16 April 2018

Tipikal Mahasiswa Unpad Jatinangor

 Halo! Setelah hilang dari dunia per-blog-an dari akhir tahun 2013 yang mungkin bisa dibilang tahun awal bagi Saya untuk mempersiapkan ke perguruan tinggi kayak sibuk les ala – ala buat persiapan SBMPTN dan Ujian Nasional. Ya yang lainnya tau lah ya di akhir SMA emang pengennya untuk ngabisin waktu sama temen. Nah, persiapan ke perguruan tinggi dengan berhenti nge-blog itu membuahkan hasil saat Saya di terima di perguruan tinggi ter-favorit (banyak yang apply) di Bandung Sumedang. Namanya UNPAD.

Jika ditanya bagaimana rasanya kuliah di UNPAD, jawabannya ‘ya kitu weh’. Tapi ada yang menarik nih di UNPAD, terutama untuk mahasiswanya. Saya akan menjabarkan sedikit mengenai mahasiswa-mahasiswa yang ada di Unpad dan mungkin di tempat kuliah kalian juga bisa menemukannya. Atau ini bisa jadi jawaban buat kamu yang mau kuliah di Unpad yang bertanya-tanya bagaimana kehidupan di Kota Kabupaten Sumedang, khususnya Jatinangor.

Tipikal Mahasiswa Unpad Jatinangor

Mahasiswa Nongkrong

Di Jatinangor, dari tahun 2014 sampai sekarang 2018 perkembangan tempat makan/cafe/frenchise/toko/tempat hiburan itu pesat banget. Apalagi owner-owner yang tahu kebutuhan dan keinginan mahasiswa, kayak wifi, background fotogenic, suasana classy, redup-redup gitu kayak kandang ayam, juga jenis makanan yang macem-macem dan ikut perkembangan zaman seperti pisang nugget, ayam geprek, thai tea, green tea ala ala dan lain-lain. Yang sedihnya, ada beberapa toko makanan yang akhirnya berubah nama dan menu makanan beberapa Minggu setelah buka karena menurut saya sudah ketinggalan zaman. Oh ya, juga banyak mahasiswa yang nongkrong di Jatinangor Town Square (Jatos). Mall sejuta umat bagi mahasiswa Unpad, ITB, Ikopin, dan IPDN. Jatos jadi pilihan terakhir kalo mahasiswa bingung mau nongkrong dimana.

Nah, mahasiswa Unpad tuh kayaknya gak betah di kosan dan emang temen-temen yang ngajak nongkrong itu banyak. Apalagi tersedia banyak titik-titik tempat nongkrong yang hits dan deket, apalagi bisa dijangkau dengan jalan kaki karena sepanjang jalan itu tukang makan semua! Mulai dari Cikuda sampai Cileunyi yaitu satu jalan lurus dari arah Sumedang ke Bandung. 

Warung pinggiran jalan juga asik buat jadi tempat nongkrong, tapi gak seramai angkringan yang ada di Jogja. Dan di tambah lagi ada angkot duaribu rupiah yang ngelewatin tempat nongkrong itu, jadi bener-bener tempat nongkrong mudah banget di jangkau buat mahasiswa Jatinangor gak hanya buat nogkrong, ngerjain tugas, rapat, dll sampe buka sendal sepatu angkat kaki sila di atas bangku karena sangking nyamannya.

Mahasiswa Generasi Mager

Ini sih dari kacamata Saya aja. Dari pengalaman yang ada. Dari segala penglihatan dan perasaan. Jadi, di Jatinangor itu khususnya mahasiswa Unpad, sangat senang berbisnis. Salah satu bisnis yang dijalani mahasiswa dan mendapatkan opset yang cukup besar dari bisnis ini (entah kenapa) adalah ojek online via aplikasi Line. Jawaban entah kenapa bisa dengan mudah terjawab. Jadi, bisnis ini menawarkan jasa antar makanan/barang, antar jemput orang/loundry dengan upah yang lumayan menguntungkan. Orang yang menjadi jasa tersebut adalah mahasiswa, (nanti kita bahas). 

Bisnis ini tercipta dilatar belakangi oleh kesulitan atau menurut saya kemageran mahasiswa untuk bergerak memenuhi kebutuhannya, ya sama lah kayak ojol-ojol di kota-kota. Tapi ini hanya di lingkup Jatinangor. Dalam hal ini saya tidak men-kambing hitamkan si ojol Jatinangor ini yang buat mahasiswa mager, tapi emang mereka kreatif. 

Alasannya kenapa Saya bilang mager adalah saat saya pernah jadi driver ojol ini dan hanya bertahan 2 minggu dengan keuntungan yang lumayan menurut saya. Waktu itu, saya mendapat orderan untuk membeli 2 lembar kertas folio bergaris, itu hanya sekitar-tidak sampai- seribu rupiah, namun ongkos yang dikeluarkan untuk memakai jasa ini adalah 7rb rupiah. Jadi pen-order folio itu membeli 2 lembar kertas folio dengan harga 8rb. Saya gak tau sih bagaimana di kampus kalian? Ah, ya di desa seperti kampus Unpad pastinya jarang Ojol kayak di kampus kalian yang berada di kota.

Dan intinya, semakin banyak ojol mahasiswa di wilayah kampus, semakin banyak mahasiswa-mahasiswa yang memanfaatkan hal tersebut karena kemagerannya. Ya gak ada salahnya, itu yang terjadi –simbiosis mutualisme.

Mahasiswa Usaha dan Kerja Sampingan

Yang Saya tahu, di Unpad itu jarang menciptakan ilmuan-ilmuan. Tapi yang saya lihat adalah mahasiswa-mahasiswa yang lulus atau belum, namun sukses menjalankan bisnis usaha. Ya contohnya saja ojol lingkup Jatinangor itu. Jadi, memang banyak mahasiswa yang masuk ke usaha bidang jasa itu dengan jadwal kerja yang bisa disesuaikan dan gaji yang lumayan. Saya sangat apresiasi dengan si inisiasi usaha tersebut untuk membuka peluang usaha untuk mahasiswa yang ingin punya uang jajan tambahan.

Selain itu, ada juga yang bekerja di cafe, membuka cafe, menjual produk kerajinan tangan, dan lain-lain. Pokoknya banyak sekali mahasiswa-mahasiswa Unpad bekerja menjual makanan atau produk. Apalagi jika ada saat-saatnya sebuah kepanitiaan mengumpulkan dana usaha untuk acaranya hingga berlanjut membuka usaha sendiri. 

Kalau memang itu passion seorang mahasiswa untuk berwirausaha, menurut saya langsung saja untuk fokus kalau memang peluangnya besar dan tidak bisa mengimbangi perkuliahan.

Mahasiswa Pejalan Kaki

Jarak Kosan dengan tempat kuliah yang dekat, tidak punya kendaraan pribadi, dan hemat uang karena ongkos, menjadi beberapa alasan mahasiswa berjalan kaki. Saya sebagai mahasiswa Jatinangor juga suka berjalan kaki seperti untuk membeli makan dan main ke kosan temen. Ada juga mahasiswa yang senang berjalan dari pada naik odong-odong (angkutan bis gratis keliling Unpad). Kesan berjalan kaki di Jatinangor terutama diwilayah kampus Unpad sangat nyaman, jarak fakultas ke fakultas berdekatan, ada trotoar yang memiliki atap sehingga tidak terkena hujan dan kepanasan juga mungkin menjadi salah satu alasan mahasiswa untuk berjalan kaki di wilayah Unpad. 

Saya memiliki pengalaman waktu pergi ke ITB untuk seruvey tempat. Disana semua orang bejalan kaki karena tidak ada angkutan seperti yang ada di kampus Unpad, atau UI yang saya tahu. Bisa di andaikan kalau berada di ITB adalah kampus seperti UI namun tidak ada angkutan gratis atau kamu sama sekali tidak bisa memakai kendaraan bermotor di ITB. Itu akan sangat melelahkan. Bagaimana di kampus mu?

Mahasiswa Aktifis

Tipikal satu ini pasti nge-tren banget di kalangan masiswa. BEM Unpad termasuk aktif dalam kegiatan kampus maupun luar kampus, sama seperti universitas ternama yang lain. Namun saya sempat menyayangkan saat kasus kartu kuning jokowi, beberapa perwakilan mahasiswa di undang untuk mendatangi acara TV Mata Najwa, dan disitu tidak ada perawakilan dari Unpad. Ya, gak masalah sih. Tapi kampus favorit kok tidak ada, bangga aja kalo liat perwakilan kampus sendiri datang untuk menyuarakan pendapat di tengah  pejabat pemerintah dengan membawa almamater dibandingkan saat dipanggil pada acara komedi atau kuis hiburan.

Mahasiswa Korban Penipuan

Yap, saya sudah tertipu. Kenapa? Jadi awalanya saya beranggapan kalau Unpad punya kampus yang keren di kota Bandung. Siapa yang tidak kenal kota Bandung? Kota pariwisata, sejuk, banyak tempat-tempat hits dan waktu itu ada walikota yang ngetren sampai sekarang. Namun sayangnya, itu hanya angan-angan bagi saya dan bisa diwujudnya dengan memakan perjalanan 1-2 jam ke kota bandung atau tempat pariwisatanya apalagi terkena kemacetan di daerah Cibiru, Ujung Berung, dan Cicaheum. Karena ternyata Unpad jurusan yang saya pilih bertempat di Jatinangor, Kabupaten Sumedang tepatnya di bawah kaki gunung Manglayang.
Kampus Unpad memang ada di Bandung namun hanya 2 fakultas yaitu FH dan FEB. Hingga ada kabar buruk pada tahun 2016 (kalau gak salah), kalau semua mahasiswa baru, pindah kampusnya ke Jatinangor. Testimoni dari maba FH dan FEB adalah iri dengan kakak kelasnya di Bandung.

Waktu itu saya tidak berkomentar karena beranggapan hanya saya yang tertipu, namun semua orang membicarakannya dan teman-teman di kota asal Saya selalu membutuhkan penjelasan saya terhadap kasus ini. Seperti “Ciye udah jadi anak bandung.”; “Kalau ke tempat pariwasata ‘ini’ deket gak dari kosan lo?”; atau “Samperin gue dong, gue lagi di Bandung.” Apalagi ada yang minta samperin ke Cimahi. Disitu dengan sabar saya menjelaskan dengan simpel dengan menyuruh orang itu membuka aplikasi Maps di ponsel dan search Jatinangor yang diharapkan ia berfikir dan tidak mengasihani.

Udah sih, yang paling mencolok hanya itu aja. Tadinya mau taro Mahasiswa Gampang Kehilangan karena hampir tiap hari ada mahasiswa membawa berita kehilangan lewat medsos. Terus juga ada Mahasiswa Odong-odong yang tiap hari naik angkutan gratis muter-muter (kerjaan maba) atau sangking malesnya jalan kaki, dari naik odong-orang dan turun di fakultas pertama yang gak jauh dari pemberangkatan sampe ada postingan viral tentang kasus tersebut yang menghujat mahasiswa pemberhentian pertama. Yaialah! Udah tau setiap pagi dong-odong antri, tapi ini malah naik padahal kalo jalan deket.

Oke. Salam Satu Unpad.

buat lebih tahu Unpad