Sering pastinya melihat anak yang
melek facebook sampe ngangurin pekerjaan rumah. Miris rasanya semudah itu mereka memalsukan tahun lahir
mereka saat ingin membuat akun facebook. Mau tahu kenapa? Ya, karena facebook
melarang usia di atas 13 tahun untuk mendaftar. Sayangnya orang tua nggak melek
tentang ini.
Yang saya tahu sebuah facebook
mempunya dua sisi yang protagonis dan antagonis. Facebook adalah jejaring
sosial yang mencangkup dunia luas supaya dapat berinteraksi. Tujuan utamanya
adalah mempertemukan teman lama, mengobrol (chatting) dengan semua teman yang
ada di akun facebook dengan identitas dan foto yang jelas. Dan kalian bisa mencari jodoh dan mendapat
banyak teman. Dan kemudian, FB adalah life style! Yang nggak punya akun
facebook dikatakan jadul dan tidak keren. Nggak di kota maupun di desa, demam
FB sudah mewabah, begitulah. Bahkan banyak iklan provider yang memudahkan untuk
masuk ke FB dengan biaya yang murah dan terjangkau.
Kalo di tanya, kenapa FB tidak
cocok untuk anak-anak? Couse di amerika sama, para pedofilia menjerat korbannya
menggunakan facebook. Isu ini pernah di bahas dalam acara Oprah Winfrey. Begitu
mudahnya membuat akun FB dengan hitungan menit. Anak-anak yang memang polos dan
tidak menaruh rasa curiga kepada orang lain, begitu mudahnya mereka terjerat
dan menjadi mangsa yang empuk. Jadi, bagaimana jika hal ini terjadi pada anak,
keponakkan, atau murid anda?
Di Indonesia sering maraknya
kejahatan via facebook akibat janji manis seseorang. Dan ini terjadi pada kaum
hawa yang ababil. Pernah terjadi pada ababil yang memang berusia 13 tahun, secara
peraturan FB dia boleh menjadi anggota. Tapi, standard kedewasaan di amrik sana
berbeda dengan standard kedewasaan di Asia. Perhatiin aja, mereka udah kenal
yang namanya kissing (emang kissing apa *tampang polos). Sementara di kita? Umur
17 tahun keataslah yang sudah dewasa dan melek dosa. Usia dimana kita memiliki
kematangan emosional.
FB yang tidak diawasi oleh orang
tua, akan membuat kecenderungan pada anak-anak menjadi pribadi yang kasar. Lihat
saja, ababilpun sering yang namanya update status yang kasar dan merangsang
anak-anak yang melihatnya utnuk berkomentar. Kitapun tidak tahu mana teman kita
yang anak-anak, tidak mungkinkan mengecek satu-satu. Karena masih kecil, pasti
mereka memiliki kecenderunga untuk mengikuti gaya hidup orang dewasa, tidak
semuanya positifkan? Mereka belum bisa menyaring mana yang baik dan mana yang
buruk. Bisa saja mereka berkata kasar di dunia nyata. Jadi, bagaimana kalau hal
ini terjadi pada anak anda, atau keponakkan anda?
Belum lagi demam facebook ada
lagi yang namanya demam pacar-pacaran. Mereka sudah ganjen dan centil untuk meng-komentar status lawan jenis atau foto lawan jenis mereka. Belum saatnya anak SD sudah
kenal dengan pacaran.
Anak-anak nggak boleh yang
namanya main facebook. Kalau bisa orang tua dan guru sebaiknya selalu
mengingatkan dan memberikan contoh yang baik, bahwa FB adalah makan untuk orang
dewasa. Kalo emang mereka ‘terpaksa’ awasilah penggunaannya. Meski ini memang
sulit, bahkan banyak warung internet yang bermunculan dan disusupi anak SD.
Pada akhirnya, semua ada pada masalah
pilihan orangtua. Sewajarnya, anak-anak nggak boleh memakai barang-barang dewasa,
FB, BlackBerry, handphone. Masih ingat anak lelaki yang dibantai karena ada
orang jahat yang ingin mencuri BBnya? Ingin hal ini terjadi pada kerabat anda
yang masih anak-anak? Maka ingatkanlah dari sekarang pada orangtua anak yang
bersangkutan. Atau mengingatkan langsung kepada anak anda jika anda sudah
beranak.

