29 Desember 2011

Si Tikus Busuk

Pekerjaanku hanya membersihkan lantai yang kotor hingga bersih yang akhirnya kotor lagi terinjak-injak oleh pengusaha besar yang lewat tanpa sedikitpun dosa di dunia, pikir Usman. Tanpa senyum kepadaku, aku dianggap kucing kampung  yang kotor sehabis dibuang baginya. Betapa malangnya nasibku, hidup ditengah-tengah orang tidak waras yang kaya tapi bodoh, pintar tapi tidak berguna, menyusahkan. Begitulah aku yang bekerja di perusahaan besar sebagai OB atau orang suruhan.


Berangkat pagi dan pulang malam, begitulah kehidupanku. Aku hanya manusia biasa yang tidak memiliki apa-apa, hanya bergantung pada pekerjaan ini. Disini orang baik sangat langka, aku tidak bisa keluar dari pekerjaan ini, karena aku lulusan SMP, aku tidak bisa bekerja ditempat yang layak seperti ini.

“hey Man., tolong bikinkan kopi dan taruh di meja saya.” kata Pak Wijaya lewat telepon.

Jawab ‘iya’ dan langsung pergi untuk membuat kopi seperti yang disuruhnya, memang ini pekerjaan aku dan aku tidak boleh mengeluh apalagi bermalas-malasan. Tapi sebagai manusia aku ingin di hargai, bukan di bayar dengan uang saja. Jarang melempa senyum apalagi berkata ‘terimaksih’ atau lainnya, permintaanku tidak berlebihan.

Masih banyak orang yang tidak seberuntung aku. Patutnya aku bersyukur dengan semua yang aku dapat. Anak jalanan, pengemis, pencari uang haram, dan mereka?, orang tua itu egois,  bersenang-senang di atas penderitaan orang lain. Ingin sekali aku suruh mereka untuk menjilati bokongku, tapi sayangnya aku tidak bisa.

Hari ini aku lembur karena banyak kertas yang penting menurut mereka yang harus aku cetak, print, dan di ketik karena aku orang suruhan jadi beginilah. Di kantor bukan hanya aku yang lembur, Manager perusahaan juga lembur karena ada pertemuan dengan cliennya, tidak sampai larut malam mereka pulang membawa tas-tas besar yang penuh dengan sesuatu yang penting, lebih penting dari nyawanya sendiri.

Akhirnya, hari ini libur dan saatnya untuk tidur seharian dan bangun dengan keadaan fresh.Hari libur selalu aku manfaatkan dengan sebaik-baiknya dan meluangkan waktu bersama keluarga.

Pagi-pagi sekali aku berangkat, ketika sampai aku menemukan di depan perusahaan itu ramai dengan membawa papan berisi tulisan-tulisan. Orang-orang seperti ber-demo itu semuanya aku kenal, ya, mereka adalah pegawai perusahaan ini.

Aku mencoba bertanya dengan seorang pegawai yang aku kenal,  ternyata mereka berdemo karena manager yang korupsi dengan jumlah uang yang cukup besar, mungkin gajiku selama 100 tahun. Aku sudah menduganya kalau tipikal orang seperti dia ujung-ujungnya mata duitan, tunggulah pembalasan di akhirat nanti tuan bos. Aku hanya bisa berdoa, perusahaan itu di tutup dan sekaligus aku tidak bekerja.

Aku mencoba peruntungan dengan membuat sebuah toko makanan dengan modal yang aku pinjam dari bang, denga bertanam emas. Itu semua sangat cukup untuk menghidupi keluargaku dengan hasil yang nyata aku sudah bisa membeli motor second. Banyak peluang yang aku dapat tidak dengan cara haram seperti memakan uang rakyat.

Perut yang buncit dibalik bayi yang kurus kering. Kini dia di penjara dengan dendam kesumat yang ada di setiap pegawainya hanya orang tabah yang menerimanya, dan aku termasuk itu, apagunanya mendendam.
“Hey, Adul. Kalo di sekolah jangan nyontek, itu perbuatan dosa, nanti kau cacingan dalam penjara.” Kata Usman.

“Memang kenapa Pak? Teman-temanku udah biasa nyontek dan guru juga masa bodo, waktu itu juga guruku mengajari isyarat atau tips mencontek yang baik.” Saking polosnya.

Usman garuk-garuk kepala. Ternyata mencontek memang sudah biasa di kalang anak muda, anak-anak SD saja sudah begini, bagaimana nanti kalau sudah remaja? Menyogok? Memfitnah? Berbicara halus dengan hati busuk? Bibit Korupsi sudah tercium dari sini.

Pesan :

Koruptor harus ingat, jangan terlalu membanggakan dunia, toh nanti akhirnya jadi pocong juga.

Buat anak muda, remaja, atau anak kecil sekalipun, jangan budayakan mencontek, menyogok, apalagi memfitnah, itu dosa sekaligus menghancurkan masa depan kalian semua. Sangat disayangkan jika Indonesia, negara yang makmur dengan banyak keindahan dan kelebihan yang mengajak orang untuk singgah di disini, tapi di dalamnya banyak sekali duka dan hancur di bagian ke negaraannya. Terasa pejuang lalu hanya tinggal kenangan, perjuangannya hanya sampah yang terbuang, tidak ada kesan penting untuk pejuang yang akhirnya menghasilkan penerus yang kerjanya hanya morotin uang rakyat.

Lihat kebawah, banyak sekali orang yang butuh uang itu, hanya untuk sesuap nasipun mereka berjuang keras, lah koruptor? Dengan segala ‘kepintarannya’ mereka dapat apa yang mereka mau, meskipun sudah tertangkap mereka masih bisa leluasa, karena di penjara ada yang namanya penjara VIP, ada AC, TV, sofa, tempat medi-pedi, atau ada geremo bila perlu.

Benarkan dulu generasinya penerus kita, maka untuk selanjutnya terserah mereka mau yang baik atau yang buruk, seorang yang waras pasti akan memilih yang baik. Penyesalan tidak ada arti, karena sudah terjadi, kini kita jalani sisa hidup ini dengan kebaikkan-kebaikkan, banyak pekerjaan yang halal yang tentunya tidak ada yang di rugikan.