26 Desember 2011

Sampai Cinta Sejati

Di depan jendela kost, seorang wanita cantik, putih dengan rambut sebahu sedang mematung melihat orang – orang berjalan dengan senyum bahagia di temani pasangannya. Tapi, aku sendiri dan aku bahagia, bisik Givani. Ia berjalan di ruangan 3x4 meter dan menyusuri ruang itu menuju cermin yang usang. Di depan cermin ia melihat mata yang berkantung, kulit yang keriput dan wajah terlihat tidak bahagia.

Liburan kali ini aku tidak pulang ke rumah, karena aku ingin mengerjakan skripsi. Jadi tidak ada hari libur bagiku. Kalau di rumah pasti akan terganggu oleh siapa saja disana. Barang kali ada yang menghiburku di sini, siapapun yang ingin, siapapun... Aku tidak bahagia, aku berubah pikiran, mungkin aku harus mengubah kehidupanku, hidup yang bahagia bersama seseorang yang tentu membuatku bahagia. Karena ingin mencari udara segar aku jalan-jalan menyusuri jalan setapak dan duduk menyendiri di bangku taman melihat bocah kecil yang senang dengan jungkat-jungkit itu. Apakah aku harus bermain jungkat-jungkit itu agar bahagia, Tidak mungkin.

Kenapa ada sedih bila bahagia menyenangkan? Kembali lagi ke tugas ini, skripsi. Ini membuatku stress berat hingga aku ingin pergi dari semua ini, pergi meninggalkan kuliah yang seperti neraka. 

Aku tidak sejelek itu! kata Givani ketika Shinta meledekinya tidak memiliki pasangan karena tidak laku. Malang sekali nasibku, apakah aku harus pergi ke Dukun untuk mencarikanku jodoh? Tidak, aku bisa mencarinya sendiri. 

Pulang dari Warnet ia cepat-cepat pulang untuk mematikan kompor untuk memasak air. Jalannya terhenti sejenak di penyebrangan jalan, hingga lampu berubah menjadi merah ia melanjutkan langkahnya dengan cepat, tiba – tiba seorang lelaki bertubuh kekar menabraknya. Lelaki itu meminta maaf sambil melempar senyum kepada Giovani.

“Apakah kau terluka?” tanya lelaki itu.

“Ti.. tidak, kau sendiri.. bagaimana keadaanmu?” Giovani terbata mengucap,  terpesona karena lelaki itu tampan dan kekar.

“Iya, aku baik-baik saja. Maaf aku terburu-buru.” Lambai tangannya sambil berlari meninggalkan Givani.

“Tu.. tunggu...!”

Lelaki itu berhenti dan menengok ke Givani.

“Siapa namamu!?.”

“Rico, Rico Anggara..!” 

Givani tersenyum, iya tidak akan lupa lelaki tampan itu. Ia pulang dengan sejuta rasa sambil menyanyi dan berdansa saat berjalan. Ada bau gosong yang terendus, ternyata itu Air yang sudah habis. Givani berlari ke dapur, setelah ia ingat kalau ia tadi terburu-buru karena ingin mematikan kompor. Givani merengut, ia harus membeli perkakas dapur yang baru. 

Apakah ini yang namanya jatuh cinta pada pandangan pertama, saat menatap kedua matanya dan senyumnya? Sudahlah, aku harus menyelesaikan skripsi ini. Masih banyak yang harus aku pikirkan selain lelaki itu.

Keesokkan harinya Givani membutuhkan buku referensi untuk meembuat novel dan ia pergi ke toko buku. Saat ia mencari buku yang diperlukan ia bertemu dengan Shinta dan pasangannya yang tidak terlalu tampan. 

“Hai, kamu sendirian aja Ni?” tanya Shinta.

“ Aku memang sendiri dan aku tidak perduli.”

“Ohh, baiklah. Kalau kamu ingin di temani Telpon saja aku.”

“Yaa, baiklah.” 

Ketika Shinta dan pasangannya berlalu, Givani menarik nafas panjang dan menghempaskannya. Givani kurang tau apa motif Shinta menyinggungnya tentang pasangan. Setelah membeli banyak buku dari uang yang ia dapat dari Cerpen yang ia kirim di suatu majalah, dan hasilnya cukup untuk membeli buku yang ia butuhkan. 

Ternyata dunia ini memang sempit, aku berpapasan lagi dengannya, Rico Anggara, saat mengantri di Kasir.

“Hai, kau lagi.. kau juga suka ke toko buku ini..?” tanya Rico.

“I...Iya, disini toko buku yang lengkap.”

“Hmmm, siapa namamu...?

“Givani.”

“Nama yang bagus.”

“Kau Rico Anggara?”

“Yup.”

Selesai mengobrol, mereka berdua mendengar suara perut yang keroncongan. ‘Kriyuk’ ternyata itu bunyi perut Givani, mukanya pun merah. Rico yang mengetahui suara itu berasal dari Giovani langsung tersenyum.

“Oke, habis kita bayar buku-buku, kita pergi makan, tenang saja, aku yang traktir.” Sahutnya dengan gembira.

Givani hanya menunduk dan tersipuh malu. Belum lama dia mengenalku, dia sudah mengajakku traktir. Apaka ini pertanda? Sudahlah, mungkin hari ini rejeki nomplok bagi ku, bisik Givani dalam hati saat ia dan Rico yang menegndarai motor menuju tempat makan yang tidak jauh dari toko buku tersebut.

Restoran yang menarik dengan tema cinta, setiap mejanya ada tiga lilin dalam satu tempat dan bunga mawar yang setiap hari diganti, meja berwarna merah, tapi tidak hanya meja, kebanyakan ruangan ini di penuhi dengan warna merah. Ini restoran mahal, aku baru pertama kali kesini. Meskipun aku tahu tempat ini, tapi tidak pernah memasukinya. Apakah Rico ini lelaki yang terbilang perfect?. Aku harus hati-hati, bisa saja aku di permainkannya.

Obrolan yang panjang bersamanya dan aku merasa nyambung dengannya. Akhirnya kami pulang. Rico mengantarku samapai kost, sebelum itu kami bertukar nomor Handphone. Saat itu juga kami saling menelpon dan SMS. Tidak lupa, dia juga membantuku membuat skripsi, kami mengerjakannya di perpustakaan tidak jauh dari rumahku. Mana mungkin aku mengajaknya ke kamar kost, tetangga akan menggosip pastinya, apalgi ibu kost yang galak seperti gorila.

Hari ini dia mengajakku untuk pergi ke restoran saat pertama kali dia mengajakku untuk makan bersama, tidak untuk mengerjakan skripsi, dia ingin mengatakan sesuatu kepadaku.

Aku penasaran dengan apa yang ingin ia katakan dan pastinya aku sudah menduganya. Dia mengatakan kalau dia mencintaiku, tepat saat bunga mawar diganti menjadi mawar yang segar dan alunan musik di restoran itu sangat romantis ditambah Rico yang memberikan setangkai mawar untukku sambil berlutut bak pangeran menawarkan tuan putri untuk menjadi istrinya. Semua mata tertuju pada kami, terutama kepadaku yang ingin menjawabnya. Setelah berfikir dan menatap mata sang pangeran, aku mengatakan ‘ya’. Semua orang yang berada di sana menepuk tangan sambil bersorak. Sebelum itu tidak jarang ada yang menyatakan cinta di restoran ini. Memang tidak salah lelaki yang menyatakan cintanya di restoran ini, lelaki yang romantis.

Tidak ada lagi yang mengejekku tidak laku, lihatlah Shinta pembalasanku. Pacarku lebih tampan daripada pacarmu. Dan Shinta aku ajak untuk double date, pastinya Shinta iri padaku. Saat bertemu, Shinta terpesona melihat Rico, matanya tidak berkedip. 

Kamarnya terasa luas saat ia menaruh barang sesukanya. Hatinya berbunga bak taman yang banyak kupu-kupu dan putri raja menari-nari. Hariku terasa bahagia, karena adanya sang pangeran. Setiap hari kami penuhi dengan canda dan tawa. 

Heeuu, aku memerlukan buku lagi dan uangku sudah habis. Menunggu satu minggu untuk mendapat uang yang dikirim ibu kepada ku. Aku membuat cerpen lagi, pasti isinya tentang cinta karena hati ku sedang berbunga-bunga. Lalu aku mengirimnya di suatu majalah yang terkenal. Akhirnya aku mendapatkannya, kalau seperti ini aku mampu hidup sendiri, memang seharusnya seperti itu.

Rico sedang berada di luar kota, jadi aku sendiri  ke toko buku. Setelah membeli banyak buku aku menyempatkan mampir untuk makan di sekitar toko buku, menggunakan sisa uang yang ku dapat. Aku duduk di samping lelaki tampan dan kekar disamping lelaki itu ada perempuan cantik seperti model majalah dengan perhiasan serba ‘wah’. Sering kali aku mengintipnya, dan perasaan tidak enak pun muncul, seperti aku mengenali lelaki itu. Aku mengenali suaranya dan itu Rico Anggara.

Aku menghampirinya dan aku hanya tersenyum sambil mengeluarkan air mata, pergi dan tidak akan bertemu lagi dengan pandangan pertamanya. Baru pertama kali aku menangis seperti ini, menangis karena cinta, cinta yang banyak akan halusinasi dan semu. 

“Ingat Rico, aku mencintaimu dan kau menghancurkan cinta itu, pergilah bersama cintamu yang baru dan jangan kau permiankan cinta itu karena kau mempunyai segalanya.” 

“Givani maafkan aku, aku memang tidak pantas untuk wanita yang baik sepertimu.”

Aku berlalu dengan membawa luka dan tangis. Aku memaafkannya tapi tidak untuk cintanya. 

Tidak ada luka yang tidak sembuh, jika sudah sakit itu akan sembuh jika ada rasa sakit yang selanjutnya. Rasa cinta yang menyenangkan dan akhirnya sakit, lalu menemukan cinta yang akhirnya menyembuhkan rasa sakit sebelumnya dan akan berlanjut sampai menemukan cinta sejati.