Di depan jendela kost, seorang
wanita cantik, putih dengan rambut sebahu sedang mematung melihat orang – orang
berjalan dengan senyum bahagia di temani pasangannya. Tapi, aku sendiri dan aku
bahagia, bisik Givani. Ia berjalan di ruangan 3x4 meter dan menyusuri ruang itu
menuju cermin yang usang. Di depan cermin ia melihat mata yang berkantung,
kulit yang keriput dan wajah terlihat tidak bahagia.
Liburan kali ini aku tidak pulang
ke rumah, karena aku ingin mengerjakan skripsi. Jadi tidak ada hari libur bagiku.
Kalau di rumah pasti akan terganggu oleh siapa saja disana. Barang kali ada
yang menghiburku di sini, siapapun yang ingin, siapapun... Aku tidak bahagia,
aku berubah pikiran, mungkin aku harus mengubah kehidupanku, hidup yang bahagia
bersama seseorang yang tentu membuatku bahagia. Karena ingin mencari udara
segar aku jalan-jalan menyusuri jalan setapak dan duduk menyendiri di bangku
taman melihat bocah kecil yang senang dengan jungkat-jungkit itu. Apakah aku
harus bermain jungkat-jungkit itu agar bahagia, Tidak mungkin.
Kenapa ada sedih bila bahagia
menyenangkan? Kembali lagi ke tugas ini, skripsi. Ini membuatku stress berat
hingga aku ingin pergi dari semua ini, pergi meninggalkan kuliah yang seperti
neraka.
Aku tidak sejelek itu! kata
Givani ketika Shinta meledekinya tidak memiliki pasangan karena tidak laku.
Malang sekali nasibku, apakah aku harus pergi ke Dukun untuk mencarikanku
jodoh? Tidak, aku bisa mencarinya sendiri.
Pulang dari Warnet ia cepat-cepat
pulang untuk mematikan kompor untuk memasak air. Jalannya terhenti sejenak di
penyebrangan jalan, hingga lampu berubah menjadi merah ia melanjutkan
langkahnya dengan cepat, tiba – tiba seorang lelaki bertubuh kekar menabraknya.
Lelaki itu meminta maaf sambil melempar senyum kepada Giovani.
“Apakah kau terluka?” tanya
lelaki itu.
“Ti.. tidak, kau sendiri..
bagaimana keadaanmu?” Giovani terbata mengucap, terpesona karena lelaki itu tampan dan kekar.
“Iya, aku baik-baik saja. Maaf
aku terburu-buru.” Lambai tangannya sambil berlari meninggalkan Givani.
“Tu.. tunggu...!”
Lelaki itu berhenti dan menengok
ke Givani.
“Siapa namamu!?.”
“Rico, Rico Anggara..!”
Givani tersenyum, iya tidak akan
lupa lelaki tampan itu. Ia pulang dengan sejuta rasa sambil menyanyi dan
berdansa saat berjalan. Ada bau gosong yang terendus, ternyata itu Air yang
sudah habis. Givani berlari ke dapur, setelah ia ingat kalau ia tadi
terburu-buru karena ingin mematikan kompor. Givani merengut, ia harus membeli
perkakas dapur yang baru.
Apakah ini yang namanya jatuh
cinta pada pandangan pertama, saat menatap kedua matanya dan senyumnya?
Sudahlah, aku harus menyelesaikan skripsi ini. Masih banyak yang harus aku
pikirkan selain lelaki itu.
Keesokkan harinya Givani
membutuhkan buku referensi untuk meembuat novel dan ia pergi ke toko buku. Saat
ia mencari buku yang diperlukan ia bertemu dengan Shinta dan pasangannya yang
tidak terlalu tampan.
“Hai, kamu sendirian aja Ni?”
tanya Shinta.
“ Aku memang sendiri dan aku
tidak perduli.”
“Ohh, baiklah. Kalau kamu ingin
di temani Telpon saja aku.”
“Yaa, baiklah.”
Ketika Shinta dan pasangannya
berlalu, Givani menarik nafas panjang dan menghempaskannya. Givani kurang tau
apa motif Shinta menyinggungnya tentang pasangan. Setelah membeli banyak buku
dari uang yang ia dapat dari Cerpen yang ia kirim di suatu majalah, dan
hasilnya cukup untuk membeli buku yang ia butuhkan.
Ternyata dunia ini memang sempit,
aku berpapasan lagi dengannya, Rico Anggara, saat mengantri di Kasir.
“Hai, kau lagi.. kau juga suka ke
toko buku ini..?” tanya Rico.
“I...Iya, disini toko buku yang
lengkap.”
“Hmmm, siapa namamu...?
“Givani.”
“Nama yang bagus.”
“Kau Rico Anggara?”
“Yup.”
Selesai mengobrol, mereka berdua
mendengar suara perut yang keroncongan. ‘Kriyuk’ ternyata itu bunyi perut
Givani, mukanya pun merah. Rico yang mengetahui suara itu berasal dari Giovani
langsung tersenyum.
“Oke, habis kita bayar buku-buku,
kita pergi makan, tenang saja, aku yang traktir.” Sahutnya dengan gembira.
Givani hanya menunduk dan
tersipuh malu. Belum lama dia mengenalku, dia sudah mengajakku traktir. Apaka
ini pertanda? Sudahlah, mungkin hari ini rejeki nomplok bagi ku, bisik Givani
dalam hati saat ia dan Rico yang menegndarai motor menuju tempat makan yang
tidak jauh dari toko buku tersebut.
Restoran yang menarik dengan tema
cinta, setiap mejanya ada tiga lilin dalam satu tempat dan bunga mawar yang
setiap hari diganti, meja berwarna merah, tapi tidak hanya meja, kebanyakan
ruangan ini di penuhi dengan warna merah. Ini restoran mahal, aku baru pertama
kali kesini. Meskipun aku tahu tempat ini, tapi tidak pernah memasukinya.
Apakah Rico ini lelaki yang terbilang perfect?. Aku harus hati-hati, bisa saja
aku di permainkannya.
Obrolan yang panjang bersamanya
dan aku merasa nyambung dengannya. Akhirnya kami pulang. Rico mengantarku
samapai kost, sebelum itu kami bertukar nomor Handphone. Saat itu juga kami
saling menelpon dan SMS. Tidak lupa, dia juga membantuku membuat skripsi, kami
mengerjakannya di perpustakaan tidak jauh dari rumahku. Mana mungkin aku
mengajaknya ke kamar kost, tetangga akan menggosip pastinya, apalgi ibu kost
yang galak seperti gorila.
Hari ini dia mengajakku untuk
pergi ke restoran saat pertama kali dia mengajakku untuk makan bersama, tidak
untuk mengerjakan skripsi, dia ingin mengatakan sesuatu kepadaku.
Aku penasaran dengan apa yang
ingin ia katakan dan pastinya aku sudah menduganya. Dia mengatakan kalau dia
mencintaiku, tepat saat bunga mawar diganti menjadi mawar yang segar dan alunan
musik di restoran itu sangat romantis ditambah Rico yang memberikan setangkai
mawar untukku sambil berlutut bak pangeran menawarkan tuan putri untuk menjadi
istrinya. Semua mata tertuju pada kami, terutama kepadaku yang ingin
menjawabnya. Setelah berfikir dan menatap mata sang pangeran, aku mengatakan
‘ya’. Semua orang yang berada di sana menepuk tangan sambil bersorak. Sebelum
itu tidak jarang ada yang menyatakan cinta di restoran ini. Memang tidak salah
lelaki yang menyatakan cintanya di restoran ini, lelaki yang romantis.
Tidak ada lagi yang mengejekku
tidak laku, lihatlah Shinta pembalasanku. Pacarku lebih tampan daripada
pacarmu. Dan Shinta aku ajak untuk double date, pastinya Shinta iri padaku.
Saat bertemu, Shinta terpesona melihat Rico, matanya tidak berkedip.
Kamarnya terasa luas saat ia
menaruh barang sesukanya. Hatinya berbunga bak taman yang banyak kupu-kupu dan
putri raja menari-nari. Hariku terasa bahagia, karena adanya sang pangeran.
Setiap hari kami penuhi dengan canda dan tawa.
Heeuu, aku memerlukan buku lagi
dan uangku sudah habis. Menunggu satu minggu untuk mendapat uang yang dikirim
ibu kepada ku. Aku membuat cerpen lagi, pasti isinya tentang cinta karena hati
ku sedang berbunga-bunga. Lalu aku mengirimnya di suatu majalah yang terkenal.
Akhirnya aku mendapatkannya, kalau seperti ini aku mampu hidup sendiri, memang
seharusnya seperti itu.
Rico sedang berada di luar kota,
jadi aku sendiri ke toko buku. Setelah
membeli banyak buku aku menyempatkan mampir untuk makan di sekitar toko buku,
menggunakan sisa uang yang ku dapat. Aku duduk di samping lelaki tampan dan
kekar disamping lelaki itu ada perempuan cantik seperti model majalah dengan
perhiasan serba ‘wah’. Sering kali aku mengintipnya, dan perasaan tidak enak
pun muncul, seperti aku mengenali lelaki itu. Aku mengenali suaranya dan itu
Rico Anggara.
Aku menghampirinya dan aku hanya
tersenyum sambil mengeluarkan air mata, pergi dan tidak akan bertemu lagi
dengan pandangan pertamanya. Baru pertama kali aku menangis seperti ini, menangis
karena cinta, cinta yang banyak akan halusinasi dan semu.
“Ingat Rico, aku mencintaimu dan
kau menghancurkan cinta itu, pergilah bersama cintamu yang baru dan jangan kau
permiankan cinta itu karena kau mempunyai segalanya.”
“Givani maafkan aku, aku memang
tidak pantas untuk wanita yang baik sepertimu.”
Aku berlalu dengan membawa luka
dan tangis. Aku memaafkannya tapi tidak untuk cintanya.
Tidak ada luka yang tidak sembuh,
jika sudah sakit itu akan sembuh jika ada rasa sakit yang selanjutnya. Rasa
cinta yang menyenangkan dan akhirnya sakit, lalu menemukan cinta yang akhirnya
menyembuhkan rasa sakit sebelumnya dan akan berlanjut sampai menemukan cinta
sejati.