22 Februari 2012

Cinta Genta dan si Tomboy


Rena, cewe tomboy dan lugu ini sangat enak di pandang mata, kata Genta. Cewe satu ini membuat Genta senyum sendiri saat memikirkannya karena bayangannya selalu ada di benaknya. Dengan potongan rambut panjang, kulit hitam manis menambah pesona dan matanya yang indah tapi Genta menyayangkan kalau Rena cewe tomboy. Semua temannya setuju kalau Genta nggak cocok memiliki Rena yang jauh dari mantan Genta sebelumnya, sangat feminim dan cocok dengan Genta.

Kedekatan mereka begitu dekat seperti kotak surat dan perangko. Mereka dekat karena mempunyai satu hobby yaitu main basket, walaupun Rena perempuan, dia tidak sembarang memainkan bola besar itu. Genta sempat kelelahan menghadapi cewe yang satu ini dan itu membuat Genta lebih semangat untuk mendapatkannya.

Suatu hari di sekolah, mereka sering ngobrol bareng.

“Eh, Twa nwantiw sworwe mwawen bwaskwet diw lwapwangwan ywa.” Tanya Rena dengan bakso yang masih di kunyahnya.

Gena senyum sendiri melihat tingkah lakunya. “Kalo mau ngomong abisin dulu tuh makanan di mulut.”

“Owh, Mwawaf.” Rena mengambil minum dan berhenti sejenak sampai makanan masuk kedalam perut.

“Nanti sore maen basket di lapangan ya.”

“Sip.” Sambil acung jempol.  “Kalo berurusan sama cewe tomboy emang begini.” Bisik Genta.
“Apa lu bilang.” Rena melotot.

“Tuh kan, hahah.”

“Hehehe, maaf. Lo kan udah biasa Ta, emang kalo laper gua berisik, lo tau sendiri.”

Sore menjelang matahari mulai tenggelam di ufuk barat. Langit sore-Nya memang indah di temani dua anak Adam yang sedang berlari mengejar bola dan di temani angin yang berhembus. Walau lelah mereka tetap tertawa menikmati sore dengan bola basket dan ring yang siap untuk di masukkan. Saling berebut dan bercanda. Sorak mereka memecah langit ketika bola masuk ke dalam ringnya. Usai bermain mereka duduk di bawah pohon beringin yang rindang dan daun yang gugur menjatuhi mereka dengan di temani angin sore yang membelai kulit-kulit lebab kepekan.

“Ta capek nih Ta, lo punya minum nggak?”

“Nih...” Diam. “Ren, coba deh lo jadi feminim. Mungkin banyak cowo yang mau sama lo.”

“Hahaha, omong kosong lo Ta. Gua emang begini adanya, walaupun gua jatuh cinta sama cowo dan cowo itu minta gua berubah jadi makhluk ajaib yang wangi plus menor, gua nggak bakal mau.” Tegas Rena.

“Kalo lo mau jadian sama tuh cowo, tapi cowo ngasih syarat jadi makhluk ajaib yang lo bilang tadi gimana?”

“Gua mau cowo yang ngertiin gua dan nerima gua apa adanya.”

Diam.

Hati Genta seperti di tampar sama perasaannya sendiri.

Rena bener, kalo lo suka dan lo bener cinta sama dia, ya lo harus nerima dia apa adanya dong Ta. Kata malaikat di sebelah kanan.

Ta, tapikan cewe kayak dia bisa buat lo Ill feel setengah mampus, lo bisa cari cewe lain yang kayak mantan lo dulu Ta. Liat aja temen-temen lo, mereka pada nggak setujuh sama hubungan lo sama dia, lo udah keren, ganteng, tajir lagi. Nggak pantes sama dia yang kumel dan kampungan. Kata setan di sebelah kirinya.

Lo kan udah terlanjur cinta kayak lagunya Ungu. Dia baik sekaligus sopan, dia cocok banget sama lo, Rena yang apa adanya. Jarang banget cewe kayak dia. Dia mau ko sama lo, tapi lo harus nerima dia apa adanya Cuma itu Ta. Malaikat nggak mau kalah.

Lo kan bisa berpaling ke lain hati. Udah balikan lagi aja sama mantan lo, liat aja gayanya cowo banget mana bau asem nggak pantes banget sama lo yang wangi. Setan nambah  lagi.

Genta mikir, dia mau balikkan lagi sama mantannya tapi isi hatinya udah ada Rena, Rena dan Rena. Kayaknya kali ini setan kalah dan malaikat yang menang. Genta coba moment yang tepat untuk nyatain perasaannya ke Rena.

*

Dimalam dingin dan sunyi Rena udah nggak bisa sembunyiin lagi perasaannya ke Genta, kayaknya kedekatan mereka udah ngebuat Rena jatuh hati kepada sang pangeran yang punya segalanya. Memang Rena nggak punya apa-apa tapi dia punya Cinta.

Keesokkan harinya, Rena dan Genta bermain Basket sampai larut malam. Sepulangnya, Genta kena marah ibunya karena selalu pulang malam karena bermain dengan Rena. Amarah Ibu Genta sudah tidak tertahan lagi. Paginya Ibu Genta pergi ke rumah Rena tanpa sepengetahuan Genta dan Rena karena pergi ke sekolah. Waktu itu, mereka bertengkar hebat dan saling menyalahkan tidak ada yang bisa memisahkan walau tetangga berkumpul hanya untuk sekedar melihat. Akhirnya pak RT datang untuk melerai Ibu-ibu ini. Pertarungan selesai, dan di menangkan oleh Bapak Rt.

Malam hari setelah Genta pulang, Genta mendapat peringatan keras dari Ibunya untuk tidak lagi bermain, mengobrol, atau hanya sekedar dekat dengan Rena karena menurutnya Rena memberi pengaruh buruk untuk Genta. Begitupun Rena.

Mereka bertemu di Sekolah dan membicarakan hal yang sedang mereka hadapi.

“Ta, gua nggak di bolehin ketemu sama lo lagi sama Nyokap gua.”

“Iya Ren, gua tau dan gua juga gitu.”

“Kalo ketahuan main berdua gua di suruh pindah sekolah.”

“HAAH? Sampe segitunyakah?”

“Hmmm, mungkin kita turutin dulu kata orang tua kita. 1-2 minggu mereka juga bakalan lupa, mereka udah bau tanah ini.”

Genta berfikir panjang. Ha? 1-2 minggu, yakin gua bisa tahan kalo nggak ngeliat mukanya selama itu. Ini nggak bisa di biarin gua harus ngomong sama orang tua gua. Pikir Genta.

“Gimana Ta? Kok bengong. Tenang Cuma 2 minggu”

Genta menyetujuinya, walau hatinya nggak setujuh. Mereka janji nggak akan bertemu selama 2 minggu.

Dalam hati Genta sangat merindukan Rena yang suka ngebanyol, gila bareng, Rena yang gokil, yang gila dan yang asik. Begitu juga dengan Rena yang selalu terbayang sosok Genta yang melayang-layang di atas kepalanya, sampai nafsu makan mereka berkurang dan sering kepergok melamun sama orang tua mereka. Rena menyesal udah ngasih usul buat nggak ketemu selama 2 minggu.

Suara ponsel Genta berdering. Pesan dari Rena.

Inbox : Rena

Ta, sumpah gua kangen banget sama lo. Gua  nggak bakal kuat 2 minggu kayak gini, hampa sangat rasanya. Kita harus bisa ngembaliin orang tua kita jadi kayak dulu lagi, tapi gua nggak tau caranya gimana.

Genta mengendap-endap saat makan malam, kalau Ibunya tahu kalau dia sedang membaca sms dari Rena, mungkin piring, sendok, gelas dan garpu dapat melayang ke arahnya.

Oke, besok di sekolah kita masih bisa ketemu. Kita omongin matang-matang tentang masalah ini.

Sending : Rena

Meskipun mereka bertemu di sekolah tapi pertemuan mereka tidak sebebas yang dulu. Rena kangen main basket dengan Genta, juga Genta. Genta kangen waktu Rena makan bakso belepotan.

Genta mempunyai ide untuk mengajak orang tua mereka masing-masing makan malam di salah satu rumah makan. Rena yang ragu dengan rencana tersebut, karena Genta yang merencanakan, Rena yakin dengan sahabatnya itu.

Malam itu pun tiba. Genta yang sudah lebih dulu duduk dan menyiapkan dua bangku kosong untuk di tempati Rena dan Ibunya. Genta mengobrol panjang dengan Ibunya dan menyinggung tentang Rena yang jadi permasalahan saat ini.

Rena dan Ibunya datang. Ibu Rena mengajak ke tempat lain karena arah yang di tuju terlihat Genta dan Ibunya. Rena mempunyai alasan karena sudah memesan tempat di sana. Rena berpenampilan sederhana seperti hari-hari lain. Namun wajah yang tidak bosan di pandang masih membuat hati Genta gemetar.

Sudah selangkah lagi Rena mengajak Ibunya, dan sang Ibu sudah tidak rela lagi duduk di sampingnya. Genta tidak tinggal diam, dan berusaha berbicara dengan Ibu Rena. Rena menarik lengan ibunya dengan tidak sabar dan Genta mencoba melerai anak dan Ibu tersebut namun gagal. Ibu Genta yang berada di sampingnya berdiri dan coba untuk menarik anaknya. Tiba-tiba tas Ibu Rena terjatuh bersama  foto waktu SMPnya bersama sahabatnya.

Ibu Genta terbelalak melihat foto itu dan mengambilnya namun Ibu Rena tidak rela dan langsung mengambilnya kembali. Mata Ibu Genta masih menatap jelas wajah Ibu Rena. Dan semua kaget saat Ibu Genta memeluk Ibu Rena. Rena dan Genta saling pandang, Ibu Rena masih tidak percaya apa yang terjadi.

Rangkulan tangan Ibu Genta terlepas dan menarik resleting tasnya dan mengambil salah satu foto-yaitu foto yang sama dengan yang jatuh tadi- semua mata memangdang foto yang sama dan tidak percaya dengan semuanya. Rena yang tahu foto itu langsung menatap wajah ibunya yang masih tidak percaya. Sekali lagi mereka berpelukan dengan erat sambil menitikkan air mata dan saling meminta maaf satu sama lain. Genta yang tidak tahu apa-apa dan sesekali melihat ke Rena yang hanya tersenyum senang.

“Ta, mereka sama kayak kita, mereka berdua sahabatan waktu SMP-SMA mungkin sampe sekarang. Mereka terpisah karena Ibu kamu pindah sekolah. Dan semenjak itu mereka tidak bertemu lagi. Mereka pasti tahu makna persabatan yang terjadi sama kita. Semua ini berlangsung nggak sengaja Ta, hebat banget.”

“Oh jadi gitu, bukan nggak sengaja tapi ini emang takdir Tuhan yang nggak ingin kita berdua berpisah dan mempertemukan kedua sahabat yang emang udah lama nggak ketemu.”

“Pasti mereka berdua bahagia.”

Rena menatap warna putih bersinar kecil dilangit yang bernamakan bintang. Dengan senyum keindahan yang selalu terlihat dalam wajah Rena, membuat Genta takjub akan makhluk Tuhan yang satu ini. Saat indah itu Genta manfaatkan untuk menunjukkan perasaan yang sesungguhnya. Perasaan yang diberikan Tuhan karena cintanya yang mulia dan tidak tahu seberapa besar angka yang mampu menghitung cintanya. Dengan mengumpulkan seluruh keberanian dalam hatinya, Genta juga harus punya mental agar bisa menerima apapun yang terjadi sehabis ini.

“Ta, sebenernya waktu itu gua bener-bener kangen sama lo. Dan lo selalu ada di pikiran gua. Semua udah membaik dan gua pengen kita lebih baik lagi, bukan sekedar sahabat biasa.”

Genta tersentak, pipinya seperti di gampar Ibunya yang lagi emosi. Genta mengangkat alisnya dan melihat mata Rena dalam-dalam menembus retinanya, melihat isi hatinya kalau ia memang jujur.

Genta sudah kehabisan kata-kata meski ia sudah tahu apa yang ingin di katakan tapi ombak datang dan mengobrak-abrik isi otaknya yang semenjak tadi sudah di penuhi dengan kata Cinta. Akhirnya mereka jadian, kata Malaikat pun “Yess, Gua menag.” Setan yang kalah langsung terkena cahaya dan menjadi debu pasir yang terhempas angin dan pergi sejauh mungkin di temani hewan malam.

Genta sudah bisa menerima Rena apa adanya, dan keinginan hatinya sudah terpenuhi dengan memiliki wanita sederhana namun dapat membuat hatinya, yaa selama ia senang berada di dekatnya, nyaman di dekatnya. cinta nggak mandang fisik, nggak mandang orangnya kaya atau miskin atau cacat sekalipun. Tapi cinta adalah seseorang yang membuat kita senang, nyaman kalau ada di dekatnya.