15 Februari 2013

Konser Gaga Dibatalkan Tapi Panggung Dangdut Erotis Dibiarkan


Maaf, nih. Kalo postingan kali ini telat abis, jadi kurang update. Setelah saya pikir, ini sangat mengecewakan, bukan karena tidak update, tapi saya kecewa dengan judulnya. Kalau kalian setuju, silahkan mengangukkan kepala dan menggeleng-geleng membisikkan nama Indonesia. Ya, silahkan … Sekalian di jilat artikelnya. ^^


INDONESIA ini memang negeri ada-ada saja. Saya pikir unjuk rasa ormas yang bawa-bawa nama agama itu tidak akan diseriuskan pihak berwenang. Nyatanya aparat kepolisian pun turun tangan dan memutuskan untuk membatalkan konser si ‘Ratu Illuminati’ ini. Lebih tepatnya sih, merekomendasikan untuk dibatalkan. Pihak Polda Metro Jaya sendiri sebagai pemberi izin konser sudah melayangkan surat pembatalan konser ke Mabes Polri pada 8 Mei. Wah, kenapa tiba-tiba begitu, ya?

Alasannya apa, sih? Dari yang saya comot di VIVAnews, alasan pembatalan itu berdasar:

- Penolakan MUI (Majelis Ulama Indonesia) yang menganggap kalau Gaga punya ‘efek samping’ menimbulkan hal-hal yang destruktif. Katanya sih karena gaya berpakaian Gaga yang mengumbar aurat. Ah, aneh yah. Padahal artis-artis lokal pada dicuekin gitu kala mereka tampil di TV-TV. Konser Gaga yang memang hanya untuk kalangan terbatas (pembeli tiket) hanya dinikmati sebagian orang. Bandingkan dengan televisi yang ditonton jutaan masyarakat Indonesia setiap harinya. :P

- Merupakan masukan dari Lembaga Adat Besar Republik Indonesia (LABRI) yang menilai bahwa konser Gaga tidak sesuai dengan adat ketimuran yang dianut sebagian besar warga Indonesia. Hoalah, ada hal yang lebih patut dikritisi dari pakaian Gaga atau sejenisnya. Lady Gaga adalah produk kesenian. Dalam hal ini seni  musik. Saya tidak dalam kadar membela, namun menyayangkan mengapa konsernya yang dibatalkan sementara ada artis seksi internasional lain yang pernah konser. Namun mereka dibiarkan. Kary Perry, Beyonce, bukankah keduanya tidak kalah ’seronok’?

- Merupakan pendapat fraksi DPR dan FUI Fraksi di DPR yang menganggap bahwa konser Lady Gaga tidak pantas, vulgar, dan mengumbar syahwat, dan dianggap memberi pengaruh buruk bagi generasi Indonesia. Aje gile. Endak pernah berkaca sebelumnya apa mengenai pidio-pidio ‘cinta’ dan skandal melihat pidio ‘cinta’ yang dilakukan salah satu/beberapa anggota dewan? Lagian konser di Indonesia sendiri belum dimulai, darimana mereka tahu konser itu pengumbar syahwat. Ayo, kalian yang Little Monster maupun yang bukan, apa kalian terangsang melihat Lady Gaga berpakaian seksi? Menurut saya pribadi pakaian dia adalah bagian dari seni kontemporer. Di sekali waktu pakaiannya aneh-aneh dan tertutup.Dan maaf-maaf, nih, secara keberadaan fisik dan struktur wajah, ada begitu banyak wajah yang lebih hot dan seksi dari Lady Gaga. Betul enggak, sih? Dan istilahnya mah kalau mau mencari syahwat, ngapain datang ke konser dah. Heu.

Kok yang kek gini nggak di cekal, Om? Heuheu =,,=


Nah, tiga alasan itulah yang membuat Polda Metro Jaya melayangkan surat rekomendasi pembatalan itu. Tapi sampai sejauh ini pihak promotor konon masih adem ayem saja. Udah pada tahu perkembangannya? apakah ini cuma gertak sambal untuk menaikkan ‘wibawa’ aparat? Atau hanya akan menjadi semacam bumerang karena dianggap ‘membunuh’ rasa kesenian yang bersinggungan dengan HAM. Buset, yeah. Sampai sejauh itu. Yeah, ini cuma opini, kok.

Sebab saya pun yakin kepolisian itu akan bergerak juga karena adanya aduan dari masyarakat (baca: PERWAKILAN masyarakat). Artinya jika organisasi macam LABRI, MUI atau DPR tidak mengadu, ya surat pembatalan itu tidak akan pernah ada. Sekarang ‘masalahnya’, apakah suara ketiga ‘kelompok’ itu benar-benar mewakili suara rakyat?

Padahal banyak masalah yang lebih urgen. Kalau masalah aurat atau pengaruh negatif, itu saja sudah sangat terlihat di televisi. Gaya berpakaian artis, tayangan gosip, atau sinetron ‘tak pantas’. Tapi kenapa itu dibiarkan? Belum lagi soal film-film lokal yang ‘panas mendidih’. Kedatangan para bintang porno asal Jepang dan barat malah enggak dicekal. Lalu bagaimana dengan koran kuning pengumbar judul seksis dan kekerasan? Kok, itu dibiarin? Padahal itu dijual bebas dan harganya tidak semahal konser Gaga. Belum lagi konser-konser off air dangdut erotis. Itu lho, yang penyanyinya udah mirip lumba-lumba beranak. Bergelinjang dengan pakaian ketat. Ngenes.

Apa mereka yang merasa berkepentingan dan bermoral ini ‘tergerak’ karena pemberitaan media, ya? Kalau Gaga itu dianggap si iblis atau si pengumbar berahi, padahal barangkali apa yang dikenakannya hanyalah bagian dari trade mark, agar menjadikannya berbeda dengan style musisi lain.

Kita semua sudah tahu bahwa pada 3 Juni, konser Lady Gaga tidak jadi alias batal. Kalau saja Lady Gaga menuruti permintaa FPI untuk berkebaya dan berjilbab, seperti gambar sotosop berikut.