25 Maret 2012

Tipikal Masyarakat Indonesia


AO. Tulisan ini bukan bermaksud untuk menyudutkan masyarakat kita sendiri dengan sesuatu yang terdengar provokatif. Tapi kalau kalian mempunyai pikiran yang positif, apa yang saya jabarkan dibawah ini akan membuat kalian dapat membenahi pemikirannya dan memperbaiki segala keburukkan. Dan perlu diketahui saya mengenal tipikal, artinya mayoritas dari yang terlihat. Jadi buka menyamaratakan.


    1.       Sopan daran ramah tamah. Ada yang tau nggak? kalo ramah adalah ciri khas negara kita, ini harus dipertahankan, seperti kedangan turis yang kita sambut dengan suka cita. Berbeda dengan negara barat sana yang kekerabatannya sangat ‘minim’. Tapi, kedatangan turis-bule lebih sering mencuri perhatian sehingga ketika kamu berinteraksi dengannya, mempunyai kebanggaan tersendiri. ‘mitos’nya mengenai ramahnya negeri ini berawal dari negara barat yang disebutkan tadi-kekerabatan yang ‘minim’, cuek ,dan realistis. Mereka mengurus dirinya sendiri dan tanpa basa basi, to the point aja. Berbeda dengan kita yang ramah, penuh kekeluargaan meskipun ada beberapa yang terlihat hanya dipermukaan, luarnya saja yang sopan, dalamnya pendendam dan mudah tersungging.

     2.       Suka Gosip. Mungkin udah dari Nenek Moyang kali ya. Ini dilakukan diam-diam oleh kerabat dekat. Walau bagaimanapun mereka punya kesopanan untuk tidak mengunjingi secara langsung dengan orang yang sedang digosipi. Mereka merasa puas setelah membicarakan kelemahan/keburukkan orang lain. dan pembicaraan konteksnya bukan untuk mengkritik melainkan menjadikan keberadaan dan permasalahan orang lain sebagai topik pembicaraan. Jangan ditiru ya kawan, itu perbuatan dosa.

     3.       Tidak Bertanggung jawab atas perbuatannya, kekuasaannya, pikrannya, dan lainnya. ‘bukan saya’ itu kata yang cukup popular di mulut orang Indonesia. Atasan menggeser tanggung jawabnya ke bawahan, dan bawahan menggerser tanggung jawabnya lagi pada bawahannya lagi dan seterusnya, hahay. Mau dibawa kemanakah tanggung jawab itu?.

    4.    Suka mencontek. Apalagi pada saat Ujian Nasional berlangsung, mencontek hampir seluruh siswa melakukannya-termasuk saya. Menurut guru saya mencontek kependekkan dari mencuri intelektual meskipun huruf ‘o’nya tidak ada di kepanjangannya. Ini sangat buruk untuk kebanyakkan orang, banyak musisi ita yang memplagiat lagu orang lain namun tidak pernah mengaku. TIDAK PERNAH MENGAKU?!.

    5.       Percaya Mistik. Yup, banyak banget tayangan di TV yang berbau mistis, contohnya Dunia Malam. Percaya sama begituan adalah musyrik, yup yang kita percaya hanya Allah. Apalagi seperti pengobatan menggunakan batuk yang dicelupkan kayak ponori, jika bati dicelupkan ke air dan airnya dimunum maka kesembuhan akan didapat, padahalkan penyakit dan kesembuhan Allah-lah yang memberikan. Jadi, kembali lagi ke diri kita sendiri, iman akan menentukan kepercayaan kepada Allah.

     6.       Demen Dramatisasi. Televisi lebih banyak menawarkan racun ketimbang kebaikkan dan pahala. Buktinya banyak sinetron yang menawarkan bahasa dengan nada yang keras seperti kehilangan kontrol, tragis, dramatik, dan serba berlebih. Kuis via registrasi SMS yang sangat menjerumuskan konsumen. Kesimpulannya, rakyat semakin dibodoh-bodohi. Tapi rasanya memang kejam mengatakan rakyat bodoh. Bukan salah siapa-siapa mereka menonton TV setelah bekerja baning tulang untuk keluarga. Meski resikonya, ya fatal:tidak atau kurang pintar.

     7.       Emosional. Maksud saya menyinggung diam-diam. Mau liat contohnya? Nggak usah jauh-jauh. Lihat saja forum-forum terutama jejaring sosial FB yang mengomen tanpa nama. Mereka memaki keras, sampai hewan di Ragunan dibawa-bawa.  Kamu pantas marah jika Tuhan kamu dihina, itu sangat wajar. Tapi kalau hanya statusmu yang dikritik, kamu akan merasa puas dengan menyeret kata anjing atau babi. Dimana ya, pelajaran Agama yang sempat di icip-icip. XD

     8.       Be English Be Cool. Orang Indonesia bisa lebih Inggris ketimbang orang Inggris. Kemampuan berbahasa Inggris mereka lebih top dari pada orang British. Hahaha, jangan terlalu serius. Tapi, masih ada yang belum fasih dan mencapur bahasa sehari-hari mereka dalam sosialita, bahasa Indonesia. Ini juga untuk ajang unyu-unyuan. Dan semua berasal dari perasaan untuk dinilai keren. Kecuali kalau kamu udah Go Internasional beneran. Lho kok jadi kesini? Haha! Yang jelas, bagi orang sederhana dan waras, ia akan tampil dengan tuntutan bahasa asing dengan tempat yang seharusnya, seperlunya dan tidak menyombongkan diri.

      9.       Harus dimotivasi. Diberi perintah dan dibujuk halus. Manusia Indonesia kurang dapat mempertahankan dan memperjuangkan keyakinannya. Dia mudah dipaksa dan disuruh demi untuk ‘survive’ bersedia mengubah keyakinan. Maksudnya, orang punya pangkat tapi korupsi, umat islam tapi melakukan hal diluar islam. Sesorang mengatakn, bahwa manusia Indonesia kurang untuk bekerja keras, kecuali kalau terpaksa. Contohnya, orang dengan mudah mendapatkan gelar sarjana sampai memalsukan atau membeli gelar sarjana, supaya mendapatkan pangkat agar cepat menjadi orang kaya. Benarkah seperti itu?

    10.   Mengikuti Budaya Barat. Budaya Barat sangat memberi pengaruh Negatif bagi bangsa timur terutama Indonesia. Contohnya, life syle barat yang kekurangan bahan, kissing dan kurangnya Akhlak sebagai kunci kontrol remaja dalam menghadapi pengaruh negatife. Akibat dari semua itu adalah kurangnya percaya diri dalam pergaulan hingga mudah terpengaruh lingkungan buruk, ditambah lagi minimnya keterampilan potensi diri untuk mengarah kepada hal yang positif.

Apa ada tambahan?