Cerita yang biasa dan penulis yang kemampuannya juga biasa. Jadi maklumilah kekurangan saya ini. ^-^. ini cerpen atau novel yak? soalnya ada kelanjutannya, terserah deh mau bilang apa. haha.
Ibu tidak akan semurung ini, waktu
aku berumur 3 tahun lelaki yang tidak bertanggung jawab itu meninggalkan ibuku dan
aku di rumah yang sudah tidak layak tinggal dengan membawa kakak perempuanku
yang ber-umur 5 tahun dan di saat itu pula aku putus sekolah karena yang
mencari nafkah selama ini adalah ayah dan Ibu yang seorang Ibu rumah tangga.
Aku tidak akan beranjak dari naungan ibuku yang sudah melahirkanku, mesikipun
seorang ayah pecundang yang sudah sukses di Jakarta bersama Kakak perempuanku
dan menyuruhku untuk bersamanya, itu tidak akan terjadi.
***
Nyawaku kini tidak utuh lagi,
terbang memantul di langit saat semua terasa sepi, yang ada dipikiran hanyalah
apa yang ingin aku lakukan setelah ini, setelah semua pergi dan tidak
kembali. Ibuku meninggal dunia dengan
tidak layak, mati karena meminum obat nyamuk dan keputus asaan. Dengan segala
kekurangan ini aku melaju dengan kencangnya ke pentas dunia yang luas, bermodal
tekad dan keinginan tak sampai.
Mencoba peruntungan di Jakarta
atau menjadi gembel di Jakarta. Ini urusan nanti, aku pergi ke Jakarta menaiki
kendaraan seadanya untuk mencari pekerjaan yang layak dengan ijazah lulusan SMP.
Dalam perjalan aku selalu berfikir dengan apa yang aku lakukan ini, apakah aku
seorang anak bodoh yang ingin menghadapi ajal?. Aku berpura-pura tegar padahal
hati ini penuh dengan ketidaktenangan.
Perempuan seksi selalu ada di
pinggir jalan, apakah ini Jakarta. Tidak salah lagi, ini memang Jakarta kota
padat penduduk dengan tingkat kriminalitas yang tinggi. Berjalan melintasi
taman-taman kota sambil memanggul tas yang berat, terik mata hari membakar
kulit hitam sawo.
Perut sudah berjoget bak sedang
berdisco ini mengaung-ngaung bak harimau. Aku harus menghemat uang tabunganku
selama ini. Walaupun ini warung tapi terlihat bersih, pakai nasi, tahu dan
tempe perutku sudah kenyang.
Selang waktu berjalan, upayaku
untuk mencari pekerjaan hasilnya nihil nol besar. Di sela-sela perjalanan, di
tempat sepi tidak berpengunjung ini, aku melihat seorang perempuan cantik
sedang di goda oleh 3 orang preman dari kampung sama seperti aku. Tas yang aku
bawa, aku lempar, dengan secepat kilat aku berlari ke arahnya dan memukul salah
satu preman. Preman itu terjungkal dan preman lainnya memberi ancang-ancang
untuk memukulku, dengan kemampuan silat yang aku pelajari sewaktu SMP, aku
menangkisnya dan memukulnyan dengan jurus memukul tanpa bayangan, preman yang
ke-3 membawa balok kayu dan memukul ke arahku, cukup hebat namun aku menendang
bagian anu-nya, ngilu pastinya, mereka berlari seperti mencari toilet kerena
sudah di ujung tombak.
Perempuan itu berterimakasih dan
senyumnya sangat indah, dia cantik dan kaya, terlihat dari pakaian dan
perhiasan yang ia pakai. Dengan membalas senyum, aku pamit untuk mencari
pekerjaan.
“Hey, tunggu.” Ia menghampiriku.
“Kau ingin pergi kemana?” tanyanya,
“Hmm, tanpa tujuan. Hanya sampai
mendapat pekerjaan.”
Perempuan itu tersenyum lebar.
“Sebagai balas budiku, maukah kau bekerja di perusahaanku, perusahaanku
membutuhkan seorang OB.”
“Benar Mba? Tapi saya hanya
lulusan SMP, bagaimana kalau bisa bekerja di perusahaan?”
“Tenang itu bisa diatur, oh iya
siapa namamu?”
“Saya Hendro, Hendro Rahman mba.”
“Hendro ya, jangan panggil saya
Mba, panggil saja Heni. Oke ini kartu nama saya,
di situ ada alamat perusahaan saya. Kau bisa datang besok jam tujuh pagi.”
Sambil memberi kartu namanya dan pergi dengan mobilnya.
“Tunggu mba, emm, maksud saya
Heni.”
Heni berhenti dan menoleh ke arah
Hendro.
“Terimakasih.”
Ia hanya tersenyum, tapi senyumnya
cukup untuk menjawab semua pertanyaanku.
Untungnya aku membawa baju kemeja
dan celana panjang milik Ayahku yang tertinggal di rumah, ini aku pakai untuk
melamar kerta dan tidak lupa dengan suratnya. Ini peluang besar untukku
meskipun hanya bermodal ijazah SMP dan ruh yang masih segar untuk bergerak aku
menghadapi pentas dunia nan megah di jakarta, meskiun aku hanya berdiri sebagai
OB, tidak ada applause atau tanda
tangan.
Di sore yang gembira ini aku
melamun di bangku taman, merenung sendiri akan betapa baiknya Tuhan kepadaku.
Ia memberikan kebaikkan-kebaikkan untukku, kalau sudah seperti ini tidak akan
putus asa karena tahu betapa sayangnya Tuhan ke padaku.
Sekarang yang menjadi
permasalahan adalah tempat tinggal. Masjid sederhana di tengan kota nan ramai
ini menjadi tempat tinggal sementara, tidak tinggal dan tidur seenaknya, aku
membantu penjaga masjid yang aku relakan istirahat sejenak untuk meinggalkan
pekerjaannya mengurus masjid dan aku menggantikannya. Tidak lupa untuk
menunaikan kewajiban Sholat lima waku dan membaca Al-Qur’an, untungnya aku
membawanya. Tidur kali ini terasa tenang, beban dan amarah lepas sudah,
meskipun pekerjaanku belum menentu.
***
Pagi yang indah untuk mengawali perjalanan
yang mungkin akan panjang. Sebelum itu aku meminta doa pada Bapak Jaenal,
penjaga masjid. Sebelum naik angkutan umum aku bertanya dulu pada supir untuk
menuju tempat yang dituju. Ternyata kalau ingin sampai di perusahaan tersebut
harus naik Bus mini dua kali, ongkosnya hanya 5000 rupiah.
Akhirnya sampailah aku di
perusahaan nan megah tertatap jelas di depan mataku, Jakarta kau memang sangat
modern. Dengan membaca Basmallah aku memasukinya. Walaupun wajahku tidak
setampan dan sebening wajah orang-orang disini aku tetap percaya diri, toh
semua orang sama hanya amal ibadah yang membedakannya. Aku masuk lalupergi ke Receptionist
untuk mencari nona yang ada di kartu nama ini, orang ini menanyakan namaku dan menelfon
seseorang. Setelah beberapa detik aku di suruh pergi ke lantai dua ruang
managemen, mungkin di sana tempat nona Heni bekerja.
Aku mengetuk pintu yang tertulis
jelas dengan papan bertuliskan ‘managemen’ dan aku temukan wanita cantik sedang
menggoreskan penanya di kertas. Heni menatapku senang dengan wajah yang segar.
“Oh, kamu Hendro. Sudah lama saya
menunggu kamu.”
“Maaf mba, udah ngebuat mba
nunggu lama.”
“Kan sudah saya bilang jangan
panggil saya mba, panggil saja Heni. Ayo Hendro silahkan duduk.”
“Makasih mba.. eh Heni. Waduhh,
rasanya saya nggak enak ngomong nama langsung.”
“Okelah nggak masalah, sekarang
langsung saja ke tujuan kamu datang.”
“Oh iya, ini surat lamaran
pekerjaan saya.” Heni menerima dan membukanya.
Meskipun aku dari orang kampung,
aku masih bisa membuat lamaran kerja, soalnya dulu aku juga pernah melamar
kerja tapi hasilnya yang nihil.
Tidak lama Heni tersenyum dan
menyatakan di terimanya kau bekerja di perusahaan ini sebagi OB. Setelah itu
aku panjatkan syukur kepada Allah yang telah memberiku semua ini. Baru kali ini
aku di terima bekerja apalagi di perusahaan modern di Jakarta, aku termasuk
yang beruntung, kata Mba Heni, masih banyak orang yang susah payah dari kampung
ke Jakarta untuk mencari kerja dan hasilnya nol besar.
“Kamu belum menjadi pegawai tetap
di sini. Saya akan melihat perkembangan kerjamu selama satu bulan, jika
pekerjaan yang kamu lakukan baik, kamu akan menjadi pegawai tetap disini, jika
yang kamu lakukan buruk tidak segan-segan saya memecatmu. Hari ini, kamu sudah
bisa bekerja. Dan silahkan kamu ke lantai tiga ruang pegawai, oke. Silahkan.”
“Makasih banyak mba, bagaimana
saya membalas budinya?”
“Loh, kan ini balas budi saya,
setelah kamu menolong saya waktu saya di jambret preman.”
“Baik mba, saya akan bekerja
untuk perusahaan ini, do’akan saya Mba Heni.” Hendro dengan penuh semangat.
Heni tersenyum, ia menerka kalau
ia tidak salah untuk memasukkan pegawai seperti Hendro yang penuh semangat.
Bagaimana kelanjutan cerita
dimana Hendro memulai pekerjaan barunya sebagai OB di sebuah perusahaan yang
megah, dimana ia hanya bermodal ijazah SMP dan kemampuan yang pas-pasan. Tunggu
kelanjutannya. ^-^
To Be Continued...