29 September 2012

Soempah Pemoeda


Benarkah Sumpah Pemuda sudah dilupakan?

                “Tidak betul!” Bantah Ami

          Dengan teman-temannya, Ami menyelenggarakan peringatan hari Sumpah Pemuda di sebuah hotel yang megah. Dengan dukungan sponsor dari berbagai perusahaan plus para dermawan yang bersimpati pada arti Sumpah Pemuda, Ami berhasil menggemakan malam peringatan yang sukses.

               “Bahkan, kami berhasil mengumpulkan dana yang kami sumbangkan untuk: satu, korban gempa Sumatra Barat, dua, anak-anak terlantar, serta tiga, usaha untuk memerangi narkoba yang telah membuat semangat anak-anak muda kita melempem!” kata Ani membanggakan hasil jerih payahnya.

                Bu Amat mengacungkan jempol.

                “Itu namanya pemudi harapan bangsa!”

                Ami sendiri hanya mengangguk kecil.

                “Baguslah!”

                Ami tersinggung.

                “Maksud Bapak?”

                “Yaa, lumayan!”

                “Kok, hanya lumayan? Yang dilakukan anak kita dan kawan-kawannya itu, bagus sekali, Pak,” kata Bu Amat.

                “Ya, bagus juga.” kata Amat seperti terpaksa.

                “Kok jadi sinis begitu?”

                “Habis aku dengan biaya malam peringatan itu besar sekali?”

                “Memang besar. Kalau dihitung sewa ruangannya, makanannya, peralatan tata suara dan tata lampu. Konsumsi, dokumentasi. Kalau dijumlahkan dengan harga biasa, bisa mencapai 500 juta. Tapi, Ami dan kawan-kawan panitia tidak mengeluarkan uang sepeser pun. Semalam bisa mengumpulkan 200 juta untuk disumbangkan kepada masyarakat!”

                “Nah, itu dia!”

                “Itu dia apa?”

                “Modalnya 500 juta, perolehannya hanya 200 juta. Itukan berarti rugi 300 juta? Itu namanya bukan sukses, tapi bangkrut!”

                Ami tertegun.

                “Ya, nggak?”

                Ami tak menjawab, lalu masuk kamar. Tampak sangat terpukul. Ibu Amat menoleh suaminya dengan dongkol.

                “Bapak ini, kok, jadi mata duitan sekarang?”

                Amat mengangkat tangan, meminta Bu Amat jangan melanjutkan. Tapi, perempuan itu terus menghantam.

                “Bapak tidak lihat, bagaimana Ami dan kawan-kawannya yang rata-rata perempuan semua itu, siang-malam kerja? Hampir 2 bulan mereka mempersiapkan supaya malam peringatan itu berlangsung sukses. Sekarang koran memuji, semua orang mengatakan itu sukses besar, Bapak, kok, malah melecehkan karya anaknya sendiri, terus terang saja, iri, ya?”

                Amat mencoba hendak menjelaskan, tapi Bu Amat sudah masuk kamar.

                “Aku, kan, hanya mau memberi pendapat sejujurnya.” Kepada Amat kemudian mengadu kepada tukang warung.

                “ Maksud Pak Amat, kritik?”

                “Bukan kritik. Bukan untuk mencela. Tapi, untuk mengingatkan, memperingati hari besar seperti hari Kartini, Hari Pendidikan, dan sekarang Hari Sumpah Pemuda, jangan hanya dengan acara jor-joran menyelenggarakan pesta besar-besaran. Coba, setengah miliar itu, kan banyak. Masak memboroskan setengah miliar lalu bangga dapat 200 juta. Anak kecil aja bilang kalau itu rugi. Memperingati itu, jangan malah bikin rugi, harus bikin untung!”

                “Ya. Kalau Di Ami dan kawan-kawannya tidak bikin malam peringatan, mana ada yang mau menyumbang 200 juta, Pak Amat?

                “Nah, itu dia! Kenapa yang dikejar itu 200 juta? Kenapa yang dibangga-banggakan itu duit?  Para pemrintis kemerdekaan kita dulu, menyelenggarakan Sumpah Pemuda bukan untuk mengumpulkan duit, tapi untuk menyalakan semangat kesatuan. Dan itu harganya tak ternilai, sampai sekarang! Mau saya memperingati itu mesti intinya begitu!”

                Tukang warung ketawa.

                “Ya, itukan dulu pak amat. Coba para peribtis kemerdekaan itu hidup sekarang. Pasti mereka juga akan mengukurnya dengan uang. Siapa yang mau kerja tanpa uang sekarang? Banyak caleg gagal itu buktinya. Setelah tidak berhasil jadi caleg, ada yang gila. Dulu ukurannya persatuan, sekarang duit, Pak Amat. Zaman sudah berubah. Ya, kan, Pak Amat?”

                Amat memandang tukang warung itu dengan jijik. Setelah membayar kopinya, dia langsung pergi.

                “Aku tidak mau lagi beli kopi di warung mata duitan yang tidak peduli semangat kebangsaan itu!” gerutu amat dalam hati.

                Sambil jalan-jalan, Amat mengibur hatinya yang luka. Amat teringat masa lalu. Pada zaman dia muda, kebanyakan orang masih idealis. Uang bukan nomor satu. Yang menjadi cita-cita adalah bagaimana menjadi manusia yang berguna bagi negara. Semuanya mementingkan tujuan bersama. Dan uang, meskipun diakui sebagai alat tukar, tidak didewa-dewakan seperti sekarang.

                Tiba-tiba Amat yangs sedang melamun dicolek. Refleksnya sebagai pesilat membuat ia langsung memasang kuda-kuda. Ternyata yang mencolek seorang perempuan tua yang menadahkan tangannya.

                Amat cepat menyelidiki perempuan itu dengan matanya. Sebagai kesimpulan, perempuan itu memang perempuan tak berdaya yang harus ditolong, wajahnya bagai dilindas sejuta derita. Tampak ia sudah dibuang oleh keluarganya sehingga terpaksa menyambung hidupnya di jalan.

                Tangan Amat langsung merogoh saku. Tapi, ternyata kosong. Ia baru ingat hanya membawa selembar 20 ribu di kantong ketika pergi. Dan waktu bayar kopi, lupa minta kembalian karena sebal pada tukang warung.

                Amat mencoba memeriksa  kantong yang lain. ia terpaksa merogoh kantong celana kolor yang ada dibawah celana panjangnya. Di situ terasa ada selembar duit. Amat minggir ke tepi dan mencoba mengeluarkan uang itu dengan susah payah. Tetapi, ketika terjangkau, ia amat kecewa, ternyata hanya selembar ribuan yang sudah lusuh.

                Dengan perasaan bersalah, Amat menoleh. Tapi, perempuan tua itu tersenyum. Dan ketika Amat dengan rasa malu serta bersalah mengulurkan uang itu kepadanya, perempuan itu tiba-tiba meneteskan air mata. Lalu tersenyum bahagia, seperti tak menduga masih ada orang baik di jalanan.

                “Ya, Tuhan, ternyata rasa simpati, cinta, dan semangat persatuan saja tidak cukup. Memang uang penting sekali. Andaikan aku punya uang 200 juta seperti Ami, betapa akan luar biasanya, karena selembar ribuan yang kumal saja sudah bisa membuat seorang perempuan berduka tersenyum,” Bisik Amat dalam hati.

                Amat kontan cepat-cepat berjalan pulang. Ia masuk ke kamar Ami, lalu bicara dengan sangat menyesal.

                “Ami, Bapak minta maaf. Mungkin kalau diukur dengan uang, peringatan Sumpah Pemuda yang kamu buat itu rugi. Tapi, itu bukan salah kamu. Itu salah Bapak yang mengukurnya dengan takaran yang salah. Baru saja tadi Bapak menjumpai bukti. Hanya dengan seribu rupiah saja, wajah seorang perempuan yang sedih itu berupah gembira, apalagi dengan 200 juta. Maafkan Bapak!”

                Ami mendekati Amat, tampak air matanya bercucuran dan menangis tersedu-sedu.

                “Sebenarnya malam itu mereka bukan untung 200 juta, tapi 600 juta. Yang 400 juta mereka bagi-bagi di antar panitia untuk membayar biaya skripsi, dana S-1, S-2 dan S-3, Pak.” Bisik Bu Amat dengan sangat lirih.