20 April 2012

Definisi Acungan Jari Tengah Sang Gubernur



Salah satu berita yang bikin saya guli-guling di kotoran kebo, sampe harus mandi 10 kali. Yup, baru-baru ini seorang gubernur terlihat mengacungkan jari tengah di dalam sebuah foto. Gambar yang diambil pada 15 April itu, dia berfoto bersama anak-anak muda yang beberapa diantaranya bergaya dan berpose. Termasuk dengan menunjukkan sembol-simbol tertentu dalam isyarat tangan.




Ada yang mengisyaratkan dengan acungan jempol, dengan isyarat tangan metal, dan ada bapak Gubernur dan perempuan yang mengacungkan jari tengah. Mereka mengisyaratkan dengan mengacungkan jari kepada orang-orang yang melihatnya dengan kata-kata “Fuck You.”

foto: Google


Simbol tangan ini biasanya populer di Amerika atau Eropa. Namun anak muda terutama di kalangan urban, acap kali menerapkan perilaku negatif ini mungkin agar mereka terlihat keren. Saya sendiri berada dilingkungan yang sehat. Tidak terlalu ortodoks dan konvensional. Sejak kecil sampai beranjak dewasa seperti sekarang, saya tidak pernah melakukan atau ‘menerima jari tengah’ dari orang lain.. kalaupun saya menerimanya, itu hanya akan jadi sia-sia karena saya tidak merasa hal sepele kek gitu untuk diambil hati.

Contohnya dengan simbol jempol yang diapit oleh jari telinjuk dan jari tengah seperti di bawah ini. Simbol ini dianggap tidak sopan karena menggambarkan hubungan seks. Kami riskan mempraktekannya kepada orang dewasa, karena akibatnya akan fatal: digorok/ditabok. Dan konon simbol ini digunakkan para penjaja seks dalam mencari ‘mangsa’.
\



Secara simbolik, jari jempol diibaratkan sebagai penis, sedangkan jari telunjuk dan jari tengan yang mengapit jari jembol diibaratkan sebagai vagina. Terus bagaimana arti dari acungan jari tengah? Yeah, acungan dari jari tengah diantara jari-jari yang ‘tidur’ adalah simbol dari penis. Jika seseorang malas untuk berbicara, acungan jari tengah cukup untuk memberi umpatan: Fuck You. Kata Fuck sendiri bisa diartikan sebagai bersetubuh, jika ditambah kata you berubah arti menjadi seseorang yang ingin menyetubuhi seseorang.

Jadi, apakah masalah seorang Gubernur mengacungkan jari tengah? Konon dia pernah tahu apa yang dilakukannya sebgai penghinaan. Alasan yang naif sekaligus lucu, sih. Mungkin saking ‘nasionalismenya’, beliau kurang memerhatikan perkembangan dunia. Atau ‘jangan-jangan’ itu adalah usaha untuk menggaet simpati terhadap anak muda atau tak ubahnya beliau berfikir kalau acungan jari tengah sama seperti simbol jari metal yang didefinisikan menurut dia adalah ‘salam damai’. Sisanya yang tidak mafhum dengan simbol-simbol itu, hanya menggaruk bokong sambil tertawa ngakak.

Lalu bagaimana kita dilempari jari tengah atau kata fuck you? Kalo saya sih akan cuek aja. Toh itu bukan produk budaya atau kebiasaan lokal kita. Jadi kalau saya dilempari simbol itu saya akan melengos dan menertawai orang tersebut. kalau bener mau menghina mending pakai bahasa lokan supaya lebih kena. XD

*

Remaja rela mengikuti selera kelompoknya yang berbau negatif hanya untuk eksistensi dalam kelompoknya. Tidak heran begitu banyak remaja yang mengumpat dengan berbagai cara supaya dianggap keren, update, dan tidak berbau ‘orang tua’. Tapi saya bangga menjalani masa-masa sebagai pelajar dengan positif. Kalaupun pakai simbol jari-jari, saya akan menggunakan simbol jari berbentuk V untu berfoto dengan teman-teman. Ngasih jempol ke teman-teman yang lulus ujian, nunjukkin kelingking tanda maafan, ngasih gaya metal buat rock-rock-an, atau mengacungi telunjuk saat akan menjawab pertanyaan guru di kelas. :D