2 Januari 2012

Akibat Masa Depan


Cerita yang biasa dan penulis yang kemampuannya juga biasa. Jadi maklumilah kekurangan saya ini. ^-^. ini cerpen atau novel yak? soalnya ada kelanjutannya, terserah deh mau bilang apa. haha.
Aku berlari sekencangnya berharap tidak bertemu lagi dengan preman pasar itu. Bagaimana tidak bertemu, setiap harinya aku bekerja di pasar sebagai pengangkut beras dan preman itu sangat tidak iba mengambil uang yang tidak banyak dariku. Seharusnya aku tidak berada di pasar untuk bekerja keras demi keluarga. Dulunya aku bersekolah, karena seorang ayah pecundang aku putus sekolah dan ibu yang tegar membuat aku mempunyai tekad untuk bertahan hidup. Berharap menjadi orang sukses, begitulah kata Hendro sang kuli angkut. Ototnya setiap hari bekerja sehingga menghasilkan otot-otot yang kekar seperti seorang kuli bangunan. Pastinya ia punya cita-cita, yakni menjadi seorang dokter tidak memuluk dokter umum saja sudah cukup, tapi, begitu mahalnya pendidikan baginya.

Ibu tidak akan semurung ini, waktu aku berumur 3 tahun lelaki yang tidak bertanggung jawab itu meninggalkan ibuku dan aku di rumah yang sudah tidak layak tinggal dengan membawa kakak perempuanku yang ber-umur 5 tahun dan di saat itu pula aku putus sekolah karena yang mencari nafkah selama ini adalah ayah dan Ibu yang seorang Ibu rumah tangga. Aku tidak akan beranjak dari naungan ibuku yang sudah melahirkanku, mesikipun seorang ayah pecundang yang sudah sukses di Jakarta bersama Kakak perempuanku dan menyuruhku untuk bersamanya, itu tidak akan terjadi. 

***

Nyawaku kini tidak utuh lagi, terbang memantul di langit saat semua terasa sepi, yang ada dipikiran hanyalah apa yang ingin aku lakukan setelah ini, setelah semua pergi dan tidak kembali.  Ibuku meninggal dunia dengan tidak layak, mati karena meminum obat nyamuk dan keputus asaan. Dengan segala kekurangan ini aku melaju dengan kencangnya ke pentas dunia yang luas, bermodal tekad dan keinginan tak sampai.

Mencoba peruntungan di Jakarta atau menjadi gembel di Jakarta. Ini urusan nanti, aku pergi ke Jakarta menaiki kendaraan seadanya untuk mencari pekerjaan yang layak dengan ijazah lulusan SMP. Dalam perjalan aku selalu berfikir dengan apa yang aku lakukan ini, apakah aku seorang anak bodoh yang ingin menghadapi ajal?. Aku berpura-pura tegar padahal hati ini penuh dengan ketidaktenangan.

Perempuan seksi selalu ada di pinggir jalan, apakah ini Jakarta. Tidak salah lagi, ini memang Jakarta kota padat penduduk dengan tingkat kriminalitas yang tinggi. Berjalan melintasi taman-taman kota sambil memanggul tas yang berat, terik mata hari membakar kulit hitam sawo.

Perut sudah berjoget bak sedang berdisco ini mengaung-ngaung bak harimau. Aku harus menghemat uang tabunganku selama ini. Walaupun ini warung tapi terlihat bersih, pakai nasi, tahu dan tempe perutku sudah kenyang. 

Selang waktu berjalan, upayaku untuk mencari pekerjaan hasilnya nihil nol besar. Di sela-sela perjalanan, di tempat sepi tidak berpengunjung ini, aku melihat seorang perempuan cantik sedang di goda oleh 3 orang preman dari kampung sama seperti aku. Tas yang aku bawa, aku lempar, dengan secepat kilat aku berlari ke arahnya dan memukul salah satu preman. Preman itu terjungkal dan preman lainnya memberi ancang-ancang untuk memukulku, dengan kemampuan silat yang aku pelajari sewaktu SMP, aku menangkisnya dan memukulnyan dengan jurus memukul tanpa bayangan, preman yang ke-3 membawa balok kayu dan memukul ke arahku, cukup hebat namun aku menendang bagian anu-nya, ngilu pastinya, mereka berlari seperti mencari toilet kerena sudah di ujung tombak.

Perempuan itu berterimakasih dan senyumnya sangat indah, dia cantik dan kaya, terlihat dari pakaian dan perhiasan yang ia pakai. Dengan membalas senyum, aku pamit untuk mencari pekerjaan.

“Hey, tunggu.” Ia menghampiriku. “Kau ingin pergi kemana?” tanyanya,

“Hmm, tanpa tujuan. Hanya sampai mendapat pekerjaan.”

Perempuan itu tersenyum lebar. “Sebagai balas budiku, maukah kau bekerja di perusahaanku, perusahaanku membutuhkan seorang OB.”

“Benar Mba? Tapi saya hanya lulusan SMP, bagaimana kalau bisa bekerja di perusahaan?”

“Tenang itu bisa diatur, oh iya siapa namamu?”

“Saya Hendro, Hendro Rahman mba.”

“Hendro ya, jangan panggil saya Mba, panggil saja Heni. Oke ini kartu nama saya, di situ ada alamat perusahaan saya. Kau bisa datang besok jam tujuh pagi.” Sambil memberi kartu namanya dan pergi dengan mobilnya.

“Tunggu mba, emm, maksud saya Heni.”

Heni berhenti dan menoleh ke arah Hendro.

“Terimakasih.”

Ia hanya tersenyum, tapi senyumnya cukup untuk menjawab semua pertanyaanku.

Untungnya aku membawa baju kemeja dan celana panjang milik Ayahku yang tertinggal di rumah, ini aku pakai untuk melamar kerta dan tidak lupa dengan suratnya. Ini peluang besar untukku meskipun hanya bermodal ijazah SMP dan ruh yang masih segar untuk bergerak aku menghadapi pentas dunia nan megah di jakarta, meskiun aku hanya berdiri sebagai OB, tidak ada applause atau tanda tangan.

Di sore yang gembira ini aku melamun di bangku taman, merenung sendiri akan betapa baiknya Tuhan kepadaku. Ia memberikan kebaikkan-kebaikkan untukku, kalau sudah seperti ini tidak akan putus asa karena tahu betapa sayangnya Tuhan ke padaku.

Sekarang yang menjadi permasalahan adalah tempat tinggal. Masjid sederhana di tengan kota nan ramai ini menjadi tempat tinggal sementara, tidak tinggal dan tidur seenaknya, aku membantu penjaga masjid yang aku relakan istirahat sejenak untuk meinggalkan pekerjaannya mengurus masjid dan aku menggantikannya. Tidak lupa untuk menunaikan kewajiban Sholat lima waku dan membaca Al-Qur’an, untungnya aku membawanya. Tidur kali ini terasa tenang, beban dan amarah lepas sudah, meskipun pekerjaanku belum menentu.

***

Pagi yang indah untuk mengawali perjalanan yang mungkin akan panjang. Sebelum itu aku meminta doa pada Bapak Jaenal, penjaga masjid. Sebelum naik angkutan umum aku bertanya dulu pada supir untuk menuju tempat yang dituju. Ternyata kalau ingin sampai di perusahaan tersebut harus naik Bus mini dua kali, ongkosnya hanya 5000 rupiah.

Akhirnya sampailah aku di perusahaan nan megah tertatap jelas di depan mataku, Jakarta kau memang sangat modern. Dengan membaca Basmallah aku memasukinya. Walaupun wajahku tidak setampan dan sebening wajah orang-orang disini aku tetap percaya diri, toh semua orang sama hanya amal ibadah yang membedakannya. Aku masuk lalupergi ke Receptionist untuk mencari nona yang ada di kartu nama ini, orang ini menanyakan namaku dan menelfon seseorang. Setelah beberapa detik aku di suruh pergi ke lantai dua ruang managemen, mungkin di sana tempat nona Heni bekerja.

Aku mengetuk pintu yang tertulis jelas dengan papan bertuliskan ‘managemen’ dan aku temukan wanita cantik sedang menggoreskan penanya di kertas. Heni menatapku senang dengan wajah yang segar. 

“Oh, kamu Hendro. Sudah lama saya menunggu kamu.”

“Maaf mba, udah ngebuat mba nunggu lama.”

“Kan sudah saya bilang jangan panggil saya mba, panggil saja Heni. Ayo Hendro silahkan duduk.”

“Makasih mba.. eh Heni. Waduhh, rasanya saya nggak enak ngomong nama langsung.”

“Okelah nggak masalah, sekarang langsung saja ke tujuan kamu datang.”

“Oh iya, ini surat lamaran pekerjaan saya.” Heni menerima dan membukanya.

Meskipun aku dari orang kampung, aku masih bisa membuat lamaran kerja, soalnya dulu aku juga pernah melamar kerja tapi hasilnya yang nihil.

Tidak lama Heni tersenyum dan menyatakan di terimanya kau bekerja di perusahaan ini sebagi OB. Setelah itu aku panjatkan syukur kepada Allah yang telah memberiku semua ini. Baru kali ini aku di terima bekerja apalagi di perusahaan modern di Jakarta, aku termasuk yang beruntung, kata Mba Heni, masih banyak orang yang susah payah dari kampung ke Jakarta untuk mencari kerja dan hasilnya nol besar. 

“Kamu belum menjadi pegawai tetap di sini. Saya akan melihat perkembangan kerjamu selama satu bulan, jika pekerjaan yang kamu lakukan baik, kamu akan menjadi pegawai tetap disini, jika yang kamu lakukan buruk tidak segan-segan saya memecatmu. Hari ini, kamu sudah bisa bekerja. Dan silahkan kamu ke lantai tiga ruang pegawai, oke. Silahkan.” 

“Makasih banyak mba, bagaimana saya membalas budinya?”

“Loh, kan ini balas budi saya, setelah kamu menolong saya waktu saya di jambret preman.”

“Baik mba, saya akan bekerja untuk perusahaan ini, do’akan saya Mba Heni.” Hendro dengan penuh semangat.

Heni tersenyum, ia menerka kalau ia tidak salah untuk memasukkan pegawai seperti Hendro yang penuh semangat.

Bagaimana kelanjutan cerita dimana Hendro memulai pekerjaan barunya sebagai OB di sebuah perusahaan yang megah, dimana ia hanya bermodal ijazah SMP dan kemampuan yang pas-pasan. Tunggu kelanjutannya. ^-^


To Be Continued...