Woy gan, pernah nggak ngeliat Status facebook orang yang nge-like-nya beratus-ratus dan setiap foto yang di terbitkan mencapai angka ratusan likers. Padahal dia bukan publik figur alias masyatakat biasa. Memang, tidak ada yang membahagiakan ketika ada status kita yang di sukai banyak orang. Lima puluh, seratus, seribu, sungguh bukan angka yang main-main. Namun, apakah Likers itu murni menyukai status yang mereka kasih jempol?
Mungkin hanya bertuk solidaritas bersama. Artinya jika kamu menjempoliku, aku akan balik menjempolimu juga. Dan dengan begitu pertemanan di facebook akan jadi lebih terasa. Secara teknis mereka, para likers setiap datang di beranda/home status apapun, mereka langsung melike tanpa melihat atau membacanya, cukup like saja. Dan saya pernah mendapatkannya, pasti ada saja akun yang melike status saya walaupun saya tidak mengenalnya. Diantara 900 teman saya di Facebook mungkin hanya beberapa yang berinteraksi dan bisa di hitung jari. Per status yang melike paling sedikit nol paling banyak Cuma belasan itu juga jarang.
| banyak nggak tooh? |
Mungkin status saya yang gaje atau nggak penting, tapi kadang-kadang serius. Jadi nggak banyak mencuri perhatian. Lagi pula saya menulis status hanya untuk iseng dan memang facebook wajibnya salah satunya yaitu membuat status. Ada yang respons ya syukur, kalo nggak, ya ndak papa.
Lucunya ada saja akun facebook yang chat ke saya hanya untuk me-like statusnya, sayapun cengar-cengir sambil guling-guling di atas aspal nunggu di tabrak angkot.
| hahah, ogah. kasian banget yak? maaf yak #jangan ditiru :) |
Coba saja onlen sampe 24 jam non stop. Ada saja yang nge chat, bukan untuk ngajak kenalan, atau apa, tapi hanya sekedar meminta like status mereka. Mungkin popularitas itu memang di ukur dari jari.
Dunia maya emang sangat terkenal, dan terkenalnya itu ngebuat Negara ini makin hancur. Begendonglah (begitulah), kalau popularitas diitungnya dengan jari, dan artinya saya tidak begitu terkenal. Menjadi terkenal adalah dampak dari apa yang kita lakukan. Bikin video porno di hape, terus di sebarin di youtube terus menyebar dan si pembuat itu juga pasti terkenal.
Jadi, begitu penting jari bagi para penunggu dunia maya, khususnya pacebok. Sebagian besar di lakukan untuk eksistensi. Bahwa dengan banyak jari atau jumlah status yang ramai kayak pasar, maka ia merasa di perhatikan, merasa semua orang menyukainya, dan yang lebih penting lagi ia menjadi publik figur atau selebriti.
Facebookers atau bisa kita baca pasboker ini, yang punya foto-fot eksis, dengan mulut di manyunkan kayak mau di cipok monyet, atau bagi lelaki yang posenya buka-bukaan (manly) atau bergaya imut kayak marmut di kerebutin semut. Mereka-mereka inilah yang dapat teman sampani ribuan, untungnya Facebook hanya menyediakan sampai lima ribu pertemanan. Atau jika pertemanannya poolll, dia akan membuat akun lagi dengan memakai tambahan nama “II”, “2”, “part2” di belakang nama akunnya. Seakan meminta jikalau ada yang belum terkomfirmasi, sialahkan meng add facebooknya yang baru itu.
Tentu saja itu bukan masalah yang menggangu hanya menggelitik (digelitik topeng monyet).
Asal like
Pada suatu waktu saya sedang melihat teman saya lagi pacebokan, terus dia mampir tuh di beranda. Pada watu itu saya sempat membuat status sebelum ia masuk ke akunnya. Munculkan tuh status saya di berandanya, dia like langsung tanpa pikir panjang, padahal status saya itu panjanggg (dari rumah saya sampe blok M). Tidak hanya status saya, tapi semua status yang ada di beranda ia like semua, saya sih lucu-lucuan aja sambil senyam-senyum. Toh, nggak ada salahnya dia begitu, mungkin dengan itu dia merasa senang.
Tiap orang melakukan hal yang tentu ia senangi,. Jika semua itu menyenangkan meraka dan tidak mengganggu orang lain, kenapa nggak? toh, mereka minta baik-baik, jikalau maksa dan merugikan orang lain. Datangnya dari ABG labil, lagi. Jadi buat lucu-lucuan aja. Kecuali kalau dia maksa dan buat kamu terganggu, Remove aelah.
Jadi, nyantai aja bila status kamu sepi atau nggak laku atau yang koment nggak ada, kayak tante-tante lansia lagi mangkal. Ambil yang lebih penting dari itu: bahwa hati kita sudah plong karena sudah mencurahkan isi hati kita lewat tulisan. Toh kita nggak hidup di jaman baheula, nggak ada yang namanya jejaring sosial atau macam ntu. Yang namanya jejaring sosial itu, sangat lumrah mebicarakan tentang isi hati, atau menuliskannya. Untuk jempoler atau sejenisnya, itu juga hal yang wajar sekali meski barangkali sempet mikir dan nanya ke diri diri sendiri; yang like status gua beneran merhatiin curhatan gua, nggak ya?