Bang Maman dari Kali Pasir adalah
cerpen yang ada dalam sebuah kolom lembar LKS muatan lokal ‘Pendidikkan
Lingkungan Budaya Jakarta’ untuk kelas 2 SD. Entah siapa yang membuat materi
tentang cerpen tersebut, tapi kisah dalam cerpen ini memang punya konten
dewasa, lengkap dengan cerita rumah tangga yang menghiasi. Artikel kali ini
hanya membahas tentang konten dari cerpen dalam LKS yang kini sudah di tarik
oleh penerbit.
Hanya sedikit mengulang, LKS
tersebut dinilai tidak tepat untuk anak-anak karena mengandung frasa: ‘Istri
Simpanan’ dalam cerpen di dalamnya. Beberapa hari yang lalu, media massa giat
menginformasikan berita ini. pihak Depdikbud juga ikut ‘turun tangan’ karena
LKS muatan lokal ini tidak ikut seleksi mereka. Jadi cukup sulit untuk
mengetahui kambing hitamnya. Barangkali guru disana tidak membaca satu buku penuh sebelum
diedarkan.
![]() |
| foto : tribun |
Lucunya, buku ini mempunyai dua
versi. Sebutlah versi standard dan versi Deluxe. Nah, versi deluxe ini sedikit
lebih mahal karena covernya bergambar dan berwarna, sementara versi standardnya
sebut saja lebih simpel. Yang aneh, cerpen Bang Maman dari Kali Pasir, tidak
ditemukan istri simpanan dalam versi Deluxe.
Sudahlah. Mari kita kembali ke
pokok persoalan mengenai konten cerpen tersebut. Dan, akan saya kasih unjuk isi
dari cerpen tersebut, semoga isi cerpen ini utuh (kalo ada yang kurang lihat aja di sini), karena saya tidak punya buku LKS-nya. :D
Bang Maman dari Kali
Pasir
Bang Maman adalah pedagang buah
di Kali Pasir. Bang Maman mempunyai anak perempuan bernama Ijah. Suatu hari
bang Maman memanggil Ijah dan berkata ingin menjodohkannya dengan Salim anak
Pak Darip orang kaya di Kali Pasir. Tak lama setelah Salim dan Ijah menikah.
Pak Darip meninggal dunia. Pak Darip meninggalkan harta warisan berupa kebun
yang sangat luas kepada Salim.
Salim tidak bisa mengurus kebun
peninggalan Ayahnya dan meminta Kusen mengurusinya. Istri Kusen mempunyai
rencana jahat, dia meminta suaminya menjual kebun Salim. Setelah kebun di jual
mereka melarikan diri. Salim menjadi miskin, harta warisan Ayahnya sudah habis.
Akhirnya Salim berjualan buah di pasar.
Bang Maman mengtahui kalu Salim
telah jatuh miskin. Bang Maman ingin Ijah bercerai dengan Salim. Karena Salim
telah jatuh miskin. Ijah tidak mau, biar miskin ijah tetap setia kepada Salim.
Akhirnya Bang Maman meminta
bantuan kepada Patma supaya berpura-pura menjadi istri simpanan Salim. Patma
setuju atas permintaan Bang Maman. Kemudian Patma datang ke rumah Salim dan
berbicara dengan Ijah. Patma mengaku sebagai istri Salim. Patma dan Ijah
bertengkar. Ijah merasa kecewa dan marah kepada Salim.
Kemudian Salim memberikan
penjelasan kepada Ijah, namun Ijah tidak percaya. Akhirnya Salim meninggalkan
Ijah.
Suatu hari Ijah berkenalan dengan
Ujang. Ujang adalah seorang perampok yang sudah lama dicari polisi. Dengan menyamar
seperti orang kaya Ujang datang melamar Ijah. Lamaran Ujang diterima dan
akhirnya Ujang dan Ijah menikah.
Pada saat pernikahan berlangsung
datanglah polisi menangkap Ujang dan gentong. Mereka sudah lama dicari polisi karena
sebgai perampok. Namun Ijah tidak tahu kalau mereka sebagai perampok. Mereka akhirnya
di bawa ke kantor polisi dan Bang Maman sebagai saksi.
Polisi minta agar semuanya
tenang. Dijelaskan oleh polisi bahwa yang ditangkap itu adalah buronan. Mereka ditangkap
karena sering berbuat jahat. Mereka suka merampok dan menipu. Akhirnya pesta perkawinan
berangsur-angsur bubar.
Sesungguhnya saya ngakak
sengakak-ngakaknya setelah baca tuh cerpen. Gimana nggak, sangat berbau
sinetron murahan tontonan emak-emak yang sekarang ada di buku LKS anak kelas 2
SD. Haha. Kirim aja tuh buat jadi sinetron beneran.
Lalu, kenapa saya menganggap
cerpen tersebut aneh? Berikut poin-poin yang bikin aneh. :D
1. Saya
pun sedikit bingung dengan tokoh yang banyak di barisan cerpen yang nggak
banyak ini. Apalagi anak kelas 2 SD? Akan lebih baik jika didalamnya terdapat
du tokoh yang karakternya jelas. Namun cerpen
BMDKP memang bertema kedewasaan dan saya curiga bahwa penulisnya adalah pecinta
Sinetron, dengan otomatis memasang poster Nikita Willy di kamarnya.
2. Menceritakan
kehidupan orang, sah-sah saja. Tapi wong jangan ada konflik rumah tangganya
segala. Baiknya, BMDKP cukup menggambarkan kerja keras tokoh Bang Maman sebagai
pedagang buah yang baik dan ikhlas. Taruhlah ketika sedang mangkal di pasar ada
seorang anak kecil yang kelaparan dan dilihat Salim, lalu Salim memberi buah
dan mengantarkannya pulang. Beres, kan?
3. Cerpen
tersebut menggambarkan matrealisme kepada anak-anak, dari Gambaran Bang Maman,
seorang yang ‘menjual’ anaknya demi kekayaan. Ketika sang menantu miskin, si
Abang ini malah menyuruh putrinya bercerai.
4. Saya
sendiri bingung dengan amanat yang tersampaikan. Sekalinya cerpen, akan memuat
amanat yang baik kepada pembaca, terutama cerpen anak-anak.
5. Karena
cerita ini penuh dengan banyak tokoh, mau tak mau anak-anak perlu bantuan atau
mungkin sulit untuk memahami jlan cerita, si A kawin dengan si B, si B cerai
lalu kawin dengan si C. wah, gawat kalau anak-anak kelas 2 SD sudah di sodorin
cerita kek’ begini.
6. Kata
yang membingungkan itu tentu: istri simpanan. Anak-anak yang penasaran otomatis
akan bertanya pada guru atau orang tua. Sebab mereka ‘pasti’ akan berfikir
kalau istri adalah barang yang bisa di taruh di kantong.
7. Kalimat
dalam tulisan untuk anak-anak sebaiknya pendek-pendek dengan kosakata
sederhana.
8. Menambahkan
dialog dalam cerpen itu akan lebih baik.
Lalu,
bagaimana kalau cerpen itu di rombak? Inilah cerpen versi saya... :D
Bang Maman dari Kali
Pasir
Suatu hari di
Kali Pasir tinggallah Bang Maman. Bang Maman adalah penjual buah keliling. Ia menggunakan
gerobak untuk berkeliling. Dalam gerobaknya berisi buah-buahan segar, seperti
apel, mangga, melon, dan pisang.
Bang Maman
tinggal bersama anaknya yang bernama Kak Ijah. Kak Ijah membantu Bapaknya untuk
berjualan setelah pulang sekolah. Kak Ijah anak yang patuh terhadap orang tua.
Siang hari
yang panas, Bang Maman bertemu dengan
pengemis yang pakainnya kotor. Bang Maman mendekati anak itu dan bertanya.
“Nak, sedang
apa disini?” tanya Bang Maman.
“Saya lapar
dan tidak punya uang untuk beli makanan.” Sedih anak itu.
Bang Maman
kasihan dengan pengemis itu. Lalu, Bang Maman dengan Ikhlas memberi pisang
kepada anak itu. Dengan lahap Anak itu memakan pisang dan berterimakasih kepada
Bang Maman.
“Terimakasih
Pak.”
“Iya Nak,
Hati-hati..”
Lalu anak itu
pergi. Bang Maman sangat senang membantu.

