Bayang-bayangnya masih ada. Dia adalah
pilihanku yang terakhir, ini sudah takdir. Aku dan dia tidak akan bisa lagi
bersatu. Dia pergi untuk selamanya, bersama kekasih yang lain. Mungkin inilah
yang terbaik bagiku dan baginya.
Selvi adalah mahasiswa sebuah
universitas di Bandung dan dia mengontrak sebuah kos putri tidak jauh dari
universitasnya. Kamar yang berukuran 4x5 itu menjadi pelindungnya selama ia
pertama masuk universitas. Sebelumnya ia ada di Jakarta dan kuliah disana. Karena
ada sesuatu hal yang membuat Selvi sakit hati, ya Aldo. Selvi yang sudah
menjalani 2 tahun bersama Aldo dan dia harus berpisah karena Aldo memiliki
pujaan hati yang lainnya. Selvi yang tidak ingin terus sakit ketika melihat Aldo,
ia memutuskan untuk pindah ke Bandung.
Tidak ada lagi yang mampu mengisi
ruang hati Selvi, karena di dalamnya hanya ada sosok Aldo. “Huh, kenapa sih,
lelaki buruk macam dia harus aku pertahankan.” Begitulah kata Selvi, tapi Aldo
selalu mengusik pikirannya. Berapa banyak teman lelaki di kampusnya yang
menyukainya, tapi Selvi menolaknya dengan mentah-mentah.
Teman akrab Selvi, Gita. Selalu menemani
hari-harinya yang membosankan. Seringkali Gita tidak ingin bermain dengannya
karena Gita pasti mementingkan pacarnya, tidak jarang itu terjadi,
sampai-sampai Selvi ingin membunuh pacarnya itu.
“Kenapa ini terjadi kepadaku?”
ucap Selvi sambil cemberut. Di bangku taman kamus yang rindang pepohonan
bersama Gita.
“Ayolah, banyak lelaki yang ingin
denganmu, mengapa kamu tolak begitu saja? Kau tidak jelek buktinya banyak yang
menyukaimu.” Ucap Gita, sambil membolak-balikkan buku.
“Bukan itu masalahnya.”
“Apa? Aldo?, halah lupakan
mungkin dia sekarang lagi bermesraan bersama kekasih idamannya.” Canda Gita.
“Ummm, Apakah dia masih ingat
denganku?” pikir Selvi.
“Aku rasa tidak, dia pasti lupa
denganmu, dia kan sudah mempunya seseorang yang mengisi hati dan pikirannya.” Senyum
Gita kepada Selvi.
“Halah Lebay kau Ta, pastinya aku
akan menunggu Aldo datang menjemputku di Bandung, titik segede kelapa!.”
“Haa? Mana mungkin, kau sudah 1
tahun disini, waktu setahun itu aku rasa Aldo sudah tidak perduli lagi. Sudahlah
pasti ada yang ingin mengisi hatimu itu, Reyhan, Yosep, Vino, Kaka, Hendra,
Sigit. Wah itukan orang-orang yang sudah pasti menyukaimu, pilih saja salah
satu.”
“tidak! Reyhan, Sok keren. Yosep,
bibirnya doer. Kaka, giginya tonggos. Hendra, idungnya pesek. Kalo Sigit...
hmmm.” Pikir Selvi.
“Nah, kenapa nggak Sigit aja,
udah pinter, keren, ganteng pula, tapi kau sudah di tembaknya selain laki-laki
yang aku sebutkan?” Polos Gita.
“Kalau dia sih belum, tapi aku
lagi dekat dengannya. Tapi tidak sedekat seperti berpacaran.”
Gita berfikir untuk menjodohkan
Selvi dengan Sigit. Sebelumnya Selvi sudah sering kirim pesan via ponsel,
dan
juga sering mengerjakan tugas bersama.
“Kenapa, Sigit tidak menembakmu?”
tanya Gita.
“Hmm, karena aku menceritakan
Aldo mungkin.”
“Kamu bodoh, kalau seperti itu,
pasti Sigit merasa tidak ada gunanya lagi dekat denganmu.”
“Lagi pula aku tidak menyukainya,”
“Kenapa tidak kau coba saja?”
“Bagamana caranya?”
“Hmmm, baiklah aku punya rencana
untuk bisa membuatmu dan Sigit bersatu.” Tawa Gita.
Selvi disuruh untuk mendekati
Reyhan dan berpacaran dengannya setelah 10 hari Selvi harus memutuskannya. Itu akan
mengubah persepsi Sigit untuk tahu kalau Selvi sudah melupakan Aldo dan beralih
ke Reyhan.
Setelah itu Selvi berpacaran
dengan Reyhan, dan membuat Sigit agak menjauhi Selvi. Dulunya Selvi yang sering
mengirim pesan via ponsel atau mengerjakan tugas bersama, itu tidak terjadi
lagi. Selvi merasa gundah dan bosan, dia selalu diam dan cuek jika bersama
Reyhan di hari kedua mereka berpacaran.
9 hari Selvi lewati dan itu
terasa gila untuknya, akhirnya Selvi memutuskan hubungannya dan beralih ke
rencana Gita sebelumnya untuk mendekati Sigit. Setelah itu, Selvi ingin
mengumumkan secara langsung kepada Sigit kalau dia sudah putus dengan Reyhan
saat itu ia merasa senang terbebas dari Reyhan dan menuju masa lalunya bersama
Sigit. Tapi dari kejauhan Selvi melihat Sigit bersama teman perempuannya sedang
berjalan asik di hadapannya.
Selvi sudah terlanjur cinta pada
lelaki tampan dan pintar itu. Karena memang 1 tahun disini dialah yang
menghiburnya dan membuat hari-harinya berwarna. Dan kini setelah semua terjadi,
Selvi menangis di kamar kosnya bersama boneka yang di berikan Sigit waktu ia
ulang tahun. Lalu Selvi menghubungi Gita untuk menaruh curhatannya bersama
Gita.
Semua di ceritakan Selvi, kalau
ia benar-benar mencintai Sigit. Sampai-sampai Selvi menangis di hadapan Gita
dan memeluknya. Dari kejauhan sesosok lelaki tampan dengan membawa setangkai
bunga datang menghampiri mereka berdua dan itu adalah Sigit.
“Selvi..”
Selvi bangun dan mengusap
wajahnya yang penuh air mata, sambil menatap kedepan melihat seseorang yang
memanggilnya.
“Si.. Sigit?.” Kaget Selvi tidak
percaya, Sigit datang membawa setangkai bunga mawar dan memanggil namanya.
“Hai..” Senyum Sigit.
“A.. Ada apa kau kesini?” Selvi
menengok ke Gita, dan gita hanya tersenyum.
Lalu Sigit menghampiri Selvi
berlutut bak pangeran mengajak sang putri untuk menikah. Saat itu juga, Sigit
menembaknya untuk menjadi kekasihnya. Selvi memikirkan sejenak, dan untuk kedua
kalinya menengok ke Gita yang hanya bisa tersenyum gembira.
“Terimalah Selvi, sudah jelas kau
menyukainya. Tenang saja, waktu yang kau lihat Sigit bersama perempuan, itu
adalah salah satu rencana yang aku rancang bersama Sigit dan Sigit setuju,
karena dia mencintaimu.” Jelas Gita.
Selvi mengambil setangkai bunga
itu, bahwa ia juga mencintai Sigit. Mereka berduapun berpacara.
“Aldo? ALiran Doif (Tidak benar,
tidak nyata)? Sudah pati aku lupakan!. Karena sekarang aku bahagia bersama
Sigit.”
-TAMAT-
