Nasionalisme
seseorang memang tidak dilihat dari apa yang dikenakan. Tapi menggelikan
rasanya kalau dulu, batik dianggap kuno dan kalangan urban sama sekali tak mau
menyentuhnya. Setelah sempat diklaim Negara tetangga, batik mulai diperhatikan
dan dijadikan sebagai identitas bangsa. Tapi, apa jadinya kalau batik sebagai
identitas sudah ‘dicemari’ unsur-unsur ‘western’
sehingga membuatnya menjadi konyol?
Batik dengan
hias lambang kesebelasan dunia. Siapa yang tidak familiar? Sejenis kemeja atau
kaos dengan menambahan logo klub kesebelasan ini sudah gue ketahui sekira lima tahun yang
lalu. Waktu itu bentuknya masih ke T-shirt. Gue pikir ini cuma iseng-isengan
belaka, jenis batik bola itu familiar dikenakan anak kecil. Namun apa yang
terjadi saat ini? Batik bola mulai menjamur dan mulai dipakai (beberapa)
pekerja kantoran di hari ketika mereka wajib berbatik ria. Yeah, ketika mereka
rata-rata pakai batik model begitu, gue sih cukup pake yang biasa aja. Lebih
tentrammmm… Hahah.
No problem sih.
Tapi untuk standar saya, itu cukup menggelikan. Tapi disisi pemakluman,
kalangan lelaki (terutama pencinta bola) memang sangat antusias saat memakai
pakaian dengan symbol kesebelasan yang mereka favoritkan. Tidak heran selera
pasar ini dilirik oleh produser pakaian. Sehingga… TADAA!! Jadilah kemeja
berbatik dengan ‘tempelan’ yang menghantam seperti ini.
Artinya saya
atau beberapa orang lain mungkin tidak akan sanggup memakainya karena itu
cenderung terasa konyol. Nilai rasa dan sentuhan klasik sejarah, hilang
sehilang-hilangnya saat corak batik disusupi sejenis logo seukuran pantat bayi
lima tahun.
Kreativitas yang Menghancurkan Sakralitas
![]() |
| google.com |
Batik adalah
salah satu motif pakaian adat Indonesia dan sudah diakui UNESCO sebagai bagian
dari warisan budaya dunia. dan jika kita menyinggung masalah pasar/bisnis,
perkara produsen dan konsumen, jelas selalu ada aapa yang dinamakan dengan kreativitas,
atau trik agar sesuatu bisa lebih menarik perhatian konsumen. Namu seringkali
kreativitas ini malah menurunkan derajat seni dari benda yang awalnya sacral.
Dalam hal ini batik, sepeti yang sudah gue muncratkan sebelumnya.
Kalangan tua
mungkin akan bergidik ngeri saat anak-anak muda memakai batik tipe baru dengan
tambahan bulatan-bulatan asing dan aneh serta menggelitik. sementara anak muda
merasa hal itu keren karena logo klub sepakbola yang mereka banga-banggakan
bisa dipakai dalam bentuk pakaian.
Logo
kesebelasan dunia seperti Juventus, AC Milan, Inter Milan, Barcelona, Chelsea,
Manchester United, dan Madrid ini tak asing lagi nempel di barang-barang
perkakas lain. Seperti handuk, sprei, saputangan, spring bed, bantal, guling,
lemari, kaos kemeja, dan lain-lain. Zaman telah berubah, batik kini menjadi
incaran.
Gue, nggak
terlalu mendramakan hal ini dan menyebutnya sebagai sebuah tragedy. Tapi, ini
adalah salah satu hal terlucu yang pernah dilakukan orang Indonesia. Di Negara
lain, motif pakaian adat mungkin diperhatikan dan di jaga kesakralan. Di sini
orang-orang begitu mudah memodifikasi sana-sini demi sebuah tren.
Bagaimana
kalian memandangnya? Apa kalian gemar memakai batik bola juga? Kalau saya sih,
untuk menjadi keren, ndak perlu memodifikasi begitu. Misalnya meski saking
tergila-gila sama Alice di BreakingDawn, Gue nda perlu mau itu siluet Alice
atau mukanya Alice nemplok di batik. Saya nda mau merusak kesakralan batik.
Atau emang saya ini tipikan classy, konventional,
dan art? Aaahhhh….
***
