13 Januari 2012

Akibat Masa Depan (Ending)


episode terakhir, cekidot yang masih nge-dot.
Oh iya, kalo ada yang mau ceritanya dari awal silahkan klin link di bawah ini.
Akibat Masa Depan
Akibat Masa depan (part 2)
dan yang ending ini. Semoga ceritanya berkesan, dan terimakasih untuk pembaca.
***

Kalau seperti ini aku tidak akan bosan dengan kejenuhan kantor yang setiap harinya memang begini-begini saja, aku di hibur dengan banyolan Santo dan teman-temannya, ada curhatan mereka, dan kami ikut susah bersama.

Hendro sudah menjadi pegawai tetap disana, tapi ia harus terus meningkatkan hasil kerjanya lagi dan dia sudah mempunya kontrakan di pinggiran kota yang tidak jauh dari tempat kerjanya. Beberapa bulan kemudian Ayah dari Heni pulang dari luar negeri ke Indonesia karena ada kunjungan kerja yang mengharuskannya tinggal sementara waktu di sana.

Heni adalah anak yang pintar buktinya ia bisa meneruskan perusahaan Ayahnya setelah ia ditinggalkan Ayahnya, Ayahnya pun mungkin akan menyerahkan langsung jabatannya ke anaknya yaitu Heni. Seluruh pegawai di haruskan berkumpul untuk menyambut kedatangan sang Bos yang selama ini Hendro tidak mengetahui Bosnya. Karena Hendro orang awam ia mengira Heni adalah Bos di perusahaan ini padahal, ia hanya manager anak dari sang Bos yang mempunyai perusahaan ini.

Seluruh pegawai berkumpul di depan kantor untuk menunggu kedatangan Bos. Pegawai juga di haruskan tampil serapih mungkin karena Bos yang sangat disiplin akan kerapihan dan sikap. Beberapa menit kemudian semuah mobil mewah datang dengan pengawal. Akhirnya Mobil berhenti, pintu-pintu mobil terbuka dan seseorang menaruhkan sepatu mahal nan bagus di tanah dan dengan pakaian seragam hita-hitam orang kantoran berdasi.

Jantung berdegup cepat dan kakiku bergetar hebat, saat aku mengetahui paras wajah yang aku kenal. Selama-bertahun-tahun aku membenci orang ini. Mungkin sudah aku anggap mati dan tidak akan datang lagi bayang wajahnya di dipikiranku, dan sekarang ia ada di depan mataku. Jika ada sebilah pisau akanku gorok lehernya, mungkin penjara sudah menunggu di depan mata. Tidak salah Heni adalah Kakak kandungku yang ikut dengan Ayahku  waktu ia berusia 5 tahun. Aku kenal dengan orang hina itu, sebab ibu menunjukkan fotonya saat keluarga kami masih utuh.

Bos hina itu jalan untuk sekedar mengucapkan terimakasih sambil bersalaman. Dan saat ia ingin menjabat tanganku aku hanya diam sambil menatap mata sinis. Pegawai yang lain terpaku kepadaku dan aku tetap melihat matanya dengan sinis.

“Kau Ayah yang hina!, kau meninggalkanku dan Ibuku saat aku berusia 3 tahun dan membawa kakak kandungku yang sudah jelas-jelas ingin bersama Ibunya dan tidak ingin bersama Lelaki hina macam kau! Dan kini, engkau menikmati semuanya dengan meninggalkan luka di hatiku dan hati Ibuku! Kau memang buruk, hina, kau laknat di hadapan Tuhan! Tidak ada yang memujimu jika mereka mengetahui semua ini! Dan sekarang... aku akan mendoakanmu agar kau diampuni dosa dan perbuatanmu!.” Air mata tidak terbendung lagi sekarang dan Orang tua itu hanya melotot kaget mendengar segala ucapanku yang memang apa adanya.

Aku pergi meninggalkan mereka, Orang tua itu pun mengejarku sambil membawa tangis.

“Tu... tu... tunggu Hendro...”  Ucap Orang tua itu sambil memegang dada tepatnya bagian jantungnya, Bapak Suwarno pun jatuh pingsan, lalu orang-orang mengerumuninya. Aku kaget saat Bapak Suwarno jatuh karena penyakit jantungnya. Lalu aku menghampirinya dan langsung menyuruh mereka untuk membawa Orang tua tersebut dilarikan ke rumah sakit.

 Aku ikut ke rumah sakit, jelas aku masih mempunyai hati. Heni, dia tidak bersalah, dan dia tidak tahu apa-apa, akupun berdialog sebentar dengannya. Katanya, mereka sukses karena menjadi tukang tahu di Jakarta khususnya di Terminal. Akhirnya, keberuntungan berada di pihak mereka karena menemukan saudagar kaya yang mempercayai mereka untuk menjaga kiosnya. Beberapa lama kemudian kami bisa membuat kios sendiri setelah menabung dan kerja keras, kios kami makin laris dan bertambah pula kios-kios yang lainnya. Karena kepercayaan yang begitu tinggi dari seorang saudagar, Bapak Suwarno di percayai untuk menjadi manager karena bisa mengubah kios menjadi banyak.

Singkat cerita saudagar tersebut Meninggal, karena ia hanya hidup sendiri dan hanya ada anak angkatnya jadilah Bapak Suwarno yang mengurus anak angkat beserta perusahaannya. Dan yang di lihat sekarang adalah Suwarno yang kaya harta dengan anak-anaknya. Heni menceritakan semua, dari awal mereka ke Jakarta sampai sukses di Jakarta. Aku hanya terdiam tidak percaya mendengar apa yang di bicarakan Heni.
Aku termangu di samping Bapak Suwarno yang pingsan. Tangannya bergerak-gerak, dan terbata-bata untuk memanggil namaku. Sepertinya ia ingin menceritakan semuanya dari awal perjumpaan dengan Ibu sampai akhirnya mereka berpisah. Bapak Suwarno menikahi Ibuku dan mereka bertahan sampai 6 tahun saja, dan akhirnya Bapak Suwarno ketahuan berselingkuh dengan wanita yang lain, sampai-sampai Ibu mengetahuinya, memang ke adaan sebelum itu tidak kondusif, banyak pertengkaran di antara mereka, keharmonisan mereka hancur sampai disitu. Dan Ibu meminta bercerai.

Ayah membawa Heni yang dulunya adalah Susanti Kakak kandungku. Mereka sukses dengan peruntungan untuk pergi ke Jakarta. Dan jadilah seperti sekarang. Aku menangis dengan menyimpan dendam yang teramat sangat sewaktu di kampung halaman.

“Maafkan Ayah, Ayah tidak bermaksud untuk meninggalkan kamu dan Ibumu, waktu itu pikiran Ayah kacau dan banyak cobaan yang menimpah Ayah. Ayah ingin kamu mengerti keadaan Ayah. Jadi kau ke Jakarta bersama Ibumu?” Ucap Bapak Suwarno yang terbata-bata.

“Ibu sudah Mati.”

Sesak nafas melan Bapak Suwarno, Hendro langsung memasang oksigen. Dan Bapak Suwarno menenangkan diri. Bapak Suwarno menangis dan air mata itu terasa adalah tanda tulus cintanya pada Ibu Hendro. Hendro pun menangis.

“Nak, maukah kamu tinggal bersama Ayah dan kakak kandungmu? Ayah akan bahagia, dan ini untuk menebus dosa Ayah yang mungkin tidak bisa tertebus. Tapi tolonglah, umur Ayah tinggal sedikit dan Ayah tidak ingin memendam pil pahit pada saat kematianku.” Bapak Suwarno berharap.

Dengan tangis yang tidak tertahan lagi, Hendro memeluk Ayah kandungnya yang sedang terbaring lemas. Tangis selalu menyertai semua pertemuan yang mengharukan, pertemuan seorang anak yang terpisah dengan ayahnya selama 6 tahun. Dan kini aku bertemu dengan ayah dan kakak kandungku.

Singkat cerita, aku hidup bahagia dengan ayah dan kakaku. Dengan doa yang aku panjatkan untuk Ibuku, senantiasa Ibu mendengar segala maaf yang terucap dari Doaku. Ayahku berdoa, dan meminta maaf kepada Istrinya. Bukan mengkhianati Ibu, tapi menurut Hendro inilah yang terbaik. Kata ibu sebelum mati “Ibu senang jika kamu merasa senang.” Aku akan selalu mengingat ibu, aku akan selalu mengucap kata Ibu di setiap doa dan Shalatku. 

-TAMAT-