24 Januari 2013

Jokowi Ahok Ditepuktanganin, TV One Digoblokin


Malang benar nasib TV One yang dalam belakangan ini dikeparatin ‘banyak’ orang di dunia maya. Gara-gara reporter TV One dianggap ‘kurang santun’ bertanya pada relawan, beberapa orang setuju apa yang dilakukan TV one tidak etis. Belum lagi soal ‘kemanjaan’ Jokowi yang ‘ngambeg’ lantaran TV one ‘ingkar janji’ pas acara live interview.


Hal demikian bukanlah yang aneh, malah bikin lucu. Kita memang sudah sangat masuk di era kebebasan pers dan era berpendapat. Bagi publik figur terutama pejabat negara, ngomong dikit aja bisa mendapat banyak tafsiran. Begitu pula dengan ‘kekayaan’ pola pikir pengamat ala apresiator. Yang tentulah merupakan cara pandang sebagian orang.

Bagian 1: Ahok yang “Sensi”

“Kita alergi dengan pencitraan,” begitu kata Ahok saat disinggung mengenai ‘menghilangnya ia sejenak’ hanya karena membantu korban banjir dikutip dari Koran Fesbuk, pada senin (21/1), Ahok mengatakan bahwa dia ditugaskan Jokowi untuk korban banjir. Hal demikian terjadi pada Kamis tanpa liputan wartawan.

Dia berkata, “Jadi, itu yang terjadi hari Kamis, saya berpikir ngapain kita kerja untuk diikutin media. Nanti ada laporan dibilang pencitraan,” tambahnya. Ia menjelaskan, saat banjir terjadi, dirinya turut turun tangan memantau warga di wilayah Pluit yang terdampak banjir.

Nah, saat ditanya perihal pertanyaan WARTAWAN tentang ‘menghilangnya’ Ahok saat banjir, dan berkata, “Kita kemana-mana bawa wartawan dibilang pencitraan. Kan banjir, ngapain nyusahin wartawan. Saya kesel juga pas baca saya enggak ngapa-ngapain.”

Tidak melihat bagaimana dia mengucapkannya, sih apakah gesturnya kayak orang nyiram kembang apa kayak orang baru ketusuk bulu babi di pantai. Tapi sepertinya dia memang keki saat mengatakannya. Tapi kita patut MENGAPRESIASI kejujurannya berkata-kata. Dengan ‘polos’ dan lugasnya ia berkata “NGAPAIN NYUSAHIN WARTAWAN. SAYA KESEL JUGA PAS BACA SAYA (DIBILANG) ENGGAK NGAPA-NGAPAIN.”

Rasanya ingin :V saja membaca dialog tersebut :3. Agak aneh dan oposit juga, sih KALAU SADAR MEMUTUSKAN UNTUK ‘BERSEMBUNYI’ DARI LIPUTAN PERS, semestinya beliau memprediksikan dong apa yang akan ‘terjadi’? Yakni, ‘tuduhan’ dia ‘Nggak ngapa-ngapain’. Padahal kalem bisa aja yah, kayak Pak SBY. Pak SBY itu dibulan-bulanin cuma karena bikin album atau pas pidato disangka banyak curhat, tetep aja lempeng mungkin inilah yang namanya KEMATANGAN. Salut buat sang ‘introvert’ yang kalem: SBY Heheh ... :3

Foto: Fanpage Koran Pesbuk


Entahlah, kenapa hari gini masih ‘berkonsentrasi ria’ pada tuduhan polotik pencitraan. Itu kan ‘bahasa’ orang-orang yang sok-sokan bisa kritik soal politik doang. Padahal banyak kok masyarakat yang melek dan waras, yang memosisikan PUBLIKASI sebagai hal yang sangat dibutuhkan. Tidak ada kata ‘serba salah di sana’. Toh yang diliput bukan aksi mabok-mabokkan atau berenang di bundaran HI?

Bagian 2: Reporter “Cacat” TV One

Artikel di Kompasiana yang tersebar ke kaskus dan ‘digunakan’ lintasberita itu punya judul KELAR SHOOTING, JOKOWI DAMPRAT TV ONE. Muke gile judulnya :D. Sampai sejauh ini tulisan itu dibaca sampai 150 orang. Wow, kapan tulisan ane dibaca sampai segitu ya? Tapi wajar saja orang dunia maya dan tidak maya (alias jurig?) membaca artikel berjudul ‘mencakar’ itu. Selain Jokowi dan Ahok adalah ‘pejabat dengan fanbase yang luar biasa besar’. Kata ‘DAMPRAT’ yang cukup preman ditabokin ke sebuah judul memang sangat koran kuning sekali.

Tulisan ini berisi ‘kemarahan’ Jokowi melalui ajudannya, Anggit. Kayak sampo 3 in one era 90-an, tulisan ini juga ‘menggiring’ para pembacanya untuk ‘mematok’ TV One. Salah satunya singgungan sedikit mengenai reporter TV One yang dianggap tidak empati pada relawan di pengungsian Jati Asih. Tulisan itu berdasarkan tulisan Armin Bell berjudul TV One danReporter Antipati. Entah siapa nama Reporter perempuan itu, tapi kayaknya itu cewek pasti masih deg-degan sendiri pas tahu ‘kinerjanya’ dikritik abis-abisan :D.

“Bagaimana pola distribusi bantuannya, Om relawan?”

“Kami melakukan distribusi langsung kepada para pengungsi di tenda-tenda.”

“Lho, kenapa tidak melalui RT? Kan lebih bagus kalau melalui RT?”

Entah apa yang dilakukan wartawan, tulisan digiring ke dialog:

“Apa sih yang Om relawan berikan pada para korban?”

“Macam-macam Mbak, ada pakaian, selimut, mie instan dan kebutuhan-kebutuhan lain.” (Prediksi mimik muka: tersenyum bahagia ‘jasa-jasanya tersimak’ dihargai dan kemungkinan penonton berkata ‘yah mereka melakukan sesuatu’ lebih mungkin terjadi).

“Saya pikir yang sangat mereka butuhkan adalah air bersih? Kenapa tidak disiapkan air bersih?” (Sudut mata menyipit ala Feni Rose)

“Iya mbak, saya juga sudah kontak teman-teman untuk distribusi air bersih tetapi sampai sekarang belum datang-datang.”

“Mas, kok distribusi makanannya mie instan? Kan susah itu diolah oleh para pengungsi. Mengapa tidak menyiapkan nasi bungkus?”

“Selama ini tidak masalah kok mba. Semua baik-baik saja. Mereka bisa mengolahnya dengan baik!”
EAAA! Seru sekali yah kalau nonton langsung. Bisa jadi wawancara akan lebih lengkap. Tapi sebuah tulisan berbentuk opini yang jelas-jelas subyektif bisa sangat mungkin memengaruhi masyarakat terutama awam. Padahal bisa saja kita memberikan pemakluman pada si reporter, ketimbang memilih mengatainya goblok misalkan? :D

Yeah, saya yakin akan banyak orang yang bisa mandang secara ‘alami’ bin coba-coba bijak, cuma ente tahu sendiri, yang lebih mampu bersuara di jejaring sosial ini adalah orang-orang yang ‘emosional’, yang memungkinkan mereka tampil reaktif. Enggak kompasiana yang katanya isinya orang-orang bonapit semua, atau di kaskus yang betawian or di youtube yang jor-joran.

Cuma menjadikan TV One sebagai satu-satunya pihak yang paling disalahkan, membuat saya merasa prihatin. Padahal bisa jadi pertanyaan wartawan itu suara kritis sebagian orang, yang kalau kita alami dengan jernih, bisa jadi merupakan pertanyaan dari dalam diri kita.

Masuk akal dong, kalo tanya kok ngasi mie instan sih? Masaknya gimana? Pake aer banjir? Nah, si relawan atau katakanlah kita, mungkin tidak terima karena pertanyaan itu berbau tidak menyenangkan, sehingga menimbulkan kesan tidak EMPATI. Padahal kalau dia seorang RELAWAN, seharusnya lebih legowo dan tak usah memikirkan seberapa sedikit atau besar kegiatan sosialnya dihargai. Toh cuma dapat pertanyaan begituan kok. :D

Bagian 3: Jokowi “Marah-marah”

Oke, tulisan dan komentar pro Jokowi Ahok akan selalu berhamburan. Salah satunya artikel berjudul CADAS yang baru saja baca Kekonyolan Muhammad Rizky (Tv One) Saat Mewawancarai Jokowi. Kebetulan saja artikel itu yang nongol di dashboard ane pas ngecek jumlah komentar di artikel ane yang sepi (pedih ya gan? Xixixi). Seperti halnya opini, tentu saja melulu ada berbau keberpihakan pada salah satu kubu. Untuk jadi obyektif? Ayolah, emang sedang bikin makalah anak kuliahan?

Tanpa tanda petik atau kutip, ‘kekonyolan’ yang dimaksud dalam tulisan ini adalah ketika M. Rizky sebagai pewawancara, bertanya hal-hal di luar konteks banjir. Jokowi pun ‘kembali’ diposisikan ‘legowo’ atau pertanyaan yang dianggap ke luar konteks itu. Saya sebagai awam baru tahu kalau harus ada perjanjian tertentu kalau mau wawancara di media. Bukankah seharusnya pejabat publik harus siap dengan pertanyaan-pertanyaan ‘lain’? Asal bukan pertanyaan soal Lady Gaga, Bunga Citra Lestari, atau barang kali Emma Watson. Heuheu. Entahlah saya tidak lihat acara beliau dan beliau yang satunya yang dianggap konyol itu. :P

Bagian 4: Ahok “GAMPANG NAIK DARAH?” (JEJREEENG: Pake musik sinetron ala Sinemart)
Saya sungguh sangat menyayangkan dengan tabiat para pejabat sekarang (atau yang disadari sekarang?) dalam mengolah sisi emosinya, termasuk kala dalam memperlakukan mahasiswanya, yang juga bagian dari masyarakat sipil. Mungkin cara mahasiswa yang berdemo itu sudah jatoh sejatoh-jatohnya. Bahkan dalam tayangan TV One yang mengikutsertakan narasumber ‘Bapak Ibu berpendidikan tinggi’ (INDONESIA LAWYER CLUB) juga sesekali ngundang mahasiswa, bukannya ‘mengayomi’ malah terkadang suka ‘khilaf menuding’.

Inilah yang terjadi setidaknya dalam artikel kali ini yang berjudul JEJREEENG! (bunyi musik ala endoneSIAL idol) Mau Demo Ahok,Mahasiswa Kena Batunya! Ceritanya pada 18 Desember 2012, kala Ahok diwawancarai wartawan, empat orang mahasiswa datang meyeruak dan salah satunya berkata:

“Pak, begini sekarang, semakin terpuruk pasar tradisional. Kita ini mau bangun pasar tradisional. Sekarang, kenyataannya banyak minimarket yang menjamur. Kami sudah melakukan unjuk rasa di 7-Elevens pusat di Matraman. Kami minta bertemu, tetapi mereka menolak. Padahal 7-Eleven seharusnya menyediakan makanan siap saji, tetapi malah menjadi minimarket. Sesuai Peraturan Presiden Nomor 22 Kami menuntut Wagub, mana janji anda, Pak!” Ujar si mahasiswa dengan nada tinggi.

Ahok menjelaskan dengan nada tinggi bahwa semua perizinan itu harus dikaji terlebih dulu, tidak bisa asal cabut, karena bisa-bisa Pomprov DKI malah kena tuntut di PIUN. Kalau kalah di PIUN, harus keluar duit lagi. Bobol itu APBD. Itu dari uang rakyat lagi, yang dipakai untuk membayar.

“ .... Ya, semuanya itu ada kajiannya, nggak kayak mahasiswa langsung main berantem saja. Kalau berantem aku lebih jagoan, ... Makanya, saya bilang, anda jangan teriak-teriak. Tenang saja! Kami ini baru dua bulan, dan kami belum keluarkan izin satu pun. Kalau kami sudah keluarkan izin, anda boleh maki-maki kami, mana janjinya. Ini saya agak marah karena anda bilanng ‘mana janjinya’. Kami baru 2 bulan, Bung! Jadi anda jangan pakai ‘mana janji anda.’ Saya tidak suka kalimat “mana janji anda,” tahu nggak?!”

Dan sisi lain, banyak yang pro sama langkah pejabat yang satu ini. Gimana enggak coba? Kalau pejabat lain yang di demo atau di protes lebih memilih jalan aman dengan bersikap santai dan bijak (atau sok santai dan sok bijak?) Ahok memilih untuk “jadi dirinya sendiri”. Langkahnya ini juga mendapat tanggapan positif dari pendukungnya (ya iyalah, menurut Anda?). Jawaban yang menampar membahana joss gados terpampang di jambrud khatulistiwa itu menjadi ‘tamparan keras’ untuk mahasiswa.

Jokowi: Marah Itu Gaya Kepemimpinan Ahok


Orang-orang pun ‘merasa puas’ dan seperti berkata, “Nah kan? Baru tahu rasa loh digituin ... Dasar mahasiswa bla bla bla ... lebih sering bergerak cuma buat dicitrakan pahlawan pro rakyat kecil ... bla bla bla ...”

Tapi kasih jugalah apresiasi sama mahasiswa dari Universitas Bung Karno itu, butuh keberanian luar biasa buat ngomong langsung ke depan orang yang diprotes. Kapan lagi gitu, lho. Mungkin karena kondisi kejiwaan Ahok sedang depress, apalagi atas sorotan wartawan, ia pun membuncah bagai lahar. (bahasanya pelis ya ..). kasihan juga tampang mahasiswa itu. Dia mungkin baru menginjak awal usia dua puluh tahunan. Beberapa orang pun lebih merasa pantas mengkambinghitamkannya dan pantas mengatainya “Rasain lu ah! Macem-macem sih!” Jangan sampai gara-gara sosok pejabat yang kurang mengontrol emosinya, nyali mahasiswa jadi ciut dan tidak ‘bergerak lagi’.

Sesungguhnya baik mahasiswa maupun siapapun adalah masyarakat sebagai penilai mobilitas sosial dan pemerhati politik. Mereka bisa melakukannya lewat demo atau tulisan kritik lewat tabloid kampus atau blog. Meski dianggap awam dan dianggap enggak tahu akar permasalahnnya (atau mengurai pertanyaan bodoh). Tidaklah mereka patut mendapatkan perlakuan yang baik pula. Di jawab ‘baik-baik’. Toh pertanyaan sang mahasiswa enggak pake lo gue end kan? :V tapi Ahok memang merasa harus untuk ‘menjadi dirinya sendiri’. Toh dia punya massa pendukung yang banyak. Apa hubungannya? Heheh ...

Yang jelas apa saya harus merasa yakin bahwa kelompok yang ‘ill feel’ lihat beliau marah-marah begitu juga banyak? Dan malah bersimpati pada mahasiswa yang polos itu tadi. Saya merasa yakin ada, apalagi dengan bijaknya para wartawan menenangkan pejabat baru itu dengan kalimat, “Sabar, Pak ...” Yeah, memang harus sabar. Daripada es mosi nggak jelas yang hanya akan disesali di kemudian hari?

See u!

Apapun (dan harus klise) semua orang punya pendapat tiga kubu yang condong ke pro, kontra, dan abstain. Suka-sukalah kita berkata dan menafsirkan bagaimana pejabat publik ini bertingkah polah. Yang penting pake kata-kata yang santun, dan tidak marahan. Hmm, saya tidak menyindir kalangan waras kok. Tapi memang orang yang punya pembawaan ‘tempramental’, lebih mampu dan lebih mungkin menunjukkan ekspresinya, daripada orang ‘penyabar dan pendiam’. Hasilnya:

 Bonus:

***












Sebenarnya suara orang reaktif itu lebih kita dengar ketimbang suara orang kalem. Apalagi di ranah dunia maya, banyak pelaku silent reader. Entah karena enggak punya nyali bicara lewat teks, atau bingung mau ngomong apa. Jadi, supaya aman, milih mingkem aja.