27 Maret 2012

Diary Nurul (Bagian 1)

Tuhan, padaMu aku menyerahkan jasadku dan aku bersyukur dengan segala yang Engkau berikan, aku ikhlas. Namun pada hari ini, pada jam ini, pada menit ini, pada detik ini, aku ingin berubah menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Aku tahu kau masih menyayangiku, karena Engkau aku mengetahui kapan malaikat Izrail akan mencabut nyawa ini. Rasulullah yang menjadi suri tauladanpun merasakan rasa sakit yang amat sangat setelah dicabut nyawanya, apalagi aku yang seperti ini? aku pasrahkan semuanya kepadaMu. Semenjak, aku mengetahu ajjal yang akan datang...

Alarm berbunyi pukul empat pagi, langsung saja aku bangun dan mengambil air wudhu’ untuk menjalankan sholat Shubuh. Air yang sejuk membasuh muka ini menjadi pelajaran penting bahwa air adalah sumber kehidupan yang amat sangat penting, seperti aku menjaga orang yang aku sayang. Sujud dalam sholat, aku sengaja perlama untuk merasakan Allah dekat denganku. Astaga, aku berada dalam alam semesta yang luas dan aku hanya seongok daging kecil yang berada di semesta, aku gemetar. Betapa kecilnya aku dihadapanNya. Doa’a selalu aku panjatkan setiap sujud, Allah yang Maha Penyayang pasti mendengar.

Pagi ini aku mulai dengan olahraga termurah, lari pagi. Aku adalah seorang anak remaja tanggung yang sedang mencari jati diri yang sebenarnya, mungkin waktuku tidak lama dan harus menemukan jati diri yang tidak mudah untuk dicari. Menghirup udara segar adalah kegemaranku, lepas dari segala beban adalah keinginanku, aku ingin melupakan semuanya.

“Nurul, tolong ambilkan gula yang ada di sudut dapur, di atas rak.” Sahut Ibu.

“Baik Bu.”

Ibuku adalah pedagang makanan atau lauk pauk di depan rumah. Biasanya lauk di buat pagi hari dan akan dijual pada pukul 10 pagi sampai makanan habis terjual. Pada warung inilah kami bisa makan dan menunjang keperluan yang lainnya. Ayahku seorang buruh, ia biasa membantu Ibu untuk melayani pelanggan yang lumayan banyak pada siang hari, terutama mahasiswa. Karena warung ini dekat dengan kampus dan harganya pun terjangkau bagi kantong mahasiswa.

Dan aku anak semata wayang mereka yang paling disayang. Aku baru masuk SMU tahun ini, masih ada ujian tertulis. Pagi-pagi aku sedikit membantu Ibu memasak, setelah itu aku siap-siap berangkat sekolah. Walaupun masih mengantuk, aku tetap semangat mengahadapi ujian dan membuktikan kepada kedua orang tuaku.

Setelah menunggu lama di halte penjemputan sekitar 5 menit, akhirnya bus datang. Cukup memakan waktu untuk sampai, jadi haruslah bangun pagi jika tidak ingin terlambat. Masih terendus wangi khas di pagi hari. Saat dedaunan basah oleh embun dan kabut tipis masih merayap diudara dengan lembutnya, menemani pagiku yang bersinar untuk menghadapi semua yang ada di depan.

Ujian kali ini aku cukup puas dan kegusaranku meredah. Usaha keras terbayar sudah saat aku medapatkan nilai tertinggi waktu tes di SMU favorit di Bandung untuk seleksi masuk. Para juara akan dibagikan beasiswa bebas bayar iuran sekolah, aku bersujud syukur telah mendapat semua ini. pasti Ibu dan Ayah akan bangga dengan kerja giatku yang tidak pantang menyerah. Aku ingin terus melihat senyum mereka yang bertebaran setiap jejak dan nafas ini masih ada.

#

“Apa Dok? Nurul terkena kanker otak, dan hidupnya tidak lama lagi?!.” Sahut Ayah.

Dokter hanya menganggu pasrah dan mencoba menenangkan Ibu dan Ayah yang belum bisa menerima kenyataan. Sungguh, mereka tidak percaya, mereka tahu kapan akan kehilangan anak semata wayang mereka.

‘aku ada dimana?’ Tanyaku dalam hati. Ibu dan Ayah datang dengan wajah tersenyum, ibu memelukku erat seperti tidak ingin aku pergi lagi. Pening rasanya, aku terjatuh lagi, tidak kuat untuk bangun.

“Sudah Nak, kau istirahat saja dulu.” Lembut Ibu.

“Aku dimana Bu?”

“Di rumah sakit, kamu pingsan saat ingin berjalan pulang.”

Pening ini sangat menyiksaku, apa yang terjadi. Segera aku istigfar dan berserah. Setelah berbaring selama tiga hari, aku melanjutkan lagi hari-hari luar biasaku. Membantu Ibu, Ayah, berangkat sekolah, kerja kelompok, mengerjakan PR, dan tidak lupa, menulis Diary.

Begitu luar biasa hari-hariku bersama keluarga dan teman-teman. Tadi siang, aku bertemu dengan pangeran tampan. Saat aku terjatuh dia menahanku dan aku berada di pelukkannya. Sungguh indah. Waktu terasa berhenti, jantungku berdetak tidak karuan. Dan rasa itu masih ada sampai sekarang. Pengeran itu bernama Dimas, ketua OSIS di SMU-ku. Meskipun wajahnya sangat dingin, tapi ketika aku melihat senyumnya, betapa sejuk hati ini. Semoga aku adalah orang yang beruntung mendapatkannya.

Setiap istirahat aku duduk di kantin untuk menyantap nasi goreng buatan Bi Ijah, rasanya begitu mengagumkan, seperti masakkan chef handal. Tidak heran kalau warung Bi Ijah selalu ramai. Apapun makanannya minumnya teh botol sosro. Aku lebih suka menyendiri tanpa orang lain dan sambil memerhatikan, menganalisis semua kejadian yang ada di depan mataku, setelah itu aku bisa bersyair memuat kata-kata diotakku. Begitu banyak puisi yang aku buat dalam diary-ku. Pembacanya hanya aku seorang.


Bersambung....
Gambar di ambil dari Google.
Tunggu cerita berikutnya....