SANGAT disayangkan saya baru
mengetahui kabar ‘mempermalukan dirinya’ Bang Rhoma Irama di acara Mata Najwa
episode Mendadak Capres. Sebelum menyimak videonya di youtube, sekira 4 ribuan
komentar rata-rata mengurai rasa yang sama: protes, kritik, cacian, dan
kelakar. Belum lagi saat nemu artikel yang membahas SPERMA. Yang tidak lain
adalah akronim dari Serikat Pendukung Rhoma Irama.
Huahahaha! Kacau! Dan saya
berusaha meredam ngakak saya saat menulis artikel ini. Mari lanjutkan! Maooong
(dan kalian menjawab begitu).
Rhoma ber-SARA Ria di Mata Najwa
Mata Najwa adalah acara
bincang-bincang yang dipresenteri Najwa Shihab dan tayang di Metro TV. Episode
Mendadak Capres adalah tema yang kembali dikemas dengan narasi pembuka
menggelitik dan kritis. Selaras dengan pertanyaan to the point Najwa yang
cenderung ’seukeut’ dan nggak kenal basa-basi. Najwa membuka pertanyaan yang
simpel dan mendasar, kemudian mengeksplorasi kemampuan menganalisanya ketika
mendapati jawaban narasumber.
Dan Rhoma Irama, tampil dengan
kacamata hitam dan jas hitam yang kata teman saya mirip mafia. Kita anggap saja
Rhoma sedang sakit mata atau sedang sensitif terhadap cahaya lampu studio, tapi
penampilannya cenderung mengundang rintihan tawa (lol). “Belum apa-apa udah
ngakak,” begitu teman saya mengatakannya.
![]() |
| Foto: Google |
Tapi sudahlah, saya berkata, mari
kita simak jawaban sang legenda dangdut ini. Meskipun kita semua tahu
karakteristik jawaban dan bicara sang ulama, dan di sini kita pun tahu Rhoma
tampaknya ingin dinilai lebih politis dan diplomatis. Tapi masuk ke Mata Najwa
bisa jadi kayak masuk ke dalam kandang macan. (Tak bisa dibayangkan pula
bagaimana wow-nya Najwa jadi macan maong) Tapi tentu bukan itu, maksudnya
adalah, kita sedang berhadapan dengan seorang jurnalis yang peka dan ‘licik’.
Dia bisa sangat mampu menelanjangi kita hanya dari satu pertanyaan dasar.
Menelanjangi? Yeah, kita menyebutnya metafora.
Dan Rhoma terseret oleh sang
macan yang tak hanya memancing, namun menerkam. Akhirnya karena
ketidakhati-hatian atau memang ‘cuma segitu’ paradigma narasumber, kita sebagai
penonton pun tahu. Di acara begituan, Rhoma tidak bisa meny-setting
kalimat-kalimat buram. Semua harus jelas sampai diketahuilah kalau dia memang
lumayan (atau sangat) peka dan sensitif dengan etnis tertentu yang katanya
makin hari makin merajai panggung birokrat.
Dan pernyataan Rhoma berbau SARA
itu sudah terendus di kalimat yang bisa saya tulis ulang sebagai berikut. Yakni
saat Najwa tak mengerti kalimat buram yang dikatakan Rhoma hingga akhirnya
jelaslah sudah kalau sang Raja Dangdut sensitif terhadap kalangan etnis (Tionghoa)
yang duduk di bangku birokrasi.
” … katakanlah seperti di jakarta
yang menjadi kontroveris di pemilu kemarin. Misalnya .. karena inilah
kalau kita ucapkan barangkali tidak .. saya rasa bisa dirasakan tanpa diucapkan
secara jelas.”
“Ada hal yang tidak biasa dan
satu kecemasan, dan satu kegelisahan di kalangan umat dan ini yang terjadi
sebetulnya saat ini. Nah kebetulan saya berada di pusaran itu dengan diadilinya
saya di Panwaslu. Itu sudah, umat sudah menilai bahwa ini mengadili agama,
mengadili Al-quran
“Dan kali ini secara politik
mereka mulai begitu agresif. Dan ini yang mencemaskan anak bangsa dan umat
Islam. Ini juga mengacu pada demokrasi kita terlal dini mengacu pada demokrasi
liberal seperti Amerika.”
Saya hanya bisa tertawa
mendengarnya dan meredam diri untuk mengurai komentar sarkastis. Tapi karakter
seperti Bang Rhoma ini memang menjadi satu tipikal masyarakat Indonesia. Namun
untuk menjadi publik capres, tentulah harus hati-hati mengemas kata-kata dan
opini pribadi. Dan kejujuran Bang Rhoma ini sudah bisa dikategorikan sebagai
tindakan gegabah lantaran bagaimanapun dia adalah publik figur.
![]() |
| Foto: Google |
Mengetahui komentar itu saja kita
tahu ternyata dia memang benar-benar SARA saat kasus ceramah dan dipanggilnya
oleh Panwaslu tempo hari. Kala itu karena dalam konteks ceramah yang bersifat
kelompok, maka hal itu bukanlah pelanggaran. Tipikal ulama ‘begitu’ pun sudah
biasa saya temui kala pengajian di masjid-masjid pedesaan. Itu pun pas saya
masih bocah. Sebab makin ke sini ulama tidak lagi berpikiran kolot dan lebih
menjunjung tinggi pluralisme. Lakum dinukum waliyadin!
Yang paling menggelikan sih saat
Rhoma berkali-kali merasa mewakili suara umat muslim. Dengan kata ‘umat’ untuk
mengganti kata ‘kelompok muslim’, dan ‘anak bangsa’ untuk menyebut ‘kelompok
waga dari berbagai etnis dan agama’. Sayang sekali pikiran kolot menyamaratakan
umat muslim sebagai ‘anti-etnis’ itu diungkapkan di hadapan publik. Sebab yang
mendengar pernyataan itu tentu tak hanya yang segolongan dengan Rhoma, tapi
kelompok muslim yang tidak keras, atau agama dan etnis lain. Sungguh
disayangkan.
Pernyataannya soal ‘pengadilan
dirinya di Panwaslu sama dengan mengadili agama, mengadili Al-Qur’an juga
kalimat yang kurang hati-hati dan tidak tepat diutarakan di media televisi
dengan kemungkinan penonton meraup jutaan orang.
Di sesi kedua, ada VT mengenai
perjalanan sang ‘megabintang’ mulai dari isu kontra kepada goyang Inul sampai
ke poligami. Dan baru tahu saya ternyata beliau pernah 11 tahun dicekal nggak
boleh tayang di TVRI dan ijin konsernya dicabut. Ini karena dia dianggap
berhaluan sama PPP dan ogah masuk Golkar. Meski pada 1992 dia masuk Golkar
juga.
Najwa mengetes narasumbernya
dengan isu nasional untuk menguji analisa sang ‘capres’. Di sini Bang Rhoma
terlihat tidak menguasai sehingga sebagai penonton kita malah berbalik kasihan
;p. Ketika ditanya soal kehidupan pribadi, poligami pun ia cenderung menolak.
Ah, ah Bang Rhoma. Apa mungkin saya harus setuju sama komentar di youtube kalau
sebaiknya Abang menyanyi saja ketimbang ‘mempermalukan diri begitu?’
SPERMA
Sperma sebagaimana yang kita tahu
adalah cairan hasil ejakulasi dari penis lelaki. Tapi dijadikan semacam
singkatan “Serikat Pendukung Rhoma Irama” untuk menamai sebuah fanpage facebook
yang didirikan tanggal 17 November 2012. Sampai sejauh ini sudah ada 300-an
fans dan kronologi diisi artikel-artikel Rhoma Irama.
![]() |
| lintasberita.com |
Entah apa maksudnya, apakah ini
sejenis lelucon atau dukungan murni. Tapi dengan SPERMA? Ayolah, Kawan
(ngakak). Secara filosofis, deskripsi fanpage itu boleh juga sih:
SPERMA - merupakan unsur
terpenting dalam awal kehidupan seorang manusia, begitu jugalah dengan Bang
Haji Rhoma Irama, yang diharapkan bisa menjadi SPERMA untuk awal kehidupan bagi
Indonesia baru.
Tapi apa tidak kontras yah,
dengan atribut keagamaan yang melekat kuat dalam Bang Haji? Entahlah, begitu
menarik sekaligus konyol!
Konklusi Kucing Meong
Entah apa yang ada di kepala Bang
Rhoma. Atau entah apa yang ada di pikiran kita, menghargai kejujurannya? Atau
mengutuk paradigmanya? Tapi bersediakah punya capres dengan titel mahasiswa
drop out? Yeah, setidaknya kita bisa mengetahui kekayaan intelektual seorang
seniman dangdut seperti Rhoma Irama. :D
BONUS!



