Tuhan, padaMu aku menyerahkan jasadku dan aku bersyukur dengan segala
yang Engkau berikan, aku ikhlas. Namun pada hari ini, pada jam ini, pada menit
ini, pada detik ini, aku ingin berubah menjadi pribadi yang lebih baik lagi.
Aku tahu kau masih menyayangiku, karena Engkau aku mengetahui kapan malaikat
Izrail akan mencabut nyawa ini. Rasulullah yang menjadi suri tauladanpun
merasakan rasa sakit yang amat sangat setelah dicabut nyawanya, apalagi aku
yang seperti ini? aku pasrahkan semuanya kepadaMu. Semenjak, aku mengetahu
ajjal yang akan datang...
Alarm berbunyi pukul empat pagi,
langsung saja aku bangun dan mengambil air wudhu’
untuk menjalankan sholat Shubuh. Air yang sejuk membasuh muka ini menjadi
pelajaran penting bahwa air adalah sumber kehidupan yang amat sangat penting,
seperti aku menjaga orang yang aku sayang. Sujud dalam sholat, aku sengaja
perlama untuk merasakan Allah dekat denganku. Astaga, aku berada dalam alam
semesta yang luas dan aku hanya seongok daging kecil yang berada di semesta,
aku gemetar. Betapa kecilnya aku dihadapanNya. Doa’a selalu aku panjatkan
setiap sujud, Allah yang Maha Penyayang pasti mendengar.
Pagi ini aku mulai dengan
olahraga termurah, lari pagi. Aku adalah seorang anak remaja tanggung yang
sedang mencari jati diri yang sebenarnya, mungkin waktuku tidak lama dan harus
menemukan jati diri yang tidak mudah untuk dicari. Menghirup udara segar adalah
kegemaranku, lepas dari segala beban adalah keinginanku, aku ingin melupakan
semuanya.
“Nurul, tolong ambilkan gula yang
ada di sudut dapur, di atas rak.” Sahut Ibu.
“Baik Bu.”
Ibuku adalah pedagang makanan
atau lauk pauk di depan rumah. Biasanya lauk di buat pagi hari dan akan dijual
pada pukul 10 pagi sampai makanan habis terjual. Pada warung inilah kami bisa
makan dan menunjang keperluan yang lainnya. Ayahku seorang buruh, ia biasa
membantu Ibu untuk melayani pelanggan yang lumayan banyak pada siang hari,
terutama mahasiswa. Karena warung ini dekat dengan kampus dan harganya pun
terjangkau bagi kantong mahasiswa.
Dan aku anak semata wayang mereka
yang paling disayang. Aku baru masuk SMU tahun ini, masih ada ujian tertulis.
Pagi-pagi aku sedikit membantu Ibu memasak, setelah itu aku siap-siap berangkat
sekolah. Walaupun masih mengantuk, aku tetap semangat mengahadapi ujian dan
membuktikan kepada kedua orang tuaku.
Setelah menunggu lama di halte
penjemputan sekitar 5 menit, akhirnya bus datang. Cukup memakan waktu untuk
sampai, jadi haruslah bangun pagi jika tidak ingin terlambat. Masih terendus
wangi khas di pagi hari. Saat dedaunan basah oleh embun dan kabut tipis masih
merayap diudara dengan lembutnya, menemani pagiku yang bersinar untuk
menghadapi semua yang ada di depan.
Ujian kali ini aku cukup puas dan
kegusaranku meredah. Usaha keras terbayar sudah saat aku medapatkan nilai
tertinggi waktu tes di SMU favorit di Bandung untuk seleksi masuk. Para juara
akan dibagikan beasiswa bebas bayar iuran sekolah, aku bersujud syukur telah
mendapat semua ini. pasti Ibu dan Ayah akan bangga dengan kerja giatku yang
tidak pantang menyerah. Aku ingin terus melihat senyum mereka yang bertebaran
setiap jejak dan nafas ini masih ada.
#
“Apa Dok? Nurul terkena kanker otak, dan hidupnya tidak lama
lagi?!.” Sahut Ayah.
Dokter hanya menganggu pasrah dan
mencoba menenangkan Ibu dan Ayah yang belum bisa menerima kenyataan. Sungguh,
mereka tidak percaya, mereka tahu kapan akan kehilangan anak semata wayang
mereka.
‘aku ada dimana?’ Tanyaku dalam
hati. Ibu dan Ayah datang dengan wajah tersenyum, ibu memelukku erat seperti
tidak ingin aku pergi lagi. Pening rasanya, aku terjatuh lagi, tidak kuat untuk
bangun.
“Sudah Nak, kau istirahat saja
dulu.” Lembut Ibu.
“Aku dimana Bu?”
“Di rumah sakit, kamu pingsan
saat ingin berjalan pulang.”
Pening ini sangat menyiksaku, apa
yang terjadi. Segera aku istigfar dan berserah. Setelah berbaring selama tiga
hari, aku melanjutkan lagi hari-hari luar biasaku. Membantu Ibu, Ayah,
berangkat sekolah, kerja kelompok, mengerjakan PR, dan tidak lupa, menulis
Diary.
Begitu luar biasa hari-hariku bersama keluarga dan teman-teman. Tadi
siang, aku bertemu dengan pangeran tampan. Saat aku terjatuh dia menahanku dan
aku berada di pelukkannya. Sungguh indah. Waktu terasa berhenti, jantungku
berdetak tidak karuan. Dan rasa itu masih ada sampai sekarang. Pengeran itu
bernama Dimas, ketua OSIS di SMU-ku. Meskipun wajahnya sangat dingin, tapi
ketika aku melihat senyumnya, betapa sejuk hati ini. Semoga aku adalah orang
yang beruntung mendapatkannya.
Setiap istirahat aku duduk di
kantin untuk menyantap nasi goreng buatan Bi Ijah, rasanya begitu mengagumkan,
seperti masakkan chef handal. Tidak
heran kalau warung Bi Ijah selalu ramai. Apapun makanannya minumnya teh botol sosro. Aku lebih suka
menyendiri tanpa orang lain dan sambil memerhatikan, menganalisis semua
kejadian yang ada di depan mataku, setelah itu aku bisa bersyair memuat
kata-kata diotakku. Begitu banyak puisi yang aku buat dalam diary-ku. Pembacanya hanya aku seorang.
Bersambung....
Gambar di ambil dari Google.
Tunggu cerita berikutnya....
