episode terakhir, cekidot yang masih nge-dot.
Oh iya, kalo ada yang mau ceritanya dari awal silahkan klin link di bawah ini.
Akibat Masa Depan
Akibat Masa depan (part 2)
Oh iya, kalo ada yang mau ceritanya dari awal silahkan klin link di bawah ini.
Akibat Masa Depan
Akibat Masa depan (part 2)
dan yang ending ini. Semoga ceritanya berkesan, dan terimakasih untuk pembaca.
***
Kalau seperti ini aku tidak akan
bosan dengan kejenuhan kantor yang setiap harinya memang begini-begini saja,
aku di hibur dengan banyolan Santo dan teman-temannya, ada curhatan mereka, dan
kami ikut susah bersama.
Hendro sudah menjadi pegawai
tetap disana, tapi ia harus terus meningkatkan hasil kerjanya lagi dan dia
sudah mempunya kontrakan di pinggiran kota yang tidak jauh dari tempat
kerjanya. Beberapa bulan kemudian Ayah dari Heni pulang dari luar negeri ke
Indonesia karena ada kunjungan kerja yang mengharuskannya tinggal sementara
waktu di sana.
Heni adalah anak yang pintar
buktinya ia bisa meneruskan perusahaan Ayahnya setelah ia ditinggalkan Ayahnya,
Ayahnya pun mungkin akan menyerahkan langsung jabatannya ke anaknya yaitu Heni.
Seluruh pegawai di haruskan berkumpul untuk menyambut kedatangan sang Bos yang
selama ini Hendro tidak mengetahui Bosnya. Karena Hendro orang awam ia mengira
Heni adalah Bos di perusahaan ini padahal, ia hanya manager anak dari sang Bos
yang mempunyai perusahaan ini.
Seluruh pegawai berkumpul di
depan kantor untuk menunggu kedatangan Bos. Pegawai juga di haruskan tampil
serapih mungkin karena Bos yang sangat disiplin akan kerapihan dan sikap.
Beberapa menit kemudian semuah mobil mewah datang dengan pengawal. Akhirnya
Mobil berhenti, pintu-pintu mobil terbuka dan seseorang menaruhkan sepatu mahal
nan bagus di tanah dan dengan pakaian seragam hita-hitam orang kantoran
berdasi.
Jantung berdegup cepat dan kakiku
bergetar hebat, saat aku mengetahui paras wajah yang aku kenal.
Selama-bertahun-tahun aku membenci orang ini. Mungkin sudah aku anggap mati dan
tidak akan datang lagi bayang wajahnya di dipikiranku, dan sekarang ia ada di
depan mataku. Jika ada sebilah pisau akanku gorok lehernya, mungkin penjara
sudah menunggu di depan mata. Tidak salah Heni adalah Kakak kandungku yang ikut
dengan Ayahku waktu ia berusia 5 tahun.
Aku kenal dengan orang hina itu, sebab ibu menunjukkan fotonya saat keluarga
kami masih utuh.
Bos hina itu jalan untuk sekedar
mengucapkan terimakasih sambil bersalaman. Dan saat ia ingin menjabat tanganku
aku hanya diam sambil menatap mata sinis. Pegawai yang lain terpaku kepadaku
dan aku tetap melihat matanya dengan sinis.
“Kau Ayah yang hina!, kau
meninggalkanku dan Ibuku saat aku berusia 3 tahun dan membawa kakak kandungku
yang sudah jelas-jelas ingin bersama Ibunya dan tidak ingin bersama Lelaki hina
macam kau! Dan kini, engkau menikmati semuanya dengan meninggalkan luka di
hatiku dan hati Ibuku! Kau memang buruk, hina, kau laknat di hadapan Tuhan!
Tidak ada yang memujimu jika mereka mengetahui semua ini! Dan sekarang... aku
akan mendoakanmu agar kau diampuni dosa dan perbuatanmu!.” Air mata tidak
terbendung lagi sekarang dan Orang tua itu hanya melotot kaget mendengar segala
ucapanku yang memang apa adanya.
Aku pergi meninggalkan mereka,
Orang tua itu pun mengejarku sambil membawa tangis.
“Tu... tu... tunggu
Hendro...” Ucap Orang tua itu sambil
memegang dada tepatnya bagian jantungnya, Bapak Suwarno pun jatuh pingsan, lalu
orang-orang mengerumuninya. Aku kaget saat Bapak Suwarno jatuh karena penyakit jantungnya.
Lalu aku menghampirinya dan langsung menyuruh mereka untuk membawa Orang tua
tersebut dilarikan ke rumah sakit.
Aku ikut ke rumah sakit, jelas aku masih
mempunyai hati. Heni, dia tidak bersalah, dan dia tidak tahu apa-apa, akupun
berdialog sebentar dengannya. Katanya, mereka sukses karena menjadi tukang tahu
di Jakarta khususnya di Terminal. Akhirnya, keberuntungan berada di pihak mereka
karena menemukan saudagar kaya yang mempercayai mereka untuk menjaga kiosnya.
Beberapa lama kemudian kami bisa membuat kios sendiri setelah menabung dan
kerja keras, kios kami makin laris dan bertambah pula kios-kios yang lainnya.
Karena kepercayaan yang begitu tinggi dari seorang saudagar, Bapak Suwarno di
percayai untuk menjadi manager karena bisa mengubah kios menjadi banyak.
Singkat cerita saudagar tersebut
Meninggal, karena ia hanya hidup sendiri dan hanya ada anak angkatnya jadilah Bapak
Suwarno yang mengurus anak angkat beserta perusahaannya. Dan yang di lihat
sekarang adalah Suwarno yang kaya harta dengan anak-anaknya. Heni menceritakan
semua, dari awal mereka ke Jakarta sampai sukses di Jakarta. Aku hanya terdiam
tidak percaya mendengar apa yang di bicarakan Heni.
Aku termangu di samping Bapak
Suwarno yang pingsan. Tangannya bergerak-gerak, dan terbata-bata untuk
memanggil namaku. Sepertinya ia ingin menceritakan semuanya dari awal
perjumpaan dengan Ibu sampai akhirnya mereka berpisah. Bapak Suwarno menikahi
Ibuku dan mereka bertahan sampai 6 tahun saja, dan akhirnya Bapak Suwarno
ketahuan berselingkuh dengan wanita yang lain, sampai-sampai Ibu mengetahuinya,
memang ke adaan sebelum itu tidak kondusif, banyak pertengkaran di antara
mereka, keharmonisan mereka hancur sampai disitu. Dan Ibu meminta bercerai.
Ayah membawa Heni yang dulunya
adalah Susanti Kakak kandungku. Mereka sukses dengan peruntungan untuk pergi ke
Jakarta. Dan jadilah seperti sekarang. Aku menangis dengan menyimpan dendam
yang teramat sangat sewaktu di kampung halaman.
“Maafkan Ayah, Ayah tidak
bermaksud untuk meninggalkan kamu dan Ibumu, waktu itu pikiran Ayah kacau dan
banyak cobaan yang menimpah Ayah. Ayah ingin kamu mengerti keadaan Ayah. Jadi
kau ke Jakarta bersama Ibumu?” Ucap Bapak Suwarno yang terbata-bata.
“Ibu sudah Mati.”
Sesak nafas melan Bapak Suwarno,
Hendro langsung memasang oksigen. Dan Bapak Suwarno menenangkan diri. Bapak
Suwarno menangis dan air mata itu terasa adalah tanda tulus cintanya pada Ibu
Hendro. Hendro pun menangis.
“Nak, maukah kamu tinggal bersama
Ayah dan kakak kandungmu? Ayah akan bahagia, dan ini untuk menebus dosa Ayah
yang mungkin tidak bisa tertebus. Tapi tolonglah, umur Ayah tinggal sedikit dan
Ayah tidak ingin memendam pil pahit pada saat kematianku.” Bapak Suwarno
berharap.
Dengan tangis yang tidak tertahan
lagi, Hendro memeluk Ayah kandungnya yang sedang terbaring lemas. Tangis selalu
menyertai semua pertemuan yang mengharukan, pertemuan seorang anak yang
terpisah dengan ayahnya selama 6 tahun. Dan kini aku bertemu dengan ayah dan
kakak kandungku.
Singkat cerita, aku hidup bahagia
dengan ayah dan kakaku. Dengan doa yang aku panjatkan untuk Ibuku, senantiasa
Ibu mendengar segala maaf yang terucap dari Doaku. Ayahku berdoa, dan meminta
maaf kepada Istrinya. Bukan mengkhianati Ibu, tapi menurut Hendro inilah yang
terbaik. Kata ibu sebelum mati “Ibu senang jika kamu merasa senang.” Aku akan
selalu mengingat ibu, aku akan selalu mengucap kata Ibu di setiap doa dan
Shalatku.
-TAMAT-