Aku menuju lantai tiga dan
memasuki ruang pegawai khususnya OB. Saat ini adalah jam pegawai untuk
istirahat. Tidak aku sangka aku di sambut dengan hangat di ruangan ini, mungkin
Heni yang telah membicarakan ini, baguslah kalau seperti ini, aku tidak perlu
lama untuk mengenal mereka. Sekitar 18 orang yang bekerja ditambah aku menjadi
19.
Aku bersiap dengan seragam khusus
OB. Lalu salah satu OB di sini yang bernama Santo membantuku untuk mengetahui
ruangan yang ada di perusahaan ini sambil memperkenalkanku pada pegawai yang
ada di situ. Pegawainya sangat ramah dan murah senyum pasti betah berlama-lama
di sini, pikirku.
OB di sini mengajariku tentang
tata cara santun kepada setiap pegawai dan cara menyajikan apa yang sering
mereka pimta terutama kepada OB, misalkan segelas kopi, teh, makanan ringan,
atau hanya sekedar menyuruh membelikan sesuatu. Dengan pembawaan bicara OB di
sini aku merasa tertarik untuk bekerja di sini.
Di saat aku dan Santo mengobrol
terdengar suara telepon berbunyi di sudut ruangan mendekati pintu,“Kringgg”. Santo
yang berada dekat telepon lalu mengangkat telepon itu, sekitar 5 detik tanpa
basa-basi langsung saja Santo mengatakan “iya Pak, iya, iya iya.” Heu, terlihat
orang yang sedang berbicara di seberang sana sangat cerewet sampai OB
mengulangnya kata ‘iya’ 4 kali atau mungkin lebih.
“Hendro, ini tugas pertama
untukmu, ayo buatkan kopi untuk Bapak Sindy di lantai 4, kau tahukan orangnya?”
Tegas Santo usai menutup telepon.
“Baik, akan segera saya laksanakan.”
Tegas Hendro dan berjalan dengan cepat ke arah dapur tidak jauh dari tempat ia
berdiri. Gelas yang ia masukkan dua sendok kopi dan satu sendot gula, ditambah
air panas lalu ia mengaduknya, setelah pelajaran yang tadi diberikan oleh
Santo, aku tidak ingin membuat kesalahan dalam bekerja. Segera dengan cepat
namun hati-hati aku pergi ke ruang Bapak Sindy. “Permisi Pak ini kopinya.” Lalu
aku taruh segelas kopi di mejanya. Kumis indahnya seperti sayur kubis sewaktu
aku angkut di pasar, itu bisa di sisir. Dia hanya menganguk, sepertinya ia
sibuk, tadinya ingin aku tanyakan rasa kopi yang sudah aku sediakan, yasudah
tidak jadi deh.
“Hendro ya?” Tanya salah satu
pegawai perempuan di sana, dengan body seksi dan kulit putih dan ia memakai
Behel ditambah lagi make up-nya yang tebal dan alis palsu penangkal petir.
“Hmm, Iya mba, saya Hendro.”
Tante itu melambaikan ke-lima
jarinya ke tas ke bawah, dan seperti ajakan untuk datang kepadanya. Sebagai
pegawai yang baik aku menghampirinya.
“Iya mba ada apa.”
“Kamu OB baru ya di sini?” Dengan
senyum yang melihatkan behel yang berwarna-warni itu.
“Iya, mba betul.”
“Ayolah, jangan paling saya mba.
Panggil saja Jenny.” Senyumnya lagi.
“Atuh mba nggak enak kalau
seperti itu, mari mba saya masih ada tugas.” Senyum kecut dariku.
“Tunggu lah di sini sebentar.
Kamu udah punya cewe belum?”
What? Mba ini menanyakan hal gila
kepadaku, biasanya tipikal perempuan seperti ini perempuan yang genit, manja.
Atau hanya sekedar ingin tahu, atau ingin mendaftar, haa, sudahlah mana mungkin
lelaki miskin bin kere macamku dapat perempuan yang kaya, cantik, dan seksi
seperti mba ini.
“Mmm, belum mba.” Senyum memaksa.
“Hmm, masa sih? Cowo macho
seperti kamu masa’ belum punya pacar.”
Memang ini otot bekas mengangkut
barang yang berat dan jadilah otot-otot ini, tapi kenapa mba ini merayu dan
memujiku dengan senyum ‘ingin’nya.
“Hahaha, mba yang satu ini bisa
saja memujinya. Maaf mba saya harus bekerja lagi.” Senyum Hendro.
Bergegas pergi karena takut di
kejar tante-tante girang. Santo juga mengajariku untuk profesional dalam
bekerja, apalagi masalah perempuan yang di katakan Santo, kalau ada beberapa
yang memang sudah menikah namun masih saja genit dengan lawan jenisnya. Ya, aku
percaya itu karena baru saja aku mengalaminya.
“Tipikal orang di sini memang
ramah tapi ada saja yang memang tidak di sukai oleh pegawai lain karena
kelakuannya, jadi kau sabar saja dulu nanti kau juga akan terbiasa.” Ucap Santo.
Ucapan itu cukup mengobati hati
ini yang kacau karena habis di goda kalong nyasar. Ini Jakarta, aku menyadarinya
dan itu sangat sakit bagiku, aku terlantar, dan nyasar di sebuah perusahaan
yang berbeda jauh dari kampungku selama ini. Lika-liku pasti ada, tidak mungkin
akan selalu tenang seperti air di ember, pasti akan tergoncang seperti di
hempas ombak laut.
Baru bekerja satu hari, aku sudah
mendapat ‘musibah’ macam ini, bagaimana jika besok, lusa, keesokkan lagi, satu
minggu lagi, atau satu bulan lagi. Sudahlah Hendro jalani saja, kau sudah
beruntung ada di sini. Sepertinya mereka sudah lelah dengan pekerjaan yang
membosankan ini.
Sewaktu jam istirahat aku mencoba
berkenalan dengan pegawai OB yang ada di ruangan ini. Salah satunya Wanto, dia
menjabarkan masa lalu yang kelamnya. Dulunya dia orang kampung sepertiku,
Ayahnya adalah juragan minyak yang tentunya kaya. Tapi Wanto merasa keberatan
karena ingin di jodohkan. Akhirnya dia lari ke sini, Jakarta. Dia tidak tahan
dengan kegiatan di kampung apalagi kalau di jodohkan. Setelah berfikir panjang,
Wanto memutuskan untuk pergi ke kota membawa uang tabungannya dan tidak pamit
dengan Ayahnya melainkan pada Ibunya. Cerita Wanto mengingatkanku dengan Kakak
perempuanku yang jika sudah besar ia ingin di jodohkan dengan anak juragan
jengkol, dan sebelum semua itu terjadi Ayah membawanya karena ialah anak kesangannya,
dia tidak hanya cantik namun juga pintar. Kalau aku mungkin kebalikan dari
semua itu.
Masih banyak yang tidak aku kenal
di perusahaan ini. Aku harus memperbanyak teman di kota nan luas ini, mungkin
mereka akan membantuku di kala aku susah, dan memanfaatkannya, memang itu
strategi licik tapi haruslah begitu kalau hendak tinggal di Jakarta. Teman
sangat penting di Kota ini.
Pulang dengan membawa lelah
sepertinya sudah biasa bagi mereka. Bagiku juga, karena setiap hari aku
melakukan pekerjaan yang melelahkan di kapung, memikul beras yang beratnya
berkilo-kilo. Tidak lupa Sholat Isya aku pulang dengan naik mini bus dua kali
untuk sampai. Untungnya di sana di sediakan makanan yang cukup mengenyangkan
dan sekarang perut ku sudah mengisyaratkan dengan bunyi karena lapar. Aku
mampir di warung makan untuk memesan dua porsi nasi padang, untukku satu dan
untuk Pak Mulyadi satu, penjaga masjid. Pak Mulyadi merasa sengang sudah di
bawakan makanan yang akau bawakan, akupun senang melihat Pak Mulyadi dengan
lahapnya menyantap nasi Padangnya. Ternyata membuat orang senang karena
perbuatan kita, itu akan berdampak baik bagi diri kita sendiri.
***
SELASAII...!
Eittsss enak aja, masih panjang, tunggu cerita berikutnya.. :D