21 Februari 2013

Rhoma, Mata Najwa, dan Sperma


SANGAT disayangkan saya baru mengetahui kabar ‘mempermalukan dirinya’ Bang Rhoma Irama di acara Mata Najwa episode Mendadak Capres. Sebelum menyimak videonya di youtube, sekira 4 ribuan komentar rata-rata mengurai rasa yang sama: protes, kritik, cacian, dan kelakar. Belum lagi saat nemu artikel yang membahas SPERMA. Yang tidak lain adalah akronim dari Serikat Pendukung Rhoma Irama.

Huahahaha! Kacau! Dan saya berusaha meredam ngakak saya saat menulis artikel ini. Mari lanjutkan! Maooong (dan kalian menjawab begitu).

Rhoma ber-SARA Ria di Mata Najwa

Mata Najwa adalah acara bincang-bincang yang dipresenteri Najwa Shihab dan tayang di Metro TV. Episode Mendadak Capres adalah tema yang kembali dikemas dengan narasi pembuka menggelitik dan kritis. Selaras dengan pertanyaan to the point Najwa yang cenderung ’seukeut’ dan nggak kenal basa-basi. Najwa membuka pertanyaan yang simpel dan mendasar, kemudian mengeksplorasi kemampuan menganalisanya ketika mendapati jawaban narasumber.

Dan Rhoma Irama, tampil dengan kacamata hitam dan jas hitam yang kata teman saya mirip mafia. Kita anggap saja Rhoma sedang sakit mata atau sedang sensitif terhadap cahaya lampu studio, tapi penampilannya cenderung mengundang rintihan tawa (lol). “Belum apa-apa udah ngakak,” begitu teman saya mengatakannya.

Foto: Google
Tapi sudahlah, saya berkata, mari kita simak jawaban sang legenda dangdut ini. Meskipun kita semua tahu karakteristik jawaban dan bicara sang ulama, dan di sini kita pun tahu Rhoma tampaknya ingin dinilai lebih politis dan diplomatis. Tapi masuk ke Mata Najwa bisa jadi kayak masuk ke dalam kandang macan. (Tak bisa dibayangkan pula bagaimana wow-nya Najwa jadi macan maong) Tapi tentu bukan itu, maksudnya adalah, kita sedang berhadapan dengan seorang jurnalis yang peka dan ‘licik’. Dia bisa sangat mampu menelanjangi kita hanya dari satu pertanyaan dasar. Menelanjangi? Yeah, kita menyebutnya metafora.

Dan Rhoma terseret oleh sang macan yang tak hanya memancing, namun menerkam. Akhirnya karena ketidakhati-hatian atau memang ‘cuma segitu’ paradigma narasumber, kita sebagai penonton pun tahu. Di acara begituan, Rhoma tidak bisa meny-setting kalimat-kalimat buram. Semua harus jelas sampai diketahuilah kalau dia memang lumayan (atau sangat) peka dan sensitif dengan etnis tertentu yang katanya makin hari makin merajai panggung birokrat.

Dan pernyataan Rhoma berbau SARA itu sudah terendus di kalimat yang bisa saya tulis ulang sebagai berikut. Yakni saat Najwa tak mengerti kalimat buram yang dikatakan Rhoma hingga akhirnya jelaslah sudah kalau sang Raja Dangdut sensitif terhadap kalangan etnis (Tionghoa) yang duduk di bangku birokrasi.

” … katakanlah seperti di jakarta yang menjadi kontroveris di pemilu kemarin.  Misalnya .. karena inilah kalau kita ucapkan barangkali tidak .. saya rasa bisa dirasakan tanpa diucapkan secara jelas.”

“Ada hal yang tidak biasa dan satu kecemasan, dan satu kegelisahan di kalangan umat dan ini yang terjadi sebetulnya saat ini. Nah kebetulan saya berada di pusaran itu dengan diadilinya saya di Panwaslu. Itu sudah, umat sudah menilai bahwa ini mengadili agama, mengadili Al-quran

“Dan kali ini secara politik mereka mulai begitu agresif. Dan ini yang mencemaskan anak bangsa dan umat Islam. Ini juga mengacu pada demokrasi kita terlal dini mengacu pada demokrasi liberal seperti Amerika.”

Saya hanya bisa tertawa mendengarnya dan meredam diri untuk mengurai komentar sarkastis. Tapi karakter seperti Bang Rhoma ini memang menjadi satu tipikal masyarakat Indonesia. Namun untuk menjadi publik capres, tentulah harus hati-hati mengemas kata-kata dan opini pribadi. Dan kejujuran Bang Rhoma ini sudah bisa dikategorikan sebagai tindakan gegabah lantaran bagaimanapun dia adalah publik figur.

Foto: Google

Mengetahui komentar itu saja kita tahu ternyata dia memang benar-benar SARA saat kasus ceramah dan dipanggilnya oleh Panwaslu tempo hari. Kala itu karena dalam konteks ceramah yang bersifat kelompok, maka hal itu bukanlah pelanggaran. Tipikal ulama ‘begitu’ pun sudah biasa saya temui kala pengajian di masjid-masjid pedesaan. Itu pun pas saya masih bocah. Sebab makin ke sini ulama tidak lagi berpikiran kolot dan lebih menjunjung tinggi pluralisme. Lakum dinukum waliyadin!

Yang paling menggelikan sih saat Rhoma berkali-kali merasa mewakili suara umat muslim. Dengan kata ‘umat’ untuk mengganti kata ‘kelompok muslim’, dan ‘anak bangsa’ untuk menyebut ‘kelompok waga dari berbagai etnis dan agama’. Sayang sekali pikiran kolot menyamaratakan umat muslim sebagai ‘anti-etnis’ itu diungkapkan di hadapan publik. Sebab yang mendengar pernyataan itu tentu tak hanya yang segolongan dengan Rhoma, tapi kelompok muslim yang tidak keras, atau agama dan etnis lain. Sungguh disayangkan.

Pernyataannya soal ‘pengadilan dirinya di Panwaslu sama dengan mengadili agama, mengadili Al-Qur’an juga kalimat yang kurang hati-hati dan tidak tepat diutarakan di media televisi dengan kemungkinan penonton meraup jutaan orang.

Di sesi kedua, ada VT mengenai perjalanan sang ‘megabintang’ mulai dari isu kontra kepada goyang Inul sampai ke poligami. Dan baru tahu saya ternyata beliau pernah 11 tahun dicekal nggak boleh tayang di TVRI dan ijin konsernya dicabut. Ini karena dia dianggap berhaluan sama PPP dan ogah masuk Golkar. Meski pada 1992 dia masuk Golkar juga.

Najwa mengetes narasumbernya dengan isu nasional untuk menguji analisa sang ‘capres’. Di sini Bang Rhoma terlihat tidak menguasai sehingga sebagai penonton kita malah berbalik kasihan ;p. Ketika ditanya soal kehidupan pribadi, poligami pun ia cenderung menolak. Ah, ah Bang Rhoma. Apa mungkin saya harus setuju sama komentar di youtube kalau sebaiknya Abang menyanyi saja ketimbang ‘mempermalukan diri begitu?’

SPERMA

Sperma sebagaimana yang kita tahu adalah cairan  hasil ejakulasi dari penis lelaki. Tapi dijadikan semacam singkatan “Serikat Pendukung Rhoma Irama” untuk menamai sebuah fanpage facebook yang didirikan tanggal 17 November 2012. Sampai sejauh ini sudah ada 300-an fans dan kronologi diisi artikel-artikel Rhoma Irama.

lintasberita.com

Entah apa maksudnya, apakah ini sejenis lelucon atau dukungan murni. Tapi dengan SPERMA? Ayolah, Kawan (ngakak). Secara filosofis, deskripsi fanpage itu boleh juga sih:

SPERMA - merupakan unsur terpenting dalam awal kehidupan seorang manusia, begitu jugalah dengan Bang Haji Rhoma Irama, yang diharapkan bisa menjadi SPERMA untuk awal kehidupan bagi Indonesia baru.

Tapi apa tidak kontras yah, dengan atribut keagamaan yang melekat kuat dalam Bang Haji? Entahlah, begitu menarik sekaligus konyol!

Konklusi Kucing Meong

Entah apa yang ada di kepala Bang Rhoma. Atau entah apa yang ada di pikiran kita, menghargai kejujurannya? Atau mengutuk paradigmanya? Tapi bersediakah punya capres dengan titel mahasiswa drop out? Yeah, setidaknya kita bisa mengetahui kekayaan intelektual seorang seniman dangdut seperti Rhoma Irama. :D

BONUS!