Benarkah Sumpah Pemuda sudah
dilupakan?
“Tidak
betul!” Bantah Ami
Dengan
teman-temannya, Ami menyelenggarakan peringatan hari Sumpah Pemuda di sebuah
hotel yang megah. Dengan dukungan sponsor dari berbagai perusahaan plus para
dermawan yang bersimpati pada arti Sumpah Pemuda, Ami berhasil menggemakan
malam peringatan yang sukses.
“Bahkan,
kami berhasil mengumpulkan dana yang kami sumbangkan untuk: satu, korban gempa
Sumatra Barat, dua, anak-anak terlantar, serta tiga, usaha untuk memerangi
narkoba yang telah membuat semangat anak-anak muda kita melempem!” kata Ani
membanggakan hasil jerih payahnya.
Bu
Amat mengacungkan jempol.
“Itu
namanya pemudi harapan bangsa!”
Ami
sendiri hanya mengangguk kecil.
“Baguslah!”
Ami
tersinggung.
“Maksud
Bapak?”
“Yaa,
lumayan!”
“Kok,
hanya lumayan? Yang dilakukan anak kita dan kawan-kawannya itu, bagus sekali,
Pak,” kata Bu Amat.
“Ya,
bagus juga.” kata Amat seperti terpaksa.
“Kok
jadi sinis begitu?”
“Habis
aku dengan biaya malam peringatan itu besar sekali?”
“Memang
besar. Kalau dihitung sewa ruangannya, makanannya, peralatan tata suara dan
tata lampu. Konsumsi, dokumentasi. Kalau dijumlahkan dengan harga biasa, bisa
mencapai 500 juta. Tapi, Ami dan kawan-kawan panitia tidak mengeluarkan uang
sepeser pun. Semalam bisa mengumpulkan 200 juta untuk disumbangkan kepada
masyarakat!”
“Nah,
itu dia!”
“Itu
dia apa?”
“Modalnya
500 juta, perolehannya hanya 200 juta. Itukan berarti rugi 300 juta? Itu namanya
bukan sukses, tapi bangkrut!”
Ami
tertegun.
“Ya,
nggak?”
Ami
tak menjawab, lalu masuk kamar. Tampak sangat terpukul. Ibu Amat menoleh
suaminya dengan dongkol.
“Bapak
ini, kok, jadi mata duitan sekarang?”
Amat
mengangkat tangan, meminta Bu Amat jangan melanjutkan. Tapi, perempuan itu
terus menghantam.
“Bapak
tidak lihat, bagaimana Ami dan kawan-kawannya yang rata-rata perempuan semua
itu, siang-malam kerja? Hampir 2 bulan mereka mempersiapkan supaya malam
peringatan itu berlangsung sukses. Sekarang koran memuji, semua orang
mengatakan itu sukses besar, Bapak, kok, malah melecehkan karya anaknya
sendiri, terus terang saja, iri, ya?”
Amat
mencoba hendak menjelaskan, tapi Bu Amat sudah masuk kamar.
“Aku,
kan, hanya mau memberi pendapat sejujurnya.” Kepada Amat kemudian mengadu
kepada tukang warung.
“
Maksud Pak Amat, kritik?”
“Bukan
kritik. Bukan untuk mencela. Tapi, untuk mengingatkan, memperingati hari besar
seperti hari Kartini, Hari Pendidikan, dan sekarang Hari Sumpah Pemuda, jangan
hanya dengan acara jor-joran menyelenggarakan pesta besar-besaran. Coba,
setengah miliar itu, kan banyak. Masak memboroskan setengah miliar lalu bangga
dapat 200 juta. Anak kecil aja bilang kalau itu rugi. Memperingati itu, jangan
malah bikin rugi, harus bikin untung!”
“Ya.
Kalau Di Ami dan kawan-kawannya tidak bikin malam peringatan, mana ada yang mau
menyumbang 200 juta, Pak Amat?
“Nah,
itu dia! Kenapa yang dikejar itu 200 juta? Kenapa yang dibangga-banggakan itu
duit? Para pemrintis kemerdekaan kita
dulu, menyelenggarakan Sumpah Pemuda bukan untuk mengumpulkan duit, tapi untuk
menyalakan semangat kesatuan. Dan itu harganya tak ternilai, sampai sekarang! Mau
saya memperingati itu mesti intinya begitu!”
Tukang
warung ketawa.
“Ya,
itukan dulu pak amat. Coba para peribtis kemerdekaan itu hidup sekarang. Pasti mereka
juga akan mengukurnya dengan uang. Siapa yang mau kerja tanpa uang sekarang? Banyak
caleg gagal itu buktinya. Setelah tidak berhasil jadi caleg, ada yang gila. Dulu
ukurannya persatuan, sekarang duit, Pak Amat. Zaman sudah berubah. Ya, kan, Pak
Amat?”
Amat
memandang tukang warung itu dengan jijik. Setelah membayar kopinya, dia
langsung pergi.
“Aku
tidak mau lagi beli kopi di warung mata duitan yang tidak peduli semangat
kebangsaan itu!” gerutu amat dalam hati.
Sambil
jalan-jalan, Amat mengibur hatinya yang luka. Amat teringat masa lalu. Pada zaman
dia muda, kebanyakan orang masih idealis. Uang bukan nomor satu. Yang menjadi
cita-cita adalah bagaimana menjadi manusia yang berguna bagi negara. Semuanya mementingkan
tujuan bersama. Dan uang, meskipun diakui sebagai alat tukar, tidak
didewa-dewakan seperti sekarang.
Tiba-tiba
Amat yangs sedang melamun dicolek. Refleksnya sebagai pesilat membuat ia
langsung memasang kuda-kuda. Ternyata yang mencolek seorang perempuan tua yang
menadahkan tangannya.
Amat
cepat menyelidiki perempuan itu dengan matanya. Sebagai kesimpulan, perempuan
itu memang perempuan tak berdaya yang harus ditolong, wajahnya bagai dilindas
sejuta derita. Tampak ia sudah dibuang oleh keluarganya sehingga terpaksa
menyambung hidupnya di jalan.
Tangan
Amat langsung merogoh saku. Tapi, ternyata kosong. Ia baru ingat hanya membawa
selembar 20 ribu di kantong ketika pergi. Dan waktu bayar kopi, lupa minta
kembalian karena sebal pada tukang warung.
Amat
mencoba memeriksa kantong yang lain. ia
terpaksa merogoh kantong celana kolor yang ada dibawah celana panjangnya. Di situ
terasa ada selembar duit. Amat minggir ke tepi dan mencoba mengeluarkan uang
itu dengan susah payah. Tetapi, ketika terjangkau, ia amat kecewa, ternyata
hanya selembar ribuan yang sudah lusuh.
Dengan
perasaan bersalah, Amat menoleh. Tapi, perempuan tua itu tersenyum. Dan ketika
Amat dengan rasa malu serta bersalah mengulurkan uang itu kepadanya, perempuan
itu tiba-tiba meneteskan air mata. Lalu tersenyum bahagia, seperti tak menduga
masih ada orang baik di jalanan.
“Ya,
Tuhan, ternyata rasa simpati, cinta, dan semangat persatuan saja tidak cukup. Memang
uang penting sekali. Andaikan aku punya uang 200 juta seperti Ami, betapa akan
luar biasanya, karena selembar ribuan yang kumal saja sudah bisa membuat
seorang perempuan berduka tersenyum,” Bisik Amat dalam hati.
Amat
kontan cepat-cepat berjalan pulang. Ia masuk ke kamar Ami, lalu bicara dengan
sangat menyesal.
“Ami,
Bapak minta maaf. Mungkin kalau diukur dengan uang, peringatan Sumpah Pemuda
yang kamu buat itu rugi. Tapi, itu bukan salah kamu. Itu salah Bapak yang
mengukurnya dengan takaran yang salah. Baru saja tadi Bapak menjumpai bukti. Hanya
dengan seribu rupiah saja, wajah seorang perempuan yang sedih itu berupah
gembira, apalagi dengan 200 juta. Maafkan Bapak!”
Ami
mendekati Amat, tampak air matanya bercucuran dan menangis tersedu-sedu.
“Sebenarnya
malam itu mereka bukan untung 200 juta, tapi 600 juta. Yang 400 juta mereka
bagi-bagi di antar panitia untuk membayar biaya skripsi, dana S-1, S-2 dan S-3,
Pak.” Bisik Bu Amat dengan sangat lirih.