SEJENIS ehem-ehem mana yang
berani-beraninya mengusulkan supaya lirik lagu nasional kebanggaan RI diubah. Apalagi
dengan alasan yang ‘apa-apaan’: agar sesuai dengan kekinian. Hancurlah sudah
sakralitas lagu ini kalau pemerintah mengabulkan usulan tersebut. sebagian
lirik lagu ini sebenarnya dengan kurang ajar sudah diubah pada saat anak-anak
sekolah membawakan lagu tersebut di Museum Sumpah Pemuda untuk merayakan Hari
Sumpah Pemuda. (28/10/2012).
Di antara sekian banyak isu yang
gue tulis, baru kali ini gue merasa agak-agak geram. Soalnya nggak hanya
berhubungan dengan estetika kesenian, tapi juga tentang kemaslahatan akan hasil
budaya. Entah, dengan alasan semiluhur atau amat berguna untuk kemaslahatan
rakyat. Tapi, apa dengan mengubah sebagian lirik akan membuat Indonesia
sejahtera? Tentu saja tidak. generasi anak muda baru mungkin akan diajari para ‘dedengkotnya’
dalam hal penanganan karya cipta bernilai luhur yang seenak udelnya sendiri. Barangkali
kalau hal ini terjadi, akan menjadi semacam pionir buat lagu nasional lain
untuk mengalami perubahan lirik dengan alasan kekinian. Oh, demi Emma Watson! Dan
kita semua akan kembali ditertawakan orang-orang di negara lain.
Betapa hati ini tercabik dan
sedih mendengar hal tersebut. Bagi gue, ini hanyalah cermin dari carut-marutnya
(sebagian) orang-orang kita dalam memperlihatkan hasil budaya mereka sendiri. Cuma
ada di Indonesia mungkin, seorang koruptor bisa kembali menjabat sebagai
pejabat tinggi. Mungkin juga Cuma di Indonesia, orang-orang DPR jauh-jauh studi
banding Cuma buat mastiin apa lambang buat logo yang akan dipake sama dengan
logo negara lain. dan sekarang ada sekelompok orang yang mengusulkan perubahan
lirik lagu Indonesia Raya? Sedih pokoknya. *Peluk Emma Watson*.
Konyol Usul Untuk Merubah Lirik
Lagu Indonesia
Siapa sih yang ngusulin? Adalah
Eddy Herwani Didied Mahaswara, ketua umum Lembaga Musik Indonesia. Perlu meng-googlingnya
untuk tahu apa dan siapa Didied.
Dan Eddy Herwani berkata di
Museum Sumpah Pemuda pada media: “Saya tidak pernah memikirkan itu. Setelah ini
saya akan usulkan ini ke Presiden. Saya juga sudah usul ke MPR, semoga bisa
dibahas. Ini tidak ada hubungannya dnegan nasionalisme atau tidak. ini masalah
tafsir. Perkara diterima atau tidak itu urusan belakangan.”
Bagaimana dengan tafsiran
menurutnya? Dia berkata: “Disanalah aku beridir itu seperti berdiri di
awang-awang. Tidak sesuai dengan konteks sekarang. Dulu kata-kata itu disamakan
untuk mengelabui polisi Belanda. Tapi kini setelah merdeka untuk apa disamakan
lagi.” katanya.
Lalu pertanyaan gue, kenapa baru
sekarang diusilinnya, Om? Di tahun 2012 pula.
Tapi dalam kesempatan perayaan
Sumpah Pemuda di Museum Sumpah Pemuda, bait lirik yang diganti itu adalah.
Lirik asli: Disalah aku berdiri,
jadi pandu ibuku
Diganti menjadi: Dengan sigap aku
bersiap, tuk membela negeriku
Sang pengusul mengatakan bahwa
frasa ‘jadi pandu ibuku’ adalah multitafsir, sehingga tafsiran yang ‘mungkin’
adalah ‘memandu ibu-ibu’ (mungkin sejenis tour guid, yang memandu seorang tua
bangka ke neraka_. Entah standar apa yang dipatok komunitas pengusul tersebut.
kalau sadar semua kata itu multitafsir alias ambigu, kenapa tidak menafsirkan
celah yang lebih mungkin.
Menurut saya, ‘disanalah aku
berdiri’ berarti kita menanjakkan kaki di Indonesia yang sudah merdeka. Sementara
‘jadi pandu ibuku’, berari menjadi panduan atau pengangan kita bagai ibu. Jadi,
jika memakai pungtusi bisa saja menjadi ‘jadi pandu, ibuku’. Atau ‘jadi pandu
(bagai) ibuku’. Sebab seorang ibu biasanya memandu anaknya.
Atau yang lebih mungkin adalah ‘jadi
pandu ibuku’ berarti indonesia yang sudah merdeka inimemandu ibu dalam artian
tanah yang kita pijak secara geografis. Artinya pada saat lagu ini diciptakan,
Indonesia belum merdeka, dengan kata indonesia raya sebagai (keinginan)
Indonesia untuk merdeka. Maka akan mengumpulkan kota/daerah/provinsi lain ke dalam
misi yang sama (persatuan).
Dan sekarang, bagian itu
diusulkan untuk diganti? Bahkan katanya, sudah ada sejenis panitia khusus untuk
perevisian lirik yang kelak akan mengalami kemungkinan pengesahan. Ah, kenapa
tidak urus hal urgen dulu? Atau bolehlah yah, bikin lagu ‘kebangsaan’ buat
koruptor?
Dalam harian Replubika, Eddy didukung oleh Adhie Massardi,
yang berkata “....tak ada masalah bila lirik lagu Indonesia Raya direvisi. Lagu
Indonesia diciptakan dalam situasi darurat yang berbeda dengan kondisi
sekarang. Meskipun demikian yang semangat yang terdapat dalam lagu kebangsaan
tersebut harus membawa Indonesia ke arah yang lebih baik. Konstitusi saja bisa
diubah. Yang penting ini menjadi gerakan kesadaran bernegara dan berkonstitusi.
Dalam waktu dekat akan ditetapkan panitia yang bertugas merevisi lagu Indonesia
Raya. Hasil revisi akan menjadi usulan yang disampaikan ke petinggi negara.”
Perlu diketahui bahwa lagu ini
diciptakan untuk Kongres pemuda pada 28 Oktober 1928. Lagu yang ditulis oleh
W.R Soepratman ini mendapat sambutan hangat dan dijadikan lagu penutup dan
pembuka setiap kali pertemuan antarpemuda Indonesia diberlangsungkan. Bahkan pada
pemerintahan Belanda saat menjajah meminta lagu itu diubah dari segi lirik. Beruntung
para pemuda kita mempertahankan kekonsistenan lagu mahaluhur itu.
Dan ditahun ini ada sekelompok
orang yang ingin lagu itu diganti hanya demi kekinian? Oh My God! Sekira tahun
2009, ada oknum yang mengubah lagu kebangsaan kita yang konon dilakukan orang
Malaysia. Hal ini membakar kemarahan orang Indonesia yang memang gampang
kebakaran jengot. Maksudnya, ngapain isu adu domba itu mendapat sulutan
kemarahan yang signifikan. Ini berbeda saat isu pergantian lirik diusulkan
orang Indonesia sendiri. Mungkin hanya saya dan sebagian yang nggak terima,
sementara kalian atau mungkin mereka, nganggap ini hal biasa. Entahlah, saat
ini gue cuma bilang....
========
PRIHATIN
========
Referensi:

