12 Januari 2012

Akibat Masa Depan (Part 2)


Aku menuju lantai tiga dan memasuki ruang pegawai khususnya OB. Saat ini adalah jam pegawai untuk istirahat. Tidak aku sangka aku di sambut dengan hangat di ruangan ini, mungkin Heni yang telah membicarakan ini, baguslah kalau seperti ini, aku tidak perlu lama untuk mengenal mereka. Sekitar 18 orang yang bekerja ditambah aku menjadi 19.

Aku bersiap dengan seragam khusus OB. Lalu salah satu OB di sini yang bernama Santo membantuku untuk mengetahui ruangan yang ada di perusahaan ini sambil memperkenalkanku pada pegawai yang ada di situ. Pegawainya sangat ramah dan murah senyum pasti betah berlama-lama di sini, pikirku.

OB di sini mengajariku tentang tata cara santun kepada setiap pegawai dan cara menyajikan apa yang sering mereka pimta terutama kepada OB, misalkan segelas kopi, teh, makanan ringan, atau hanya sekedar menyuruh membelikan sesuatu. Dengan pembawaan bicara OB di sini aku merasa tertarik untuk bekerja di sini.

Di saat aku dan Santo mengobrol terdengar suara telepon berbunyi di sudut ruangan mendekati pintu,“Kringgg”. Santo yang berada dekat telepon lalu mengangkat telepon itu, sekitar 5 detik tanpa basa-basi langsung saja Santo mengatakan “iya Pak, iya, iya iya.” Heu, terlihat orang yang sedang berbicara di seberang sana sangat cerewet sampai OB mengulangnya kata ‘iya’ 4 kali atau mungkin lebih.

“Hendro, ini tugas pertama untukmu, ayo buatkan kopi untuk Bapak Sindy di lantai 4, kau tahukan orangnya?” Tegas Santo usai menutup telepon.

“Baik, akan segera saya laksanakan.” Tegas Hendro dan berjalan dengan cepat ke arah dapur tidak jauh dari tempat ia berdiri. Gelas yang ia masukkan dua sendok kopi dan satu sendot gula, ditambah air panas lalu ia mengaduknya, setelah pelajaran yang tadi diberikan oleh Santo, aku tidak ingin membuat kesalahan dalam bekerja. Segera dengan cepat namun hati-hati aku pergi ke ruang Bapak Sindy. “Permisi Pak ini kopinya.” Lalu aku taruh segelas kopi di mejanya. Kumis indahnya seperti sayur kubis sewaktu aku angkut di pasar, itu bisa di sisir. Dia hanya menganguk, sepertinya ia sibuk, tadinya ingin aku tanyakan rasa kopi yang sudah aku sediakan, yasudah tidak jadi deh.

“Hendro ya?” Tanya salah satu pegawai perempuan di sana, dengan body seksi dan kulit putih dan ia memakai Behel ditambah lagi make up-nya yang tebal dan alis palsu penangkal petir.

“Hmm, Iya mba, saya Hendro.”

Tante itu melambaikan ke-lima jarinya ke tas ke bawah, dan seperti ajakan untuk datang kepadanya. Sebagai pegawai yang baik aku menghampirinya.

“Iya mba ada apa.”

“Kamu OB baru ya di sini?” Dengan senyum yang melihatkan behel yang berwarna-warni itu.

“Iya, mba betul.”

“Ayolah, jangan paling saya mba. Panggil saja Jenny.” Senyumnya lagi.

“Atuh mba nggak enak kalau seperti itu, mari mba saya masih ada tugas.” Senyum kecut dariku.

“Tunggu lah di sini sebentar. Kamu udah punya cewe belum?”

What? Mba ini menanyakan hal gila kepadaku, biasanya tipikal perempuan seperti ini perempuan yang genit, manja. Atau hanya sekedar ingin tahu, atau ingin mendaftar, haa, sudahlah mana mungkin lelaki miskin bin kere macamku dapat perempuan yang kaya, cantik, dan seksi seperti mba ini.

“Mmm, belum mba.” Senyum memaksa.

“Hmm, masa sih? Cowo macho seperti kamu masa’ belum punya pacar.”

Memang ini otot bekas mengangkut barang yang berat dan jadilah otot-otot ini, tapi kenapa mba ini merayu dan memujiku dengan senyum ‘ingin’nya.

“Hahaha, mba yang satu ini bisa saja memujinya. Maaf mba saya harus bekerja lagi.” Senyum Hendro.

Bergegas pergi karena takut di kejar tante-tante girang. Santo juga mengajariku untuk profesional dalam bekerja, apalagi masalah perempuan yang di katakan Santo, kalau ada beberapa yang memang sudah menikah namun masih saja genit dengan lawan jenisnya. Ya, aku percaya itu karena baru saja aku mengalaminya.

“Tipikal orang di sini memang ramah tapi ada saja yang memang tidak di sukai oleh pegawai lain karena kelakuannya, jadi kau sabar saja dulu nanti kau juga akan terbiasa.” Ucap Santo.

Ucapan itu cukup mengobati hati ini yang kacau karena habis di goda kalong nyasar. Ini Jakarta, aku menyadarinya dan itu sangat sakit bagiku, aku terlantar, dan nyasar di sebuah perusahaan yang berbeda jauh dari kampungku selama ini. Lika-liku pasti ada, tidak mungkin akan selalu tenang seperti air di ember, pasti akan tergoncang seperti di hempas ombak laut.

Baru bekerja satu hari, aku sudah mendapat ‘musibah’ macam ini, bagaimana jika besok, lusa, keesokkan lagi, satu minggu lagi, atau satu bulan lagi. Sudahlah Hendro jalani saja, kau sudah beruntung ada di sini. Sepertinya mereka sudah lelah dengan pekerjaan yang membosankan ini.

Sewaktu jam istirahat aku mencoba berkenalan dengan pegawai OB yang ada di ruangan ini. Salah satunya Wanto, dia menjabarkan masa lalu yang kelamnya. Dulunya dia orang kampung sepertiku, Ayahnya adalah juragan minyak yang tentunya kaya. Tapi Wanto merasa keberatan karena ingin di jodohkan. Akhirnya dia lari ke sini, Jakarta. Dia tidak tahan dengan kegiatan di kampung apalagi kalau di jodohkan. Setelah berfikir panjang, Wanto memutuskan untuk pergi ke kota membawa uang tabungannya dan tidak pamit dengan Ayahnya melainkan pada Ibunya. Cerita Wanto mengingatkanku dengan Kakak perempuanku yang jika sudah besar ia ingin di jodohkan dengan anak juragan jengkol, dan sebelum semua itu terjadi Ayah membawanya karena ialah anak kesangannya, dia tidak hanya cantik namun juga pintar. Kalau aku mungkin kebalikan dari semua itu.

Masih banyak yang tidak aku kenal di perusahaan ini. Aku harus memperbanyak teman di kota nan luas ini, mungkin mereka akan membantuku di kala aku susah, dan memanfaatkannya, memang itu strategi licik tapi haruslah begitu kalau hendak tinggal di Jakarta. Teman sangat penting di Kota ini.

Pulang dengan membawa lelah sepertinya sudah biasa bagi mereka. Bagiku juga, karena setiap hari aku melakukan pekerjaan yang melelahkan di kapung, memikul beras yang beratnya berkilo-kilo. Tidak lupa Sholat Isya aku pulang dengan naik mini bus dua kali untuk sampai. Untungnya di sana di sediakan makanan yang cukup mengenyangkan dan sekarang perut ku sudah mengisyaratkan dengan bunyi karena lapar. Aku mampir di warung makan untuk memesan dua porsi nasi padang, untukku satu dan untuk Pak Mulyadi satu, penjaga masjid. Pak Mulyadi merasa sengang sudah di bawakan makanan yang akau bawakan, akupun senang melihat Pak Mulyadi dengan lahapnya menyantap nasi Padangnya. Ternyata membuat orang senang karena perbuatan kita, itu akan berdampak baik bagi diri kita sendiri.

***

SELASAII...!
Eittsss enak aja, masih panjang, tunggu cerita berikutnya.. :D