19 Maret 2013

Cerpen - Harlem Shake Follow Evil



Bakti mungkin satu-satunya siswa berkulit paling gelap di kelas. Tapi dia bukan satu-satunya anak yang suka bikin rusuh. Saat bel istirahat memekik dan guru keluar kelas, Bakti langsung tampil di muka dan menyuruh teman-temannya duduk.

“Guys, dengerin gue dulu. Plis. Silahkan kembali ke tempat duduk,” Suruh Bakti.


“Siapa elo Do? Ketua kelas bukan?” Sela yang lain.
 
“Iye, gaje deh. Perut gue udah keriting nih minta dijejelin mie ayam!” Susul yang lain.

“Udeh lo pada diem dulu napa. Gue bakalan singkat, kok …” Kata Bakti sambil cengengesan.

Pintu kelas ditutup rapat, kelas dengan 29 siswa itu dengan terpaksa duduk di bangku masing-masing.

“Kalian tahu Harlem Shake, kan?” tanya Bakti sambil goyang-goyang itik ada Zaskia.

“Buset lo jorok! Porno. Sex, sex! Kita masih kelas 12 woy!” seru Asep.

“Shake Ton, bukan SEX! Shake its mean goyang. You know goyang?”

“Oohh …” Tono mengerti.

“ Maklum ya sih, lo pada nggak punya internet di rumah. Hahah. Kidding … Jadi gini, Harlem Shake itu lagi booming lho. Penggantinya tarian Gangnam Style … Tahu kan kalau yang itu?”

“Yang itu mah tahu, lah. Goyangan kuda itu lho,” ujar Ghina.

“Iya, kuda ranjang.” tambah Frida centil.

“Ehhmmmmh, bisa gue lanjutin?

“Sook lahh …” Sambut Diani.

Ternyata penjelasan Subak memakan waktu sampai 15 menit. Asyiknya semua teman-teman sangat termakan  bujuk rayu Subak. Apalgi saat video salah satu Harlem Shake diperlihatkan via ponsel.

“Seru beudz …” Ujar si ketua kelas, Rian.
 
Kita  harus coba. Biar terkenal kayak sekolah lain!” Seru Ssubak. “Kita harus buktikan bahwa anak daerah juga bisa ber-HARLEM SHAKE. SETUJU?!!”

“SETUJU!!!” jawab anak-anak itu dengan serempak.



Tidak perlu perencanaan matang, seusai jam pelajaran terkahir, mereka siap ber-Harlem Shake ria. Hanya dengan ponsel bersolusi tinggi milik Diani, ke 29 anak itu siap di rekam.

Subak kembali mengutarakan aba-aba sebelum syuting dimulai. Di tangannya tergenggam handphone yang siap memutar music Harlem Shake karya Baauer.

“Udah pada jelas kan ya?? Gua awalnya nari-nari sambil telanjang dada. Pala gue juga diipet-lipet sama seragam kan? Nah pokoknya kalian pada berlaku biasa aja kayak nggak ada apa-apa. Terus pas gue bilang. 

“MULAI!”, lo semua mulai deh nari-nari gaje. Segokil-gokilnya. Entar hasil rekaman ini akan diedit jadi 30 detik doing. Siap semua?!”

“SIAAP!”

“Okey, mari kita mulai mengharumkan sekolah kita!”

Ponsel telah diatur agar seisi ruangan kelas terekam penuh. Ponsel itu diletakkan di meja guru yang lebih dulu diseret ke tengah kelas. Lalu disenderkan ke belakang sebuah tumpukan buku. Musik diperdengarkan, saatnya syuting dimulai.

CON LOS TERRORITAS

Dan semuanya menggila.

*

Seminggu kemudian, semua kembali seperti biasanya. Taka da euphoria belebihan. Anak-anak kelas tiga SMA ini kembali konsen untuk menghadapi ujian nasional. Hingga kembali di jam istirahat, Subak melarang semua anak keluar.

“Apa lagi, deh?” Tanya Bahrul.

“Gua akan mengabarkaan kalau video kita …,” Kata Subak dengan tampang sedih. “Video Harlem Shake kita cuma ditonton sepuluh orang! Padahal udah dimasukin ke youtube sejak seminggu yang lalu …”
Kelas pun riuh.

“ Gila! Siapa aja tu h yang liat. Kita kan ber-29 orang? Masak di antara kita nggak ada yang akses?” Ujar Rian.

“Akuin aja deh. Harlem Shake kita emang serba standar. Nggak ada yang menarik,” Susul Lulu. “Gue liat video anak SMA yang lain. Semuanya keren! Kualitas videonya oke punya. Lah kita?”

“Udahlah, konsen aja k belajar!” tutur si kutu buku, Farah.
Kelas mendadak hening dalam satu menit, tiba-tiba seseorang dari belakang memberikan ide.

“Kita lakukan sekali lagi.”

Anak itu Malik, anak yang dikenal tenang dan sealu tersenyum. Ia datang dari keluarga kaya raya di desa. Kala ia berjalan menuju ke muka kelas, semua mata tertuju padanya.

“Kita pakai handycam punyaku. Kita harus punya konsep yang menarik. Tidak masalah seberapa banyak atau sedikitnya orang yang menontonnya. Tapi sebentar lagi kita akan berpisah, Teman-Teman. Kalau Harlem Shake ini kita bikin sekali lagi, ini akan jadi video kenang-kenangan paling berharga …”

Semua anak tertegun dan terenyuh. Jiwa mereka menghangat. Selalu ada gemuruh jika Malik berbicara. Selain tampan, anak ini juga juara umum di sekolah.

“Gimana?”
 
“SETUJU!!!”

Malik terhentak, teman-temannya kompak meneriakkan begitu.

*

Mereka mengadakan rapat seusai setelah jam pulang berdaring. Di sore yang dipenuhi deras hujan itu, mereka sibuk mengutarakan pendapat. Canda, tawa, bahkan celaan, berbaur sana-sini layaknya serpihan kertas dari atas langit-langit kelas.

Hingga akhirnya, Yuni seorang siswi paling pendiam mengusulkan di tengah usulan soal tema misteri. 

“Mungkin aksi pura-pura bunuh diri, akan jadi tema spektakuler.”

Tawa kecil dan kekehan pun surut kala Yuni yang bertampang dingin ini berkata. Anak-annak saling berpandangan, tapi tak satu pun dari mereka yang mencela.

“Ada yang pura-pura gantung diri, bunuh-bunuhan, minum racun, silet nadi, atau apalah,” lanjut Yuni dengan tersenyum. Suaranya halus dan lirih.

“IDE BAGUS!” seru Rio. “Gimana? Itu saja yang kita pakai?”

“Sereemmmm …” Ujar Frida manja.

“Namanya juga pura-pura, Frid.” Ucap Ghina.

“Sok hararayang seuri,” Timpal Asep.

Subak berkata, “Gue sih dukung aja. Simpel juga kan propertinya?”

Beberapa anak mengangguk-angguk. Hingga akhirnya mereka berada di kesimpulan. Kalau besok sepulang sekolah, mereka akan syuting di belakang gedung tua dekat sekolah. Sering dipercaya tempat paling angker. Apalagi kalau syuting di kala malam. Sementara persiapan per murid pun telah dibagi-bagi. Ada yang bawa pisau, perban, tali tambang, atau apapun.

*

Sabtu sore selesai Magrib, 29 anak berada di halaman belakang sebuah gedung tua. Gedung tersebut adalah gedung bekas pertokoan yang pernah terbakar enam tahun lalu. Keadaan cukup sepi dan mencekam. Namun setting bagai tata panggung pertunjukkantelah mereka lakukan. Kerja sama yang bagus dan solid itu benar-benar membuat persahabatan mereka terasa indah.

Hingga akhirnya, atas bantuan beberapa petromaks, tikar, dan meja serta bangku, mereka-mereka yang masih berseragam putih abu ini, membawa peralatan sendiri-sendiri. Siap unjuk gigi.

Sepuluh orang berdiri di atas kursi, mengahadap simpul tali tambang seolah mereka hendak bunuh diri. Empat di depan, dua di kiri, dua di kanan, dua di belakang. Mereka pura-pura stress dengan simpul tali yang sudah terlingkar di leher.

Empat belas orang duduk di tikar, saling berhadapan dengan benda tajamseperti sejenis pissau, golok yang tersimpan di pinggir. Di awal, mereka akan pura-pura minum air darah, yang ternyata cuma air Fanta merah. Untuk kemudian, siap aksi bunuh-bunuhan jika sudah diaba-abakan.

Tiga sisanya membawa nampan minuman beserta gelasnya layaknya pelayan dengan jaket berlubang. Dan Subak kembali jadi leader, dia bergoyang di tengah dengan kepala tertutup topeng ala mummi. Handycam sudah terpasang secara berdiri. Musik dari handphone di putar.
 
“Siap semuanya?!” seru Subak.

“SIAAP!” kata yang lain, yang sebagian sudah mencicipi segelas Fanta merah.

“Teriak-teriak boleh aja lah, biar rame,” susul Malik.
 
Musik berirama. Subak menari-nari. Dalam bayangannya semua berjalan sempurna. Ia tak bisa melihat apa-apa karena kepalanya tertutup penuh dengan banyak perban. Ia menari sampai sekira 17 detik, tak ada yang mengatakan “mulai!” bunyi keluhan dari teman-temannya malah ia dengar. Bunyi kesakitan, aduh aduhan. Di detik ke 20 ia pun mendengar.

“MULAI!”

Subak semakin menari ala orng gila. Ia beragak tuan tanah yang menyihir semua orang agar bunuh diri. Dan kericuhan pun terdengar. Bunyi kerasak-kerusuk dan teriakan benar-benar tampak seperti nyata. 30 detik kemudian rasanya sudah berlalu, teriakan pun lambat laun makin memudar. Subak merasa aneh, kenapa tidak ada seseorang yang menyuuhnya berhenti?

Musik berdurasi 3 menit itu pun usai. Subak membuka perbannya. Mungkin begitulah syuting berjalan. Sibuk menari-nari tiga menit penuh karena hasil video akan diedit.

Namun kala ia membuka semua perbannya, ia terkejut. Jantungnya berdegup kencang dan kakinya bergetar. Dia nyaris pingsan, sambil nyaris jatuh dari tempatnya berdiri. Dilihatnya mengeliling, semua temannya tewas bersimbah darah, dan anak-anak yang pura-pura gantung diri, benar-benar tewas gantung diri. Lengkap dengan kursi terjungkal. Sementara teman-teman yang duduk lesehan tewas dengan leher penuh luka sabetan dan beberapanya mengeluarkan darah dan juga busah putih dari mulut.

Subak hanya berharap semua itu hanya rekayasa. Ia turun dai meja dan dalam keremangan cahaya, ia tahu kalau semua ini sungguhan. Ia membangunkan salah satu temannya, jelaslah sudah temannya itu tewas.

Subak hendak berlari dan berteriak, namun satu tubuh terlihat bergerak. Subak menghampiri, dihampirinya anak itu. Malik, lehernya bersimbah darah. Wajahnya terlihat kesakitan.

“Kita mungkin dikutuk,” jelas Malik.

Subak semakin ketakutan. “Gu … gua nggak ngerti …”

Dari arah belakang, seseorang tampak bangkit dengan pisau dapur yang besar.

“Harlem Shake itu benar-benar ajaran iblis,” susul Malik, “Lihat, kita semua mati! KITA SEMUA MATI!!”

Subak ingin menyanggah, namun lehernya sudah digorok dari belakang. Darah muncrat bergelimang, menyisakan satu lagi anak yang sekarat kemudian hilang nyawa.

Malik menatap si pembunuh bertudung kepala dengan wajah ketakutan. Namun kemudia ia malah tertawa terbahak. Sosok si pembunuh itu pun duduk lesehan sambil tersenyum.

“Benar-benar Harlem Shake yang mengesankan,” kata Yuni.

“Apa kita masih direkam?” tanya Malik sambil melihat nyala HANDYCAM DARI JAUH.

“ Tentu …”

“Lalu?”

Yuni tersenyum, “Kita harus konsisten sama aturan mainnya,” katanya tenang.
 
Malik memosisikan diri agar berhadapan. Ia bersila dan tampak bersiap menerima sesuatu hal. ‘Okey, aku siap. Tapi bagaimana kalau kita …”

Tusukan pisau tiba-tiba terasa menyakitkan menembus dadanya. Itu mungkin tepat di jantung. Rima mengoyak-ngoyaknya dengan yakin.

“Kamu …”

“Jangan khawatir, Malik. Setelah kamu … aku akan bunuh diriku sendiri … Tapi tidak dengan cara begini …”

Malik tewas seketika. Tubuhnya lungkai dan mulutnya penuh darah.

Yuni berjalan menghampiri meja penuh air Fanta yang telah diberi racun. Ia pun menengguk minuman ringan itu sampai habis. Dan tak perlu waktu lama sampai akhirnya ia menggelepar dan tergeletak tak bernyawa.

*

CON LOS TERRORITAS

Dalam video itu, seorang pemuda bergaya mummy menari-nari bak majenun. Di sekelilingnya terdapat banyak anggota sekte yang siap menghabisi diri demi sebuah ritual.

“MULAI!”

Kegilaan mulai berlangsung. Anak-anak di lesehanmendadak keracunan. Mulut mereka dipenuhi busa. Seorang pelayan berlari lincah dan menendang kursi-kursi yang dipijak anak-anak yang hendak bunuh diri. Mereka tergantung lalu tewas. Satu pegawai lagi menggorok seorang pelayan lalau menggorok satu per satu orang-orang yang keracunan. Begitulah semuanya terjadi. Sampai si mummi membuka topeng wajahnya.

*

Dua orang anak remaja sedang ber-yahoo messenger ria. Keduanya membahas fenomena Harlem Shake.

Puteri_malu: Harlem Shake adalah bagian dari legenda illuminati. Kamu tahu kenapa lirik lagu itu hanya sekalimat? CON LOS TERRORITAS, artinya “bersama teroris.” . Cara tari Harlem Shake juga sangat mempresentasikan “wabah gila”. Seorang berlaku gila dengan menari-nari aneh, semua orang berlagak tak melihat, tapi beberapa detik kemudia semua ikkutan. Inikah yang disebut pencucian otak tanpa kita sadari.

Prine_OfCharming: Haha, bisa aja. Kita kan menyelamatkan teman-teman kitam menyelamatkan diri dari kita daripada tewas sia-sia di tangan sekelompok penyembah setan.Kita nggak kejam kan, Sayangku? Kita justru menyelamatkan banyak anak muda.”

Yuni tersenyum di kamarnya yang bernuansa merah, ia kembali mengetik di laptop, “aku yakin besok akan berjalan lancer … Aku sudah lelah denga kehidupan yang keras ini. Dan tampaknya ini terakhir kalinya ayahku menusuk vaginaku dengan penis buntalnya. Aku akan mati dalam keadaan hamil … Dan anakku akan lahir di neraka. Dan aib pemerkosaan ini akan menjadi rahasia sampai ibuku bertemu dengan ku di alam baka.

Malik tertawa di meja komputernya. Sambil merokok dia kembali mengetik, “dasar cewek gila. Aku pikir ini tindakan tepat, mungkin dengan cara ini orangtuaku bisa lebih melihatku. Melihatku dalam keadaan sudah tewa! Hahahaha! :v

Keduanya terus berinteraksi di dunia maya. Tak sabar menyambuk esok sore.