Maaf, nih. Kalo postingan kali ini
telat abis, jadi kurang update. Setelah saya pikir, ini sangat mengecewakan,
bukan karena tidak update, tapi saya kecewa dengan judulnya. Kalau kalian
setuju, silahkan mengangukkan kepala dan menggeleng-geleng membisikkan nama
Indonesia. Ya, silahkan … Sekalian di jilat artikelnya. ^^
INDONESIA ini memang negeri ada-ada
saja. Saya pikir unjuk rasa ormas yang bawa-bawa nama agama itu tidak akan
diseriuskan pihak berwenang. Nyatanya aparat kepolisian pun turun tangan dan
memutuskan untuk membatalkan konser si ‘Ratu Illuminati’ ini. Lebih tepatnya
sih, merekomendasikan untuk dibatalkan. Pihak Polda Metro Jaya sendiri sebagai
pemberi izin konser sudah melayangkan surat pembatalan konser ke Mabes Polri
pada 8 Mei. Wah, kenapa tiba-tiba begitu, ya?
Alasannya
apa, sih? Dari yang saya comot di VIVAnews, alasan pembatalan itu berdasar:
-
Penolakan MUI (Majelis Ulama Indonesia) yang menganggap kalau Gaga punya ‘efek
samping’ menimbulkan hal-hal yang destruktif. Katanya sih karena gaya
berpakaian Gaga yang mengumbar aurat. Ah, aneh yah. Padahal artis-artis lokal
pada dicuekin gitu kala mereka tampil di TV-TV. Konser Gaga yang memang hanya
untuk kalangan terbatas (pembeli tiket) hanya dinikmati sebagian orang.
Bandingkan dengan televisi yang ditonton jutaan masyarakat Indonesia setiap
harinya. :P
-
Merupakan masukan dari Lembaga Adat Besar Republik Indonesia (LABRI) yang
menilai bahwa konser Gaga tidak sesuai dengan adat ketimuran yang dianut
sebagian besar warga Indonesia. Hoalah, ada hal yang lebih patut dikritisi dari
pakaian Gaga atau sejenisnya. Lady Gaga adalah produk kesenian. Dalam hal ini
seni musik. Saya tidak dalam kadar membela, namun menyayangkan mengapa
konsernya yang dibatalkan sementara ada artis seksi internasional lain yang
pernah konser. Namun mereka dibiarkan. Kary Perry, Beyonce, bukankah keduanya
tidak kalah ’seronok’?
-
Merupakan pendapat fraksi DPR dan FUI Fraksi di DPR yang menganggap bahwa
konser Lady Gaga tidak pantas, vulgar, dan mengumbar syahwat, dan dianggap
memberi pengaruh buruk bagi generasi Indonesia. Aje gile. Endak pernah berkaca
sebelumnya apa mengenai pidio-pidio ‘cinta’ dan skandal melihat pidio ‘cinta’
yang dilakukan salah satu/beberapa anggota dewan? Lagian konser di Indonesia
sendiri belum dimulai, darimana mereka tahu konser itu pengumbar syahwat. Ayo,
kalian yang Little Monster maupun yang bukan, apa kalian terangsang melihat
Lady Gaga berpakaian seksi? Menurut saya pribadi pakaian dia adalah bagian dari
seni kontemporer. Di sekali waktu pakaiannya aneh-aneh dan tertutup.Dan
maaf-maaf, nih, secara keberadaan fisik dan struktur wajah, ada begitu banyak
wajah yang lebih hot dan seksi dari Lady Gaga. Betul enggak, sih? Dan
istilahnya mah kalau mau mencari syahwat, ngapain datang ke konser dah. Heu.
![]() |
| Kok yang kek gini nggak di cekal, Om? Heuheu =,,= |
Nah,
tiga alasan itulah yang membuat Polda Metro Jaya melayangkan surat rekomendasi
pembatalan itu. Tapi sampai sejauh ini pihak promotor konon masih adem ayem
saja. Udah pada tahu perkembangannya? apakah ini cuma gertak sambal untuk
menaikkan ‘wibawa’ aparat? Atau hanya akan menjadi semacam bumerang karena
dianggap ‘membunuh’ rasa kesenian yang bersinggungan dengan HAM. Buset, yeah.
Sampai sejauh itu. Yeah, ini cuma opini, kok.
Sebab
saya pun yakin kepolisian itu akan bergerak juga karena adanya aduan dari
masyarakat (baca: PERWAKILAN masyarakat). Artinya jika organisasi macam LABRI,
MUI atau DPR tidak mengadu, ya surat pembatalan itu tidak akan pernah ada.
Sekarang ‘masalahnya’, apakah suara ketiga ‘kelompok’ itu benar-benar mewakili
suara rakyat?
Padahal
banyak masalah yang lebih urgen. Kalau masalah aurat atau pengaruh negatif, itu
saja sudah sangat terlihat di televisi. Gaya berpakaian artis, tayangan gosip,
atau sinetron ‘tak pantas’. Tapi kenapa itu dibiarkan? Belum lagi soal
film-film lokal yang ‘panas mendidih’. Kedatangan para bintang porno asal
Jepang dan barat malah enggak dicekal. Lalu bagaimana dengan koran kuning pengumbar
judul seksis dan kekerasan? Kok, itu dibiarin? Padahal itu dijual bebas dan
harganya tidak semahal konser Gaga. Belum lagi konser-konser off air dangdut
erotis. Itu lho, yang penyanyinya udah mirip lumba-lumba beranak. Bergelinjang
dengan pakaian ketat. Ngenes.
Apa
mereka yang merasa berkepentingan dan bermoral ini ‘tergerak’ karena
pemberitaan media, ya? Kalau Gaga itu dianggap si iblis atau si
pengumbar berahi, padahal barangkali apa yang dikenakannya hanyalah bagian
dari trade mark, agar menjadikannya berbeda dengan style musisi lain.
Kita
semua sudah tahu bahwa pada 3 Juni, konser Lady Gaga tidak jadi alias batal.
Kalau saja Lady Gaga menuruti permintaa FPI untuk berkebaya dan berjilbab,
seperti gambar sotosop berikut.


