AO. Tulisan ini bukan bermaksud
untuk menyudutkan masyarakat kita sendiri dengan sesuatu yang terdengar
provokatif. Tapi kalau kalian mempunyai pikiran yang positif, apa yang saya
jabarkan dibawah ini akan membuat kalian dapat membenahi pemikirannya dan
memperbaiki segala keburukkan. Dan perlu diketahui saya mengenal tipikal,
artinya mayoritas dari yang terlihat. Jadi buka menyamaratakan.
1. Sopan
daran ramah tamah. Ada yang tau nggak? kalo ramah adalah ciri khas negara kita,
ini harus dipertahankan, seperti kedangan turis yang kita sambut dengan suka
cita. Berbeda dengan negara barat sana yang kekerabatannya sangat ‘minim’. Tapi,
kedatangan turis-bule lebih sering mencuri perhatian sehingga ketika kamu
berinteraksi dengannya, mempunyai kebanggaan tersendiri. ‘mitos’nya mengenai
ramahnya negeri ini berawal dari negara barat yang disebutkan tadi-kekerabatan
yang ‘minim’, cuek ,dan realistis. Mereka mengurus dirinya sendiri dan tanpa
basa basi, to the point aja. Berbeda dengan kita yang ramah, penuh kekeluargaan
meskipun ada beberapa yang terlihat hanya dipermukaan, luarnya saja yang sopan,
dalamnya pendendam dan mudah tersungging.
2. Suka
Gosip. Mungkin udah dari Nenek Moyang kali ya. Ini dilakukan diam-diam oleh
kerabat dekat. Walau bagaimanapun mereka punya kesopanan untuk tidak
mengunjingi secara langsung dengan orang yang sedang digosipi. Mereka merasa
puas setelah membicarakan kelemahan/keburukkan orang lain. dan pembicaraan
konteksnya bukan untuk mengkritik melainkan menjadikan keberadaan dan
permasalahan orang lain sebagai topik pembicaraan. Jangan ditiru ya kawan, itu
perbuatan dosa.
3. Tidak
Bertanggung jawab atas perbuatannya, kekuasaannya, pikrannya, dan lainnya. ‘bukan
saya’ itu kata yang cukup popular di mulut orang Indonesia. Atasan menggeser
tanggung jawabnya ke bawahan, dan bawahan menggerser tanggung jawabnya lagi
pada bawahannya lagi dan seterusnya, hahay. Mau dibawa kemanakah tanggung jawab
itu?.
4. Suka
mencontek. Apalagi pada saat Ujian Nasional berlangsung, mencontek hampir
seluruh siswa melakukannya-termasuk saya. Menurut guru saya mencontek
kependekkan dari mencuri intelektual meskipun huruf ‘o’nya tidak ada di
kepanjangannya. Ini sangat buruk untuk kebanyakkan orang, banyak musisi ita
yang memplagiat lagu orang lain namun tidak pernah mengaku. TIDAK PERNAH
MENGAKU?!.
5. Percaya
Mistik. Yup, banyak banget tayangan di TV yang berbau mistis, contohnya Dunia
Malam. Percaya sama begituan adalah musyrik, yup yang kita percaya hanya Allah.
Apalagi seperti pengobatan menggunakan batuk yang dicelupkan kayak ponori, jika
bati dicelupkan ke air dan airnya dimunum maka kesembuhan akan didapat,
padahalkan penyakit dan kesembuhan Allah-lah yang memberikan. Jadi, kembali
lagi ke diri kita sendiri, iman akan menentukan kepercayaan kepada Allah.
6. Demen
Dramatisasi. Televisi lebih banyak menawarkan racun ketimbang kebaikkan dan
pahala. Buktinya banyak sinetron yang menawarkan bahasa dengan nada yang keras
seperti kehilangan kontrol, tragis, dramatik, dan serba berlebih. Kuis via
registrasi SMS yang sangat menjerumuskan konsumen. Kesimpulannya, rakyat
semakin dibodoh-bodohi. Tapi rasanya memang kejam mengatakan rakyat bodoh. Bukan
salah siapa-siapa mereka menonton TV setelah bekerja baning tulang untuk
keluarga. Meski resikonya, ya fatal:tidak atau kurang pintar.
7. Emosional.
Maksud saya menyinggung diam-diam. Mau liat contohnya? Nggak usah jauh-jauh. Lihat
saja forum-forum terutama jejaring sosial FB yang mengomen tanpa nama. Mereka memaki
keras, sampai hewan di Ragunan dibawa-bawa. Kamu pantas marah jika Tuhan kamu dihina, itu sangat
wajar. Tapi kalau hanya statusmu yang dikritik, kamu akan merasa puas dengan
menyeret kata anjing atau babi. Dimana ya, pelajaran Agama yang sempat di
icip-icip. XD
8. Be
English Be Cool. Orang Indonesia bisa lebih Inggris ketimbang orang Inggris. Kemampuan
berbahasa Inggris mereka lebih top dari pada orang British. Hahaha, jangan
terlalu serius. Tapi, masih ada yang belum fasih dan mencapur bahasa
sehari-hari mereka dalam sosialita, bahasa Indonesia. Ini juga untuk ajang
unyu-unyuan. Dan semua berasal dari perasaan untuk dinilai keren. Kecuali kalau
kamu udah Go Internasional beneran. Lho kok jadi kesini? Haha! Yang jelas, bagi
orang sederhana dan waras, ia akan tampil dengan tuntutan bahasa asing dengan
tempat yang seharusnya, seperlunya dan tidak menyombongkan diri.
9. Harus
dimotivasi. Diberi perintah dan dibujuk halus. Manusia Indonesia kurang dapat
mempertahankan dan memperjuangkan keyakinannya. Dia mudah dipaksa dan disuruh
demi untuk ‘survive’ bersedia mengubah keyakinan. Maksudnya, orang punya
pangkat tapi korupsi, umat islam tapi melakukan hal diluar islam. Sesorang mengatakn,
bahwa manusia Indonesia kurang untuk bekerja keras, kecuali kalau terpaksa. Contohnya,
orang dengan mudah mendapatkan gelar sarjana sampai memalsukan atau membeli
gelar sarjana, supaya mendapatkan pangkat agar cepat menjadi orang kaya. Benarkah
seperti itu?
10. Mengikuti
Budaya Barat. Budaya Barat sangat memberi pengaruh Negatif bagi bangsa timur
terutama Indonesia. Contohnya, life syle barat yang kekurangan bahan, kissing
dan kurangnya Akhlak sebagai kunci kontrol remaja dalam menghadapi pengaruh
negatife. Akibat dari semua itu adalah kurangnya percaya diri dalam pergaulan
hingga mudah terpengaruh lingkungan buruk, ditambah lagi minimnya keterampilan
potensi diri untuk mengarah kepada hal yang positif.
Apa ada tambahan?
