3 Juli 2013

Insiden Siram Air Teh TV One - Munarman atau Munarwoman?


SAYA baru tahu kalau cara menyuguhkan teh manis pada orangtua adalah dengan cara menyiramnya. Apakah hal ini akan saya lakukan pada orangtua saya, orangtua teman, atau orangtua pacar?  Dan Hmmm, karena saya masih waras dan nganggap diri masih punya adab, maka nggak akan saya lakukan. Berbeda halnya dengan Munarman yang pada Jumat di siaran TV One menyiram secara sepihak seorang narasumber yang dianggap menyela ucapannya.



Bukannya minta maaf, dia berkata "Saya lihat dia (Thamrin) pagi-pagi belum minum teh, haus, ya kita kasih minum. Karena jauh, ya jadinya begitu,"  begitu katanya dilansir di merdeka.com

Okey, ada sekian juta orang yang menulis hal yang sama. Sampai-sampai popularitas Farhat Abbas setengah anjlok (itupun sedikit terselamatkan dengan gaya menjilatnya memasang avatar nabila JKT48), dan redamnya gaung menjijikkan Arya Wiguna yang entah kenapa mau-maunya digunakan beberapa media infotainment dengan 'menyetting' diri berskandal ringan dengan seorang penyanyi dangdut.


Sejenak lupakan. Karena tentulah saya akan menyinggung hal yang sudah-sudah. Ada berapa banyak orang-orang yang caci maki Munarman di jejaring sosial. Segalanya serba tipikal. Tapi saya terhibur juga sebab dengan begitu banyak yang sepihak sama saya. Ya, jelaslah. Tiba-tiba nyiram orang begitu di tayangan live. Gimana nggak bar-bar. Tapi ada pandangan yang menggelitik diri saya dan diri kelinci saya di akhirat. Apa itu? Ya, beberapa orang yang mendampratkan diri di satu kubu pandangan tertentu. Apa sih maksudnya?


Kubu Pengutuk Tindakan Menyiram Air Teh


Saya ada di pihak ini. Dan orang-orang akan melahap pernyataan yang sama.  Dia adalah Juru bicara ormas yang mengatasnamakan Islam. Dan Rasulullah tidak pernah mengajarkan kekerasan. Memang sedemikian urgennya sosok dosen UI tersebut dibanjur/diguyur? Bukankah adu pendapat di acara talkshow udah kapan tahu kita ketahui? Seingat saya insiden semacam ini pernah terjadi dengan seorang penulis buku tentang Cikeas yang menabok seorang perwakilan Demokrat dengan buku. Hanya karena pernyataannya diserobot.

Memang, ketika kita belum selesai bicara, adalah hal yang tidak mengenankan ketika seseorang menyela. Tapi cuma orang yang 'berakal' yang bisa endap emosi. Lihat saja buktinya, selama ini debat di TV One misalnya, lebih sering diselesaikan dengan 'perdamaian', mereka seperti sadar telah jadi 'one man show'. Dan sadar KONTEKS. Beberapa bahkan selesai dengan menyindir dengan konsep berguyon. Jadi jelas apa yang dilakukan si munawaroh eh .. siapa itu tadi namanya? Saya singkat saja menjadi M ya? ... adalah tindakan paling tidak lazim.



Kubu Pendukung Tindakan Menyiram Air Teh



"Ngapain saya minta maaf, dia yang seharusnya minta maaf kepada umat muslim. Saya minta dia untuk taubat, ada salah apa saya minta kepada dia," Itulah kata M kepada okezone. Entah karena pada saat diwawancara dia masih emosi, atau beneran refleksi kebenciannya pada sang yang disiram. Percaya atau nggak -ya harus percaya. Aksi siram teh ini juga disetujui beberapa orang. Yang menurut saya berpikiran anarkis.


Seorang teman berkata "Ya sudahlah, dia pantas menyiram air teh. Bacotnya nggak dijaga". Setiap kali saya jawab. "Coba kalau orangtua kamu disiram ujug-ujug, apa kamu terima gitu aja?" Barangkali M juga harus membayangkan bagaimana kalau orangtuanya disiram ujug-ujug begitu. Apa mungkin entah di alam mana seseorang berinisial M ini disiram ujug-ujug oleh air neraka. :D (Kidding).


Kubu Pengutuk Media Massa


Yang ini lebih banyak lagi. TV One saking jujurnya, kerap kali dipandang minor oleh banyak pengamat amatiran yang mengaku/tidak mengaku kritis. Mereka menilai kalau TV swasta ini tidak etis, tidak enak, kurang ajar, tidak berbau pers, tukang adu domba. Mungkin orang-orang pengkritik ini rindu akan siaran 90 an era orde baru yang didalemnya kebanyakan acara anak-anak. :v


Saya cuma ingin mengatakan bahwa, tonton saja konten yang menurut kita enak ditonton. Yang sesuai dengan selera. Yeah, membuka opini itu bukan berarti kisruh atau misuh-misuh terhadap  hal yang disinggungnya. Kita cuma berharap sang pihak TV dikit berubah. Setidaknya setelah kita menulis untuk kepentingan perubahan, kita bisa ninggalin konten yang menurut kita nggak sesuai itu. Jangan malah DIPOYOK DILEBOK. :D


Misalnya saya udah banyak kritik dunia televisi di Indonesia. Alhasil? Syukurlah sudah tujuh bulan saya tidak lagi menonton TV. Mending online, deh (pengakuan nggak penting).


Akhirnya ..


Langkah sosiolog UI untuk tidak memejahijaukan adalah tindakan yang brilian. Sebab masa FPI itu banyak :D Saya tidak mengutuk kehadiran FPI. Mereka adalah pengendali sosial! Apa orang-orang mau segalanya serba chaos? Harus ada setidak sekelompok orang yang mengingatkan manusia lain akan katakanlah dosa-dosa massal. Sebab tugas muslim adalah saling mengingatkan.


Tapi selalu ada kata tapi di dunia ini. Yeah, FPI nggak sempurna. Niatnya baik, tapi dalam praktiknya dianggap preman. Sehingga masyarakat kita sudah kepalang mencitrakan mereka buruk, sementara sebagian lain memilih diam, bukan apatis. Ini seperti mereka berkata 'mau gimana lagi?'



Sindrom Siram Air Teh ke Orangtua

KPI telah menegur TVOne. Katanya agar lebih selektif memilih narasumber. Sementara sang penyiramnya nggak disentil. Mungkin bukan ranah KPI. Dan sebaiknya TVone mengadakan serangkaian tes psikologi dulu supaya tahu apakah si narasumber ini stres apa kagak. :v (bercanda .. :3)


Cuplikan penyiraman itu sudah beredar di youtube dan jadi bulan-bulanan jagat maya. Kalau anak kecil lihat, dan nggak diberi pemahaman. Bisa saja mereka akan meniru. Dan mendadak di Indonesia ini tiba-tiba anak kecil ini semua terkena sindrom 'tanda hormat lewat air teh'.


Orangtua yang tadinya asyik menikmati sore mereka dengan duduk-duduk melihat senja, tiba-tiba disiram anaknya sendiri pakai air teh. Huahahaha!


Nah, kalau sudah begini apakah munarman masih bisa disebut Man (lelaki)? Apakah seseorang perlu menyarankannya untuk mengganti nama. Semisal Munarwoman (dari kata Woman = perempuan). Sebab lelaki sejati biasanya tidak melakukan aksi siram-siram begitu. Dan bukan berarti perempuan identik siram-siraman aer ke muka (kecuali siram bunga, siram cinta :D ) Maksud saya perempuan punya fase dimana mereka bisa emosi setengah mati karena Pra menstruasi atau PMS. Sementara cowok? Ayolah, masa mereka harus pakai pembalut wanita?



*