27 Desember 2012

Penyebab Generasi Abal - Abal


Sangat pantas untuk mengatakan ‘Miris!’ untuk para anak-anak yang nantinya akan menjadi penerus bangsa ini, apalagi kalau bukan negara Indonesia. Kenapa gue bisa mengatakan kalau hal itu miris? Kalau memang kalian sangat jeli dalam memerhatikan tumbuh kembang anak, kamu pasti tahu. Itu loh, anak-anak polos yang ‘teracuni’ modernisasi. Kita tidak mesti terus melihat masa depan kita, tapi kita seharusnya mempersiapkan generasi yang mandiri, kreatif, dan berkarakter. Dan itu seharusnya dibentuk sedari kecil.



Disini gue mau ngebahas tentang penyebab luluhnya mental anak di zaman modernisasi yang cepat menyebar seperti virus. Dan sayangnya hal ini kurang diperhatikan oleh pemerintah yang mulai masa bodo tentang regenerasi mereka mendatang. Heuheu.

1. Jejaring Sosial Pesbuk

FB atau FaceBook yang udah familiar di dunia memang terkonsumsi bebas di dunia maya. Tapikan, waktu mendaftar pesbuk, usianya harus diatas 17 tahun, bung? Ya, memang benar. Tapi, apakah semua itu terawasi dan terbimbing sesuai peraturan? Dan apakah yang melanggar akan terkena sanksi? Nggak kan? Anak-anak dengan mudah menyamarkan umur dan yang paling miris adalah menyamarkan foto mereka. Anak-anak lebih sering bergelut dengan dunia maya di warung internet, daripada melihat masa depan mereka dengan belajar tekun untuk dirinya.

Memang, kembali lagi kepada orangtua sang anak. Orangtua, khususnya yang mempunyai anak, seharusnya mengontrol waktu mereka. Atau kalo mampu, hindari mereka dari jahatnya dunia maya. Ya, tidak mudah memang. Sebaiknya beri mereka waktu sebentar untuk bermain internet, tapi tetap dengan pengawasan orang tua. Pesbuk dapat merusak mental mereka, anak akan merasakan penasaran yang hebat, sehingga mereka dapat melakukan apa saja untuk menghilangkan rasa penasaran. Misalkan: Game di Pesbuk. Game petualangan atau action dapat membuat anak ketagihan.

2. Game Online

Nggak beda jauh dengan game yang ada di pesbuk. Hal ini sangat sering gue liat di warnet-warnet. Jadi, warnet bukan lagi tempat nongkrong orang dewasa yang berkepentingan. Tapi, penuh dengan bocah polos sedang berteriakkan karena jagoannya kalah, Yeahh!. Kemana kah orang tua mereka? Wallahualam. Miris sekali, banyak anak-anak diluar sana yang ingin bersekolah, apapun resikonya. Dan faktanya, anak penghuni warnet yang mungkin jenuh dengan dunia sekolah dan memilih untuk membuang uang jajan mereka hanya untuk kesenangan sementara. Sedangkan yang tidak bersekolah sangat memerlukan uang untuk mengenyam bangku sekolah.

Paling miris, kalo liat anak-anak sekolah yang masih berseragam dengan senangnya bermain game online di warnet, berteriak, dan melupakan kewajiban mereka sebagai generasi masa mendatang. Sebenarnya bukanlah anak-anak yang salah, mereka hanya menuruti insting mereka untuk menikmati masa kanak-kanak yang seharusnya bahagia. Tapi, sampai seperti itukah kebebasan mereka akan dunia mereka, hey! Salah siapa? Tentunya orang tua anak tersebut.

Ya, kalau bisa sih, pemerintah membuat aturan baru. Misalkan: Di warnet, anak kecil dibawah 12 tahun dilarang masuk, kecuali dengan bimbingan orang dewasa. Atau warnet seharusnya tidak menyediakan game online macam racun dalam darah! Yeahh.

3. Alat Elektronik

Hey, siapa yang belum dengar kasus penculikkan anak? Hal ini lumayan sering di beritakan. Salah satu penyebab maraknya kasus tersebut di karenakan si anak memiliki ciri khas orang kaya, seperti tampilan rapi, ber-anting, gelang, memakai kalung, dan paling menonjol adalah sedang memegang barang electronik. Anak-anak seperti mereka menjadi santapan enak bagi paraorang berniat busuk. Bayangkan, kalau kamu jadi penculiknya. Kamu ingin menculik yang mana, anak 1: Berpenampilan biasa, baju lusuh, sepatu butut, dan tidak memakai aksesoris apapun, ketimbang anak2: Aksesoris glamor, memegang gadged, pakaian bersinar, sepatu berwarna-warni. Jujur, kalau saya punya niat jahat, saya akan culik anak 2. Hahah.

Resiko secara mental, anak bisa menjadi sombong pamer hape mami. Anak akan manja karena dimanjakan oleh berbagai aplikasi di handphone. Akhirnya, mereka meninggalkan kewajiban mereka untuk belajar. Dan ini kembali lagi ke orangtua, tentang pengawasan dan fasilitas terbatas yang harus di terapkan untuk anak-anak.

4. Kurangnya spiritual

Anak yang bermental mandiri, kreative, dan berkarakter haruslah memiliki kematangan spiritual yang standard untuk ukuran anak-anak. Orangtua bisa mengajarkan doa-doa sebelum melakukan segala kegiatan, paling standard mungkin mengucap basmalah. Kurangnya spiritual anak bisa menyebabkan buruknya perilaku anak dan tempramental. Karakter anak dibentuk dalam berbagai aspek, seperti mengajarkan cara mereka berinteraksi, dan saat bertemu atau berpisah wajib lah mengucapkan salam.

5. Wadah Prestasi

Bagi orang tua, sering-sering lah memerhatikan bakat anak kalian. Jika sudah terlihat, apa salahnya mengeluarkan kocek untuk memberi anak les. Bakat mereka baik untuk masa mendatang dan mengisi waktu luang mereka untuk mengembangkan bakat dibandingkan main gadged atau internet. Iya, kan? Nah, jika dewasa nanti, si anak tidak akan bingung dan dilema untuk masuk universitas. Jika mereka sudah mengerti akan hobi, tanyalah dan asahlah hobi mereka. Karena itu adalah hal positif untuk mereka.

6. TV

Sekarang banyak siaran TV yang udah nggak mendidik lagi. Siaran ini berbentuk kartu yang disusupi simbol iluminati. Tapi, mereka belum mengerti akan hal itu. Masalahnya, mereka menonton TV terlalu sering hingga lebih baik menonton daripada belajar. Orangtua dapat memberi durasi menonton, belajar, dan bermain. Semuanya berdasarkan kesepakatan orangtua dengan anak, suapaya anak lebih manut dan tidak membantah.

7. Kebiasaan yang tidak baik

Pernah liat nggak, seorang anak yang habis mengorek lubang hidung dan mendapatkan buntalan kecil berwarna buram lalu di jijilkan ke orang lain. Lalu, seperti meludah sembarangan. Kebiasaan itu harus di ubah, bagaimana tidak? Hal kecil seperti itu, menyebabkan anak mudah di rasuki kebiasaan buruk di masa mendatang. Orangtua juga menjaga perilaku saat ada anak-anak. Usia mereka semestinya lebih meniru.

Udah deh, saya pusing membicarakan anak-anak yang nakal. Jarang saya temukan anak-anak disekitar saya yang membantu dan jarang menyusahkan. Ahh, kenapa harus dipikirkan? Saya sendiri belum mempunya anak. Otomatis, saya belum punya tanggung jawab untuk mengurusi anak-anak. Tapi, kalau saya sudah punya, pastinya saya tidak mau menyesal jika mereka menjadi sampah masyarakat dan mengecewakan saya, tidak dapat menjadi generasi penerus yang lebih baik. Ahh, siapa ya istri saya di kemudian hari, semoga saja dapat mendidik dan mengasuh anak-anak saya dengan baik. Amin. J

Sekian ya, kalo ada yang mau ditambah atau di caci silahkan komentar di bawah ini. dan kalaulah bersedia, ubahlah pola asuh kalian terhadap anak –bagi yang punya anak.

See u!