Halo! Setelah hilang
dari dunia per-blog-an dari akhir tahun 2013 yang mungkin bisa dibilang tahun
awal bagi Saya untuk mempersiapkan ke perguruan tinggi kayak sibuk les ala –
ala buat persiapan SBMPTN dan Ujian Nasional. Ya yang lainnya tau lah ya di akhir
SMA emang pengennya untuk ngabisin waktu sama temen. Nah, persiapan ke
perguruan tinggi dengan berhenti nge-blog itu membuahkan hasil saat Saya di
terima di perguruan tinggi ter-favorit (banyak yang apply) di Bandung Sumedang. Namanya UNPAD.
Jika ditanya bagaimana rasanya kuliah di UNPAD, jawabannya ‘ya kitu weh’. Tapi ada yang menarik nih di UNPAD, terutama untuk mahasiswanya. Saya akan menjabarkan sedikit mengenai mahasiswa-mahasiswa yang ada di Unpad dan mungkin di tempat kuliah kalian juga bisa menemukannya. Atau ini bisa jadi jawaban buat kamu yang mau kuliah di Unpad yang bertanya-tanya bagaimana kehidupan di
Tipikal Mahasiswa Unpad
Jatinangor
Mahasiswa Nongkrong
Di Jatinangor, dari
tahun 2014 sampai sekarang 2018 perkembangan tempat
makan/cafe/frenchise/toko/tempat hiburan itu pesat banget. Apalagi owner-owner
yang tahu kebutuhan dan keinginan mahasiswa, kayak wifi, background fotogenic, suasana
classy, redup-redup gitu kayak kandang ayam, juga jenis makanan yang
macem-macem dan ikut perkembangan zaman seperti pisang nugget, ayam geprek, thai
tea, green tea ala ala dan lain-lain. Yang sedihnya, ada beberapa toko makanan yang akhirnya
berubah nama dan menu makanan beberapa Minggu setelah buka karena menurut saya
sudah ketinggalan zaman. Oh ya, juga banyak mahasiswa yang nongkrong di Jatinangor Town Square (Jatos). Mall sejuta
umat bagi mahasiswa Unpad, ITB, Ikopin, dan IPDN. Jatos jadi pilihan terakhir
kalo mahasiswa bingung mau nongkrong dimana.
Nah, mahasiswa Unpad
tuh kayaknya gak betah di kosan dan emang temen-temen yang ngajak nongkrong itu
banyak. Apalagi tersedia banyak titik-titik tempat nongkrong yang hits dan
deket, apalagi bisa dijangkau dengan jalan kaki karena sepanjang jalan itu
tukang makan semua! Mulai dari Cikuda sampai Cileunyi yaitu satu jalan lurus
dari arah Sumedang ke Bandung.
Warung pinggiran jalan
juga asik buat jadi tempat nongkrong, tapi gak seramai angkringan yang ada di
Jogja. Dan di tambah lagi ada angkot duaribu rupiah yang ngelewatin tempat
nongkrong itu, jadi bener-bener tempat nongkrong mudah banget di jangkau buat
mahasiswa Jatinangor gak hanya buat nogkrong, ngerjain tugas, rapat, dll sampe
buka sendal sepatu angkat kaki sila di atas bangku karena sangking nyamannya.
Mahasiswa Generasi
Mager
Ini sih dari kacamata
Saya aja. Dari pengalaman yang ada. Dari segala penglihatan dan perasaan. Jadi,
di Jatinangor itu khususnya mahasiswa Unpad, sangat senang berbisnis. Salah satu
bisnis yang dijalani mahasiswa dan mendapatkan opset yang cukup besar dari
bisnis ini (entah kenapa) adalah ojek online via aplikasi Line. Jawaban entah kenapa bisa dengan mudah terjawab. Jadi, bisnis
ini menawarkan jasa antar makanan/barang, antar jemput orang/loundry dengan
upah yang lumayan menguntungkan. Orang yang menjadi jasa tersebut adalah
mahasiswa, (nanti kita bahas).
Bisnis ini tercipta
dilatar belakangi oleh kesulitan atau menurut saya kemageran mahasiswa untuk
bergerak memenuhi kebutuhannya, ya sama lah kayak ojol-ojol di kota-kota. Tapi ini
hanya di lingkup Jatinangor. Dalam hal ini saya tidak men-kambing hitamkan si
ojol Jatinangor ini yang buat mahasiswa mager, tapi emang mereka kreatif.
Alasannya kenapa Saya
bilang mager adalah saat saya pernah jadi driver
ojol ini dan hanya bertahan 2 minggu dengan keuntungan yang lumayan menurut
saya. Waktu itu, saya mendapat orderan untuk membeli 2 lembar kertas folio bergaris,
itu hanya sekitar-tidak sampai- seribu rupiah, namun ongkos yang dikeluarkan
untuk memakai jasa ini adalah 7rb rupiah. Jadi pen-order folio itu membeli 2
lembar kertas folio dengan harga 8rb. Saya gak tau sih bagaimana di kampus
kalian? Ah, ya di desa seperti kampus Unpad pastinya jarang Ojol kayak di kampus
kalian yang berada di kota.
Dan intinya, semakin
banyak ojol mahasiswa di wilayah kampus, semakin banyak mahasiswa-mahasiswa
yang memanfaatkan hal tersebut karena kemagerannya. Ya gak ada salahnya, itu
yang terjadi –simbiosis mutualisme.
Mahasiswa Usaha dan Kerja
Sampingan
Yang Saya tahu, di
Unpad itu jarang menciptakan ilmuan-ilmuan. Tapi yang saya lihat adalah
mahasiswa-mahasiswa yang lulus atau belum, namun sukses menjalankan bisnis
usaha. Ya contohnya saja ojol lingkup Jatinangor itu. Jadi, memang banyak
mahasiswa yang masuk ke usaha bidang jasa itu dengan jadwal kerja yang bisa
disesuaikan dan gaji yang lumayan. Saya sangat apresiasi dengan si inisiasi
usaha tersebut untuk membuka peluang usaha untuk mahasiswa yang ingin punya
uang jajan tambahan.
Selain itu, ada juga
yang bekerja di cafe, membuka cafe, menjual produk kerajinan tangan, dan
lain-lain. Pokoknya banyak sekali mahasiswa-mahasiswa Unpad bekerja menjual
makanan atau produk. Apalagi jika ada saat-saatnya sebuah kepanitiaan mengumpulkan
dana usaha untuk acaranya hingga berlanjut membuka usaha sendiri.
Kalau memang itu passion seorang mahasiswa untuk
berwirausaha, menurut saya langsung saja untuk fokus kalau memang peluangnya besar
dan tidak bisa mengimbangi perkuliahan.
Mahasiswa Pejalan Kaki
Jarak Kosan dengan
tempat kuliah yang dekat, tidak punya kendaraan pribadi, dan hemat uang karena
ongkos, menjadi beberapa alasan mahasiswa berjalan kaki. Saya sebagai mahasiswa
Jatinangor juga suka berjalan kaki seperti untuk membeli makan dan main ke
kosan temen. Ada juga mahasiswa yang senang berjalan dari pada naik odong-odong
(angkutan bis gratis keliling Unpad). Kesan berjalan kaki di Jatinangor
terutama diwilayah kampus Unpad sangat nyaman, jarak fakultas ke fakultas
berdekatan, ada trotoar yang memiliki atap sehingga tidak terkena hujan dan
kepanasan juga mungkin menjadi salah satu alasan mahasiswa untuk berjalan kaki
di wilayah Unpad.
Saya memiliki
pengalaman waktu pergi ke ITB untuk seruvey tempat. Disana semua orang bejalan
kaki karena tidak ada angkutan seperti yang ada di kampus Unpad, atau UI yang
saya tahu. Bisa di andaikan kalau berada di ITB adalah kampus seperti UI namun
tidak ada angkutan gratis atau kamu sama sekali tidak bisa memakai kendaraan
bermotor di ITB. Itu akan sangat melelahkan. Bagaimana di kampus mu?
Mahasiswa Aktifis
Tipikal satu ini pasti
nge-tren banget di kalangan masiswa. BEM Unpad termasuk aktif dalam kegiatan
kampus maupun luar kampus, sama seperti universitas ternama yang lain. Namun saya
sempat menyayangkan saat kasus kartu kuning jokowi, beberapa perwakilan
mahasiswa di undang untuk mendatangi acara TV Mata Najwa, dan disitu tidak ada
perawakilan dari Unpad. Ya, gak masalah sih. Tapi kampus favorit kok tidak ada,
bangga aja kalo liat perwakilan kampus sendiri datang untuk menyuarakan
pendapat di tengah pejabat pemerintah
dengan membawa almamater dibandingkan saat dipanggil pada acara komedi atau
kuis hiburan.
Mahasiswa Korban
Penipuan
Yap, saya sudah
tertipu. Kenapa? Jadi awalanya saya beranggapan kalau Unpad punya kampus yang
keren di kota Bandung. Siapa yang tidak kenal kota Bandung? Kota pariwisata,
sejuk, banyak tempat-tempat hits dan waktu itu ada walikota yang ngetren sampai
sekarang. Namun sayangnya, itu hanya angan-angan bagi saya dan bisa diwujudnya dengan
memakan perjalanan 1-2 jam ke kota bandung atau tempat pariwisatanya apalagi terkena
kemacetan di daerah Cibiru, Ujung Berung, dan Cicaheum. Karena ternyata Unpad
jurusan yang saya pilih bertempat di Jatinangor, Kabupaten Sumedang tepatnya di
bawah kaki gunung Manglayang.
Kampus Unpad memang ada
di Bandung namun hanya 2 fakultas yaitu FH dan FEB. Hingga ada kabar buruk pada
tahun 2016 (kalau gak salah), kalau semua mahasiswa baru, pindah kampusnya ke
Jatinangor. Testimoni dari maba FH dan FEB adalah iri dengan kakak kelasnya di
Bandung.
Waktu itu saya tidak
berkomentar karena beranggapan hanya saya yang tertipu, namun semua orang
membicarakannya dan teman-teman di kota asal Saya selalu membutuhkan penjelasan
saya terhadap kasus ini. Seperti “Ciye udah jadi anak bandung.”; “Kalau ke
tempat pariwasata ‘ini’ deket gak dari kosan lo?”; atau “Samperin gue dong, gue
lagi di Bandung.” Apalagi ada yang minta samperin ke Cimahi. Disitu dengan
sabar saya menjelaskan dengan simpel dengan menyuruh orang itu membuka aplikasi
Maps di ponsel dan search Jatinangor yang diharapkan ia
berfikir dan tidak mengasihani.
Udah sih, yang
paling mencolok hanya itu aja. Tadinya mau taro Mahasiswa Gampang Kehilangan karena
hampir tiap hari ada mahasiswa membawa berita kehilangan lewat medsos. Terus
juga ada Mahasiswa Odong-odong yang tiap hari naik angkutan gratis muter-muter
(kerjaan maba) atau sangking malesnya jalan kaki, dari naik odong-orang dan
turun di fakultas pertama yang gak jauh dari pemberangkatan sampe ada postingan
viral tentang kasus tersebut yang menghujat mahasiswa pemberhentian pertama. Yaialah! Udah tau setiap pagi dong-odong antri, tapi ini malah naik padahal kalo jalan deket.
Oke. Salam Satu Unpad.
![]() | |||||||
| buat lebih tahu Unpad |

