29 Maret 2012

Diary Nurul (Bagian 2)


***

Entah kenapa, setelah aku pingsan dan menginap dirumah sakit, Ibu dan Ayah kini sangat perhatian padaku. Sampai mereka mengantarkanku kedepan gerbang sekolah dan terlihat cemas saat aku pergi. Jelas ini menjadi tanda tanya besar, walaupun ini sangat wajar untuk kasih sayang orang tua kepada anaknya. Tapi, kalau terjadi tiba-tiba dan perubahan yang tidak masuk akal... Hmmm.

Perkenalkan kelompok belajarku sekaligus sahabatku, Asvi, Vino, dan Desi. Mereka mempunyai bakat untuk menghibur satu sama lain, meskipun sedikit ‘malu-malu-in’. Berbeda dengan aku yang cenderung menutup diri, tapi selang waktu berjalan dan sedekat aku dengan mereka, aku tidak malu lagi untuk bertingkah ‘malu-malu-in’.

Suatu hari, aku sangat lelah dan pening. Mungkin ini karena lelah tertawa. Tidak lama kemudian seperti ada palu yang menghujam kepalaku, rasanya perih dan sakit. Aku pingsan.

Asvi, Vino, dan Desi segera meminta tolong untuk membawa Nurul kerumah sakit terdekat.

“Ada apa dengan Nurul? Asvi, Vino, Desi, cepat jawab..” Sahut Ibu Nurul yang terburu-buru menghampiri mereka di depan ruangan Nurul.

“Nurul pingsan Bu, waktu kita ingin pulang sekolah.”

Mereka bertiga masih resah dan ditambah kekhawatiran Ibu Nurul level 16.

Setelah menunggu beberapa jam, Dokter keluar dengan muka dingin. Mereka semua tertegun menunggu apa yang dikatakan dokter. Ibu langsung menghampiri Dokter, semua berdiri tegang.

“Ibu dan Bapak, semoga bisa menerima kenyataan ini.” Dokter terdiam sambil menunduk.

Asvi, Vino, dan Desi, merasakan ketegangan ini dan ingin menangis disana. Mereka berpelukkan sambil berpegangan tangan. Mulut mereka berjampi menghantarkan Do’a pada Allah, untuk keselamatan sahabatnya.

“Kalau anak Ibu dan Bapak, hanya mempunyai waktu 7 hari untuk hidup.” Pasrah Dokter sambil menunduk bungkam.

Asvi, Vino, dan Desi, terdiam sejenak tidak percaya. Lalu mereka menitikkan air mata dan pelukkan semakin erat. Apalagi orang tua Nurul, mereka sangat tidak percaya kalau anak semata wayangnya akan berpisah selamanya. Apalagi kalau tahu, anaknya akan pergi dengan jangka waktu yang sudah diketahui.

“Dok, apakah tidak bisa di sembuhkan dengan Therapi?” Tanya Ibu Nurul dengan wajah berharap dan air mata yang terus berlinang. Ayah yang merasa dewasa coba untuk menenangkan Ibu di saat Ibu menarik kerah baju Dokter.

“Sudah sangat parah kanker yang dideritanya, tidak memungkinkan untuk anak Ibu dan Bapak sembuh. Mungkin bisa karena keajaiban Tuhan Yang Maha Esa, semoga keajaiban itu akan datang pada anak Ibu.”
Dokter berlalu. Sejenak ia merasa kesedihan yang amat sangat terjadi pada keluarga ini. dengan khusyu’ Dokter mendo’kan dengan menitikkan air mata.

“Dok.. Dok...” Ibu masih berharap banyak.

Istigfar Bu... Allah pasti mau menolong Nurul. Tidak ada yang mustahil bagi-Nya. Yang bisa kita lakukan hanya berdo’a.”

Seraya Ibu mengucap Istigfar dan diam sejenak untuk berdo’a. Dengan Khusyu’ Ibu Nurul berdo’a dengan sepenuh hati. Air mata masih mengalir deras. Asvi, Vino, Desi, dan Ayah, berdo’a dengan sepenuh hati. Keikhlasan menyerap kedalam hati mereka.

“Asvi, Vino, Desi, bolehkah Ibu minta tolong sesuatu pada kalian?” Kini Ibu sudah lebih tenang.

“Selagi kami bisa, InsyaAllah kami akan menolong.” Jawab Asvi.

“Ini mungkin berat bagi kami, maukah kalian sembunyikan ini semua kepada Nuru? Dan permintaan kami adalah, maukah kalian menjaga Nurul, sampai suatu saat nanti ajalnya akan dicabut? Semoga kalian mau, pada siapa lagi kami meminta bantuan.”

“Dengan senang hati Bu, Nurul akan kami jaga semampu kami.” Jawab mereka dengan senyum.

“Makasih untuk semuanya...”

Ibu memeluk mereka bertiga, tangis masih bertaburan saat itu dan mereka pasrah dengan jalan Tuhan.

Esoknya, Nurul sedikit lebih baik dan sudah syuman. Lalu Asvi, Vino, dan Desi datang untuk menemani Nurul. Di pagi hari, mereka berempat pergi berkeliling Rumah sakit sambil menyuapi Nurul yang sedang di infus. Canda selalu menemani mereka.

“Alah, si Saugi mah jelek. Lebih baik juga Sandy.” Ucap Desi dengan nada bercanda.

“Yahh, si Sandi-kan punya borok di pantatnya.” Jawab Vino.

“Wah, Vino pernah ngintipin Sandy ya? Modus nih.” Asvi menyelidik.

“Aku tau dari temennya loh, mereka gila semua.” Vino mengelak.

“Selera kalian buruk, Desi suka sama yang punya borok di pantatnya, Asvi suka sama cowo semok bin bahenol, Vino suka sama cowo kurus bin belo. Lebih baik juga Dimas, ketua OSIS ganteng pula bin pinter lagi.”

Memang, Dimas sering datang menjenguk Nurul. Baru-baru ini mereka berdua dekat. Dan Asvi, Vino dan Desi memang setuju kalau Dimas yang tampan sangat cocok dengan Nurul yang cantik. Mereka berempat sempat iri dengan Nurul. Tapi, mereka ikut senang ketika melihat kecocokkan mereka berdua yang tidak bosan di pandang mata.

Tidak lama kemudian Dimas datang menghampiri mereka berempat. Nurul berteriak dalam hatinya bahagia.

“Eh, ada Dimas. Rul, mumpung ada Dimas, kita mau ke WC sebentar ya, si Vino katanya mau PUP. Sekaligus cuci muka karena mikirin Sandy yang borokkan di pantatnya. Hahah.” Celetuk Asvi.

“Eh, Vi... siapa..” Vino membantah.

Asvi lalu menginjak kaki Vino yang kemarin habis jatuh dari becak. Desi Cuma tertawa geli melihat tingkah laku temannya. Nurul mengerti apa maksud mereka, ‘Makasih ya teman-teman.’

“Dahh.. Nurul...”

Kini mereka ditinggal berdua. Terasa indah bagi Nurul, betapa beruntungnya ia.

“Kapan kamu pulang dari Rumah sakit ini?” Tanya Dimas.

“Kata Dokter besok.”

“Jadi besok kamu sekolahkan?”

“Kalau sehat, pasti aku akan sekolah.”

“Kau memang penuh semangat ya. Oh iya, bay the way kamu udah minum obat.”

“Belum, obatnya diminum setelah makan. Tadi baru saja habis makan.”

“Dimana obatnya?”

“Ini..” Nurul menyerahkan sepelastik obat berisi 4 buah macam obat dan 1 buah botol sirup.

“Nih, minum.” Dimas membantu Nurul untuk meminum obat.

Setelah selesai, Dimas pamit pulang setelah orang tua dan ketiga sahabatnya datang.

“Terimakasih ya, Nak Dimas sudah menjaga Nurul.” Sahut Ibu.

“Iya Bu, anggap saja ini balas budi saya, karena Nurul sering mengajari saya dlama pelajaran yang tidak saya bisa.”

Serentak mereka tertawa karena muka Dimas yang merah terlihat pada mukanya yang putih.

Ya Allah, terimakasih atas semuanya. Telah memberikan hamba orang tua yang selalu menyayangi hamba sampai akhir hayat, semoga... kelak, bila ada kesempatan aku akan membahagiakannya dengan kerja kerasku karena kerja keras merekalah aku bisa seperti ini. Aku bersyukur memiliki sahabat yang penuh perhatian dan baik kepada hamba, semoga.. mereka ditempatkan disurga bersama kedua orang tuaku, amin. Dan satu lagi ciptaan-Mu yang indah telah menghiasi hariku. Semoga dia adalah calon pendampingku yang sudah Engkau tulis dalam buku takdirku. Jika bukan, hamba yakin itulah yang terbaik. Dan, sembuhkanlah penyakit hamba, biarkan hamba bisa hadir menemani orang tua dan sahabat-sahabatku, membalas budi kebaikkan mereka.

Aku ingin sekali, setiap desah nafasku akan selalu menyebut nama-Mu ya Rabb. Semoga, bukan hanya saat susahku aku selalu mengingatmu. Tapi, pada saat senangpun juga, begitu mudahnya hamba melupakanmu. Jika kau jatuhkan uang dari langit, maka hamba akan melihat kebawah mengambil uang itu. Kau lemparkan saja batu dari atas langit dan menimpa kepalaku, maka aku akan mendongak keatas, mengingat-Mu.

Lindungilah keluarga dan sahabat-sahabatku. Sayangilah mereka yang telah menyayangiku. Diary ini akan menjadi saksi cerita derita hidup yang selalu aku syukuri.


                                                                  *** 

Wahahaha, Berkabung eh Bersambung. Tunggu cerita berikutnya. :)