15 Januari 2012

Kritik Sekolah


Apa coba maksudnya

Sebenarnya saya menulis ini hanya untuk mencurahkan isi hati saya selama ini. Selama berada di sekolah kejuruan Raflesia. Selama ini juga, saya memendam rasa kurang tidak suka terhadap sekolah itu, namun saya pengecut karena tidak bisa apa-apa.

Oke, yang saya eluh-eluhkan, pertama adalah kartu perpustakaan. Angkatan yang sebelumnya selain angkatan saya, mereka sudah di belikan kartu seharga lima ribu rupiah dari awal pertama masuk sekolah. Itu semuanya dapat. Namun sialnya angkatan kali ini nggak ada koordinating dari sekolah seperti tahun lalu. Pasalnya, biaya masuk sekolah ini lebih dari 8 juta, namun untuk mengkoordinating kartu seharga 5000 rupiah pun tidak ada. Menurut saya buku itu lumayan penting, siswakan nggak terpaku saja sama buku pelajaran yang harus di beli, namun butuh referensi lain kalau mau ilmunya tambah luas. Saya dapat cerita itu dari penjaga perpustakaan yang sangat kritis dan tegas. Dia berkata, tahun ini tidak ada koordinating dari sekolah untuk pembuatan kartu perpustakaan, padahal beliau sudah mempersiapkan banyak kartu, ya kartu tebal berukuran persegi panjang.

Waktu saya ke perpustakaan untuk membuat kartu perpustakaan saya sendiri tapi oleh Bapak itu tidak di perbolehkan. Harus membeli dalam jumlah kelompok, namun itu belum saya realisasikan, karena Cuma beberapa yang ingin dan orang-orangnya emang kritis.

Yang kedua, bayar mahal namun tidak memuskan, yup itu terjadi di sana. Yaa, ruangan ber-AC, tempat yang layak dan nyaman, itu salah satu kepuasan bagi saya, namun kekurangan masih banyak. Misal, waktu itu kelas pernah banjir setinggi mata kaki orang dewasa, sialnya ponsel saya berenang waktu itu. Waktu awal masuk, setelah satu minggu biasanya ada pembagian seragam sekolah, tapi sayangnya itu harus menunggu 2-3 bulan lamanya.

Yang ketiga, saya senang jika ada guru yang rajin masuk kelas dan membuat saya tidak menganggur karena pelajaran kosong. Tapi kenyataan terbalik, setiap harinya ada saja guru yang tidak masuk kekelas, atau karena harus di panggil atau memang ada kesibukkan lain. Sebagai guru itulah kewajiban mereka untuk mengajar siswanya tanpa di panggil oleh ketua kelas (kalo manggil harus turun tangga 3 tingkat =,,=). Akhirnya saya bengong nggak ada kerjaan, dan saya paling ogah yang namanya bengong. Paling Cuma beberapa guru yang rajin masuk atau rajin ngadain praktek.

Yang keempat, SEKOLAH ISLAM TERPADU. Yaa, karena sekolah tersebut adalah IT (Islam Terpadu) tapi, Islam di sana kurang di tegakkan, menurut di brosur sekolah tersebut ada ekskul yang memungkinkan kita hafal Al-Qur’an, kan jarang ekskul kayak gitu, dan saya tertarik, tapi itu hanya tulisan tidak bermakna (tidak ada),  dan tapi juga sayangnya hal tersebut belum saya pertanyakan =,,=. Saya juga mendengar dari salah satu ceramah yang di katakan oleh Ust. Hasanuddin, waktu bedah buku di Cimanggis, beliau bercerita tentang Pendidikkan gitu, terus dia membahas sekolah umum (Swasta/Negeri) dan sekolah khusus (Pesantren). Sekolah Swasta pada umumnya kebanyakkan yang memasang iming-imimng Islam Terpadu, tapi Islam itu sendiri tidak di tegakkan (biasanya waktu awal-awalnya aja). Beliau berkata ; “TERPADU (TERpaku Pada Duit).” Weiis, Setujuh, begitulah yang di bilang teman saya, waktu saya mengucapkan kata-kata beliau tersebut.

Yang kelima, mengenai “TERPADU”, itu memang saya benarkan, karena sekolah ini benar-benar kreative dalam menaruh harga. Yaa, mungkin selama setengan semester ini, uang orang tua saya habis 10 juta lebih hanya untuk setengah semester. Begitupun teman-teman saya atau angkatan lainnya. Saya kasihan pada orang tua saya dan orang tua mereka, sampai ada yang curhat sama saya kalau ibunya ngomel-ngomel terus gara-gara di palakkin anaknya (buat urusan sekolah). Bagaimana kalau yang tidak mampu?.  

Yang keenam, pemungutan biaya yang di luar nalar (menurut saya). yaa, itu terjadi pada Kakak kelas 2 yang akan mengerjakan PKL dan itu tidak gratis, awal bulan Pebruari 2012 yang akan diadakan TELAGA (Temu Alam dan warGA) yang memakan biaya cukup besar. Untungnya orang tua saya tidak ngomel, kalau mereka ngomel saya ngerti dan saya tidak mau ikut acara tersebut.

Yang saya suka sama sekolah itu, hanyalah waktu outing class dan ekstrakulikulernya. Itu merupakan refreshing saya di sekolah, ataupun guru yang sangat rajin masuk, walau sebagian yang senang. Kebanyakkan mereka malah suka kalau tidak ada guru (jalang).             Tapi saya harus kritis, kami sudah bayar mahal, namun guru ogah-ogahan. ADDUUUUHHH, pengen bikin kartu PERPUSTAKAAN!. Heu heu. Sering banget ada yang curhat tentang kebobrokkan sekolah ini, dan saya menyetujui karena itu yang saya rasakan selama ini, keterpurukkan, kebodohan dan kesengsaraan.

Memang sih, sekolah swasta harus mengeluarkan banyak harta benda, tapi masalahnya kita juga harus dapat setimpal dengan apa yang kita berikan. Tapi begitulah kenyataan dan sekarang saya bingung ingin apa, yaa jalani alur kehidupan saja, pasti ada yang baik dan buruknya, ya mungkin itulah alur kehidupan kadang naik dan kadang turun tapi, bagaimana kita membuat semua itu baik dengan perjuangan dan kedewasaan dalam di kita masing-masing. 



Maaf jika ada salah kata, yang diatas hanyalah tulisan tolol yang tidak bermutu dan tidak halal (iklan so nice). Semoga sekolah itu dapat lebih baik dan unggul di sekitar sekolah itu, tidak ada lagi 3K (Keterpurukkan, Kebodohan, Kesengsaraan).