Pernahkan anda terperangkap dalam dua pilihan yang sama – sama tidak menguntungkan? Saya harap tidak, tapi saya harap iya, karena anda akan mengerti apa yang saya bicarakan jika anda pernah merasakan kejadian yang saya ceritakan. Pasti anda akan menjawab “he eh”, “iya, betul banget.” “Saya harap tidak, tapi saya harap iya”, itu termasuk dilema yang menggelayut dalam pikiran saya, bagaimana tidak? Saya berharap anda tidak pernah merasakan dilema ini, karena itu akan membuat diri anda stress, sedangkan kalau iya saya berharap anda bisa tahu apa yang saya ceritakan dan ditulis disini tapi, anda harus merasakan dilema terlebih dahulu.
Bagaimana jika dilema itu menyangkut kehidupan kita yaitu masa depan, pasti setiap orang menginginkan masa depan yang cerah, bukan masa depa yang suram. Tapi, saya merasakan itu dihadapkan kepada dua pilihan yang tidak menguntungkan untuk kehidupan saya. Hal ini terjadi pada tahun ajaran baru, yaitu pada saat pendaftaran saya ke SMA, nilai yang cukup tinggi membuat saya PeDe untuk masuk SMA Favorite yaitu SMAN 3 Depok itu menurut saya, tapi itu menjadi pilihan ke-Dua saya pilihan pertama jatuh pada SMK Raflesia, SMK Kesehatan yang ada di Depok. Saya mengetahui sekolah itu dari sahabat saya yang namanya *i*h, sekolahnya lumayan bagus dan keinginan saya untuk menjadi seorang yang mulia dimata orang dan dimata Allah SWT yaitu Dokter. Sebelumnya saya berfikir “Gua ingin cepet-cepet kerja” kenapa? Yaa karena sekolah hanyalah untuk mencari kerja, buat apa sekolah lama-lama atau tinggi – tinggi yang nantinya juga untuk nyari kerja dan kerja.
Saya sudah mendaftar di SMK itu dan yang pasti diterima langsung meski harus di test kesehatan ; test urine dan test mata, dan juga test Ilmu pengetahuan kita ; MTK, B.inggris, B.Indo dan IPA. Di hari itu juga saya diterima disana. Dan pilihan ke-Dua yaitu SMA Bapake daftarin saya disitu syarat disana hanya satu yaitu hasil UN kira – kira hasil saya 35,30 dan itu membuat saya bangga + PeDe, sayangnya persyaratan disana harus lebih dari 35,45. What..??
Saya menjadi anak buangan pilihan kedua dari sana adalah SMAN 4, tempatnya jauh dari tempat tinggal saya dan Bapake tidak menyetujuinya saya sih ikut aja, tapikan pengennya di SMA 3 siapa tahu disana saya bisa lebih pintar dan mudah masuk perguruan tinggi.
Demi ingin cepat – cepat mengejar cita – cita saya memutuskan masuk ke SMK itu. Ahlan wasahlan SMK kesehatan Raflesia. Ada sedikit rasa ragu dan kecewa, ragu karena mayoritas yang saya lihat adalah perempuan dan kecewa tidak masuk ke SMA pilihan saya.
Ada ketidak konsistenan dari cerita diatas, bisa disimpulkan :
Cita – cita saya yaitu menjadi dokter yang pastinya saya ingin cepat – cepat untuk mengejarnya dan saya memutuskan untuk masuk SMK Kesehatan. Dan pilihan saya yang ke dua adalah SMA Favorite saya. Mamake selalu menanyakan dimana saya ingin bersekolah dan pada saat itu saya bingung, dan akhirnya dilema-lah saya. akhirnya saya memutuskan untuk daftar di keduanya SMK diterima dan SMA masih menunggu jawaban. Akhirnya jawaban itu keluar saya tidak diterima di SMA itu dan jadilah saya bersekolah di SMK itu.
Kawan, carilah jalan terbaik untuk mencari kesuksesan. Kajilah kembali pilihan yang ada dihadapan, pilihan pasti lebih dari satu dan harus memilih salah satu. Konsisten adalah kuncinya dan takdir adalah jawabannya. Makanya, jadilah orang yang konsisten dan bertanggung jawab anggaplah semua yang menimpa kita adalah nasib bukan takdir, karena takdir tidak bisa di ubah sedangkan nasib pasti bisa diubah. Hargailah semua pilihan kajilah salah satu dan carilah yang terbaik, banyak waktu untuk berfikir yaitu fikiran yang jernih dan positif.