Salah satu berita yang bikin saya
guli-guling di kotoran kebo, sampe harus mandi 10 kali. Yup, baru-baru ini
seorang gubernur terlihat mengacungkan jari tengah di dalam sebuah foto. Gambar
yang diambil pada 15 April itu, dia berfoto bersama anak-anak muda yang
beberapa diantaranya bergaya dan berpose. Termasuk dengan menunjukkan
sembol-simbol tertentu dalam isyarat tangan.
Ada yang mengisyaratkan dengan
acungan jempol, dengan isyarat tangan metal, dan ada bapak Gubernur dan
perempuan yang mengacungkan jari tengah. Mereka mengisyaratkan dengan
mengacungkan jari kepada orang-orang yang melihatnya dengan kata-kata “Fuck
You.”
![]() |
| foto: Google |
Simbol tangan ini biasanya
populer di Amerika atau Eropa. Namun anak muda terutama di kalangan urban, acap
kali menerapkan perilaku negatif ini mungkin agar mereka terlihat keren. Saya sendiri
berada dilingkungan yang sehat. Tidak terlalu ortodoks dan konvensional. Sejak kecil
sampai beranjak dewasa seperti sekarang, saya tidak pernah melakukan atau ‘menerima
jari tengah’ dari orang lain.. kalaupun saya menerimanya, itu hanya akan jadi
sia-sia karena saya tidak merasa hal sepele kek gitu untuk diambil hati.
Contohnya dengan simbol jempol
yang diapit oleh jari telinjuk dan jari tengah seperti di bawah ini. Simbol ini
dianggap tidak sopan karena menggambarkan hubungan seks. Kami riskan
mempraktekannya kepada orang dewasa, karena akibatnya akan fatal:
digorok/ditabok. Dan konon simbol ini digunakkan para penjaja seks dalam
mencari ‘mangsa’.
\
Secara simbolik, jari jempol
diibaratkan sebagai penis, sedangkan jari telunjuk dan jari tengan yang
mengapit jari jembol diibaratkan sebagai vagina. Terus bagaimana arti dari
acungan jari tengah? Yeah, acungan dari jari tengah diantara jari-jari yang ‘tidur’
adalah simbol dari penis. Jika seseorang malas untuk berbicara, acungan jari tengah
cukup untuk memberi umpatan: Fuck You. Kata Fuck sendiri bisa diartikan sebagai
bersetubuh, jika ditambah kata you berubah arti menjadi seseorang yang ingin
menyetubuhi seseorang.
Jadi, apakah masalah seorang Gubernur
mengacungkan jari tengah? Konon dia pernah tahu apa yang dilakukannya sebgai
penghinaan. Alasan yang naif sekaligus lucu, sih. Mungkin saking ‘nasionalismenya’,
beliau kurang memerhatikan perkembangan dunia. Atau ‘jangan-jangan’ itu adalah
usaha untuk menggaet simpati terhadap
anak muda atau tak ubahnya beliau berfikir kalau acungan jari tengah sama
seperti simbol jari metal yang didefinisikan menurut dia adalah ‘salam damai’. Sisanya
yang tidak mafhum dengan simbol-simbol itu, hanya menggaruk bokong sambil
tertawa ngakak.
Lalu bagaimana kita dilempari
jari tengah atau kata fuck you? Kalo saya sih akan cuek aja. Toh itu bukan
produk budaya atau kebiasaan lokal kita. Jadi kalau saya dilempari simbol itu
saya akan melengos dan menertawai orang tersebut. kalau bener mau menghina
mending pakai bahasa lokan supaya lebih kena. XD
*
Remaja rela mengikuti selera
kelompoknya yang berbau negatif hanya untuk eksistensi dalam kelompoknya. Tidak
heran begitu banyak remaja yang mengumpat dengan berbagai cara supaya dianggap
keren, update, dan tidak berbau ‘orang tua’. Tapi saya bangga menjalani
masa-masa sebagai pelajar dengan positif. Kalaupun pakai simbol jari-jari, saya
akan menggunakan simbol jari berbentuk V untu berfoto dengan teman-teman. Ngasih
jempol ke teman-teman yang lulus ujian, nunjukkin kelingking tanda maafan,
ngasih gaya metal buat rock-rock-an, atau mengacungi telunjuk saat akan
menjawab pertanyaan guru di kelas. :D

