8 Januari 2013

Memperolok dengan Etis


Siapa pun tidak suka di perolok, siapa pun tidak suka di cela dan di tertawakan. Tapi, di dunia yang keras ini, kita nggak bisa berharap banyak. Santai aja, enggak usah jadi drama. Jadi ketika kamu sadar kamu jadi bahan olok-olokan, yang mesti kamu lakukan adalah…. Diam.


Yeah, diam bisa berarti apa pun. Menurut orang lain, menjadi diam itu tidak enak. Itu tanda kekalahan, itu tanda pengecut, dan itu tanda orang yang bersalah! Itu tanda seseorang yang tidak melakukan apa-apa. Tapi, selalu banyak sesuatu dari diam. Diam bisa saja suatu usaha untuk menjadi air, untuk menjadi bijaksana –tanpa pernah bermaksud bijaksana. Untuk berusaha meyakinkan diri kalau apa yang kita terima bukanlah hal buruk, bukanlah hal yang menyedihkan, bukanlah hal yang membuat kita menderita.

Maksud saya, ayolah … kalau hanya di perolok. Cobalah lihat orang yang hidupnya lebih menderita. Boro-boro mikirin sakit hati karena di caci-maki, mikirin besok mau makan apa, itu juga sudah susah. Saya juga yakin, si pencela atau pemaki, tidak pernah punya rasa empati dalam dirinya. Dia mungkin menyenangkan, dia terlihat baik! Tapi lihat bagaimana cara ia menumpahkan kekesalan? Dia seperti bukan dirinya sendiri. Dia menunjukan sisi-sisi dirinya sebagai perusak.

Tahukah kamu, Kawan. Orang yang terlalu mudah menguraikan emosinya, kelak akan di sesalinya di kemudian hari. Entahlah, mungkin saat ini dia seorang remaja, dan kelak ketika ia beberapa tingkat lebih matang, dia akan merana bahwa apa yang dilakukannya dulu meupakan sebuah kesalahan.

Tapi tunggu, lihatlah, Kawan. Ternyata banyak juga orang-orang yang terlihat beragama, terlihat intelektual, dan sudah matang alias tua, masih terperangkap dalam pola pikir anak-anak. Mereka manjakan ego mereka, yang ada di pikiran mereka adalah bagaiman cara mereka bisa menumpahkan kekesalannya, tanpa pernah mau tahu bin tanpa pernah mau peduli, kemarahannya akan merugikan orang lain dan dirinya.

Jadi, apa yang mesti kita lakukan? Simpel saja. Seperti yang barusan saya muncratkan. Janganjadikan ini drama, dan kamu tak usah berhenti. Kamu berhenti, mereka tertawa. Kamu beraksi keras, maka keras pula mereka. Berpikirlah jernih, jangan pula terlalu menganggap diri sebagai korban!

Kamu ditertawakan? Hey, kamu juga harus menertawakan mereka balik. Saya menamakannya badut yang menertawakan badut. Dan tidak ada yang lebih indah ketika kau saling menertawakan. Lagian olok-mengolok ini punya tujuan beda-beda loh. Di antaranya:

   1.       Luapan kekesalan. Biasanya lewat beberapa SMS hujatan, status jarring social, obrolan antarteman, artikel khusus dan sejenisnya.

    2.       Bagian dari sense of comedy. Tulisan blogger identic non-konvensional dan dipenuhi bumbu komedi. Biasanya olokan di sini adalah olokan public figure yang tidak SARA dan masih dalam tahap wajar.

Ah, ngomong beginian… berasa diri sendiri tak pernah memperolok orang lain saja. Munafik! Memperolok mungkin sudah menjadi sifat manusia. Tapi memperoloklah dengan ‘etis’. Lakukanlah di warung sendiri, di kandang sendiri, tidak harus orang yang di perolok itu tahu dirinya kita perolok. Mu maun fitnah-fitnahan? Di warung sendiri juga dong!

Nah, kalau sudah mainmention-mention-an, kita akan siap kalau yang tersindir akan beraksi. Itu bisa saja beraksi keras, bisa saja adem ayem. Dan kalau udah kepancing, biasanya si pemaki malah akan lebih panas kayak belut di pengorengan. Aduhai … begitu lucu …

Intinya …. Begitu banyak orang baik di dunia ini, tapi tak banyak yang memiliki rasa kasih.

See U!