Hal demikian bukanlah yang aneh,
malah bikin lucu. Kita memang sudah sangat masuk di era kebebasan pers dan era
berpendapat. Bagi publik figur terutama pejabat negara, ngomong dikit aja bisa
mendapat banyak tafsiran. Begitu pula dengan ‘kekayaan’ pola pikir pengamat ala
apresiator. Yang tentulah merupakan cara pandang sebagian orang.
Bagian 1: Ahok yang “Sensi”
“Kita alergi dengan pencitraan,”
begitu kata Ahok saat disinggung mengenai ‘menghilangnya ia sejenak’ hanya
karena membantu korban banjir dikutip dari Koran Fesbuk, pada senin (21/1),
Ahok mengatakan bahwa dia ditugaskan Jokowi untuk korban banjir. Hal demikian
terjadi pada Kamis tanpa liputan wartawan.
Dia berkata, “Jadi, itu yang terjadi hari Kamis, saya
berpikir ngapain kita kerja untuk diikutin media. Nanti ada laporan dibilang
pencitraan,” tambahnya. Ia menjelaskan, saat banjir terjadi, dirinya turut
turun tangan memantau warga di wilayah Pluit yang terdampak banjir.
Nah, saat ditanya perihal pertanyaan WARTAWAN tentang
‘menghilangnya’ Ahok saat banjir, dan berkata, “Kita kemana-mana bawa wartawan
dibilang pencitraan. Kan banjir, ngapain nyusahin wartawan. Saya kesel juga pas
baca saya enggak ngapa-ngapain.”
Tidak melihat bagaimana dia mengucapkannya, sih apakah
gesturnya kayak orang nyiram kembang apa kayak orang baru ketusuk bulu babi di
pantai. Tapi sepertinya dia memang keki saat mengatakannya. Tapi kita patut MENGAPRESIASI
kejujurannya berkata-kata. Dengan ‘polos’ dan lugasnya ia berkata “NGAPAIN
NYUSAHIN WARTAWAN. SAYA KESEL JUGA PAS BACA SAYA (DIBILANG) ENGGAK
NGAPA-NGAPAIN.”
Rasanya ingin :V saja membaca dialog tersebut :3. Agak
aneh dan oposit juga, sih KALAU SADAR MEMUTUSKAN UNTUK ‘BERSEMBUNYI’ DARI
LIPUTAN PERS, semestinya beliau memprediksikan dong apa yang akan ‘terjadi’?
Yakni, ‘tuduhan’ dia ‘Nggak ngapa-ngapain’. Padahal kalem bisa aja yah, kayak
Pak SBY. Pak SBY itu dibulan-bulanin cuma karena bikin album atau pas pidato
disangka banyak curhat, tetep aja lempeng mungkin inilah yang namanya
KEMATANGAN. Salut buat sang ‘introvert’ yang kalem: SBY Heheh ... :3
![]() |
| Foto: Fanpage Koran Pesbuk |
Entahlah, kenapa hari gini masih ‘berkonsentrasi ria’ pada
tuduhan polotik pencitraan. Itu kan ‘bahasa’ orang-orang yang sok-sokan bisa
kritik soal politik doang. Padahal banyak kok masyarakat yang melek dan waras,
yang memosisikan PUBLIKASI sebagai hal yang sangat dibutuhkan. Tidak ada kata
‘serba salah di sana’. Toh yang diliput bukan aksi mabok-mabokkan atau berenang
di bundaran HI?
Bagian 2: Reporter “Cacat” TV One
Artikel di Kompasiana yang tersebar ke kaskus dan
‘digunakan’ lintasberita itu punya judul KELAR SHOOTING, JOKOWI DAMPRAT TV ONE. Muke gile judulnya :D. Sampai
sejauh ini tulisan itu dibaca sampai 150 orang. Wow, kapan tulisan ane dibaca
sampai segitu ya? Tapi wajar saja orang dunia maya dan tidak maya (alias
jurig?) membaca artikel berjudul ‘mencakar’ itu. Selain Jokowi dan Ahok adalah
‘pejabat dengan fanbase yang luar biasa besar’. Kata ‘DAMPRAT’ yang cukup
preman ditabokin ke sebuah judul memang sangat koran kuning sekali.
Tulisan ini berisi ‘kemarahan’ Jokowi melalui ajudannya,
Anggit. Kayak sampo 3 in one era 90-an, tulisan ini juga ‘menggiring’ para
pembacanya untuk ‘mematok’ TV One. Salah satunya singgungan sedikit mengenai
reporter TV One yang dianggap tidak empati pada relawan di pengungsian Jati
Asih. Tulisan itu berdasarkan tulisan Armin Bell berjudul TV One danReporter Antipati. Entah siapa nama
Reporter perempuan itu, tapi kayaknya itu cewek pasti masih deg-degan sendiri
pas tahu ‘kinerjanya’ dikritik abis-abisan :D.
“Bagaimana pola distribusi bantuannya, Om relawan?”
“Kami melakukan distribusi langsung kepada para pengungsi
di tenda-tenda.”
“Lho, kenapa tidak melalui RT? Kan lebih bagus kalau
melalui RT?”
Entah apa yang dilakukan wartawan, tulisan digiring ke
dialog:
“Apa sih yang Om relawan berikan pada para korban?”
“Macam-macam Mbak, ada pakaian, selimut, mie instan dan
kebutuhan-kebutuhan lain.” (Prediksi mimik muka: tersenyum bahagia ‘jasa-jasanya
tersimak’ dihargai dan kemungkinan penonton berkata ‘yah mereka melakukan
sesuatu’ lebih mungkin terjadi).
“Saya pikir yang sangat mereka butuhkan adalah air bersih?
Kenapa tidak disiapkan air bersih?” (Sudut mata menyipit ala Feni Rose)
“Iya mbak, saya juga sudah kontak teman-teman untuk
distribusi air bersih tetapi sampai sekarang belum datang-datang.”
“Mas, kok distribusi makanannya mie instan? Kan susah itu
diolah oleh para pengungsi. Mengapa tidak menyiapkan nasi bungkus?”
“Selama ini tidak masalah kok mba. Semua baik-baik saja. Mereka
bisa mengolahnya dengan baik!”
EAAA! Seru sekali yah kalau nonton langsung. Bisa jadi
wawancara akan lebih lengkap. Tapi sebuah tulisan berbentuk opini yang
jelas-jelas subyektif bisa sangat mungkin memengaruhi masyarakat terutama awam.
Padahal bisa saja kita memberikan pemakluman pada si reporter, ketimbang
memilih mengatainya goblok misalkan? :D
Yeah, saya yakin akan banyak orang yang bisa mandang secara
‘alami’ bin coba-coba bijak, cuma ente tahu sendiri, yang lebih mampu bersuara
di jejaring sosial ini adalah orang-orang yang ‘emosional’, yang memungkinkan
mereka tampil reaktif. Enggak kompasiana yang katanya isinya orang-orang bonapit
semua, atau di kaskus yang betawian or di youtube yang jor-joran.
Cuma menjadikan TV One sebagai satu-satunya pihak yang
paling disalahkan, membuat saya merasa prihatin. Padahal bisa jadi pertanyaan
wartawan itu suara kritis sebagian orang, yang kalau kita alami dengan jernih,
bisa jadi merupakan pertanyaan dari dalam diri kita.
Masuk akal dong, kalo tanya kok ngasi mie instan sih?
Masaknya gimana? Pake aer banjir? Nah, si relawan atau katakanlah kita, mungkin
tidak terima karena pertanyaan itu berbau tidak menyenangkan, sehingga
menimbulkan kesan tidak EMPATI. Padahal kalau dia seorang RELAWAN, seharusnya
lebih legowo dan tak usah memikirkan seberapa sedikit atau besar kegiatan
sosialnya dihargai. Toh cuma dapat pertanyaan begituan kok. :D
Bagian 3: Jokowi “Marah-marah”
Oke, tulisan dan komentar pro Jokowi Ahok akan selalu
berhamburan. Salah satunya artikel berjudul CADAS yang baru saja baca Kekonyolan Muhammad Rizky (Tv One) Saat Mewawancarai Jokowi. Kebetulan saja artikel
itu yang nongol di dashboard ane pas ngecek jumlah komentar di artikel ane yang
sepi (pedih ya gan? Xixixi). Seperti halnya opini, tentu saja melulu ada berbau
keberpihakan pada salah satu kubu. Untuk jadi obyektif? Ayolah, emang sedang
bikin makalah anak kuliahan?
Tanpa tanda petik atau kutip, ‘kekonyolan’ yang dimaksud
dalam tulisan ini adalah ketika M. Rizky sebagai pewawancara, bertanya hal-hal
di luar konteks banjir. Jokowi pun ‘kembali’ diposisikan ‘legowo’ atau
pertanyaan yang dianggap ke luar konteks itu. Saya sebagai awam baru tahu kalau
harus ada perjanjian tertentu kalau mau wawancara di media. Bukankah seharusnya
pejabat publik harus siap dengan pertanyaan-pertanyaan ‘lain’? Asal bukan
pertanyaan soal Lady Gaga, Bunga Citra Lestari, atau barang kali Emma Watson.
Heuheu. Entahlah saya tidak lihat acara beliau dan beliau yang satunya yang
dianggap konyol itu. :P
Bagian 4: Ahok “GAMPANG NAIK DARAH?” (JEJREEENG: Pake
musik sinetron ala Sinemart)
Saya sungguh sangat menyayangkan dengan tabiat para
pejabat sekarang (atau yang disadari sekarang?) dalam mengolah sisi emosinya,
termasuk kala dalam memperlakukan mahasiswanya, yang juga bagian dari
masyarakat sipil. Mungkin cara mahasiswa yang berdemo itu sudah jatoh
sejatoh-jatohnya. Bahkan dalam tayangan TV One yang mengikutsertakan narasumber
‘Bapak Ibu berpendidikan tinggi’ (INDONESIA LAWYER CLUB) juga sesekali ngundang
mahasiswa, bukannya ‘mengayomi’ malah terkadang suka ‘khilaf menuding’.
Inilah yang terjadi setidaknya dalam artikel kali ini yang
berjudul JEJREEENG! (bunyi musik ala endoneSIAL idol) Mau Demo Ahok,Mahasiswa Kena Batunya! Ceritanya pada 18 Desember 2012, kala Ahok
diwawancarai wartawan, empat orang mahasiswa datang meyeruak dan salah satunya
berkata:
“Pak, begini sekarang, semakin terpuruk pasar tradisional.
Kita ini mau bangun pasar tradisional. Sekarang, kenyataannya banyak minimarket
yang menjamur. Kami sudah melakukan unjuk rasa di 7-Elevens pusat di Matraman. Kami
minta bertemu, tetapi mereka menolak. Padahal 7-Eleven seharusnya menyediakan
makanan siap saji, tetapi malah menjadi minimarket. Sesuai Peraturan Presiden
Nomor 22 Kami menuntut Wagub, mana janji
anda, Pak!” Ujar si mahasiswa dengan nada tinggi.
Ahok menjelaskan dengan nada tinggi bahwa semua perizinan
itu harus dikaji terlebih dulu, tidak bisa asal cabut, karena bisa-bisa Pomprov
DKI malah kena tuntut di PIUN. Kalau kalah di PIUN, harus keluar duit lagi. Bobol
itu APBD. Itu dari uang rakyat lagi, yang dipakai untuk membayar.
“ .... Ya, semuanya itu ada kajiannya, nggak kayak
mahasiswa langsung main berantem
saja. Kalau berantem aku lebih
jagoan, ... Makanya, saya bilang, anda jangan teriak-teriak. Tenang saja! Kami
ini baru dua bulan, dan kami belum keluarkan izin satu pun. Kalau kami sudah
keluarkan izin, anda boleh maki-maki kami, mana janjinya. Ini saya agak marah
karena anda bilanng ‘mana janjinya’. Kami baru 2 bulan, Bung! Jadi anda jangan
pakai ‘mana janji anda.’ Saya tidak suka kalimat “mana janji anda,” tahu
nggak?!”
Dan sisi lain, banyak yang pro sama langkah pejabat yang
satu ini. Gimana enggak coba? Kalau pejabat lain yang di demo atau di protes
lebih memilih jalan aman dengan bersikap santai dan bijak (atau sok santai dan
sok bijak?) Ahok memilih untuk “jadi dirinya sendiri”. Langkahnya ini juga
mendapat tanggapan positif dari pendukungnya (ya iyalah, menurut Anda?).
Jawaban yang menampar membahana joss gados terpampang di jambrud khatulistiwa
itu menjadi ‘tamparan keras’ untuk mahasiswa.
![]() |
| Jokowi: Marah Itu Gaya Kepemimpinan Ahok |
Orang-orang pun ‘merasa puas’ dan seperti berkata, “Nah
kan? Baru tahu rasa loh digituin ... Dasar mahasiswa bla bla bla ... lebih
sering bergerak cuma buat dicitrakan pahlawan pro rakyat kecil ... bla bla bla
...”
Tapi kasih jugalah apresiasi sama mahasiswa dari
Universitas Bung Karno itu, butuh keberanian luar biasa buat ngomong langsung
ke depan orang yang diprotes. Kapan lagi gitu, lho. Mungkin karena kondisi
kejiwaan Ahok sedang depress, apalagi atas sorotan wartawan, ia pun membuncah
bagai lahar. (bahasanya pelis ya ..). kasihan juga tampang mahasiswa itu. Dia mungkin
baru menginjak awal usia dua puluh tahunan. Beberapa orang pun lebih merasa
pantas mengkambinghitamkannya dan pantas mengatainya “Rasain lu ah! Macem-macem
sih!” Jangan sampai gara-gara sosok pejabat yang kurang mengontrol emosinya,
nyali mahasiswa jadi ciut dan tidak ‘bergerak lagi’.
Sesungguhnya baik mahasiswa maupun siapapun adalah
masyarakat sebagai penilai mobilitas sosial dan pemerhati politik. Mereka bisa
melakukannya lewat demo atau tulisan kritik lewat tabloid kampus atau blog. Meski
dianggap awam dan dianggap enggak tahu akar permasalahnnya (atau mengurai
pertanyaan bodoh). Tidaklah mereka patut mendapatkan perlakuan yang baik pula. Di
jawab ‘baik-baik’. Toh pertanyaan sang mahasiswa enggak pake lo gue end kan? :V
tapi Ahok memang merasa harus untuk ‘menjadi dirinya sendiri’. Toh dia punya
massa pendukung yang banyak. Apa hubungannya? Heheh ...
Yang jelas apa saya harus merasa yakin bahwa kelompok yang
‘ill feel’ lihat beliau marah-marah begitu juga banyak? Dan malah bersimpati
pada mahasiswa yang polos itu tadi. Saya merasa yakin ada, apalagi dengan
bijaknya para wartawan menenangkan pejabat baru itu dengan kalimat, “Sabar, Pak
...” Yeah, memang harus sabar. Daripada es mosi nggak jelas yang hanya akan
disesali di kemudian hari?
See u!
Apapun (dan harus klise) semua orang punya pendapat tiga
kubu yang condong ke pro, kontra, dan abstain. Suka-sukalah kita berkata dan
menafsirkan bagaimana pejabat publik ini bertingkah polah. Yang penting pake
kata-kata yang santun, dan tidak marahan. Hmm, saya tidak menyindir kalangan
waras kok. Tapi memang orang yang punya pembawaan ‘tempramental’, lebih mampu
dan lebih mungkin menunjukkan ekspresinya, daripada orang ‘penyabar dan pendiam’.
Hasilnya:
Bonus:
***
Sebenarnya suara orang reaktif itu lebih kita dengar
ketimbang suara orang kalem. Apalagi di ranah dunia maya, banyak pelaku silent
reader. Entah karena enggak punya nyali bicara lewat teks, atau bingung mau
ngomong apa. Jadi, supaya aman, milih mingkem aja.



