Rena, cewe tomboy dan lugu ini
sangat enak di pandang mata, kata Genta. Cewe satu ini membuat Genta senyum
sendiri saat memikirkannya karena bayangannya selalu ada di benaknya. Dengan
potongan rambut panjang, kulit hitam manis menambah pesona dan matanya yang
indah tapi Genta menyayangkan kalau Rena cewe tomboy. Semua temannya setuju
kalau Genta nggak cocok memiliki Rena yang jauh dari mantan Genta sebelumnya,
sangat feminim dan cocok dengan Genta.
Kedekatan mereka begitu dekat
seperti kotak surat dan perangko. Mereka dekat karena mempunyai satu hobby
yaitu main basket, walaupun Rena perempuan, dia tidak sembarang memainkan bola
besar itu. Genta sempat kelelahan menghadapi cewe yang satu ini dan itu membuat
Genta lebih semangat untuk mendapatkannya.
Suatu hari di sekolah, mereka
sering ngobrol bareng.
“Eh, Twa nwantiw sworwe mwawen
bwaskwet diw lwapwangwan ywa.” Tanya Rena dengan bakso yang masih di kunyahnya.
Gena senyum sendiri melihat
tingkah lakunya. “Kalo mau ngomong abisin dulu tuh makanan di mulut.”
“Owh, Mwawaf.” Rena mengambil
minum dan berhenti sejenak sampai makanan masuk kedalam perut.
“Nanti sore maen
basket di lapangan ya.”
“Sip.” Sambil acung jempol. “Kalo berurusan sama cewe tomboy emang
begini.” Bisik Genta.
“Apa lu bilang.” Rena melotot.
“Tuh kan, hahah.”
“Hehehe, maaf. Lo kan udah biasa
Ta, emang kalo laper gua berisik, lo tau sendiri.”
Sore menjelang matahari mulai
tenggelam di ufuk barat. Langit sore-Nya memang indah di temani dua anak Adam
yang sedang berlari mengejar bola dan di temani angin yang berhembus. Walau
lelah mereka tetap tertawa menikmati sore dengan bola basket dan ring yang siap
untuk di masukkan. Saling berebut dan bercanda. Sorak mereka memecah langit
ketika bola masuk ke dalam ringnya. Usai bermain mereka duduk di bawah pohon
beringin yang rindang dan daun yang gugur menjatuhi mereka dengan di temani
angin sore yang membelai kulit-kulit lebab kepekan.
“Ta capek nih Ta, lo punya minum
nggak?”
“Nih...” Diam. “Ren, coba deh lo
jadi feminim. Mungkin banyak cowo yang mau sama lo.”
“Hahaha, omong kosong lo Ta. Gua
emang begini adanya, walaupun gua jatuh cinta sama cowo dan cowo itu minta gua
berubah jadi makhluk ajaib yang wangi plus menor, gua nggak bakal mau.” Tegas
Rena.
“Kalo lo mau jadian sama tuh
cowo, tapi cowo ngasih syarat jadi makhluk ajaib yang lo bilang tadi gimana?”
“Gua mau cowo yang ngertiin gua
dan nerima gua apa adanya.”
Diam.
Hati Genta seperti di tampar sama
perasaannya sendiri.
Rena bener, kalo lo suka dan lo
bener cinta sama dia, ya lo harus nerima dia apa adanya dong Ta. Kata malaikat
di sebelah kanan.
Ta, tapikan cewe kayak dia bisa
buat lo Ill feel setengah mampus, lo bisa cari cewe lain yang kayak mantan lo
dulu Ta. Liat aja temen-temen lo, mereka pada nggak setujuh sama hubungan lo
sama dia, lo udah keren, ganteng, tajir lagi. Nggak pantes sama dia yang kumel
dan kampungan. Kata setan di sebelah kirinya.
Lo kan udah terlanjur cinta kayak
lagunya Ungu. Dia baik sekaligus sopan, dia cocok banget sama lo, Rena yang apa
adanya. Jarang banget cewe kayak dia. Dia mau ko sama lo, tapi lo harus nerima
dia apa adanya Cuma itu Ta. Malaikat nggak mau kalah.
Lo kan bisa berpaling ke lain
hati. Udah balikan lagi aja sama mantan lo, liat aja gayanya cowo banget mana
bau asem nggak pantes banget sama lo yang wangi. Setan nambah lagi.
Genta mikir, dia mau balikkan
lagi sama mantannya tapi isi hatinya udah ada Rena, Rena dan Rena. Kayaknya
kali ini setan kalah dan malaikat yang menang. Genta coba moment yang tepat
untuk nyatain perasaannya ke Rena.
*
Dimalam dingin dan sunyi Rena
udah nggak bisa sembunyiin lagi perasaannya ke Genta, kayaknya kedekatan mereka
udah ngebuat Rena jatuh hati kepada sang pangeran yang punya segalanya. Memang Rena
nggak punya apa-apa tapi dia punya Cinta.
Keesokkan harinya, Rena dan Genta
bermain Basket sampai larut malam. Sepulangnya, Genta kena marah ibunya karena
selalu pulang malam karena bermain dengan Rena. Amarah Ibu Genta sudah tidak
tertahan lagi. Paginya Ibu Genta pergi ke rumah Rena tanpa sepengetahuan Genta
dan Rena karena pergi ke sekolah. Waktu itu, mereka bertengkar hebat dan saling
menyalahkan tidak ada yang bisa memisahkan walau tetangga berkumpul hanya untuk
sekedar melihat. Akhirnya pak RT datang untuk melerai Ibu-ibu ini. Pertarungan selesai,
dan di menangkan oleh Bapak Rt.
Malam hari setelah Genta pulang,
Genta mendapat peringatan keras dari Ibunya untuk tidak lagi bermain,
mengobrol, atau hanya sekedar dekat dengan Rena karena menurutnya Rena memberi
pengaruh buruk untuk Genta. Begitupun Rena.
Mereka bertemu di Sekolah dan
membicarakan hal yang sedang mereka hadapi.
“Ta, gua nggak di bolehin ketemu
sama lo lagi sama Nyokap gua.”
“Iya Ren, gua tau dan gua juga
gitu.”
“Kalo ketahuan main berdua gua di
suruh pindah sekolah.”
“HAAH? Sampe segitunyakah?”
“Hmmm, mungkin kita turutin dulu
kata orang tua kita. 1-2 minggu mereka juga bakalan lupa, mereka udah bau tanah
ini.”
Genta berfikir panjang. Ha? 1-2
minggu, yakin gua bisa tahan kalo nggak ngeliat mukanya selama itu. Ini nggak
bisa di biarin gua harus ngomong sama orang tua gua. Pikir Genta.
“Gimana Ta? Kok bengong. Tenang Cuma
2 minggu”
Genta menyetujuinya, walau
hatinya nggak setujuh. Mereka janji nggak akan bertemu selama 2 minggu.
Dalam hati Genta sangat
merindukan Rena yang suka ngebanyol, gila bareng, Rena yang gokil, yang gila
dan yang asik. Begitu juga dengan Rena yang selalu terbayang sosok Genta yang
melayang-layang di atas kepalanya, sampai nafsu makan mereka berkurang dan
sering kepergok melamun sama orang tua mereka. Rena menyesal udah ngasih usul
buat nggak ketemu selama 2 minggu.
Suara ponsel Genta berdering. Pesan
dari Rena.
Inbox : Rena
Ta, sumpah gua kangen banget sama
lo. Gua nggak bakal kuat 2 minggu kayak
gini, hampa sangat rasanya. Kita harus bisa ngembaliin orang tua kita jadi
kayak dulu lagi, tapi gua nggak tau caranya gimana.
Genta mengendap-endap saat makan
malam, kalau Ibunya tahu kalau dia sedang membaca sms dari Rena, mungkin
piring, sendok, gelas dan garpu dapat melayang ke arahnya.
Oke, besok di sekolah kita masih
bisa ketemu. Kita omongin matang-matang tentang masalah ini.
Sending : Rena
Meskipun mereka bertemu di
sekolah tapi pertemuan mereka tidak sebebas yang dulu. Rena kangen main basket
dengan Genta, juga Genta. Genta kangen waktu Rena makan bakso belepotan.
Genta mempunyai ide untuk
mengajak orang tua mereka masing-masing makan malam di salah satu rumah makan.
Rena yang ragu dengan rencana tersebut, karena Genta yang merencanakan, Rena
yakin dengan sahabatnya itu.
Malam itu pun tiba. Genta yang
sudah lebih dulu duduk dan menyiapkan dua bangku kosong untuk di tempati Rena
dan Ibunya. Genta mengobrol panjang dengan Ibunya dan menyinggung tentang Rena
yang jadi permasalahan saat ini.
Rena dan Ibunya datang. Ibu Rena
mengajak ke tempat lain karena arah yang di tuju terlihat Genta dan Ibunya.
Rena mempunyai alasan karena sudah memesan tempat di sana. Rena berpenampilan
sederhana seperti hari-hari lain. Namun wajah yang tidak bosan di pandang masih
membuat hati Genta gemetar.
Sudah selangkah lagi Rena
mengajak Ibunya, dan sang Ibu sudah tidak rela lagi duduk di sampingnya. Genta
tidak tinggal diam, dan berusaha berbicara dengan Ibu Rena. Rena menarik lengan
ibunya dengan tidak sabar dan Genta mencoba melerai anak dan Ibu tersebut namun
gagal. Ibu Genta yang berada di sampingnya berdiri dan coba untuk menarik
anaknya. Tiba-tiba tas Ibu Rena terjatuh bersama foto waktu SMPnya bersama sahabatnya.
Ibu Genta terbelalak melihat foto
itu dan mengambilnya namun Ibu Rena tidak rela dan langsung mengambilnya
kembali. Mata Ibu Genta masih menatap jelas wajah Ibu Rena. Dan semua kaget
saat Ibu Genta memeluk Ibu Rena. Rena dan Genta saling pandang, Ibu Rena masih
tidak percaya apa yang terjadi.
Rangkulan tangan Ibu Genta
terlepas dan menarik resleting tasnya dan mengambil salah satu foto-yaitu foto
yang sama dengan yang jatuh tadi- semua mata memangdang foto yang sama dan
tidak percaya dengan semuanya. Rena yang tahu foto itu langsung menatap wajah
ibunya yang masih tidak percaya. Sekali lagi mereka berpelukan dengan erat
sambil menitikkan air mata dan saling meminta maaf satu sama lain. Genta yang
tidak tahu apa-apa dan sesekali melihat ke Rena yang hanya tersenyum senang.
“Ta, mereka sama kayak kita,
mereka berdua sahabatan waktu SMP-SMA mungkin sampe sekarang. Mereka terpisah
karena Ibu kamu pindah sekolah. Dan semenjak itu mereka tidak bertemu lagi. Mereka
pasti tahu makna persabatan yang terjadi sama kita. Semua ini berlangsung nggak
sengaja Ta, hebat banget.”
“Oh jadi gitu, bukan nggak
sengaja tapi ini emang takdir Tuhan yang nggak ingin kita berdua berpisah dan
mempertemukan kedua sahabat yang emang udah lama nggak ketemu.”
“Pasti mereka berdua bahagia.”
Rena menatap warna putih bersinar
kecil dilangit yang bernamakan bintang. Dengan senyum keindahan yang selalu
terlihat dalam wajah Rena, membuat Genta takjub akan makhluk Tuhan yang satu
ini. Saat indah itu Genta manfaatkan untuk menunjukkan perasaan yang
sesungguhnya. Perasaan yang diberikan Tuhan karena cintanya yang mulia dan
tidak tahu seberapa besar angka yang mampu menghitung cintanya. Dengan mengumpulkan
seluruh keberanian dalam hatinya, Genta juga harus punya mental agar bisa
menerima apapun yang terjadi sehabis ini.
“Ta, sebenernya waktu itu gua
bener-bener kangen sama lo. Dan lo selalu ada di pikiran gua. Semua udah
membaik dan gua pengen kita lebih baik lagi, bukan sekedar sahabat biasa.”
Genta tersentak, pipinya seperti
di gampar Ibunya yang lagi emosi. Genta mengangkat alisnya dan melihat mata
Rena dalam-dalam menembus retinanya, melihat isi hatinya kalau ia memang jujur.
Genta sudah kehabisan kata-kata
meski ia sudah tahu apa yang ingin di katakan tapi ombak datang dan
mengobrak-abrik isi otaknya yang semenjak tadi sudah di penuhi dengan kata
Cinta. Akhirnya mereka jadian, kata Malaikat pun “Yess, Gua menag.” Setan yang
kalah langsung terkena cahaya dan menjadi debu pasir yang terhempas angin dan
pergi sejauh mungkin di temani hewan malam.
Genta sudah bisa menerima Rena
apa adanya, dan keinginan hatinya sudah terpenuhi dengan memiliki wanita
sederhana namun dapat membuat hatinya, yaa selama ia senang berada di dekatnya,
nyaman di dekatnya. cinta nggak mandang fisik, nggak mandang orangnya kaya atau miskin atau cacat sekalipun. Tapi cinta adalah seseorang yang membuat kita senang, nyaman kalau ada di dekatnya.