil telanjang dada. Pala gue juga diipet-lipet
sama seragam kan? Nah pokoknya kalian pada berlaku biasa aja kayak nggak ada
apa-apa. Terus pas gue bilang.
“MULAI!”, lo semua mulai deh nari-nari gaje.
Segokil-gokilnya. Entar hasil rekaman ini akan diedit jadi 30 detik doing. Siap
semua?!”
“SIAAP!”
“Okey, mari kita mulai
mengharumkan sekolah kita!”
Ponsel telah diatur
agar seisi ruangan kelas terekam penuh. Ponsel itu diletakkan di meja guru yang
lebih dulu diseret ke tengah kelas. Lalu disenderkan ke belakang sebuah tumpukan
buku. Musik diperdengarkan, saatnya syuting dimulai.
CON LOS TERRORITAS
Dan semuanya menggila.
*
Seminggu kemudian,
semua kembali seperti biasanya. Taka da euphoria belebihan. Anak-anak kelas
tiga SMA ini kembali konsen untuk menghadapi ujian nasional. Hingga kembali di
jam istirahat, Subak melarang semua anak keluar.
“Apa lagi, deh?” Tanya
Bahrul.
“Gua akan mengabarkaan
kalau video kita …,” Kata Subak dengan tampang sedih. “Video Harlem Shake kita
cuma ditonton sepuluh orang! Padahal udah dimasukin ke youtube sejak seminggu
yang lalu …”
Kelas pun riuh.
“ Gila! Siapa aja tu h
yang liat. Kita kan ber-29 orang? Masak di antara kita nggak ada yang akses?”
Ujar Rian.
“Akuin aja deh. Harlem
Shake kita emang serba standar. Nggak ada yang menarik,” Susul Lulu. “Gue liat
video anak SMA yang lain. Semuanya keren! Kualitas videonya oke punya. Lah
kita?”
“Udahlah, konsen aja k
belajar!” tutur si kutu buku, Farah.
Kelas mendadak hening
dalam satu menit, tiba-tiba seseorang dari belakang memberikan ide.
“Kita lakukan sekali
lagi.”
Anak itu Malik, anak
yang dikenal tenang dan sealu tersenyum. Ia datang dari keluarga kaya raya di
desa. Kala ia berjalan menuju ke muka kelas, semua mata tertuju padanya.
“Kita pakai handycam
punyaku. Kita harus punya konsep yang menarik. Tidak masalah seberapa banyak
atau sedikitnya orang yang menontonnya. Tapi sebentar lagi kita akan berpisah,
Teman-Teman. Kalau Harlem Shake ini kita bikin sekali lagi, ini akan jadi video
kenang-kenangan paling berharga …”
Semua anak tertegun dan
terenyuh. Jiwa mereka menghangat. Selalu ada gemuruh jika Malik berbicara.
Selain tampan, anak ini juga juara umum di sekolah.
“Gimana?”
“SETUJU!!!”
Malik terhentak,
teman-temannya kompak meneriakkan begitu.
*
Mereka mengadakan rapat
seusai setelah jam pulang berdaring. Di sore yang dipenuhi deras hujan itu,
mereka sibuk mengutarakan pendapat. Canda, tawa, bahkan celaan, berbaur
sana-sini layaknya serpihan kertas dari atas langit-langit kelas.
Hingga akhirnya, Yuni
seorang siswi paling pendiam mengusulkan di tengah usulan soal tema misteri.
“Mungkin aksi pura-pura bunuh diri, akan jadi tema spektakuler.”
Tawa
kecil dan kekehan pun surut kala Yuni yang bertampang dingin ini berkata.
Anak-annak saling berpandangan, tapi tak satu pun dari mereka yang mencela.
“Ada
yang pura-pura gantung diri, bunuh-bunuhan, minum racun, silet nadi, atau
apalah,” lanjut Yuni dengan tersenyum. Suaranya halus dan lirih.
“IDE
BAGUS!” seru Rio. “Gimana? Itu saja yang kita pakai?”
“Sereemmmm
…” Ujar Frida manja.
“Namanya juga
pura-pura, Frid.” Ucap Ghina.
“Sok hararayang seuri,”
Timpal Asep.
Subak berkata, “Gue sih
dukung aja. Simpel juga kan propertinya?”
Beberapa anak
mengangguk-angguk. Hingga akhirnya mereka berada di kesimpulan. Kalau besok
sepulang sekolah, mereka akan syuting di belakang gedung tua dekat sekolah.
Sering dipercaya tempat paling angker. Apalagi kalau syuting di kala malam.
Sementara persiapan per murid pun telah dibagi-bagi. Ada yang bawa pisau,
perban, tali tambang, atau apapun.
*
Sabtu sore selesai
Magrib, 29 anak berada di halaman belakang sebuah gedung tua. Gedung tersebut
adalah gedung bekas pertokoan yang pernah terbakar enam tahun lalu. Keadaan
cukup sepi dan mencekam. Namun setting bagai tata panggung pertunjukkantelah
mereka lakukan. Kerja sama yang bagus dan solid itu benar-benar membuat
persahabatan mereka terasa indah.
Hingga akhirnya, atas
bantuan beberapa petromaks, tikar, dan meja serta bangku, mereka-mereka yang
masih berseragam putih abu ini, membawa peralatan sendiri-sendiri. Siap unjuk
gigi.
Sepuluh orang berdiri
di atas kursi, mengahadap simpul tali tambang seolah mereka hendak bunuh diri.
Empat di depan, dua di kiri, dua di kanan, dua di belakang. Mereka pura-pura
stress dengan simpul tali yang sudah terlingkar di leher.
Empat belas orang duduk
di tikar, saling berhadapan dengan benda tajamseperti sejenis pissau, golok
yang tersimpan di pinggir. Di awal, mereka akan pura-pura minum air darah, yang
ternyata cuma air Fanta merah. Untuk kemudian, siap aksi bunuh-bunuhan jika
sudah diaba-abakan.
Tiga sisanya membawa
nampan minuman beserta gelasnya layaknya pelayan dengan jaket berlubang. Dan
Subak kembali jadi leader, dia bergoyang di tengah dengan kepala tertutup
topeng ala mummi. Handycam sudah
terpasang secara berdiri. Musik dari handphone di putar.
“Siap semuanya?!” seru
Subak.
“SIAAP!” kata yang
lain, yang sebagian sudah mencicipi segelas Fanta merah.
“Teriak-teriak boleh
aja lah, biar rame,” susul Malik.
Musik berirama. Subak
menari-nari. Dalam bayangannya semua berjalan sempurna. Ia tak bisa melihat
apa-apa karena kepalanya tertutup penuh dengan banyak perban. Ia menari sampai
sekira 17 detik, tak ada yang mengatakan “mulai!” bunyi keluhan dari teman-temannya
malah ia dengar. Bunyi kesakitan, aduh aduhan. Di detik ke 20 ia pun mendengar.
“MULAI!”
Subak semakin menari
ala orng gila. Ia beragak tuan tanah yang menyihir semua orang agar bunuh diri.
Dan kericuhan pun terdengar. Bunyi kerasak-kerusuk dan teriakan benar-benar
tampak seperti nyata. 30 detik kemudian rasanya sudah berlalu, teriakan pun
lambat laun makin memudar. Subak merasa aneh, kenapa tidak ada seseorang yang
menyuuhnya berhenti?
Musik berdurasi 3 menit
itu pun usai. Subak membuka perbannya. Mungkin begitulah syuting berjalan.
Sibuk menari-nari tiga menit penuh karena hasil video akan diedit.
Namun kala ia membuka
semua perbannya, ia terkejut. Jantungnya berdegup kencang dan kakinya bergetar.
Dia nyaris pingsan, sambil nyaris jatuh dari tempatnya berdiri. Dilihatnya
mengeliling, semua temannya tewas bersimbah darah, dan anak-anak yang pura-pura
gantung diri, benar-benar tewas gantung diri. Lengkap dengan kursi terjungkal.
Sementara teman-teman yang duduk lesehan tewas dengan leher penuh luka sabetan
dan beberapanya mengeluarkan darah dan juga busah putih dari mulut.
Subak hanya berharap
semua itu hanya rekayasa. Ia turun dai meja dan dalam keremangan cahaya, ia tahu
kalau semua ini sungguhan. Ia membangunkan salah satu temannya, jelaslah sudah
temannya itu tewas.
Subak hendak berlari
dan berteriak, namun satu tubuh terlihat bergerak. Subak menghampiri,
dihampirinya anak itu. Malik, lehernya bersimbah darah. Wajahnya terlihat
kesakitan.
“Kita mungkin dikutuk,”
jelas Malik.
Subak semakin
ketakutan. “Gu … gua nggak ngerti …”
Dari arah belakang,
seseorang tampak bangkit dengan pisau dapur yang besar.
“Harlem Shake itu
benar-benar ajaran iblis,” susul Malik, “Lihat, kita semua mati! KITA SEMUA
MATI!!”
Subak ingin menyanggah,
namun lehernya sudah digorok dari belakang. Darah muncrat bergelimang,
menyisakan satu lagi anak yang sekarat kemudian hilang nyawa.
Malik menatap si
pembunuh bertudung kepala dengan wajah ketakutan. Namun kemudia ia malah
tertawa terbahak. Sosok si pembunuh itu pun duduk lesehan sambil tersenyum.
“Benar-benar Harlem
Shake yang mengesankan,” kata Yuni.
“Apa kita masih
direkam?” tanya Malik sambil melihat nyala HANDYCAM DARI JAUH.
“ Tentu …”
“Lalu?”
Yuni tersenyum, “Kita
harus konsisten sama aturan mainnya,” katanya tenang.
Malik memosisikan diri
agar berhadapan. Ia bersila dan tampak bersiap menerima sesuatu hal. ‘Okey, aku
siap. Tapi bagaimana kalau kita …”
Tusukan pisau tiba-tiba
terasa menyakitkan menembus dadanya. Itu mungkin tepat di jantung. Rima
mengoyak-ngoyaknya dengan yakin.
“Kamu …”
“Jangan khawatir,
Malik. Setelah kamu … aku akan bunuh diriku sendiri … Tapi tidak dengan cara
begini …”
Malik tewas seketika.
Tubuhnya lungkai dan mulutnya penuh darah.
Yuni berjalan
menghampiri meja penuh air Fanta yang telah diberi racun. Ia pun menengguk
minuman ringan itu sampai habis. Dan tak perlu waktu lama sampai akhirnya ia
menggelepar dan tergeletak tak bernyawa.
*
CON LOS TERRORITAS
Dalam video itu,
seorang pemuda bergaya mummy menari-nari bak majenun. Di sekelilingnya terdapat
banyak anggota sekte yang siap menghabisi diri demi sebuah ritual.
“MULAI!”
Kegilaan mulai
berlangsung. Anak-anak di lesehanmendadak keracunan. Mulut mereka dipenuhi
busa. Seorang pelayan berlari lincah dan menendang kursi-kursi yang dipijak
anak-anak yang hendak bunuh diri. Mereka tergantung lalu tewas. Satu pegawai
lagi menggorok seorang pelayan lalau menggorok satu per satu orang-orang yang
keracunan. Begitulah semuanya terjadi. Sampai si mummi membuka topeng wajahnya.
*
Dua orang anak remaja
sedang ber-yahoo messenger ria. Keduanya membahas fenomena Harlem Shake.
Puteri_malu: Harlem
Shake adalah bagian dari legenda illuminati. Kamu tahu kenapa lirik lagu itu
hanya sekalimat? CON LOS TERRORITAS, artinya “bersama teroris.” . Cara tari
Harlem Shake juga sangat mempresentasikan “wabah gila”. Seorang berlaku gila
dengan menari-nari aneh, semua orang berlagak tak melihat, tapi beberapa detik
kemudia semua ikkutan. Inikah yang disebut pencucian otak tanpa kita sadari.
Prine_OfCharming: Haha,
bisa aja. Kita kan menyelamatkan teman-teman kitam menyelamatkan diri dari kita
daripada tewas sia-sia di tangan sekelompok penyembah setan.Kita nggak kejam
kan, Sayangku? Kita justru menyelamatkan banyak anak muda.”
Yuni tersenyum di
kamarnya yang bernuansa merah, ia kembali mengetik di laptop, “aku yakin besok
akan berjalan lancer … Aku sudah lelah denga kehidupan yang keras ini. Dan
tampaknya ini terakhir kalinya ayahku menusuk vaginaku dengan penis buntalnya.
Aku akan mati dalam keadaan hamil … Dan anakku akan lahir di neraka. Dan aib
pemerkosaan ini akan menjadi rahasia sampai ibuku bertemu dengan ku di alam
baka.
Malik tertawa di meja
komputernya. Sambil merokok dia kembali mengetik, “dasar cewek gila. Aku pikir
ini tindakan tepat, mungkin dengan cara ini orangtuaku bisa lebih melihatku.
Melihatku dalam keadaan sudah tewa! Hahahaha! :v
Keduanya terus
berinteraksi di dunia maya. Tak sabar menyambuk esok sore.
