3 Desember 2012

Style Menggelikan Batik Bola


Nasionalisme seseorang memang tidak dilihat dari apa yang dikenakan. Tapi menggelikan rasanya kalau dulu, batik dianggap kuno dan kalangan urban sama sekali tak mau menyentuhnya. Setelah sempat diklaim Negara tetangga, batik mulai diperhatikan dan dijadikan sebagai identitas bangsa. Tapi, apa jadinya kalau batik sebagai identitas sudah ‘dicemari’ unsur-unsur ‘western’ sehingga membuatnya menjadi konyol?


Batik dengan hias lambang kesebelasan dunia. Siapa yang tidak familiar? Sejenis kemeja atau kaos dengan menambahan logo klub kesebelasan ini  sudah gue ketahui sekira lima tahun yang lalu. Waktu itu bentuknya masih ke T-shirt. Gue pikir ini cuma iseng-isengan belaka, jenis batik bola itu familiar dikenakan anak kecil. Namun apa yang terjadi saat ini? Batik bola mulai menjamur dan mulai dipakai (beberapa) pekerja kantoran di hari ketika mereka wajib berbatik ria. Yeah, ketika mereka rata-rata pakai batik model begitu, gue sih cukup pake yang biasa aja. Lebih tentrammmm… Hahah.

No problem sih. Tapi untuk standar saya, itu cukup menggelikan. Tapi disisi pemakluman, kalangan lelaki (terutama pencinta bola) memang sangat antusias saat memakai pakaian dengan symbol kesebelasan yang mereka favoritkan. Tidak heran selera pasar ini dilirik oleh produser pakaian. Sehingga… TADAA!! Jadilah kemeja berbatik dengan ‘tempelan’ yang menghantam seperti ini.

Artinya saya atau beberapa orang lain mungkin tidak akan sanggup memakainya karena itu cenderung terasa konyol. Nilai rasa dan sentuhan klasik sejarah, hilang sehilang-hilangnya saat corak batik disusupi sejenis logo seukuran pantat bayi lima tahun.

Kreativitas yang Menghancurkan Sakralitas
google.com

Batik adalah salah satu motif pakaian adat Indonesia dan sudah diakui UNESCO sebagai bagian dari warisan budaya dunia. dan jika kita menyinggung masalah pasar/bisnis, perkara produsen dan konsumen, jelas selalu ada aapa yang dinamakan dengan kreativitas, atau trik agar sesuatu bisa lebih menarik perhatian konsumen. Namu seringkali kreativitas ini malah menurunkan derajat seni dari benda yang awalnya sacral. Dalam hal ini batik, sepeti yang sudah gue muncratkan sebelumnya.

Kalangan tua mungkin akan bergidik ngeri saat anak-anak muda memakai batik tipe baru dengan tambahan bulatan-bulatan asing dan aneh serta menggelitik. sementara anak muda merasa hal itu keren karena logo klub sepakbola yang mereka banga-banggakan bisa dipakai dalam bentuk pakaian.

Logo kesebelasan dunia seperti Juventus, AC Milan, Inter Milan, Barcelona, Chelsea, Manchester United, dan Madrid ini tak asing lagi nempel di barang-barang perkakas lain. Seperti handuk, sprei, saputangan, spring bed, bantal, guling, lemari, kaos kemeja, dan lain-lain. Zaman telah berubah, batik kini menjadi incaran.

Gue, nggak terlalu mendramakan hal ini dan menyebutnya sebagai sebuah tragedy. Tapi, ini adalah salah satu hal terlucu yang pernah dilakukan orang Indonesia. Di Negara lain, motif pakaian adat mungkin diperhatikan dan di jaga kesakralan. Di sini orang-orang begitu mudah memodifikasi sana-sini demi sebuah tren.

Bagaimana kalian memandangnya? Apa kalian gemar memakai batik bola juga? Kalau saya sih, untuk menjadi keren, ndak perlu memodifikasi begitu. Misalnya meski saking tergila-gila sama Alice di BreakingDawn, Gue nda perlu mau itu siluet Alice atau mukanya Alice nemplok di batik. Saya nda mau merusak kesakralan batik. Atau emang saya ini tipikan classy, konventional, dan art? Aaahhhh….

***