Yang namanya di katain, kalian pasti
pernah. Dikatain pecundanglah, homo, jelek, nggak gua, atau apapun yang ngebuat
kuping kamu panas dan hati kamu kebakaran. Mungkin klasik namun tidak salah,
kalau diam itu emas (diam sambil ngumpetin samurai). Nggak, ini beneran. Saya juga
punya cerita yang sama, berhadapan dengan orang nyolot. Kelihatannya saja baik,
kalau kita berbuat baik dengannya. Nggak tahu salah apa, saya jadi korban
dengan perkataannya yang bikin naik darah.
Usia tidak menunjukkan kedewasaan,
Intelektualitas tidak menunjukkan kematangan emosional
Marah tentu manusiawi. Siapa saja bisa
marah walau masalahnya hanya kecil. Hal yang kecil itu belum tentu kecil untuk
lain orang. Sedemikian orang mengetahui secara pasti penamplan sesorang yang
dewasa itu, bagaimana cara berpakaiannya, bagaimana menghadapi tantangan,
bagaimana membina bawahan, dan bagaimana pandangannya terhadap hidup ini.
Kedewasaan tidak
selalu berkaitan dengan intelegensi. Banyak orang yang sangat brilian namun
masih seperti kanak-kanak dalam hal penguasaan perasaannya, dalam keinginannya
untuk memperoleh perhatian dan cinta dari setiap orang, dalam bagaimana caranya
memperlakukan dirinya sendiri dan orang lain, dan dalam reaksinya terhadap
emosi. Namun, ketinggian intelektual seseorang bukan halangan untuk
mengembangkan kematangan emosi. Malah bukti-bukti menunjukkan keadaan yang
sebaliknya. Orang yang lebih cerdas cenderung mempunyai perkembangan emosi yang
lebih baik dan superior, serta mempunya kemampuan menyesuaikan diri atau
kematangan emosional yang lebih baik.
Kematangan
emosi ditandai dengan bagaimana konflik dipecahkan, bagaimana kesulitan
ditangani. Orang yang sudah dewasa memandanng kesulitan-kesulitannya bukan
sebagai malapetaka, tetapi sebagai tantangan-tantangan.
Sekilas
tentng kedewasaan dan kematangan emosi.
Dan kiatnya
adalah.. jeng-jeng:
