Istilah mood merujuk pada suasana
hati, baik yang sedang bad mood maupun good mood. Mood bisa diartikan sebagai
keadaan emosional yang bersifat subjektif atau relatif/tergantung. Pada
normalnya emosi yang kita keluarkan distimulus oleh sesuatu yang jelas.
Misalnya disaat kita mendengar cerita lucu, maka kita tertawa, sebaliknya jika
mendengar cerita sedih, kita terharu. Lain dengan moody, bisa tiba-tiba berubah
mood karena satu hal yang menurut kita sepele. Akhirnya, perubahan dari good
mood ke bad mood pun bisa berlangsung beberapa jam sampai hitungan hari.
Saya mau tanya, apakah kalian
adalah seorang fans fanatis? Dimana ada seseorang yang menjelekkan idola Anda
sebagai pelacur atau si pemakan kotoran kucing. Lalu Anda merasa orang yang
berkata seperti itu adalah orang yang lebih buruk dari tikus yang membusuk di
tempat sampah.
Atau Anda seorang jilbabers
sejati yang menyinggung jilbabers lain yang memakai jilbab hanya di lingkungan
sekolah, selebihnya tidak memakai. Dan sebelumnya Anda sangat di kucilkan di
lingkungan kelas alias tidak mempunyai teman karena sikap Anda yang buruk,
terlebih lagi ketika Anda menyinggung teman sekelas Anda karena memakai jilbab
hanya di lingkungan sekolah.
Jika Anda mengiyakan, maka
silahkan buat kuburan untuk diri sendiri. Terutama jika Anda ‘pelaku’ moody
atau seseorang yang kurang bisa menjaga kestabilan emosi.
Dan perlu diketahui, kalau
emosional itu tidak didefinisikan sebagai ‘kemarahan’. Sebab, emosi manusia
berarti perasaan senang, sedih, menangis, termasuk marah. Sejauh kita melakukan
moody hanya ‘untuk diri sendiri’ itu tidak masalah. Tapi, bagaimana kalau
pengaruhnya berdampak pada orang lain. Beruntung jika teman atau keluarga
maklum dan sabar. Bagaimana jika tidak? Bagaimana jika mereka sudah terlalu
capai menerima aksi-aksinya? Sebab orang yang moody itu identik dengan ‘berbuat
seenaknya’.
Kalau sifat moody ini dipelihara,
bukan nggak mungkin ini akan menghancurkan hubungan pertemananmu. Layaknya raja
atau ratu yang keadaannya harus dijaga, lingkungan sekitar pun layaknya kacung
yang harus senantiasa menjaga mood-nya.
Ciri – ciri ‘pelaku’ moody:
- Sekali waktu bisa sangat
menyenangkan dan bersahabat, di waktu lain bisa sangat ketus, galak, jutek dan
pemarah seperti malaikat kegelapan.
- Sekali waktu sangat
optimis, sekali waktu sangat pesimis.
- Berubah bad mood karena
persoalan yang sebenarnya sepele. Ini terjadi karena tekanan yang lahir dari
persepsi yang negatif terhadap sesuatu. Misalnya, kamu merasa tersinggung
karena teman, padahal ia hanya mengingatkan.
- Menunjukkan kekesalan
dengan mencurahkan isi hati kepada teman dekat dan curhat habis-habisan tentang
si Fulan , dan menganggap diri di pihak ‘korban’.
- Di era pesbuk/twitter
mereka lebih mencurahkan lewat status pesbuk atau twitteran agar mendapat
simpati massa/teman-temannya yang merespons. Agar ‘bad mood’-nya dilegalkan.
- Cenderung tidak menerima
saran atau kritik. Dia kelihatan menerima ktirik dan saran itu tapi dalam
hatinya ia merasa bahwa itu adalah upaya untuk menyudutkannya secara kualitas.
-
Jika ia sedang berkonflik
dengan teman dekat, maka ia akan berteman dengan teman yang lain yang tidak
sedang berkonflik.
-
Di era jejaring sosial, dia
hanya akan merespons kegiatan akun seseorang yang berkonflik dengannya, dengan
komentar berisi dindiran atau ketidaksetujuan secara implisit.
- Dia merasa tidak perlu
berteman lagi dengan teman yang berkonfli, kecuali kalau teman itu
‘baik-baikkin’ dia.
-
Dia merasa berhak melakukan
apapun termasuk dengan menangani segala hal. Jika sedang good mood, dia akan
menyenangkan banyak orang. Jika sedang bad mood, siap-siap nemuin reaksi yang
bikin kita nggak enak.
-
Biasanya kelihatan murung,
galau dan yang biasanya ceria menjadi pendiam.
-
Kalau lagi emosi atau bad
mood, jangan ‘di godain’ malah nantinya makin emosi dia.
Mood Disorder
Mood disorder adalah istilah
psikologi yang berarti perubahan mood yang tidak sehat atau kacau. Pelakunya
bisa meluapkan ekspresi berlebih seperti rasa girang terlalu besar, atau reaksi
sedih yang membawanya pada aksi ‘mendramatisir diri’.
Dalam keadaan ekstrim, dia bisa
melakukan tindakan tiba-tiba/impulsif yang bisa membahayakan diri sendiri atau
orang lain. Semoga kita dijauhkan dari sifat ini, aamiin. Tapi, jika kita punya
sifat-sifat seperti diatas, alangkah baiknya kita mengatasinya sedini mungkin
dan secara bertahap. Apalagi kalau Anda sudah tidak ABG lagi. Kalau ababil mah
memang harus dimaklumin, ya.
Tips untuk orang Moody
-
Perbanyak ibadah dan
berdo’a kepada Allah.
-
Evaluasi diri. Lebih sabar
dan lebih mengendalikan diri.
-
Pikirkan kalimat berikut:
“saya akan mengerti orang lain, dan orang lain tentu akan mengerti saya” Alias,
berpikir positif. Anda tidak sednag berada pada negeri dongeng atau dalam
mimpi, dan sadarlah bahwa semua ini adalah realitas!
-
Seseorang bisa dikatakan
memiliki keperibadian yang sehat jika dia memiliki kestabilan emosi dan
kesungguhan.
-
Berempati atau memosisikan
diri, bagaimana jika Anda menjadi teman Anda yang menjadi ‘korban’ seorang
moody. Menjadi menyenangkan tentu membuat orang lain senang, namun menjadi
pemurung yang bukan sifat Anda, itu sedikit menyusahkan.
-
Saran saya secara gamblang,
cobalah untuk tidak merasa dipermainkan, karena mereka memang tidak
mempermainkanmu. Cobalah untuk tidak dicaci maki, karena mereka memang sedang
tidka mencacimakimu. Sekalipun terlihat sangat mencaci maki, tapi keadaanmu
jauh lebih GOOD MOOD kalau kamu merasa, mereka hanya sedang memberimu perhatian
dengan komentar yang ‘nyeletit’.
Tips untuk teman yang sedang
Moody
-
Biasanya mereka tipikal
orang yang perlu perhatian jika sedang moody. Hampiri dan dekati. Meski lebih
banyak mereka mengatakan ‘im okay’. Disini ada dua kemungkinan, merasa mampu
mengatasi, atau ‘kode’ atau pesan kalau dia butuh perhatian ekstra dari kita
sehingga kita lebih bisa membujuknya.
-
Diam adalah cara terbaik
ketika teman moody kita berubah mood. Dan tunggu untuk mood-nya baik.
-
Hadapi dia seperti posisi
seorang ibu menangani anaknya.
Memperpendek umur
Umur memang nggak bisa di
perpendek, dan itu sudah takdir Tuhan. Tentunya moody-moody-an hanya
mempersempit kesempatan hidup lebih lama. Dalam kajian psikologis, tingkat
kestabilan emosi negatif atau lebih sering dikenal dengan istilah neuroticism,
ditemukan pada mereka yang selalu berpikiran negatif dan tertekan.
Orang yang mengalami gejala
seperti ini, tidak bisa mengontrol tingkat stress mereka dengan baik, sering
merasa moody dan cemas. Kecenderungan yang sifatnya genetis ini berhubungan
dengan tingkat kematian.
Hasilnya, mereka yang termasuk
seseorang dengan karakter neurotic memiliki cenderung mengalami kematian lebih
dini, karena tingkat stress, dan kekhawatiran yang berlebihan, meningkatkan
resiko untuk mengalami gangguan kesehatan seperti serang jantung atau kanker.
Sementara, orang-orang yang bisa
mengendalikan emosi mereka dan mampu berpikiran positif, punya tingkat harapan
hidup lebih lama.
Jadi hentikan alibi ‘gue orangnya
moody-an’ atau ‘sorry, gue lagi soptekan’ setiap Anda memiliki mood yang kurang
baik. Coba kuatkan dalam hati, ‘pikiran dan tubuh saya sehat’. Maka Anda pun
akan menjadi sehat dan lebih banyak menyenangkan banyak orang.
*
Jujur aja, dengan bikin blog
kayak gini, bisa bikin aspek emosional saya lumayan matang. Apalagi kalo nemu
orang yang maki-maki saya. Nggak heran belakangan, komentar yang berbau
menyudutkan, saya tanggapi dengan santai kayak di pantai. Kalau dulu pas
jamannya ababil, tentulah saya ini moody-an dan bisa ngerasain gimana
menderitanya temen, keluarga, apalagi pacar, dan saya sendiri. Kalau sekarang
sih jamanyanya keterbukaan, Bung! 2012 gitoo, loh! EEAAAA!!! Heu...

