Sangat pantas untuk mengatakan
‘Miris!’ untuk para anak-anak yang nantinya akan menjadi penerus bangsa ini,
apalagi kalau bukan negara Indonesia. Kenapa gue bisa mengatakan kalau hal itu
miris? Kalau memang kalian sangat jeli dalam memerhatikan tumbuh kembang anak,
kamu pasti tahu. Itu loh, anak-anak polos yang ‘teracuni’ modernisasi. Kita
tidak mesti terus melihat masa depan kita, tapi kita seharusnya mempersiapkan
generasi yang mandiri, kreatif, dan berkarakter. Dan itu seharusnya dibentuk
sedari kecil.
Disini gue mau ngebahas tentang
penyebab luluhnya mental anak di zaman modernisasi yang cepat menyebar seperti
virus. Dan sayangnya hal ini kurang diperhatikan oleh pemerintah yang mulai
masa bodo tentang regenerasi mereka mendatang. Heuheu.
1. Jejaring Sosial Pesbuk
FB atau FaceBook yang udah
familiar di dunia memang terkonsumsi bebas di dunia maya. Tapikan, waktu
mendaftar pesbuk, usianya harus diatas 17 tahun, bung? Ya, memang benar. Tapi,
apakah semua itu terawasi dan terbimbing sesuai peraturan? Dan apakah yang
melanggar akan terkena sanksi? Nggak kan? Anak-anak dengan mudah menyamarkan
umur dan yang paling miris adalah menyamarkan foto mereka. Anak-anak lebih
sering bergelut dengan dunia maya di warung internet, daripada melihat masa
depan mereka dengan belajar tekun untuk dirinya.
Memang, kembali lagi kepada
orangtua sang anak. Orangtua, khususnya yang mempunyai anak, seharusnya
mengontrol waktu mereka. Atau kalo mampu, hindari mereka dari jahatnya dunia
maya. Ya, tidak mudah memang. Sebaiknya beri mereka waktu sebentar untuk
bermain internet, tapi tetap dengan pengawasan orang tua. Pesbuk dapat merusak
mental mereka, anak akan merasakan penasaran yang hebat, sehingga mereka dapat
melakukan apa saja untuk menghilangkan rasa penasaran. Misalkan: Game di
Pesbuk. Game petualangan atau action dapat membuat anak ketagihan.
2. Game Online
Nggak beda jauh dengan game yang
ada di pesbuk. Hal ini sangat sering gue liat di warnet-warnet. Jadi, warnet
bukan lagi tempat nongkrong orang dewasa yang berkepentingan. Tapi, penuh
dengan bocah polos sedang berteriakkan karena jagoannya kalah, Yeahh!. Kemana
kah orang tua mereka? Wallahualam. Miris sekali, banyak anak-anak diluar sana
yang ingin bersekolah, apapun resikonya. Dan faktanya, anak penghuni warnet
yang mungkin jenuh dengan dunia sekolah dan memilih untuk membuang uang jajan
mereka hanya untuk kesenangan sementara. Sedangkan yang tidak bersekolah sangat
memerlukan uang untuk mengenyam bangku sekolah.
Paling miris, kalo liat anak-anak
sekolah yang masih berseragam dengan senangnya bermain game online di warnet,
berteriak, dan melupakan kewajiban mereka sebagai generasi masa mendatang.
Sebenarnya bukanlah anak-anak yang salah, mereka hanya menuruti insting mereka
untuk menikmati masa kanak-kanak yang seharusnya bahagia. Tapi, sampai seperti
itukah kebebasan mereka akan dunia mereka, hey! Salah siapa? Tentunya orang tua
anak tersebut.
Ya, kalau bisa sih, pemerintah
membuat aturan baru. Misalkan: Di warnet, anak kecil dibawah 12 tahun dilarang
masuk, kecuali dengan bimbingan orang dewasa. Atau warnet seharusnya tidak
menyediakan game online macam racun dalam darah! Yeahh.
3. Alat Elektronik
Hey, siapa yang belum dengar
kasus penculikkan anak? Hal ini lumayan sering di beritakan. Salah satu
penyebab maraknya kasus tersebut di karenakan si anak memiliki ciri khas orang
kaya, seperti tampilan rapi, ber-anting, gelang, memakai kalung, dan paling
menonjol adalah sedang memegang barang electronik. Anak-anak seperti mereka
menjadi santapan enak bagi paraorang berniat busuk. Bayangkan, kalau kamu jadi
penculiknya. Kamu ingin menculik yang mana, anak 1: Berpenampilan biasa, baju
lusuh, sepatu butut, dan tidak memakai aksesoris apapun, ketimbang anak2:
Aksesoris glamor, memegang gadged, pakaian bersinar, sepatu berwarna-warni. Jujur,
kalau saya punya niat jahat, saya akan culik anak 2. Hahah.
Resiko secara mental, anak bisa
menjadi sombong pamer hape mami. Anak akan manja karena dimanjakan oleh
berbagai aplikasi di handphone. Akhirnya, mereka meninggalkan kewajiban mereka
untuk belajar. Dan ini kembali lagi ke orangtua, tentang pengawasan dan
fasilitas terbatas yang harus di terapkan untuk anak-anak.
4. Kurangnya spiritual
Anak yang bermental mandiri,
kreative, dan berkarakter haruslah memiliki kematangan spiritual yang standard
untuk ukuran anak-anak. Orangtua bisa mengajarkan doa-doa sebelum melakukan
segala kegiatan, paling standard mungkin mengucap basmalah. Kurangnya spiritual
anak bisa menyebabkan buruknya perilaku anak dan tempramental. Karakter anak
dibentuk dalam berbagai aspek, seperti mengajarkan cara mereka berinteraksi,
dan saat bertemu atau berpisah wajib lah mengucapkan salam.
5. Wadah Prestasi
Bagi orang tua, sering-sering lah
memerhatikan bakat anak kalian. Jika sudah terlihat, apa salahnya mengeluarkan
kocek untuk memberi anak les. Bakat mereka baik untuk masa mendatang dan
mengisi waktu luang mereka untuk mengembangkan bakat dibandingkan main gadged
atau internet. Iya, kan? Nah, jika dewasa nanti, si anak tidak akan bingung dan
dilema untuk masuk universitas. Jika mereka sudah mengerti akan hobi, tanyalah
dan asahlah hobi mereka. Karena itu adalah hal positif untuk mereka.
6. TV
Sekarang banyak siaran TV yang
udah nggak mendidik lagi. Siaran ini berbentuk kartu yang disusupi simbol
iluminati. Tapi, mereka belum mengerti akan hal itu. Masalahnya, mereka
menonton TV terlalu sering hingga lebih baik menonton daripada belajar. Orangtua
dapat memberi durasi menonton, belajar, dan bermain. Semuanya berdasarkan kesepakatan
orangtua dengan anak, suapaya anak lebih manut dan tidak membantah.
7. Kebiasaan yang tidak baik
Pernah liat nggak, seorang anak
yang habis mengorek lubang hidung dan mendapatkan buntalan kecil berwarna buram
lalu di jijilkan ke orang lain. Lalu, seperti meludah sembarangan. Kebiasaan itu
harus di ubah, bagaimana tidak? Hal kecil seperti itu, menyebabkan anak mudah
di rasuki kebiasaan buruk di masa mendatang. Orangtua juga menjaga perilaku
saat ada anak-anak. Usia mereka semestinya lebih meniru.
Udah deh, saya pusing
membicarakan anak-anak yang nakal. Jarang saya temukan anak-anak disekitar saya
yang membantu dan jarang menyusahkan. Ahh, kenapa harus dipikirkan? Saya sendiri
belum mempunya anak. Otomatis, saya belum punya tanggung jawab untuk mengurusi
anak-anak. Tapi, kalau saya sudah punya, pastinya saya tidak mau menyesal jika
mereka menjadi sampah masyarakat dan mengecewakan saya, tidak dapat menjadi
generasi penerus yang lebih baik. Ahh, siapa ya istri saya di kemudian hari,
semoga saja dapat mendidik dan mengasuh anak-anak saya dengan baik. Amin. J
Sekian ya, kalo ada yang mau
ditambah atau di caci silahkan komentar di bawah ini. dan kalaulah bersedia,
ubahlah pola asuh kalian terhadap anak –bagi yang punya anak.
See u!
