***
Entah kenapa, setelah aku pingsan
dan menginap dirumah sakit, Ibu dan Ayah kini sangat perhatian padaku. Sampai
mereka mengantarkanku kedepan gerbang sekolah dan terlihat cemas saat aku
pergi. Jelas ini menjadi tanda tanya besar, walaupun ini sangat wajar untuk
kasih sayang orang tua kepada anaknya. Tapi, kalau terjadi tiba-tiba dan
perubahan yang tidak masuk akal... Hmmm.
Perkenalkan kelompok belajarku
sekaligus sahabatku, Asvi, Vino, dan Desi. Mereka mempunyai bakat untuk
menghibur satu sama lain, meskipun sedikit ‘malu-malu-in’. Berbeda dengan aku
yang cenderung menutup diri, tapi selang waktu berjalan dan sedekat aku dengan
mereka, aku tidak malu lagi untuk bertingkah ‘malu-malu-in’.
Suatu hari, aku sangat lelah dan
pening. Mungkin ini karena lelah tertawa. Tidak lama kemudian seperti ada palu
yang menghujam kepalaku, rasanya perih dan sakit. Aku pingsan.
Asvi, Vino, dan Desi segera
meminta tolong untuk membawa Nurul kerumah sakit terdekat.
“Ada apa dengan Nurul? Asvi,
Vino, Desi, cepat jawab..” Sahut Ibu Nurul yang terburu-buru menghampiri mereka
di depan ruangan Nurul.
“Nurul pingsan Bu, waktu kita
ingin pulang sekolah.”
Mereka bertiga masih resah dan
ditambah kekhawatiran Ibu Nurul level 16.
Setelah menunggu beberapa jam,
Dokter keluar dengan muka dingin. Mereka semua tertegun menunggu apa yang
dikatakan dokter. Ibu langsung menghampiri Dokter, semua berdiri tegang.
“Ibu dan Bapak, semoga bisa
menerima kenyataan ini.” Dokter terdiam sambil menunduk.
Asvi, Vino, dan Desi, merasakan
ketegangan ini dan ingin menangis disana. Mereka berpelukkan sambil berpegangan
tangan. Mulut mereka berjampi menghantarkan Do’a pada Allah, untuk keselamatan
sahabatnya.
“Kalau anak Ibu dan Bapak, hanya
mempunyai waktu 7 hari untuk hidup.” Pasrah Dokter sambil menunduk bungkam.
Asvi, Vino, dan Desi, terdiam
sejenak tidak percaya. Lalu mereka menitikkan air mata dan pelukkan semakin
erat. Apalagi orang tua Nurul, mereka sangat tidak percaya kalau anak semata
wayangnya akan berpisah selamanya. Apalagi kalau tahu, anaknya akan pergi
dengan jangka waktu yang sudah diketahui.
“Dok, apakah tidak bisa di sembuhkan
dengan Therapi?” Tanya Ibu Nurul dengan wajah berharap dan air mata yang terus
berlinang. Ayah yang merasa dewasa coba untuk menenangkan Ibu di saat Ibu
menarik kerah baju Dokter.
“Sudah sangat parah kanker yang
dideritanya, tidak memungkinkan untuk anak Ibu dan Bapak sembuh. Mungkin bisa
karena keajaiban Tuhan Yang Maha Esa, semoga keajaiban itu akan datang pada
anak Ibu.”
Dokter berlalu. Sejenak ia merasa
kesedihan yang amat sangat terjadi pada keluarga ini. dengan khusyu’ Dokter mendo’kan dengan
menitikkan air mata.
“Dok.. Dok...” Ibu masih berharap
banyak.
“Istigfar Bu... Allah pasti mau menolong Nurul. Tidak ada yang
mustahil bagi-Nya. Yang bisa kita lakukan hanya berdo’a.”
Seraya Ibu mengucap Istigfar dan diam sejenak untuk berdo’a.
Dengan Khusyu’ Ibu Nurul berdo’a
dengan sepenuh hati. Air mata masih mengalir deras. Asvi, Vino, Desi, dan Ayah,
berdo’a dengan sepenuh hati. Keikhlasan menyerap kedalam hati mereka.
“Asvi, Vino, Desi, bolehkah Ibu minta tolong sesuatu pada
kalian?” Kini Ibu sudah lebih tenang.
“Selagi kami bisa, InsyaAllah kami akan menolong.” Jawab
Asvi.
“Ini mungkin berat bagi kami, maukah kalian sembunyikan
ini semua kepada Nuru? Dan permintaan kami adalah, maukah kalian menjaga Nurul,
sampai suatu saat nanti ajalnya akan dicabut? Semoga kalian mau, pada siapa
lagi kami meminta bantuan.”
“Dengan senang hati Bu, Nurul akan kami jaga semampu
kami.” Jawab mereka dengan senyum.
“Makasih untuk semuanya...”
Ibu memeluk mereka bertiga, tangis masih bertaburan saat
itu dan mereka pasrah dengan jalan Tuhan.
Esoknya, Nurul sedikit lebih baik dan sudah syuman. Lalu
Asvi, Vino, dan Desi datang untuk menemani Nurul. Di pagi hari, mereka berempat
pergi berkeliling Rumah sakit sambil menyuapi Nurul yang sedang di infus. Canda
selalu menemani mereka.
“Alah, si Saugi mah jelek. Lebih baik juga Sandy.” Ucap
Desi dengan nada bercanda.
“Yahh, si Sandi-kan punya borok di pantatnya.” Jawab Vino.
“Wah, Vino pernah ngintipin Sandy ya? Modus nih.” Asvi
menyelidik.
“Aku tau dari temennya loh, mereka gila semua.” Vino
mengelak.
“Selera kalian buruk, Desi suka sama yang punya borok di
pantatnya, Asvi suka sama cowo semok bin bahenol, Vino suka sama cowo kurus bin
belo. Lebih baik juga Dimas, ketua OSIS ganteng pula bin pinter lagi.”
Memang, Dimas sering datang menjenguk Nurul. Baru-baru ini
mereka berdua dekat. Dan Asvi, Vino dan Desi memang setuju kalau Dimas yang
tampan sangat cocok dengan Nurul yang cantik. Mereka berempat sempat iri dengan
Nurul. Tapi, mereka ikut senang ketika melihat kecocokkan mereka berdua yang
tidak bosan di pandang mata.
Tidak lama kemudian Dimas datang menghampiri mereka
berempat. Nurul berteriak dalam hatinya bahagia.
“Eh, ada Dimas. Rul, mumpung ada Dimas, kita mau ke WC
sebentar ya, si Vino katanya mau PUP. Sekaligus cuci muka karena mikirin Sandy
yang borokkan di pantatnya. Hahah.” Celetuk Asvi.
“Eh, Vi... siapa..” Vino membantah.
Asvi lalu menginjak kaki Vino yang kemarin habis jatuh
dari becak. Desi Cuma tertawa geli melihat tingkah laku temannya. Nurul
mengerti apa maksud mereka, ‘Makasih ya teman-teman.’
“Dahh.. Nurul...”
Kini mereka ditinggal berdua. Terasa indah bagi Nurul,
betapa beruntungnya ia.
“Kapan kamu pulang dari Rumah sakit ini?” Tanya Dimas.
“Kata Dokter besok.”
“Jadi besok kamu sekolahkan?”
“Kalau sehat, pasti aku akan sekolah.”
“Kau memang penuh semangat ya. Oh iya, bay the way kamu
udah minum obat.”
“Belum, obatnya diminum setelah makan. Tadi baru saja
habis makan.”
“Dimana obatnya?”
“Ini..” Nurul menyerahkan sepelastik obat berisi 4 buah
macam obat dan 1 buah botol sirup.
“Nih, minum.” Dimas membantu Nurul untuk meminum obat.
Setelah selesai, Dimas pamit pulang setelah orang tua dan
ketiga sahabatnya datang.
“Terimakasih ya, Nak Dimas sudah menjaga Nurul.” Sahut Ibu.
“Iya Bu, anggap saja ini balas budi saya, karena Nurul
sering mengajari saya dlama pelajaran yang tidak saya bisa.”
Serentak mereka tertawa karena muka Dimas yang merah
terlihat pada mukanya yang putih.
Ya Allah,
terimakasih atas semuanya. Telah memberikan hamba orang tua yang selalu
menyayangi hamba sampai akhir hayat, semoga... kelak, bila ada kesempatan aku
akan membahagiakannya dengan kerja kerasku karena kerja keras merekalah aku
bisa seperti ini. Aku bersyukur memiliki sahabat yang penuh perhatian dan baik
kepada hamba, semoga.. mereka ditempatkan disurga bersama kedua orang tuaku,
amin. Dan satu lagi ciptaan-Mu yang indah telah menghiasi hariku. Semoga dia
adalah calon pendampingku yang sudah Engkau tulis dalam buku takdirku. Jika bukan,
hamba yakin itulah yang terbaik. Dan, sembuhkanlah penyakit hamba, biarkan
hamba bisa hadir menemani orang tua dan sahabat-sahabatku, membalas budi
kebaikkan mereka.
Aku ingin
sekali, setiap desah nafasku akan selalu menyebut nama-Mu ya Rabb. Semoga,
bukan hanya saat susahku aku selalu mengingatmu. Tapi, pada saat senangpun
juga, begitu mudahnya hamba melupakanmu. Jika kau jatuhkan uang dari langit,
maka hamba akan melihat kebawah mengambil uang itu. Kau lemparkan saja batu
dari atas langit dan menimpa kepalaku, maka aku akan mendongak keatas,
mengingat-Mu.
Lindungilah keluarga
dan sahabat-sahabatku. Sayangilah mereka yang telah menyayangiku. Diary ini
akan menjadi saksi cerita derita hidup yang selalu aku syukuri.
***
Wahahaha, Berkabung eh Bersambung. Tunggu cerita berikutnya. :)