
ASSSIIIKKK, liburan ke Kampung Sukamakmur. Udah lama nggak pergi ke kampung, lamanya bertelor dan ngerem di rumah sambil nulis dan ngedit blog. Tanggal 5 Januari 2012 tepatnya hari kamis, Guru saya mengadakan perjalanan ke sana yang di rencanain udah lama. Rencananya pas liburan semester, dan jadilah sekarang. Saya di temani Helmi teman seperjuangan saya, beliau di Pesantren Tasik, pengennya sih mau bareng di pesantren, tapi keadaan menutup kemungkinan untuk semua itu. =,=.
Di siang hari sebelum berangkat, saya menyiapkan macam-macam barang untuk disana, sebab nginep, jadi lumanyun banyak. Tas yang penuh dengan kotoran maksudnya barang-barang yang harus saya angkut menggunakan badan yang kering kerontang yang terbang di hempas angin. Waktu udah siap, akhirnya hujan datang keroyokkan membawa senjata dingin dan angin. Dengan kemauan, tekad dan semangat yang kuat pergilah saya dengan memakai kancut kotor maksudnya jas hujan (loh). Sebelum pergi ke rumah Ustad Hadi saya jemput Helmi di rumahnya. Menunggu sebentar di temani teh hangat dan adiknya Helmi. Dan berkenalanlah saya dengannya, setelah berkenalan sialnya dia bukan manggil Ka Fathur, A fathur, Kang Fathur, atau yang apalah, tapi dia manggil saya Mastur. Saya senyum memaksa tapi tidak apalah agar dia mengingat saya terus.
Akhirnya saya, Helmi dan teman Ustad Hadi bernama Akang Sobur, asli orang sana yang pulang seminggu sekali karena berkuliah di sini. Kami pun berangkat setelah memenuhi persiapan di Rumah Ust, Hadi. Saat itu hujan masih membasahi kami, dengan bermodal jas hujan kami pun melaju dengan hati-hati. Kami berangkat pukul 02.00 siang. Mungkin dari sini sampai Sukamakmur memakan waktu kurang lebih 4-5 jam.
Sialnya saya lupa dengan kekurangan pada motor saya, jika basah terkena hujan gasnya error. Tapi Ustad Hadi dengan mental kuatnya mencoba sangat hati-hati, tapi ini sewaktu hujan doang kok. Katanya juga sih, remnya kurang pakem, tapi mau diapain lagi, wong udah jalan kok.
Hujan masih membasahi, tapi perjalanan terasa mulus-mulus saja nggak kayak muka saya yang geradakan ini. Mampir di alfamart yang berada di pertigaan Desa Tajur sambil membeli makanan pengganjal perut , kalau saya membeli dua pasang batrai dan satu sikat gigi, kalau odolnya minta aja sama Helmi. Wkwkw. Di sana juga kami janjian, toh takut ilang kali yaa. Nggak kok mereka sudah sering pulang pergi Cilodong-Sukamakmur.
Saat salah satu ban Akang Sobur bocor abis di sodomi paku dan ngasih minum motor yang haus (bensin) "Glegg gleggg gleegg.". Akhirnya di situ saya memasukkan batrai di camera saya Dan merekam sedikit disana. Jalanannya masih mulus karena udah habis di Cor sebulan yang lalu. Tapi, harus tetap berhati-hati karena jalanannya naik turun-naik turun ditambah jalanan yang licin karena hujan.
Di situ udah sampe puncak (gunung) liat aja pemandangannya yang asri yang belum di kotori perbuatan manusia yang seperti ‘setan’. Saya menghirup nafas sergar dalam-dalam, rasanya sejuk, tidak kayak di Kota beuuuhhh. Coba aja kalian rasain disana beda 180˚ dengan kehidupan di Kota. Kami melanjutkan perjalanan dengan mengucap basmallah yang kesekian kalinya (itu harus).
Waktu itu kami sholat ashar tapi nggak tau, sebelum bocor atau sesudah, kayanya sih sesudah. Airnya dingiiinnn, di tambah cuaca yang menusuk tulang, untung sedia jaket tapi nggak tebal-tebal banget, tertutup jas hujan kok. Seusai itu kami melanjutkan perjalanan.
Saya kira, perjalanan akan mules-mules saja maksudnya mulus. Ternyata medan yang berat belum terjamah oleh kami, ya medan berbatu dan berlumpur (masih mending tanah, lumpur bo soalnya hujan). Jalanannya belum di Cor, mungkin tahun 2015. Dan waktu itu adalah saat-saat menegangkan dalam hidup saya, selain di omelin Ibu saya. Medan berbatu dan berlumpur kami lewati dengan motor Honda yang bermasalah. Perjuangan yang tidak henti-hentinya kami lakukan demi Da’wah dan pengalaman. Tidak jarang motor terpeleset waktu tikungan, dan tidak jarang pula saya turun karena medan yang susah di lewati dan di haruskan saya mendorong motornya agar menanjak. Medan berbatu dan berlumpur di tambah lagi jalan yang gelap (sudah pukul 6-setengah 7 sore)menambah ke was-wasan saya, juga pula Helmi mungkin dia juga mengalami tekanan yang berat, tapi Akang Sobur udah senior jadi kayaknya-aman-aman aja namun tetap hati-hati. Saya di bonceng ustad Hadi dan lumayan bisa untuk melewati medan terjal ini. nggak sempet poto-poyo, suasana nggak mendukung.
Tubuh saya seperti bola yang terhempas kesana-kemari jika di goncang atau di tendang. Dengan setiap kalinya kami mengucapkan “ALLAH HU AKBAR” dengan lantangnya kami bisa melewatinya. Dan Alhamdullilah ya, KAMI BISA MELWATINYA!!. Hahah. “TERIMAKASIH YA ALLAH.” Sujud sukur.
Akhirnya kami istirahat di rumah warga yang cukup besar, disana rumah itu jarang, lumrah bagi yang sering ke kampung. Kami beristirahat di sebuah PC. Persatuan Islam dan Masjidnya, di situ kami memakan camilan yang di beli untuk mengganjal perut kami yang di utak-atik oleh lompatan di bebatuan, heuheu. Sekitar pukul kurang lebih sesudah adzan isya kra-kira pukul 08.00 malam. Saya kurang melihat waktu, ponsel ada di tas, jam tangan tak ku bawa, sudah jadi kiloan keknya.
Waktu pukul 08.00 saya kami mendengarkan ceramah dari Ust. Nasrullah S. Pdi yang berceramah tentang kandungan surat al-baqarah ayat 1-7. Yang paling saya ingat dari perkataan beliau tentang Al-qur’an yang terjamin ke shahih-annya, ceritanya begenee, walaupun pake Bhs.Jerman (Sunda) saya masih agak ngerti dikit-dikit, sayangnya di bawahnya nggak ada penerjemah Sunda-Indonesia, heuheu.
'
Seorang ulama yang menderetkan Alkitab Injil dari tahu ke tahun, misal terbitan kitab injil dari tahun 2001-2003 itu isinya ada yang beda, dari ayat keberapa saya lupa, misal, nabi Sulaiman/Solomon membeli sesuatu dengan harga 400 Dirham di edisi selanjutnya berubah jadi 4000 Dirham. Sedangkan Al-Qur’an ulama juga menderetkan kitab ini dari tahun ke tahun Subhanallah nggak ada yang berubah sama sekali dan pastinya terjamin kebenarannya dan nggak ada yang bisa merubahnya.
Setelah selesai sekitar pukul 09.00 kami menyantap makanan yang di buat warga yang memang khusus di makan warga situ. Lauknya ada mie dua bungkus itu kayaknya, ada kentang di potong kotak-kotak dengan tambahan rempah-rempah, sama sambal yang menurut saya pedas, dan yang terakhir pisang sebagai penutupnya. Rasanya bener-bener mensyukuri.
Kami kembali ke rumah warga tempat barang-barang kami di taruh di sana, dengan senter kami berhati-hati menuju rumah, soalnya jalan yang becek dan tidak ada lampu yang menerangi. Karena udara dingin yang menyapa, yang tidak diundang, emang dasar, akhirnya beserlah saya di kamar mandi, byuuurrrr, beuuuhhh dinginnnn. Jaket Cuma satu nggak terlalu tebal, dan kaos kaki yang senantiasa menemani saya tidur. Waktu itu saya belum bisa tidur mungkin jam satuan saya bisa tidur tapi nggak lama saya bangun. Kalo Helmi sih katanya dia jelmaan kebo di blognya nih... Blog Helmi
Terlalu panjang kalau di ceritain, ini hari pertama, sisanya Mastur? Nanti kawan.. hahaha
