18 Maret 2012

Facebook Tidak untuk Anak-anak


Sering pastinya melihat anak yang melek facebook sampe ngangurin pekerjaan rumah. Miris rasanya  semudah itu mereka memalsukan tahun lahir mereka saat ingin membuat akun facebook. Mau tahu kenapa? Ya, karena facebook melarang usia di atas 13 tahun untuk mendaftar. Sayangnya orang tua nggak melek tentang ini.

Yang saya tahu sebuah facebook mempunya dua sisi yang protagonis dan antagonis. Facebook adalah jejaring sosial yang mencangkup dunia luas supaya dapat berinteraksi. Tujuan utamanya adalah mempertemukan teman lama, mengobrol (chatting) dengan semua teman yang ada di akun facebook dengan identitas dan foto yang jelas.  Dan kalian bisa mencari jodoh dan mendapat banyak teman. Dan kemudian, FB adalah life style! Yang nggak punya akun facebook dikatakan jadul dan tidak keren. Nggak di kota maupun di desa, demam FB sudah mewabah, begitulah. Bahkan banyak iklan provider yang memudahkan untuk masuk ke FB dengan biaya yang murah dan terjangkau.

Kalo di tanya, kenapa FB tidak cocok untuk anak-anak? Couse di amerika sama, para pedofilia menjerat korbannya menggunakan facebook. Isu ini pernah di bahas dalam acara Oprah Winfrey. Begitu mudahnya membuat akun FB dengan hitungan menit. Anak-anak yang memang polos dan tidak menaruh rasa curiga kepada orang lain, begitu mudahnya mereka terjerat dan menjadi mangsa yang empuk. Jadi, bagaimana jika hal ini terjadi pada anak, keponakkan, atau murid anda?

Di Indonesia sering maraknya kejahatan via facebook akibat janji manis seseorang. Dan ini terjadi pada kaum hawa yang ababil. Pernah terjadi pada ababil yang memang berusia 13 tahun, secara peraturan FB dia boleh menjadi anggota. Tapi, standard kedewasaan di amrik sana berbeda dengan standard kedewasaan di Asia. Perhatiin aja, mereka udah kenal yang namanya kissing (emang kissing apa *tampang polos). Sementara di kita? Umur 17 tahun keataslah yang sudah dewasa dan melek dosa. Usia dimana kita memiliki kematangan emosional.

FB yang tidak diawasi oleh orang tua, akan membuat kecenderungan pada anak-anak menjadi pribadi yang kasar. Lihat saja, ababilpun sering yang namanya update status yang kasar dan merangsang anak-anak yang melihatnya utnuk berkomentar. Kitapun tidak tahu mana teman kita yang anak-anak, tidak mungkinkan mengecek satu-satu. Karena masih kecil, pasti mereka memiliki kecenderunga untuk mengikuti gaya hidup orang dewasa, tidak semuanya positifkan? Mereka belum bisa menyaring mana yang baik dan mana yang buruk. Bisa saja mereka berkata kasar di dunia nyata. Jadi, bagaimana kalau hal ini terjadi pada anak anda, atau keponakkan anda?


Belum lagi demam facebook ada lagi yang namanya demam pacar-pacaran. Mereka sudah ganjen dan centil untuk meng-komentar status lawan jenis atau foto lawan jenis mereka. Belum saatnya anak SD sudah kenal dengan pacaran.

Anak-anak nggak boleh yang namanya main facebook. Kalau bisa orang tua dan guru sebaiknya selalu mengingatkan dan memberikan contoh yang baik, bahwa FB adalah makan untuk orang dewasa. Kalo emang mereka ‘terpaksa’ awasilah penggunaannya. Meski ini memang sulit, bahkan banyak warung internet yang bermunculan dan disusupi anak SD.

Pada akhirnya, semua ada pada masalah pilihan orangtua. Sewajarnya, anak-anak nggak boleh memakai barang-barang dewasa, FB, BlackBerry, handphone. Masih ingat anak lelaki yang dibantai karena ada orang jahat yang ingin mencuri BBnya? Ingin hal ini terjadi pada kerabat anda yang masih anak-anak? Maka ingatkanlah dari sekarang pada orangtua anak yang bersangkutan. Atau mengingatkan langsung kepada anak anda jika anda sudah beranak.