Siapa pun tidak suka di perolok, siapa pun
tidak suka di cela dan di tertawakan. Tapi, di dunia yang keras ini, kita nggak
bisa berharap banyak. Santai aja, enggak usah jadi drama. Jadi ketika kamu
sadar kamu jadi bahan olok-olokan, yang mesti kamu lakukan adalah…. Diam.
Yeah, diam bisa berarti apa pun. Menurut orang
lain, menjadi diam itu tidak enak. Itu tanda kekalahan, itu tanda pengecut, dan
itu tanda orang yang bersalah! Itu tanda seseorang yang tidak melakukan
apa-apa. Tapi, selalu banyak sesuatu dari diam. Diam bisa saja suatu usaha
untuk menjadi air, untuk menjadi bijaksana –tanpa pernah bermaksud bijaksana. Untuk
berusaha meyakinkan diri kalau apa yang kita terima bukanlah hal buruk,
bukanlah hal yang menyedihkan, bukanlah hal yang membuat kita menderita.
Maksud saya, ayolah … kalau hanya di
perolok. Cobalah lihat orang yang hidupnya lebih menderita. Boro-boro mikirin
sakit hati karena di caci-maki, mikirin besok mau makan apa, itu juga sudah
susah. Saya juga yakin, si pencela atau pemaki, tidak pernah punya rasa empati
dalam dirinya. Dia mungkin menyenangkan, dia terlihat baik! Tapi lihat
bagaimana cara ia menumpahkan kekesalan? Dia seperti bukan dirinya sendiri. Dia
menunjukan sisi-sisi dirinya sebagai perusak.
Tahukah kamu, Kawan. Orang yang terlalu
mudah menguraikan emosinya, kelak akan di sesalinya di kemudian hari. Entahlah,
mungkin saat ini dia seorang remaja, dan kelak ketika ia beberapa tingkat lebih
matang, dia akan merana bahwa apa yang dilakukannya dulu meupakan sebuah
kesalahan.
Tapi tunggu, lihatlah, Kawan. Ternyata
banyak juga orang-orang yang terlihat beragama, terlihat intelektual, dan sudah
matang alias tua, masih terperangkap dalam pola pikir anak-anak. Mereka manjakan
ego mereka, yang ada di pikiran mereka adalah bagaiman cara mereka bisa
menumpahkan kekesalannya, tanpa pernah mau tahu bin tanpa pernah mau peduli,
kemarahannya akan merugikan orang lain dan dirinya.
Jadi, apa yang mesti kita lakukan? Simpel
saja. Seperti yang barusan saya muncratkan. Janganjadikan ini drama, dan kamu
tak usah berhenti. Kamu berhenti, mereka tertawa. Kamu beraksi keras, maka
keras pula mereka. Berpikirlah jernih, jangan pula terlalu menganggap diri
sebagai korban!
Kamu ditertawakan? Hey, kamu juga harus
menertawakan mereka balik. Saya menamakannya badut yang menertawakan badut. Dan
tidak ada yang lebih indah ketika kau saling menertawakan. Lagian olok-mengolok
ini punya tujuan beda-beda loh. Di antaranya:
1.
Luapan kekesalan.
Biasanya lewat beberapa SMS hujatan, status jarring social, obrolan antarteman,
artikel khusus dan sejenisnya.
2.
Bagian dari
sense of comedy. Tulisan blogger identic non-konvensional dan dipenuhi bumbu
komedi. Biasanya olokan di sini adalah olokan public figure yang tidak SARA dan
masih dalam tahap wajar.
Ah, ngomong beginian… berasa diri sendiri
tak pernah memperolok orang lain saja. Munafik! Memperolok mungkin sudah
menjadi sifat manusia. Tapi memperoloklah dengan ‘etis’. Lakukanlah
di warung sendiri, di kandang sendiri, tidak harus orang yang di perolok itu
tahu dirinya kita perolok. Mu maun fitnah-fitnahan? Di warung sendiri juga
dong!
Nah, kalau sudah mainmention-mention-an,
kita akan siap kalau yang tersindir akan beraksi. Itu bisa saja beraksi keras,
bisa saja adem ayem. Dan kalau udah kepancing, biasanya si pemaki malah akan
lebih panas kayak belut di pengorengan. Aduhai … begitu lucu …
Intinya …. Begitu banyak orang baik di
dunia ini, tapi tak banyak yang memiliki rasa kasih.
See U!
