![]() |
| Jadwal sepakbola telah dituduh sebagai biang perusak ibadah |
Mmm, gue cukup terkesan dengan adanya Euro tahun ini, hebohnya
minta ampun, dunia maya pun gempar memperbincangkan tentang Euro. Bagi sebagian
orang terkecuali gue, sepak bola adalah hiburan yang tak tergantikan dengan
hiburan lainnya. Tapi bagi sebagian orang, sepak bolah telah dianggap sebagai
biang perusak ibadah. Maklum, umumnya pertandingan sepak bola di mulai pada
tengah malam, dimana seseorang seharusnya menyendiri, mengadu, dan menangis di
hadapan Allah SWT, bukan berteriak-teriak di hadapan televisi disaat menonton
pertandingan sepak bola.
Oke, gue punya satu artikel yang membahas tentang fenomena polemik
diatas. Artikel ini bersumber dari Hidayatullah,
dimana yang menulis artikel di bawah ini: Muh. Abdus Syakur adalah juga penggemar sepak bola. Oke. Cekidot.
BAGI sebagaian orang, sepakbola adalah hiburan utama yang tidak
tergantikan dengan hiburan lain. Tapi bagi sebagian orang, sepakbola telah
dituduh sebagai biang perusak ibadah. Maklum, umumnya pertandingan
sepakbola diputar tengah malam, di mana seseorang seharusnya menyendiri dan
menangis di hadapan Allah Subhanahu Wata’ala. Sementara, para penggemar bola,
tertawa dan berteriak-teriak (kalau perlu menjelang Subuh) hingga diperkirakan
banyak di antara mereka yang tak sempat shalat Subuh. [baca pula; Sepakbola dan Propaganda Perusakan Nilai-Nilai Islami]
Terlepas dari fenomena polemik itu, sesungguhnya antara sepakbola
dan dakwah ada kemiripan.
Pergulatan Emosi
Dalam pertandingan sepakbola, di sana syarat dengan pergulatan
emosi, skill dan strategi. Ketiga hal itu berperan sangat penting bagi sebuah
tim dalam melakoni pertarungan di lapangan hijau.
Emosi para pemain –termasuk pelatih dan ofisial– mengalami pasang
surut saat pertandingan berlangsung. Seorang Kapten akan marah habis-habisan
kala wasit tidak memberikan hadiah penalti bagi timnya saat pemain lawan tampak
jelas kedapatan handsball di kotak terlarang. Namun, begitu rekannya berhasil
membobol gawang musuh, Kapten tadi berganti senang dengan luapan kegembiraan
yang tak terkira. Apalagi jika gol tersebut adalah momen penentu kemenangan.
Apa jadinya jika saat sedang marah sebelumnya, sang kapten lantas memukul
wasit? Mungkin, timnya bukan meraih kemenangan, tapi justru terpuruk kalah.
Emosi, dalam sepakbola benar-benar harus terkontrol.
Begitupula dalam sepak terjang di dunia dakwah. Seorang da’i haruslah
pandai-pandai mengendalikan emosinya saat mengemban amanah sebagai juru dakwah
(sebagai murabbi)
di tengah masyarakatnya. Suatu saat ia akan dihadapkan pada situasi yang
menguras emosi melelahkan. Satu contoh nyata adlah kejadian yang menimpa Ustad
Abdullah Gymnastiar atau akrab dipanggil Aa Gym. Bagaimana ketika awalnya ia
dipuja, disanjung dan diburu ibu-ibu (hanya untuk ingin berfoto) tapi mendadak
dicaci, dikecam bahkan didemo ketika ia memilih untuk menikah lagi.
Tak hanya masyarakat yang berdemo, bahkan media massa yang dulu
membesarkan namanya, ikut andil mengecam. Akibat musibah ini, konon, jumlah
jama’ah pengajian Aa Gym di Ponpes Daarut Tauhid Bandung berkurang drastis.
Apakah kejadian ini harus dibalas Aa Gym dengan marah-marah
terhadap media yang pernah membesar-besarkannya? Tapi rupanya tidak! Di sinilah
letak emosi seorang da’i yang terkontrol dalam menghadapi setiap persoalan.
Bagaimanapun pilihan Aa Gym dengan menikah pasti telah dipikirkan.
Jika keputusan itu memang diniatkan karena Allah Subhanahu Wata’ala,
insyaAllah, Allah akan bersamanya. Hanya saja, persoalan tidaklah sampai di
situ. Ia harus perlu mengendalikan emosi dan sabar mengelola semua ini, hatta,
andaikata karene kebencian media itu ia tak lagi memiliki jamaah. Karena seoang
dai yang benar, ia harus berdiri di atas tauhid yang kokoh. Meski jamaahnya
harus hilang tinggal satu, ia tetap bisa mengelola emosi dan keyakinannya pada
Allah tak berubah.
Skill dan ketrampilan
Dalam sepakbola, peran skill (keterampilan) juga teramat penting. Skill individu
pemain sangat membantu sebuah tim untuk menciptakan gol. Seringkali kebuntuan
serangan tim sepakbola dapat terpecahkan oleh aksi individu pemain. Pada Final
Liga Champion Eropa 2012 lalu, Chelsea FC berhasil menghempaskan Bayern Muenchen
lewat aksi cemerlang Didier Drogba yang menyamakan kedudukan menjadi 1-1
melalui sundulan mautnya di penghujung pertandingan, lalu memenangkan The Blues
lewat gol terakhirnya pada sesi adu penalti.
Seorang da’i, wajib terampil dalam membawakan ceramah. Itu tak
bisa dipungkiri lagi. Sudah rahasia umum bahwa ada sekelompok orang yang
menjalankan misi dakwah Islam dengan sikap yang kurang bersahabat.
Sedikit-sedikit mengkafirkan orang lain yang berbeda gaya. Hasilnya, jangankan
diterima, justru sebagian masyarakat lari dari ajakan dakwah yang isi
sebenarnya sangat baik dan bermanfaat.
Dalam perjuangan memenangkan kompetisi peradaban agama (Islam,
red), umat Islam juga dituntut untuk menerapkan strategi yang mumpuni.
Musuh-musuh Islam saat ini sudah jauh memiliki taktik yang hebat dalam
mengemban misi mereka. Para da’i, sudah sepatutnya memainkan strategi baru
dalam berdakwah. Kepiawaian Messi dalam menggiring dan melesakkan bola ke
gawang lawan ternyata tak mampu menghantarkan negaranya untuk menjuarai Copa Amerika
2011. Menurut para pakar, hal itu karena strategi (permainan) dan kerjasama tim
Argentina tak mendukung penuh bagi efektifitas seorang Messi.
Selihai-lihainya seorang ustadz berceramah, tentu tak cukup jika
dia tidak terorganisasi dalam sebuah jama’ah. Kata Sahabat Ali r.a, “Kejahatan
yang terorganiasasi akan mengalahkan kebaikan yang tidak terorganisasi.”
Di saat musuh gencar menyerang umat Islam dengan berbagai
serangan, di saat bersamaan para pejuang syari’at harus piawai memainkan
strategi. Taktik apa yang akan dipakai saat musuh menyerang dengan senjata?
Bagaimana menghadang gempuran budaya Barat? Itu perlu strategi yang matang.
Rasulullah Shallahu ‘alaihi Wassalam, di awal-awal dakwah beliau
tidak serta merta mengangkat pedang menyambut perang. Beliau memainkan strategi
“tikitaka”: dari kaki ke kaki, dari kepala ke kepala, dari kerabat ke kerabat,
dari rumah ke rumah, dari gunung ke gunung, dan seterusnya. Pelan-pelan tapi
pasti. Saat perintah perang dikumandangkan, barulah pedang diayunkan. Saat
dakwah dalam posisi aman, perang kembali disarungkan. Benar-benar strategi yang
matang. Hasilnya, Islam tersyi’ar hingga ke berbagai penjuru jazirah Arab dan
dunia hingga saat ini.
Dan sudah barang tentu, sepakbola memiliki perbedaan yang sangat
jauh dengan “Sepak (terjang) dakwah”. Sepakbola lebih pada urusan nafsu
kesenangan, sedangkan “Sepak (terjang) dakwah” merupakan kerja atas dorongan
keimanan dan panggilan Tuhan.
Supporter sebagai pendukung tim sepakbola, - menginginkan hasil kemenangan tim (kemenangan dunia). Sementara jamaah dakwah (umat) sebagai bagian hasil “sepak (terjang) dakwah”, menuntut hasil jauh lebih besar dari urusan dunia, yakni tegaknya peradaban Islam itu sendiri.
Alhasil, “sepakbola” dan “sepak(terjang)dakwah” jelas dua hal berbeda. Oleh
karena itulah, di tengah gagap gempitanya kita sibuk mengikuti perhelatan Euro
2012, ingat satu hal, “Silahkan sibuk menonton bola, jangan sekali-kali
terlena –apalagi-- menduakan ibadah dan dakwah.”
*
Euro sudah berakhir dan Euro tahun depan jangan sampai ini terjadi pada kalian. Oke?
Sekian dari Saya, _______Wassalamm. :)
